Oleh: Agus Pakpahan (Ekonom Kelembagaan/ Rektor Universitas Koperasi Indonesia)
Serial Tropikanisasi– Kooperatisasi | Edisi 13 Juli 2026
BAYANGKAN, dalam perjalanan hidup yang panjang ini, kita terbiasa melihat koperasi bukan sebagai sesuatu yang menggairahkan. Ia hadir dalam narasi kita sebagai lembaga yang lesu, yang lambat, yang sering mati sebelum sempat tumbuh.
Bayangkan pula semua buku teks pembangunan ekonomi di universitas-universitas—halaman demi halamannya menggambarkan masyarakat perdesaan sebagai beban. Mereka menyebutnya backward, lagging, unproductive. Mereka menulis kemiskinan sebagai variabel, mencatat ketertinggalan sebagai angka di kolom kiri, dan menghitungnya sebagai gesekan yang menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Bagi para ahli ekonomi yang duduk nyaman di ruang ber-AC, perdesaan adalah tanah mati yang harus dipompa terus-menerus dengan modal, kain kumal yang harus ditambal dengan pinjaman lunak, dan pasien yang tidak pernah sembuh.
Saya tidak membaca itu dari buku. Saya tahu karena saya pernah ada di sana pada 1979. Bukan sebagai pejabat yang datang membawa amplop proyek. Bukan pula sebagai akademisi yang cukup puas membaca data dari kejauhan. Saya datang sebagai petugas survey sosial-ekonomi petani karet—sebuah pekerjaan sederhana yang meminta saya untuk duduk di antara mereka, mencatat berapa batang pohon yang disadap, berapa liter getah yang mengalir, dan berapa rupiah yang tersisa di saku mereka setelah ongkos hidup di tengah jalan.
Untuk mencapai mereka, saya naik klotok. Perahu motor kayu tua yang lamban, dengan lebar tak lebih dari dua meter, dan mesin di belakangnya yang meraung-raung seperti makhluk hidup sekarat. Asap hitamnya bercampur dengan kabut pagi di atas Sungai Kapuas. Berhari-hari saya menyusuri sungai yang keruh itu—dari Pontianak, melewati Meliau yang sunyi, Sanggau dengan pasar terapungnya yang riuh, Sekadau yang membentang di tikungan sungai, dan akhirnya Sintang di pedalaman. Saya menembus hujan yang tiba-tiba jatuh tanpa permisi, dan terik matahari yang membakar kulit sebelum malam datang.
Di setiap tempat yang saya singgahi, saya tinggal tepat satu minggu. Saya tidur di lantai rumah panggung yang berderit, berbagi makanan dengan mereka—nasi dan ikan asin yang hampir sama setiap hari, dan kadang sayur pahit dari hutan. Saya mendengar detak jantung tanah yang tidak pernah tercatat dalam laporan statistik. Di pagi buta yang dingin, ketika embun masih menempel di daun dan kabut menggantung rendah, saya berjalan ke kebun karet bersama para petani. Saya menyaksikan tangan-tangan mereka—kasar, penuh luka, dengan urat-urat yang menonjol karena kerja bertahun-tahun—menoreh kulit pohon dengan pisau sadap. Saya melihat getah putih susu itu menetes perlahan, tetes demi tetes, ke mangkuk-mangkuk kecil yang mereka letakkan di bawahnya. Dan di tetesan itu, saya melihat masa depan yang sangat rapuh. Kenangan yang tak akan pernah pudar.
Yang saya temui di sepanjang sungai itu pada tahun 1979 adalah kemiskinan yang jujur. Tidak pura-pura, tidak dihias. Gubuk-gubuk reyot berdiri di atas panggung, atap rumbia yang bocor ketika hujan, dan anak-anak yang berlarian tanpa alas kaki di atas tanah merah yang lembek dan berbekas. Di mana-mana, denyut nadi kehidupan mereka adalah karet. Satu-satunya komoditas yang mengubah getah pohon menjadi beras. Para ekonom di Jakarta akan datang, melihat semua itu, mencatat di papan klip mereka: “Daerah tertinggal. Infrastruktur buruk. Butuh suntikan dana besar.”
