oleh

Memahami Penurunan Harga Riil Minyak Sawit: Fakta Historis dan Implikasinya bagi Indonesia

Oleh: Agus Pakpahan (Ekonom Kelembagaan/ Rektor Universitas Koperasi Indonesia)

Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi,Edisi 30 Agustus 2026

Pendahuluan

Banyak yang bertanya dan menganggap tidak mungkin bahwa harga riil minyak sawit di pasar dunia sekarang lebih rendah daripada harga riil pada tahun 1900. “Masa sih?” begitu sering pertanyaan itu muncul. Padahal, ini adalah fakta historis yang tak terbantahkan. Artikel ini akan menjelaskan secara bertahap, dengan data yang jelas dan sumber yang dapat dipercaya.

Kita akan melihat: berapa harga riil minyak sawit dulu dan sekarang, seberapa besar penurunannya, apa penyebabnya, dan apa implikasinya bagi Indonesia—negara penghasil sawit terbesar dunia.

I. Dua Sumber Data Harga Minyak Sawit Tahun 1900

Untuk mengetahui harga riil tahun 1900, kita perlu data harga pada masa itu. Penelusuran sejarah mengungkap dua sumber utama dengan angka yang berbeda—mencerminkan perbedaan lokasi dan tahap rantai pasok.

Sumber Pertama: Cambridge University Press (Harga Produsen, Nigeria)

Berdasarkan data dari Cambridge University Press, harga produsen minyak sawit di Nigeria pada tahun 1900 tercatat sebesar £15,0 per ton. Ini adalah harga di tingkat petani atau pengumpul di pedalaman Nigeria, sebelum biaya transportasi ke pelabuhan dan margin pedagang ditambahkan.

Sumber Kedua: Hansard, Parlemen Inggris (Harga Pasar, Lagos)

Catatan Parlemen Inggris (Hansard) dari debat tahun 1927 mencatat harga rata-rata minyak sawit di Lagos (pelabuhan ekspor utama Nigeria) pada tahun 1901 sebesar £24 per ton. Sumber lain mencatat bahwa harga di London pada tahun 1885 berkisar £20–24 per ton, dan sepanjang tahun 1890-an harga di Liverpool berfluktuasi sekitar £25 per ton.

Mengapa Terdapat Perbedaan?

Perbedaan antara £15 dan £24 per ton mencerminkan dua hal sederhana:

Pertama, perbedaan lokasi. Harga produsen (£15) adalah harga di pedalaman, sebelum biaya transportasi. Harga Lagos (£24) adalah harga di pelabuhan ekspor, yang sudah termasuk biaya angkut dan margin pedagang.

Kedua, variasi antarwilayah. Catatan Hansard menunjukkan bahwa pada tahun yang sama, harga minyak sawit di berbagai wilayah Nigeria bervariasi dari £12–13 hingga £17–21 per ton, tergantung jarak dari pelabuhan dan kualitas produk.

Untuk perhitungan konservatif, artikel ini menggunakan kedua angka tersebut dan menunjukkan rentang penurunan harga riil.

II. Perhitungan Penurunan Harga Riil

Menggunakan Harga Produsen (£15/ton)

Dengan kurs tahun 1900 (£1 = USD 4,86), harga nominal tahun 1900 adalah USD 72,90 per ton. Indeks Harga Konsumen AS pada tahun 1900 adalah 8,400. Pada tahun 2025, CPI AS mencapai 321,051 dan harga rata-rata minyak sawit adalah USD 934,50 per ton.

Dengan menggunakan CPI sebagai deflator, harga riil tahun 1900 adalah USD 72,90 dibagi 8,400, yang menghasilkan USD 8,68 per ton. Sementara itu, harga riil tahun 2025 adalah USD 934,50 dibagi 321,051, yang menghasilkan USD 2,91 per ton.

Dari sini diperoleh indeks harga riil tahun 2025 dengan tahun dasar 1900 sama dengan 100, yaitu 33,5—yang berarti harga riil minyak sawit pada tahun 2025 hanya sepertiga dari harga riilnya pada tahun 1900. Telah terjadi penurunan daya beli sebesar 66,5% selama 125 tahun.

Menggunakan Harga Lagos (£24/ton)

Dengan harga nominal USD 116,64 per ton, perhitungan menghasilkan harga riil tahun 1900 sebesar USD 13,89. Harga riil tahun 2025 tetap USD 2,91. Indeks harga riil tahun 2025 menjadi 20,9, yang berarti penurunan harga riil mencapai sekitar 79%.

Verifikasi dengan Pendekatan Sederhana

Cara lain untuk memahaminya: jika harga tahun 1900 mengikuti inflasi, seharusnya harga pada tahun 2025 menjadi USD 2.786 (dengan harga £15) atau USD 4.458 (dengan harga £24). Namun harga aktual hanya USD 934,50. Dengan kata lain, daya beli satu ton minyak sawit saat ini hanya sekitar seperlima hingga sepertiga dari daya beli satu ton pada tahun 1900.

