oleh

Memakai Kalung Tasbih Adalah Salah Satu Dari Tradisi Para Ulama Salafunassholeh dan Para Arif Billah

Oleh: Gus Qusyairi Zaini (Majlis Zikir Tauhid Padepokan Sadar Bumi Alif Kabupaten Sumenep)

DULU waktu saya sekolah, sekitar kelas 2 MTs (sederajat SMP), saya sangat hobi memakai kalung tasbih di leher, sampai-sampai teman-teman saya menjuluki saya sebagai Biksu Tong Sam Cong dalam film Kera Sakti. Lebih dari itu, saya pernah dijuluki orang gila gegara saya kemana-mana memakai kalung tasbih dari biji buah pucuk yang besar-besar, kira-kira dim 15 mm. Di tahun 2000-an saat saya kuliah di Surabaya, saya bertemu dengan Guru Spiritual saya, beliau memberi saya tasbih berbahan kayu galih asem, beliau meminta agar saya selalu mengalungkan tasbih tersebut di leher meskipun tidak saya gunakan untuk wirid dan zikir.

Ternyata kebiasaan mengalungkan tasbih di leher bukan hanya kebiasaan para tokoh spiritual Buddha ataupun juga Hindu, apalagi dianggap sebagai kebiasaan orang gila atau tak waras akal, kebiasaan mengalungkan tasbih di leher juga biasa dilakukan oleh para Ulama’ Salafunassholeh, terutama para Sufi Muslim.

Wajar bila sampai saat ini saya tetap hobi memakai kalung tasbih dan punya sekitar 175 koleksi tasbih dari berbagai jenis kayu dan tulang, ada yg dari kayu kokka, kayu nagasari, kayu kalimasada, kayu liwung, galih kelor, galih stigi ngurak, tulang onta, tulang HM, tulang GG dll. termasuk juga ada tasbih yg sangat istimewa dan spesial dalam hidup saya, yaitu tasbih hadiah dari Romo Yai Syaiful Munir Aminullah.

Dalam kitab “Tuhfatu Ahlil Futuhaati Wa Al-Adzwaaq” karya Al-Imam Al-‘Arif Billah Abil Fadhl Fathullah ibn Abi Bakr Al-Banany, dijelaskan tentang sebuah kisah begini:

وَقَدْ ذَكَرُوا أَنَّ شَيْخَ شُيُوخِنَا القُطْبَ الكَامِلَ، الغَوْثَ الوَاصِلَ، سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا العَرَبِيَّ الدَّرْقَاوِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَطْلَعَهُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى نَوْعٍ مِنَ المَلَائِكَةِ الكِرَامِ وَاقِفِينَ بَيْنَ يَدَيِ المَلِكِ العَلَّامِ، هَائِمِينَ بِذِكْرِهِ وَمُشَاهَدَتِهِ عَلَى الدَّوَامِ، وَتَسْبِيحُهُمْ فِي أَعْنَاقِهِمْ مُنْتَظِمَةٌ أَيِ انْتِظَامٍ، فَأَخَذَ ذٰلِكَ بِمَجَامِعِ قَلْبِهِ، وَوَقَعَ فِيهِ حَالٌ عَظِيمٌ لِمَا شَاهَدَهُ مِنْ أَسْرَارٍ وَأَنْوَارِ حَضْرَةِ رَبِّهِ، فَتَمَنَّى ذٰلِكَ لِأَصْحَابِهِ، وَأَمَرَهُمْ بِجَعْلِ السُّبْحَةِ فِي العُنُقِ تَشَبُّهًا بِهٰؤُلَاءِ المَلَائِكَةِ الكِرَامِ، وَاغْتِنَامًا لِمَا فِي ذٰلِكَ مِنَ الفَوَائِدِ العِظَامِ، وَقَدْ تَقَدَّمَ بَعْضُهَا بِفَضْلِ المَلِكِ السَّلَامِ.

وَمَا شَاعَ وَذَاعَ أَنَّ جَعْلَهَا فِي العُنُقِ صَارَ شِعَارَ هٰذِهِ الطَّائِفَةِ الشَّاذِلِيَّةِ الدَّرْقَاوِيَّةِ المُبَارَكَةِ، وَأَنَّ مَشَايِخَهُمْ يَأْمُرُونَ مُرِيدِيهِمْ بِذٰلِكَ بَدَايَةً وَوَسَطًا وَنِهَايَةً، وَقَالَ أَرْبَابُ المَقَامِ الثَّالِثِ: شَيْءٌ وَصَلْنَا بِهِ إِلَى اللَّهِ لَا نَتْرُكُهُ وَلَا نُفَارِقُهُ أَبَدًا.