Tetapi saya mendengar sesuatu yang lain—sesuatu yang tidak bisa mereka dengar. Saya mendengar tawa dari balik dinding bilik yang reyot itu. Saya mendengar suara parang menebas kayu secara bergotong-royong, bukan karena upah, tetapi karena panggilan kampung. Saya mendengar irama lesung yang ditumbuk bergantian—bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk pesta kampung. Di sanalah, di antara tetesan getah dan tawa malam, saya mulai bertanya dalam hati: Mengapa orang yang memiliki begitu sedikit mampu berbagi begitu banyak? Mengapa orang yang tidak memiliki rekening bank menyimpan kepercayaan yang begitu besar?
Catatan survey saya pada waktu itu—yang saya tulis dengan pensil di atas kertas buram yang cepat basah oleh keringat dan hujan—menggambarkan sebuah kehidupan yang bertumpu pada satu komoditas. Saya menuliskan prediksi suram: jika harga karet jatuh, mereka tidak punya jaring pengaman. Mereka tidak punya tabungan. Mereka tidak punya asuransi. Mereka tidak punya apa-apa selain satu sama lain. Dan jika itu terjadi, mereka akan jatuh bersama.
Lalu datanglah tahun 1993. Krisis itu akhirnya tiba—bukan krisis global yang ditulis di koran, tetapi krisis yang menjalar pelan seperti demam di tubuh yang lemah. Harga karet jatuh. Dari Rp 1.000 per kilogram menjadi Rp 600 per kilogram. Penurunan empat puluh persen. Angka itu mungkin tidak berarti bagi kaum berduit di Jakarta. Tetapi bagi seorang ibu yang harus memilih antara membeli minyak tanah atau membayar iuran sekolah anaknya, Rp 600 adalah tanah longsor yang mengambil segalanya. Untuk setiap tetes getah yang mereka kumpulkan di kebun pada sore hari, tubuh yang digigit nyamuk, dan lutut yang gemetar karena lapar, nilai yang mereka dapatkan semakin tipis, semakin tak berarti.
Di saat itulah—di tengah keputusasaan yang pekat seperti lumpur di dasar sungai—mereka tidak menunggu pemerintah turun dengan bansos. Mereka tidak menunggu bank membuka cabang di desa mereka. Mereka hanya berkumpul. Dua belas orang. Petani karet yang mungkin di antaranya keturunan petani yang dulu saya wawancarai, yang tangannya penuh luka sadapan, yang punggungnya bungkuk karena bertahun-tahun membungkuk di kebun. Mereka mengumpulkan uang patungan yang jumlahnya tidak cukup untuk membeli satu ekor sapi: Rp 291.000.
Mereka tidak punya proposal bisnis berjilid. Mereka tidak punya analisis SWOT. Mereka tidak punya akses ke kredit lunak dari bank negara. Yang mereka punya adalah rasa takut yang sama—takut anak-anak mereka tidak bisa sekolah, takut sawah mereka kehilangan tenaga, takut tidak ada yang menolong ketika sakit, takut mati dalam kesendirian. Dan dari rasa takut yang sama itu—yang bukan membuat mereka lari, tetapi membuat mereka merapat—mereka memutuskan untuk percaya satu sama lain. Itulah lahirnya CUKK.
Bukan karena kebijakan. Bukan karena proyek. Tetapi karena pilihan—pilihan paling sederhana dan paling berani yang bisa dibuat manusia: pilihan untuk tidak tenggelam sendirian di lumpur yang sama.
Tiga puluh dua tahun kemudian, ketika saya duduk menulis narasi ini di sebuah ruang yang jauh lebih nyaman dari lantai rumah panggung, saya tidak lagi memegang pensil dan kertas buram. Saya memegang angka-angka yang membuat saya terdiam lama. CUKK telah menjadi konglomerasi ekonomi rakyat. Asetnya Rp 2,7 triliun. Anggota 233.000 orang—dari asal 12 orang.
Dan inilah yang paling mengguncang kesadaran saya, yang paling menusuk buku-buku teks yang saya pelajari di universitas: semua itu dicapai tanpa dukungan dana pemerintah, tanpa pinjaman perbankan, tanpa campur tangan modal asing. Tanpa sepeser pun dari APBN. Tanpa utang satu rupiah pun kepada bank-bank besar yang dulu menolak mereka karena tidak punya agunan. Mereka membangun istana dari tanah liat, dengan tangan-tangan yang sama yang pernah menoreh kulit karet. Mereka mengubah getah yang harganya jatuh menjadi ekosistem—keuangan, pendidikan, agrowisata, perhotelan. Tanpa utang, tanpa pinjaman, tanpa bantuan siapa pun. Hanya kepercayaan mereka sendiri.