Kesimpulan: Terlepas dari sumber data yang digunakan, harga riil minyak sawit telah turun secara drastis selama 125 tahun—antara 66,5% hingga 79%. Kedua angka tersebut menunjukkan penurunan daya beli yang sangat signifikan.

III. Mengapa Harga Riil Minyak Sawit Terus Menurun?

1. Hipotesis Prebisch-Singer: Nasib Komoditas Primer

Penurunan harga riil komoditas primer bukanlah fenomena unik bagi minyak sawit. Hipotesis Prebisch-Singer, yang telah teruji secara empiris selama puluhan tahun, menyatakan bahwa harga komoditas primer cenderung menurun relatif terhadap harga barang manufaktur dalam jangka panjang.

Minyak sawit berbagi nasib dengan kopi, gula, karet, dan komoditas primer tropis lainnya: terjebak dalam penurunan terms of trade jangka panjang. Penelitian terkini (Landajo & Presno, 2022) yang menggunakan data 17 komoditas pertanian untuk periode 1900-2022 menemukan bukti kuat yang mendukung hipotesis ini.

2. Peningkatan Produktivitas dan Pasokan

Seiring waktu, produktivitas pertanian meningkat melalui inovasi teknologi, perbaikan varietas, dan efisiensi budidaya. Data dari Our World in Data menunjukkan bahwa produksi minyak sawit global meningkat sekitar 40 kali lipat antara 1970 dan 2020, dari 2 juta ton menjadi sekitar 80 juta ton. Peningkatan pasokan yang eksplosif ini menekan harga ke bawah.

3. Oversupply Struktural

Faktor terpenting adalah kelebihan pasokan yang kronis. Ekspansi lahan yang masif—terutama di Indonesia dan Malaysia yang bersama-sama memasok sekitar 85% produksi global—telah menciptakan oversupply yang terus menekan harga. Ini bukan fenomena sementara, melainkan ciri struktural industri sawit sejak awal abad ke-20.

4. Persaingan dengan Minyak Nabati Lain

Minyak sawit bersaing langsung dengan minyak kedelai, minyak bunga matahari, dan minyak rapeseed. Ketika pasokan minyak nabati lain meningkat, harga sawit ikut tertekan.

5. Fluktuasi Siklikal

Meskipun tren jangka panjang menurun, harga sawit tetap volatil. Lonjakan pada 2008 (boom biofuel) dan 2022 (perang Ukraina) bersifat sementara dan selalu diikuti koreksi ke level yang lebih rendah.

IV. Data Ekspor Global: Oversupply dalam Angka

Penurunan harga tidak terjadi dalam ruang hampa. Data dari Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) menunjukkan:

· Ekspor minyak sawit global mencapai puncak 55,10 juta ton pada tahun 2019.

· Kemudian turun menjadi 50,60 juta ton pada tahun 2022.

· Sedikit naik menjadi 51,25 juta ton pada tahun 2023.

· Turun signifikan menjadi 47,77 juta ton pada tahun 2024.

Sementara itu, data dari Trade Map (PBB) mencatat penurunan yang lebih tajam: dari 56,33 juta ton pada tahun 2022 menjadi 44,09 juta ton pada tahun 2023, dan turun lagi menjadi 41,59 juta ton pada tahun 2024.

Kesimpulan dari data ekspor: Meskipun Indonesia dan Malaysia tetap mendominasi pasar dengan pangsa gabungan sekitar 85% dari total ekspor global, volume ekspor global telah menurun dari sekitar 55 juta ton menjadi sekitar 45-48 juta ton. Penurunan ini terjadi di tengah kapasitas produksi yang terus meningkat—menandakan oversupply struktural yang kronis.

V. Teori Oversupply Glenn Johnson: Mengapa Produsen Tetap Berekspansi?

Glenn L. Johnson dan C. Leroy Quance, dalam karya mereka The Overproduction Trap in U.S. Agriculture (1972), menjelaskan mengapa produsen pertanian terus berekspansi meskipun harga turun.

Pertama, penawaran produk pertanian bersifat inelastis dalam jangka pendek. Petani dan produsen tidak bisa cepat mengurangi produksi ketika harga turun karena investasi lahan dan tanaman telah tertanam.

Kedua, ada keterlambatan waktu antara keputusan produksi dan realisasi output. Untuk sawit, investasi lahan baru butuh sekitar 4 tahun hingga menghasilkan panen pertama. Keputusan ekspansi saat harga tinggi baru menghasilkan pasokan tambahan setelah harga mungkin sudah turun.

Ketiga, ada biaya keluar yang tinggi. Begitu lahan dikonversi menjadi perkebunan sawit, biaya untuk keluar dari produksi sangat besar. Tanaman sawit memiliki siklus 25-30 tahun.

Keempat, inovasi teknologi terus mendorong peningkatan pasokan bahkan ketika harga riil menurun.

Teori ini dengan sempurna menjelaskan paradoks yang kita saksikan di industri sawit Indonesia: ekspansi lahan terus terjadi meskipun harga riil terus menurun.