Diceritakan oleh para ulama’ bahwa guru dari para guru kami, seorang wali agung yang sempurna, yaitu Sayyiduna al-‘Arabi ad-Darqawi, pernah diperlihatkan oleh Allah sekelompok malaikat yang berdiri di hadapan Allah, mereka tenggelam dalam dzikir dan penyaksian kepada-Nya secara terus-menerus. Tasbih mereka tersusun rapi di leher-leher mereka. Hal itu sangat membekas di hati Sang Syekh dan menghadirkan keadaan spiritual yang agung karena ia telah menyaksikan rahasia dan cahaya dari hadirat Tuhannya. Maka ia menginginkan keadaan tersebut bagi murid-muridnya, lalu beliau memerintahkan murid-muridnya itu untuk mengalungkan tasbih di leher sebagai bentuk peneladanan terhadap para malaikat, serta untuk meraih berbagai manfaat besar yang terkandung di dalamnya.

Kemudian memakai kalung tasbih di leher ini menjadi ciri khas bagi tarekat Syadziliyah Darqawiyah yang diberkahi. Para guru mereka memerintahkan murid-muridnya untuk melakukan hal tersebut sejak awal, pertengahan, hingga akhir perjalanan spiritual. Bahkan para ahli maqam mengatakan: “Sesuatu (tasbih) yang telah mengantarkan kami kepada Allah, tidak akan kami tinggalkan dan tidak akan kami pisahkan dari diri kami selamanya.”

وَقَدْ قَالَ بَعْضُ الكِبَارِ: لَوْ أَمْكَنَنَا التَّسْبِيحُ بِالْجِبَالِ لَفَعَلْنَا، أَيْ بَأَنْ يَجْعَلَ سَبْحَةً بِمِقْدَارِ الْجَبَلِ أَوْ نَفْسِ الْجَبَلِ لِمَا فِي ذٰلِكَ مِنَ الأَسْرَارِ الَّتِي يَعْلَمُهَا مِنْ مَارَسَ المُجَاهَدَةَ عَلَى يَدِ الفُحُولِ الكِبَارِ.

كَمَا أَنَّهُمْ نَصُّوا عَلَى أَنَّ الفَقِيرَ يَنْبَغِي لَهُ إِذَا فَرَغَ مِنِ اسْتِعْمَالِ السُّبْحَةِ المُتَوَسِّطَةِ المُنَاسِبَةِ فِي الذِّكْرِ أَنْ يَجْعَلَهَا فِي عُنُقِهِ تَعْظِيمًا لَهَا وَاحْتِرَامًا وَتَوْقِيرًا.

وَفِي مَنَنِ القُطْبِ الشَّعْرَانِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ: «وَلَقَدْ وَقَعَتْ رِجْلِي مَرَّةً عَلَى السُّبْحَةِ فَكَدْتُ أَهْلِكُ مِنْ ذٰلِكَ إِكْرَامًا لَهَا، وَلِأَنَّ ذٰلِكَ أَعْنِي جَعْلَهَا فِي العُنُقِ أَحْفَظُ لَهَا وَأَصُونُهَا مِنَ الضَّيَاعِ وَالاِمْتِهَانِ وَالتَّمْزِيقِ، مَعَ مَا فِي ذٰلِكَ مِنْ هَضْمِ سُلْطَةِ النَّفْسِ وَقَمْعِهَا عَنِ الاِلْتِفَاتِ إِلَى التَّخَلُّقِ بِالأَخْلَاقِ الظُّلْمَانِيَّةِ، حَسْبَمَا يَحْقُقُهُ مَنْ كَابَدَ مُجَاهَدَتَهَا عَلَى يَدِ أَهْلِ الحَضْرَةِ الرَّبَّانِيَّةِ، الجَامِعِينَ بَيْنَ الشَّرِيعَةِ وَالحَقِيقَةِ، بَيْنَ الفَنَاءِ وَالبَقَاءِ، بَيْنَ الصَّحْوِ وَالسُّكْرِ، بَيْنَ الحُضُورِ وَالغَيْبَةِ، بَيْنَ المُجَاهَدَةِ وَالمُشَاهَدَةِ، وَأَجْرِ القِيَاسِ».