Para ekonom neoklasik akan menggeleng. Mereka akan mengambil kalkulator dan menulis rumus: A = A_0 (1 + r)^t. Mereka akan mencari r—laju pertumbuhan—sebesar sekitar 60% per tahun selama 32 tahun. Lalu mereka akan bertanya, dengan dahi berkerut, “Dari mana modal itu datang?” Mereka mencari jawaban di neraca, padahal jawabannya ada di dalam hati yang berdetak di balik tulang rusuk manusia-manusia yang tidak pernah mereka temui.
Apa yang saya lihat dalam perjalanan klotok tahun 1979, dan apa yang saya lihat sekarang, adalah hal yang sama: matahari.
Bukan matahari yang bersinar di atas langit, karena di tempat itu awan selalu menggantung rendah dan hujan turun tanpa permisi. Tetapi ada matahari lain—matahari yang mengendap di dasar sungai, yang tersembunyi di balik dinding rumah panjang yang lapuk, yang berbisik di antara kepulan asap dapur ketika para perempuan menumbuk padi. Matahari itu tidak bisa diukur dengan termometer, tidak bisa dicatat di papan klip. Ia adalah nilai—nilai handep yang tidak mengenal kata “saya” tanpa “kita”. Ia adalah kepercayaan yang tidak membutuhkan kontrak notaris. Ia adalah energi yang tidak terlihat tetapi terasa, seperti hangatnya pelukan ketika kau kembali ke rumah setelah perjalanan panjang.
Nilai itu adalah Energi Sosial Kuantum. Ia tidak bergerak lurus seperti mobil di jalan tol. Ia melompat. Seperti elektron yang pindah orbit tanpa melalui ruang di antaranya. Ia melompat ketika kepercayaan mencapai massa kritis. Ia melompat ketika 12 orang berubah menjadi 1.000, dan 1.000 menjadi 100.000—bukan karena iklan televisi, tetapi karena satu orang berbisik kepada tetangganya, “Di sini, uang kita aman. Di sini, kita dilayani.” Ia melompat ketika krisis menghantam dan mereka memilih untuk saling menopang daripada saling menjatuhkan. Ia melompat seperti reaksi berantai di dalam inti atom—sekali menyala, ia tidak bisa dihentikan.
Inilah pelajaran yang harus didengar oleh negara, yang harus meresap ke dalam kebijakan.
Pemerintah sekarang sedang menggerakkan program besar: Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. 80.000 unit ditargetkan. Itu adalah kerinduan yang benar—ambisi yang belum pernah terjadi dalam sejarah pergerakan koperasi di negeri ini. Tetapi saya ingin berbisik, dengan suara yang mungkin hilang di antara hiruk-pikuk gedung-gedung kementerian: jangan datang membawa beton jika Anda tidak bisa menumbuhkan matahari. Jangan bangun 80.000 gedung jika Anda tidak mau menggali nilai yang sudah mengendap di dalam tanah sejak zaman leluhur. Karena CUKK membuktikan bahwa negara bukanlah aktor utama. Aktor utamanya adalah energi sosial yang terbangun di antara manusia, di antara tetangga, di antara sesama yang berbagi api di malam hari. 80.000 cangkang tanpa jiwa adalah bencana yang lebih besar dari kegagalan. 80.000 matahari yang menyala adalah revolusi yang tidak membutuhkan darah.
Koperasi Kuantum mengajarkan satu hal yang sangat sederhana, tetapi sangat sulit dipraktikkan oleh birokrasi: prakondisi yang paling penting bukanlah anggaran, bukanlah infrastruktur, bukanlah pelatihan teknis. Prakondisi yang paling penting adalah Medan Kesadaran (Q) —sebuah ruang di mana orang-orang desa duduk bersama, bukan sebagai penerima instruksi, tetapi sebagai pewaris nilai. Sebuah ruang di mana mereka menggali kembali kearifan yang mungkin telah tertidur, dan bertanya: “Apa kekuatan kita yang tidak pernah tercatat dalam buku bank?”
Negara harus berhenti menjadi pengawas yang sibuk mengontrol dan mulai menjadi pemantik—yang cukup hadir untuk memicu percikan pertama, lalu mundur dan membiarkan api menyala dengan sendirinya. Negara harus menyediakan fasilitator yang tidak menggurui, tetapi bertanya, dan sungguh-sungguh mendengar. Karena CUKK membuktikan bahwa ketika nilai telah terbangun, uang akan mengikuti. Kepercayaan adalah magnet yang paling kuat—ia menarik modal tanpa perlu meminjam ke bank.