VI. Implikasi bagi Indonesia: Kita Terperangkap di Masa Lalu

Perbandingan dengan Belanda menunjukkan kontras yang tajam. Belanda, dengan luas lahan pertanian hanya 1,8 juta hektar, mencatat nilai ekspor agri-food sebesar €123,8 miliar pada tahun 2023—sekitar US $134 miliar. Nilai per hektar lahan pertanian Belanda mencapai sekitar US$ 74.400 per hektar.

Sementara itu, sawit Indonesia dengan luas 17,3 juta hektare dan nilai ekspor US$ 30,32 miliar hanya menghasilkan sekitar US$ 1.752 per hektar.

Dengan demikian, nilai per hektar pertanian Belanda sekitar 42,5 kali lipat dari nilai per hektar sawit Indonesia. Ini bukan karena Belanda memiliki lahan lebih luas—justru sebaliknya. Ini karena Belanda memiliki kepadatan pengetahuan yang jauh lebih tinggi melalui riset, teknologi, dan inovasi.

Dunia sedang bergerak menuju ekonomi berbasis pengetahuan. Negara-negara maju menciptakan nilai dari otak, bukan dari lahan. Indonesia, dengan segala kekayaan alamnya, masih terperangkap dalam logika ekspansi lahan yang sudah usang—logika yang mengukur kekayaan dari luas lahan dan volume ekspor bahan mentah.

VII. Penutup

Penurunan harga riil minyak sawit—antara 66,5% hingga 79% dalam 125 tahun—adalah fakta historis yang tak terbantahkan. Satu ton minyak sawit pada tahun 2025 hanya memiliki daya beli seperlima hingga sepertiga dari daya beli satu ton pada tahun 1900.

Penurunan ini terjadi di tengah oversupply struktural yang kronis: produksi meningkat 40 kali lipat antara 1970-2020, sementara ekspor global turun dari 55 juta ton menjadi 45-48 juta ton. Teori overproduction trap Glenn Johnson menjelaskan mengapa produsen terus berekspansi meskipun harga turun.

Bagi Indonesia, implikasi dari teori ini sangat serius. Ekspansi sawit yang eksponensial—5.870% dalam 44 tahun—telah menciptakan oversupply struktural yang menekan harga riil, mengorbankan hutan, lahan pangan, dan kesejahteraan petani.

Sawit tidak lagi menjadi komoditas pertanian. Ia telah menjadi platform finansialisasi ruang agraria. Dan selama insentif finansialisasi (melalui HGU) lebih kuat daripada sinyal harga riil, overproduction trap akan terus berlangsung—merugikan petani, merusak lingkungan, dan menjerumuskan bangsa dalam jebakan masa lalu.

Dunia berkembang ke masa depan. Saatnya Indonesia mengikuti—bukan dengan memperluas lahan, tetapi dengan memperluas pengetahuan, kepercayaan, dan kedaulatan.

“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”

— Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945

“Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.”

— Pasal 34 Ayat (1) UUD 1945

DAFTAR PUSTAKA

Buku dan Monograf

  • ohnson, G. L., & Quance, C. L. (Eds.). (1972). The Overproduction Trap in U.S. Agriculture: A Study of Resource Allocation from World War I to the Late 1960’s. Baltimore: Published for Resources for the Future by the Johns Hopkins University Press.
  • Prebisch, R. (1950). The Economic Development of Latin America and Its Principal Problems. New York: United Nations Economic Commission for Latin America.
  • Singer, H. W. (1950). “The Distribution of Gains between Investing and Borrowing Countries”. American Economic Review, 40(2), 473-485.

Artikel Jurnal

  • Landajo, M., & Presno, M. J. (2022). “Trends of relative commodity prices with comovements and structural breaks”. Resources Policy.

Sumber Data dan Arsip

  • Cambridge University Press. (n.d.). Palm oil prices and incomes, 1900-1936. [Table data]. In Economy within an Economy: The Manilla Currency, Exchange Rate Instability and Social Conditions in Southeastern Nigeria, 1900-1948.
  • Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC). (2025). Data Ekspor Minyak Sawit Global 2019-2024.
  • Hansard, UK Parliament. (1927, March 14). Nigeria (Palm Oil and Palm Kernels). House of Commons Debates.
  • International Monetary Fund (IMF). Primary Commodity Prices (PPOILUSDM).
  • Macrotrends. (2025). Global Palm Oil Prices: $934.50 as of June 2025. (Sumber: International Monetary Fund).
  • Martin, S. M. (2009). Palm Oil and Protest: An Economic History of the Ngwa Region, South-Eastern Nigeria, 1800-1980. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Official Data.org. (2025). CPI in 1900: 8.400; CPI in 2025: 321.051.
  • Our World in Data. (2025). Oil Palm Production. https://ourworldindata.org/grapher/palm-oil-production. (Data dari FAO, 1961-2023).
  • Trade Map (ITC/UN Comtrade). (2025). Data Ekspor Minyak Sawit Global 2022-2024.
  • USDA Foreign Agricultural Service. (2025). Oilseeds: World Markets and Trade.

(BERSAMBUNG)  .

Komentar