وَدَلِيلُ هٰذَا مِنْ حَيْثُ الذَّوْقُ وَالحَالُ أَنَّ جَعْلَ السُّبْحَةِ فِي العُنُقِ مِنْ أَصْعَبِ مَا يَكُونُ وَأَشَدِّهِ عَلَى النَّفْسِ، وَخُصُوصًا إِنْ كَانَتْ غَلِيظَةً مِنْ عُودٍ مُنَظَّمٍ فِي خَيْطِ صُوفٍ، وَمَنْ ذَاقَ عَرَفَ، وَمَنْ لَا فَلَا حَرَجَ عَلَيْهِ إِذَا سَلِمَ وَاعْتَزَلَ.

وَالأَشْيَاءُ كَامِنَةٌ فِي التَّجْرِبَةِ، وَمَنْ لَمْ يُجَرِّبْ فَلَيْسَ بِمُصِيبٍ، وَاللَّهِ ثُمَّ وَاللَّهِ يَا إِخْوَانِي لَقَدْ كُنْتُ أُقَاسِي المَرَارَةَ الصَّعْبَةَ عِنْدَ جَعْلِهَا فِي عُنُقِي فِي بَدَايَتِي مِنْ حَيْثُ الاِلْتِفَاتُ إِلَى النَّفْسِ وَالجِنْسِ، وَأَوَدُّ أَنْ لَوْ وَضَعْتُ وَزْنَ قِنْطَارٍ مَثَلًا مِنْ حَجَرٍ عَلَى رَأْسِي وَلَا أَجْعَلَ سُبْحَةً تَزِنُ نِصْفَ رِطْلٍ فِي عُنُقِي.

وَكُنْتُ مَهْمَا وَضَعْتُهَا فِي عُنُقِي بِأَمْرِ مَشَايِخِي الكِرَامِ خَدَمْتُ أَوْصَافَ بَشَرِيَّتِي، وَهَدَأَتْ نَفْسِي عَنِ التَّشَوُّفِ إِلَى التَّخَلُّقِ بِأَخْلَاقِ الأَقْرَانِ الحَاجِبَةِ عَنْ حَضْرَةِ المَلِكِ الدَّيَّانِ، وَاعْتَرَانِي خُشُوعٌ وَخُضُوعٌ قَهْرِيٌّ فِي ظَاهِرِي وَبَاطِنِي

إِلَى غَيْرِ ذٰلِكَ مِمَّا نَحْنُ مُطَالَبُونَ بِهِ مِنْ حَيْثُ القَوَانِينِ الشَّرْعِيَّةِ مِنَ الأَوْصَافِ الرُّوحَانِيَّةِ المُؤَدِّيَةِ لِكَمَالِ العُبُودِيَّةِ لِرَبِّ البَرِيَّةِ، وَهٰذَا هُوَ السِّرُّ وَالسَّبَبُ فِي ثِقَلِ ذٰلِكَ عَلَى النَّفْسِ لِكَمَالِ بُعْدِهَا عَنْ وَطَنِ الحُرِّيَّةِ وَالأَنَانِيَّةِ، وَشِدَّةِ قُرْبِهِ مِنْ حَضْرَةِ التَّوَاضُعِ وَالتَّذَلُّلِ وَالتَّحَقُّقِ بِوَصْفِ الفَقْرِ وَالفَاقَةِ وَالاِنْطِرَاحِ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ.

وَغَيْرِ ذٰلِكَ مِنْ أَوْصَافِ العُبُودِيَّةِ الَّتِي لَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا وَلَا يَتَأَخَّرُ عَنِ الأَسْبَابِ المُوصِلَةِ إِلَيْهَا إِلَّا هَالِكٌ بِصُحْبَةِ الهَالِكِينَ، وَتَالِفٌ بِصُحْبَةِ التَّالِفِينَ، وَغَافِلٌ بِصُحْبَةِ الغَافِلِينَ، وَرَاضٍ عَنْ نَفْسِهِ بِصُحْبَةِ الرَّاضِينَ عَنْ أَنْفُسِهِمْ، وَأَجْرِ القِيَاسَ، وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ.

Sebagian para ulama besar (para ahli spiritual) berkata: “Seandainya kami mampu bertasbih dengan (media sebesar) gunung, niscaya kami akan melakukannya.” Maksudnya, membuat tasbih sebesar gunung atau dari gunung itu sendiri, karena di dalamnya terdapat rahasia-rahasia yang hanya diketahui oleh orang yang telah menempuh latihan spiritual (mujahadah) di bawah bimbingan para guru besar.

Mereka juga menegaskan bahwa seorang fakir (salik sufi) apabila telah selesai menggunakan tasbih yang biasa dalam berdzikir, maka sebaiknya ia menggantungkannya di leher sebagai bentuk pengagungan, penghormatan, dan pemuliaan terhadapnya.

