DALEM CIKUNDUL merupakan sesepuh Kabupaten Cianjur. Beliaulah yang menurunkan Bupati-bupati Cianjur pada masa lampau. Eyang Dalem Suryadiningrat mempunyai nama lengkap seperti yang tertera pada papan nama makamnya yaitu Eyang Dalem Suryadiningrat Aria Nudatar Sagara Herang (Eyang Cikundul).Makom beliau menjadi salah satu tempat pengambilan tanah dan air untuk Ibu Kota Negara (IKN). Tanah dan air itu dibawa oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil untuk prosesi Kendi Nusantara.
Sebagaimana diketahui, bahwa lokasi Makom Eyang Cikundul berada di Jalan Merdeka, Cikundul Hilir, Kelurahan Cikundul, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi berada dalam area berpagar. Pada bagian depan, terpasang papan penanda situs bersejarah.Kemudian, ada beberapa anak tangga yang mengarahkan pengunjung menuju situs tersebut. Di dalamnya ada tiga buah makam yang disebut sebagai petilasan Suryadiningrat dan dua punggawanya (pengawal).
Ketua Yayasan Dapuran Kipahare Irman Firmansyah mengatakan Makom Eyang Dalem Suryadiningrat Cikundul ini sebenarnya bukanlah kuburan tetapi petilasan. Konon, Dalem Cikundul (Ariawiratanudatar I atau Jayasasana) pada zaman dahulu sering berkunjung ke wilayah Cikundul untuk menyebarkan Islam. “Eyang Dalem Cikundul ini, konon punya ajian pancasona, yang orangnya bisa muncul di mana saja meski raganya di Cikalong (Cianjur). Jadi beliau pendiri Cianjur, kebetulan Suryadiningrat itu keturunannya yang menyebarkan Islam di daerah sekitaran Sukabumi,” katanya
Eyang Dalem Cikundul menyebut, sekitar tahun 1650-an kemungkinan Suryadiningrat pernah tinggal sementara di Cikundul dan dibuatlah petilasan dalam bentuk makam. “Kalau zaman dulu kan petilasan dibuat bentuknya seperti kuburan padahal belum tentu itu kuburan, bisa jadi hanya petilasannya saja,” ujarnya.
Dia mengungkapkan, kisah Eyang Dalem Cikundul sudah tercampur dengan mistik. Ada banyak versi yang berkembang di masyarakat. Pasalnya, makam Eyang Dalem Suryadiningrat pun ada di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.”Katanya Eyang Dalem ini meninggal tahun 1533, padahal Jayasasana meninggal sekitar 1681-1691 mengingat tahun 1680 masih menghadapi balatentara Banten yang menyerang Cianjur, sedangkan 1533 adalah konon masa dakwah ayahnya (Aria Wangsa Goparana) ke Sukabumi,” tuturnya.
Kemudian keterkaitannya dengan proses Kendi Nusantara, Irman mengatakan, ada semacam budaya ngaruwat lemah cai sebagai adat untuk membuka lahan baru.Lemah cai menjadi simbol masyarakat ekologis Sunda dengan diambil tanah dan airnya.
Pada zaman dulu masyarakat percaya atas adanya Pusat Kosmos. Di Sukabumi, Gunung Gede menjadi pusat kosmos tersebut dengan sebutan janggamanik sebagai pusat pajajaran.Orang tidak mungkin datang ke puncak Gunung Gede untuk melakukan ritual. Oleh sebab itu, biasanya diambil dari turunan peninggalan Gunung Gede seperti salah satunya di Cikundul ini dengan adanya air panas Cikundul.
“Karena sumber air panas itu kan berasal dari lahar juga sebetulnya. Ada kaitan dengan Gunung Gede jadi dimungkinkan yang biasa dibawa sebagai ritual itu ada dari pusar-pusarnya bumi. Nah pusarnya itu di masyarakat kita dianggap salah satunya air panas dan ada tokohnya yaitu Suryadiningrat yang dikeramatkan,” paparnya.