Dan bagaimana mengelolanya? CUKK mengajarkan kita bahwa kepemimpinan dalam koperasi kuantum bukanlah administrasi. Ia adalah “efek pengamat” dalam fisika—kehadiran yang tulus mengubah perilaku seluruh sistem. Ketika pemimpin tidak mencuri, ketika ia melayani, ketika ia menjadi teladan yang tidak hanya berbicara tetapi juga melakukan, maka energi positif tidak pernah padam. Sebaliknya, korupsi sekecil apapun akan merusak medan nilai itu seperti setetes garam yang meracuni seluruh sumur.
CUKK juga mengajarkan bahwa koperasi tidak boleh berhenti di simpan-pinjam. Ia harus menjadi ekosistem. Ia harus bertransformasi, melompat dari satu lini ke lini lain—dari keuangan ke pendidikan, dari pinjaman ke agrowisata, dari tabungan ke perhotelan. Mengapa? Karena energi sosial tidak bisa dikurung dalam satu kotak. Ia seperti air sungai yang harus mengalir ke mana-mana, meresapi setiap celah kehidupan yang membutuhkan.
Malam ini, ketika saya menuliskan kata-kata terakhir dari narasi ini, saya menutup mata dan membayangkan kembali perjalanan klotok itu. Saya mendengar lagi suara mesin tua yang meraung di belakang. Saya merasakan lagi embun pagi yang dingin di wajah saya. Saya melihat lagi kabut tipis yang menyelimuti Sungai Kapuas, dan dermaga-dermaga kayu lapuk di Meliau, Sanggau, Sekadau, Sintang—tempat saya turun dan tinggal satu minggu, mendengar cerita dari tangan-tangan yang penuh luka, mencatat getah yang menetes perlahan, dan bertanya dalam hati: Berapa lama lagi mereka bisa bertahan?
Pada saat itu, tidak ada seorang pun—bahkan saya sendiri—yang tahu bahwa dari gubuk-gubuk reyot itu, dari tangan-tangan yang penuh luka itu, akan lahir raksasa ekonomi dengan aset Rp 2,7 triliun. Bahwa kepercayaan 12 orang akan meledak menjadi 233.000 orang. Bahwa tanpa sepeser pun dari pemerintah, tanpa pinjaman dari bank, mereka akan menjadi konglomerasi yang tidak bisa dibungkam oleh buku teks mana pun.
Tetapi alam semesta tidak selalu mengikuti buku teks. Kadang-kadang, di tempat yang paling tidak terduga, di saat harga karet jatuh dan semua orang kehilangan harapan, energi kuantum justru terbangun. Ia melompat. Ia melompat seperti matahari yang berteriak dari balik lumpur—teriakan yang mungkin hanya didengar oleh mereka yang cukup rendah hati untuk mendekatkan telinga ke tanah.
Kenangan perjalanan itu—klotok yang meraung, hujan di atas Kapuas yang mengguyur tanpa ampun, tawa di balik dinding bilik yang reyot, dan matahari yang perlahan terbit di balik kabut—itulah yang selalu saya bawa. Dari perjalanan itu, saya membawa pulang lebih dari sekadar data karet. Saya membawa pulang sebuah keyakinan yang tidak bisa diambil oleh siapa pun: bahwa di tanah yang paling terlupakan, di komunitas yang paling diremehkan, selalu ada matahari yang menunggu untuk berteriak. Tugas kita, tugas negara, tugas para perumus kebijakan, hanyalah satu: mendengar.
Mari kita hentikan kebiasaan meremehkan. Mari kita hentikan kebiasaan datang membawa cetak biru dan memaksa tanah mengikuti gambar kita. Mari kita dengar teriakan itu. Karena jika kita mendengarnya, kita akan tahu bahwa prototipe kita sudah ada—ia bernama CUKK, dan ia menunggu untuk digandakan di 80.000 desa lainnya. Bukan dengan beton, bukan dengan instruksi, tetapi dengan menghidupkan kembali matahari yang selama ini terpendam.
“Ilmu pengetahuan berkembang bukan karena teori baru muncul, tetapi karena teori baru menjelaskan realitas lebih baik daripada teori lama. CUKK menjelaskan realitas yang tidak bisa dijelaskan oleh siapapun—bahwa kemiskinan adalah tanah subur bagi kepercayaan, dan kepercayaan adalah modal yang paling ampuh.”
— Agus Pakpahan(*****










Komentar