Dalam kitab Minan karya Syaikh Asy-Sya‘rani رحمه الله disebutkan: “Pernah suatu kali kakiku menginjak tasbih, dan aku hampir binasa (karena rasa bersalah yang besar), sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Karena dengan menggantungkannya di leher, itu lebih menjaga dan melindunginya dari hilang, terhina, atau rusak. Selain itu, hal tersebut juga melatih diri untuk merendahkan ego, menundukkannya, serta mencegahnya dari kecenderungan kepada akhlak yang buruk dan gelap.”

Hal ini hanya benar-benar dipahami oleh orang yang telah bersungguh-sungguh melawan hawa nafsunya di bawah bimbingan para ahli ruhani, yaitu mereka yang mampu menggabungkan antara syariat dan hakikat, antara fana dan baqa, antara sadar dan ekstase, antara kehadiran dan ketidakhadiran, antara perjuangan dan penyaksian.

Dari sisi rasa (dzauq) dan pengalaman batin, menggantungkan tasbih di leher termasuk perkara yang sangat berat dan sulit bagi jiwa, apalagi jika tasbih itu besar dan kasar. Orang yang pernah merasakannya akan memahami; sedangkan yang belum, tidak mengapa jika ia belum melakukannya.

Karena hakikat sesuatu tersembunyi dalam pengalaman. Siapa yang tidak mencoba, ia tidak akan mendapatkan pemahaman yang tepat. Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, pada awalnya aku merasakan berat dan pahit ketika menggantungkan tasbih di leherku, karena masih adanya perhatian pada diri dan ego. Bahkan aku lebih memilih memikul beban batu yang sangat berat di kepala daripada menggantungkan tasbih ringan di leherku.

Namun ketika aku tetap melakukannya atas perintah para guruku, maka sifat-sifat kemanusiaanku mulai tunduk, jiwaku menjadi tenang, dan hilang keinginan untuk mencari pujian atau mengikuti sifat-sifat buruk orang lain yang menghalangi dari Allah. Aku pun merasakan kekhusyukan dan ketundukan, baik lahir maupun batin.

Semua ini termasuk tuntutan syariat dalam membentuk sifat-sifat ruhani yang mengantarkan pada kesempurnaan penghambaan kepada Allah.

Inilah rahasia mengapa hal tersebut terasa berat bagi jiwa: karena jiwa masih jauh dari sifat kebebasan sejati dari ego dan masih dekat dengan kesombongan, sementara amalan itu mendekatkan kepada kerendahan hati, kehinaan di hadapan Allah, serta kesadaran akan kefakiran dan kebutuhan total kepada-Nya.

Dan sifat-sifat penghambaan seperti ini tidak akan ditinggalkan kecuali oleh orang yang binasa, yang mengikuti orang-orang yang binasa, lalai bersama orang-orang lalai, serta merasa puas dengan dirinya seperti orang-orang yang tertipu oleh dirinya sendiri. Ambillah pelajaran dari hal ini. Dan semoga Allah melindungimu dari keburukan manusia.

Seorang penyair berkata:

فتشبهوا إن لم تكونوا مثلهم

إن التشبه بالكرام فلاح

TENTANG MEMAKAI KALUNG TASBIH  

وَذَكَرَ القَاضِي أَحْمَدُ بْنُ خَلِّكَانَ فِي وَفَيَاتِ الأَعْيَانِ أَنَّهُ رَأَى فِي يَدِ الشَّيْخِ أَبِي القَاسِمِ الجُنَيْدِ سُبْحَةً، فَقِيلَ لَهُ: أَنْتَ مَعَ شَرَفِكَ تَأْخُذُ بِيَدِكَ سُبْحَةً؟ فَقَالَ: طَرِيقٌ وَصَلْتُ بِهِ إِلَى رَبِّي لَا أُفَارِقُهُ. الخَ، كَلَامُهُ. فَانْظُرْهُ إِنْ شِئْتَ.

وَأَمَّا جَعْلُهَا فِي العُنُقِ فَفِي المِعْيَارِ أَنَّ الإِمَامَ سَحْنُونَ رَحِمَهُ اللَّهُ دَخَلَ عَلَيْهِ بَعْضُهُمْ فَرَأَى فِي عُنُقِهِ سُبْحَةً، وَقَدْ يُقَاسُ جَعْلُهَا فِي العُنُقِ عَلَى جَعْلِ الخَاتَمِ فِي اليَدِ؛ لِأَنَّهُمْ ذَكَرُوا مِنْ عِلَلِ جَعْلِهِ فِي اليَدِ حِفْظَهُ، لِأَنَّهُ أُخِذَ أَوَّلًا لِلطَّبْعِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ يَحْفَظُهُ فِي يَدِهِ، وَيَدُلُّ لَهُ مَا سَمِعْتُ مِنْ شَيْخِنَا مَوْلَايَ عَبْدِ الوَاحِدِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: العُنُقُ هُوَ مِسْمَارُ السُّبْحَةِ.

وَلَا يُقَالُ: يَكْفِي فِي حِفْظِهِ أَنْ تَكُونَ فِي الجَيْبِ لِحُصُولِ مِثْلِهِ فِي الخَاتَمِ أَيْضًا، وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا جَعْلَهُ فِي اليَدِ لِحِكْمَةٍ أُخْرَى، وَهِيَ أَنَّ اليَدَ هِيَ مَظْهَرُ الحُكْمِ وَمَحَلُّ الاِقْتِدَارِ، لِتَقَعَ المُنَاسَبَةُ بَيْنَ الحَامِلِ وَالمَحْمُولِ، فَافْهَمْ. وَكَذَلِكَ السُّبْحَةُ جُعِلَتْ حِفْظًا فِي العُنُقِ دُونَ غَيْرِهِ؛ لِأَنَّ العُنُقَ هُوَ مَحَلُّ التَّقْلِيدِ، فَيَكُونُ لَابِسُهَا قَدْ تَقَلَّدَهَا حِسًّا كَمَا تَقَلَّدَهَا مَعْنًى مُنَاسِبَةً.

وَلِأَنَّ السُّبْحَةَ آلَةُ الذِّكْرِ، فَلَهَا بِذَلِكَ قَدْرٌ عَظِيمٌ، وَالعُنُقُ هُوَ أَعْظَمُ مَا فِي الجَسَدِ وَأَعْلَى مَا فِيهِ مِمَّا يُمْكِنُ فِيهِ حِفْظُهُ، فَجُعِلَ العَظِيمُ لِلْعَظِيمِ مُنَاسِبَةً، وَلِأَنَّ حَبْلَ الوَرِيدِ الَّذِي ضَرَبَ اللَّهُ بِهِ المَثَلَ فِي قَوْلِهِ: ﴿وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الوَرِيدِ﴾ هُوَ فِي العُنُقِ، وَهُوَ مَجْرَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ، فَجُعِلَتِ السُّبْحَةُ الَّتِي هِيَ آلَةُ القُرْبِ مِنَ اللَّهِ عَلَيْهِ مُنَاسِبَةً لِلآيَةِ، حَتَّى يَكُونَ الاِعْتِنَاءُ بِالحَقِّ أَشَدَّ مِنَ الاِعْتِنَاءِ بِحَبْلِ الوَرِيدِ، فَيَكُونُ حَبْلُ الوَرِيدِ وَسِيلَةً لِلْقُرْبِ مِنَ اللَّهِ، إِذْ هُوَ آلَةٌ لِحَمْلِ السُّبْحَةِ المُقَرِّبَةِ مِنَ الحَقِّ سُبْحَانَهُ، فَيَحْصُلُ القُرْبُ مِنَ اللَّهِ الَّذِي هُوَ المَطْلُوبُ بِالسُّبْحَةِ حِسًّا وَمَعْنًى، فَاعْلَمْ ذَلِكَ فَإِنَّهُ دَقِيقٌ.

Artinya:

Disebutkan oleh Qadhi Ahmad bin Khallikan dalam kitab “Wafayāt al-A‘yān” bahwa beliau melihat di tangan Syaikh Abu al-Qasim al-Junaid sebuah tasbih. Lalu dikatakan kepadanya: “Engkau dengan kedudukanmu yang tinggi masih memegang tasbih di tangan..??” Maka beliau menjawab: “Ini adalah jalan yang dengannya aku sampai kepada Tuhanku, maka aku tidak akan meninggalkannya.” dan seterusnya, silahkan engkau renungkan jika engkau mau.

Adapun meletakkan tasbih di leher, maka dalam kitab “al-Mi‘yār” disebutkan bahwa Imam Sahnun Rahimahullah pernah didatangi seseorang, lalu orang itu melihat di leher beliau ada tasbih. Hal ini bisa dianalogikan dengan memakai cincin di tangan; karena para ulama menyebutkan di antara hikmah cincin dipakai di tangan adalah untuk menjaganya. Nabi ﷺ dahulu menjadikannya sebagai kebiasaan, dan beliau menjaganya di tangannya. Hal ini juga diperkuat oleh apa yang saya dengar dari guru kami, Maulana ‘Abd al-Wahid Rodhiyallahu ‘Anhu, yang berkata: “Leher itu ibarat paku (tempat menggantung) tasbih.”

Tidak bisa dikatakan bahwa cukup menjaganya di saku, karena hal yang sama juga bisa berlaku pada cincin, namun tetap saja cincin diletakkan di tangan karena hikmah lain. Yaitu bahwa tangan adalah tempat tampaknya kekuasaan dan tindakan, sehingga ada kesesuaian antara pembawa dan yang dibawa, maka pahamilah ini..!!

Demikian pula tasbih dijadikan terpelihara/terjaga di leher, bukan di tempat lain; karena leher adalah tempat menggantung (kalung), sehingga orang yang memakainya seakan-akan “menyandangnya” secara lahir sebagaimana ia juga menyandangnya secara makna (batin).

Selain itu, karena tasbih adalah alat untuk berdzikir, maka ia memiliki kedudukan yang agung. Sedangkan leher adalah bagian tubuh yang paling mulia dan tinggi yang memungkinkan untuk menjaganya. Maka sesuatu yang agung ditempatkan pada yang agung, sebagai bentuk kesesuaian.

Dan karena urat leher (ḥabl al-warīd) yang disebut dalam firman Allah: “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” berada di leher, yang juga menjadi jalur makanan dan minuman, maka tasbih yang merupakan sarana mendekatkan diri kepada Allah, diletakkan di situ sebagai bentuk kesesuaian dengan ayat tersebut. Agar perhatian kepada Allah lebih kuat daripada perhatian terhadap urat leher itu sendiri.

Sehingga urat leher itu seakan menjadi sarana untuk mendekat kepada Allah, karena ia menjadi tempat bagi tasbih yang mendekatkan kepada-Nya. Maka terwujudlah kedekatan kepada Allah yang menjadi tujuan dari tasbih, baik secara lahir maupun makna (batin). Maka pahamilah hal ini, karena ia termasuk perkara yang halus dan mendalam.

______

Dinukil dari kitab تحفة أهل الفتوحات و الأذواق karya Al-Imam Al-‘Arif billah Abi Al-Fadhl Fathullah bin Abi Bakr Al-Banany, Halaman: 31.

INDONESIA

Di tanah air ini, banyak para ulama dan kyai-kyai terdahulu yang memakai kalung tasbih di leher. Diantara orang² ternama yang hidup di zaman modern, yang sering memakai aksesoris tasbih di lehernya, adalah penyair WS. Rendra dan seniman dangdut yang dijuluki “Raja Dangdut” H. Rhoma Irama. Bahkan bagi Bang H. Rhoma Irama, memakai kalung tasbih itu sudah menjadi bagian dari ciri khas beliau.

Bang Haji sendiri pernah menjelaskan dalam berbagai wawancara dan ceramahnya, bahwa tasbih yang ia kenakan itu bukan sekadar hiasan. Baginya, itu adalah pengingat untuk selalu berdzikir di mana pun ia berada. Beliau pernah berkata, bahwa orang yg di lehernya ada kalung tasbeh hendaknya punya rasa malu untuk datang ke tempat² maksiat.

Tasbih dalam pandangan Bang Haji, kurang lebih sebagai:

1. Alat dzikir: tasbih memudahkannya mengingat Allah kapan saja, bahkan di sela aktivitas panggung.

2. Simbol komitmen: ia ingin menunjukkan bahwa perjalanan seninya tidak lepas dari nilai-nilai agama.

3. Bukan untuk riya’: ia pernah menegaskan bahwa niatnya bukan pamer kesalehan, melainkan kebiasaan pribadi yang sudah melekat.

Dalam beberapa kesempatan, ia juga mengaitkan hal itu dengan misi dakwahnya bersama Soneta Group, yakni membawa pesan moral dan religius lewat musik. Jadi, menurut versinya sendiri, kalung tasbih itu lebih ke alat ibadah yang selalu siap dipakai, sekaligus pengingat identitas diri sebagai seniman yang berdakwah.

Di lain kesempatan beliau juga menegaskan, bahwa kalau sauadara saudara non muslim kita saja tidak sungkan dan tidak malu memakai dan menampakkan aksesoris yang berbau simbol simbol agama mereka, lalu mengapa kita harus malu dan sungkan memakai kalung tasbih sebagai salah satu aksesoris sekaligus syiar dan alat berdzikir dalam tradisi agama Islam kita..?!

Kalau para pelaku maksiat saja tidak merasa malu dan tidak merasa tabu memperlihatkan alat-alat/media-media maksiatnya, lalu kenapa kita harus merasa malu dan tabu memperlihatkan alat-alat/media-media yang mendorong kita didalam berbuat ketaatan kepada Allah..?!

Dalam tulisan tulisan saya sebelumnya, saya mengutip dari kitab تحفة أهل الفتوحات والأذواق secara panjang lebar tentang keutamaan memakai kalung tasbih di leher. Namun berikut saya mengutip kembali ibarat dari beberapa kitab yg lainnya:

تَعْلِيقُ السُّبْحَةِ فِي العُنُقِ هُنَاكَ القَاعِدَةُ الفِقْهِیَّة المَعْرُوفَةُ: «الأَصْلُ فِي الأَشْيَاءِ الإِبَاحَةُ حَتَّىٰ يَرِدَ النَّهْيُ وَالتَّحْرِيمُ، وَهٰذَا فِي كُلِّ شَيْءٍ»، وَلَيْسَ هُنَاكَ أَيُّ دَلِيلٍ عَلَىٰ عَدَمِ جَوَازِ وَضْعِهَا فِي العُنُقِ.

وَمِنَ الصَّحَابَةِ الَّذِينَ وَضَعُوا السُّبْحَةَ فِي العُنُقِ الصَّحَابِيُّ الجَلِيلُ تَمِيمُ الدَّارِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ الَّذِي سَكَنَ فِلَسْطِينَ، وَهُوَ المَعْرُوفُ بِالزُّهْدِ وَالوَرَعِ (كِتَابُ المَدْخَلِ لِابْنِ الحَاجِّ: 3-214).

ثُمَّ إِنَّ الجُنْدَ وَالعَسْكَرَ فِي البِلَادِ العَرَبِيَّةِ وَالإِسْلَامِيَّةِ كَانَ كُلٌّ مِنْهُمْ يَتَّخِذُ لِنَفْسِهِ رَايَةً وَعَلَمًا وَإِشَارَةً مُخْتَلِفَةً عَنِ الآخَرِينَ، وَالغَايَةُ وَالهَدَفُ وَاحِدٌ عِنْدَهُمْ.

ثُمَّ إِنَّ الزِّيَّ السُّودَانِيَّ لَا يُشْبِهُ الزِّيَّ البَاكِسْتَانِيَّ، وَكَذٰلِكَ فِي المَغْرِبِ العَرَبِيِّ وَبِلَادِ الشَّامِ، وَجَمِيعُنَا مُسْلِمُونَ، وَلَيْسَ فِي ذٰلِكَ أَيُّ عَيْبٍ وَلَا مُنْكَرٌ مَا دَامَ الشَّيْءُ زِيًّا وَشَكْلِيَّاتٍ.

ثُمَّ إِنَّ جَعْلَ السُّبْحَةِ فِي العُنُقِ أَشْبَهُ مَا يَكُونُ بِجَعْلِ الخَاتَمِ فِي أَصَابِعِ اليَدِ، إِذِ الخَاتَمُ يُوضَعُ فِي الإِصْبِعِ لِلحِفْظِ وَالصَّوْنِ، وَإِظْهَارِ الحُكْمِ وَالشَّأْنِ.

فَكَذٰلِكَ تُوضَعُ السُّبْحَةُ فِي العُنُقِ لِعُلُوِّ مَكَانِهَا وَشَرَفِهَا عَلَىٰ مَا دُونَهَا مِنْ أَعْضَاءِ الجِسْمِ، عِلْمًا بِأَنَّ العُنُقَ أَصْوَنُ لَهَا مِنَ الضَّيَاعِ وَالاِمْتِهَانِ، فَهِيَ آلَةٌ مُذَكِّرَةٌ بِاللهِ، فَلَهَا بِذٰلِكَ قَدْرٌ عَظِيمٌ.

وَالعُنُقُ هُوَ أَعْظَمُ مَا فِي الجَسَدِ وَأَعْلَىٰ مَا فِيهِ، يُمْكِنُ فِيهِ حِفْظُهَا، فَجَعْلُ العَظِيمِ لِلعَظِيمِ مُنَاسَبَةٌ (كِتَابُ المَنْهَجِ الصُّوفِيِّ لِلشَّيْخِ حَسَنِ الفَاتِحِ قَرِيبِ اللهِ: 41-42).

قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: «المُؤَذِّنُونَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ القِيَامَةِ» (رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 9136).

فَهٰذِهِ عَلَامَةُ التَّمْيِيزِ بَيْنَ الخَلَائِقِ يَوْمَ القِيَامَةِ بِطُولِ أَعْنَاقِهِمْ، وَلِهٰذَا أَهَمِّيَّةٌ قُصْوَىٰ عِنْدَ أَهْلِ التُّقَىٰ وَالصَّلَاحِ.

وَتَعْلِيقُ السُّبْحَةِ فِي العُنُقِ لَيْسَ فِيهِ شَيْءٌ، وَهُوَ نَظِيرُ وَضْعِ الكَاتِبِ وَأَصْحَابِ المِهَنِ الحُرَّةِ القَلَمَ عَلَىٰ آذَانِهِمْ.

وَنَظِيرُ مَا رَوَاهُ يَحْيَىٰ بْنُ يَمَانَ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: «كَانَ السِّوَاكُ مِنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ مَوْضِعَ القَلَمِ مِنْ أُذُنِ الكَاتِبِ» (الدُّرُّ المَنْثُورُ: 1-114).

ثُمَّ جَاءَ فِي كِتَابِ المَدْخَلِ (3-216): «وَرَدَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ دَخَلَ عَلَىٰ بَعْضِ أَزْوَاجِهِ، فَرَأَىٰ نُورًا فِي طَاقٍ، فَقَالَ: مَا هٰذَا النُّورُ؟ فَقَالَتْ: هٰذِهِ سُبْحَتِي جَعَلْتُهَا هُنَاكَ».

Artinya:

Tentang mengalungkan tasbih di leher, terdapat kaidah fikih yang معروف: “Hukum asal segala sesuatu adalah boleh, sampai ada dalil yang melarang dan mengharamkannya.” Kaidah ini berlaku untuk semua hal. Dan tidak ada dalil yang melarang meletakkan tasbih di leher.

Di antara sahabat yang melakukan hal itu adalah sahabat mulia Tamim ad-Dari radhiyallahu ‘anhu, yang tinggal di Palestina, dan dikenal sebagai orang yang zuhud dan wara’.

Kemudian, para tentara di negeri Arab dan Islam masing-masing memiliki bendera, lambang, dan tanda yang berbeda-beda, meskipun tujuan mereka sama.

Begitu pula pakaian orang Sudan berbeda dengan Pakistan, demikian juga di Maghrib dan Syam. Namun semuanya tetap Muslim. Hal seperti ini bukanlah aib atau kemungkaran selama hanya sebatas bentuk lahiriah.

Mengalungkan tasbih di leher itu mirip dengan memakai cincin di jari. Cincin dipakai untuk menjaga, melindungi, dan juga menunjukkan kedudukan atau nilai tertentu.

Demikian pula tasbih diletakkan di leher karena posisinya yang tinggi dan mulia dibanding anggota tubuh lainnya. Selain itu, leher lebih aman dari kehilangan atau pelecehan. Tasbih adalah alat untuk mengingat Allah, sehingga memiliki kedudukan yang agung.

Leher adalah bagian tubuh yang tinggi dan penting, sehingga cocok untuk menjaga sesuatu yang bernilai. Maka menempatkan sesuatu yang mulia pada tempat yang mulia adalah hal yang sesuai.

Rasulullah SAW bersabda: “Para muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat.” (HR. Muslim).

Ini menjadi tanda pembeda manusia pada hari kiamat, dan hal tersebut memiliki nilai penting bagi orang-orang yang bertakwa.Mengalungkan tasbih di leher juga tidak masalah, sebagaimana kebiasaan para penulis atau pekerja yang meletakkan pena di telinga mereka.

Disebutkan pula dalam riwayat bahwa siwak Rasulullah SAW biasa diletakkan seperti posisi pena di telinga penulis.

Dalam kitab “al-Madkhal” disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah melihat cahaya di sebuah tempat di rumah istrinya. Ketika ditanya, istrinya menjawab bahwa itu adalah tasbihnya yang ia letakkan di sana.

Hal ini menunjukkan bahwa tasbih bisa memiliki keberkahan karena digunakan untuk dzikir. Maka tidak mengapa jika tasbih itu selalu berada di leher, dada, atau tangan, karena keberadaannya dapat mengingatkan seseorang untuk berdzikir kepada Allah.

Sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Orang yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.”

Wallahu A’lam Bisshowaab…

TAMAT

Komentar