Sebenarnya, lokasi Makam Raden Aria Wiratanu Datar atau Eyang Dalem Cikundul berjarak 20 kilometer dari pusat kota Cianjur tepatnya di Kecamatan Cikalongkulon.Sebelum sampai ke sana, kita harus melewati Kecamatan Mande, kemudian masuk ke jalur Cianjur-Jonggol sebelum sampai ke Cikalongkulon.Cikalongkulon merupakan kawasan tepi genangan Cirata. Kawasan tersebut identik dengan warga yang lalu lalang membawa alat pancingan di tas punggungnya.
Setiap bulan suci Ramadan banyak yang menghabiskan waktu ngabuburit memancing di sana. Tak sedikit juga remaja yang keluar pada sore hari mencari takjil ke kawasan alun-alun kecamatan.
Makam Eyang Dalem Cikundul berada di sebuah bukit. Warga menyebutnya pasir. Kawasan ini masuk wilayah Desa Cijagang, sekitar empat kilometer dari jalur Cikalongkulon-Cariu.Petunjuk arah cukup jelas di pertigaan jalan. Saat bulan Mulud, peziarah dari berbagai daerah akan memadati kawasan Desa Cijagang ini.Kawasan itu tadinya sebuah perbukitan dan persawahan. Namun, kini, berkembang menjadi ramai. Kios-kios yang menjajakan berbagai makanan dan pakaian bisa dijumpai di gerbang masuk kawasan makam Cikundul.Pelataran parkir yang luas sengaja dibuat. Maklumlah, jika sedang bulannya berziarah, bus besar banyak yang datang di kawasan ini.
Beberapa meter sebelum gerbang ada sebuah sungai yang mengalir dan dua jembatan hanya diperuntukkan bagi kendaraan roda dua. Sebuah masjid terlihat di samping kiri. Beberapa penjaga makam atau yang akrab disapa kuncen akan menyapa. Begitu juga ketika Tribun mulai melangkah masuk.
Seorang “kuncen” penjaga makam Eyang Dalem Cikundul, mulai bercerita ringan mengenai pendahulunya yang juga menjadi kuncen makam.Dia menceritakan sejarah Raden Aria Wiratanu Datar yang membuka kerajaan kecil dan sekarang menjadi Kabupaten Cianjur.”Menurut cerita turun-temurun, Raden Aria Wiratanu Datar adalah anak Raden Aria Wangsa Goparan, yang masih keturunan Raja Sunda Galuh Mundingsari alias Banjarsari,” kata dia .
Eyang Dalem Cikundul dilahirkan sekitar tahun 1603 Masehi di Kampung Cibodas, Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang.Pada usia delapan tahun ia dididik dan digembleng di paguron (perguruan) Islam Kesultanan Cirebon di bawah pimpinan penerus Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.
Konon katanya, bahwa Eyang Dalem Cikundul seorang siswa teladan dan paling menonjol dibanding siswa-siswa lainnya. Eyang menguasai bidang ajaran keagamaan, keperwiraan, dan ilmu kemasyarakatan.”Tamat di perguruan tersebut ia mendapat gelar Aria. Gelar itu merupakan gelar untuk kerabat keraton dengan kedudukan ‘Ngabehi’ selaku penggawa Kesultanan Cirebon dengan nama khusus Ngabehi Jaya Sasana,” kata dia.
Pada usia 23 Eyang Dalem Cikundul mendapat kepercayaan dan diangkat menjadi senopati Kesultanan Cirebon sehingga mendapat gelar Raden Aria Wiratanu.Ia lalu diberi prajurit sebanyak 300 umpi (1.200 jiwa) dari Kesultanan Cirebon. Eyang Dalem Cikundul mendapat tugas dari penerus Syekh Syarif Hidayatullah Gunung Jati untuk mendirikan kerajaan kecil di wilayah kosong bekas wilayah Pajajaran.
Sebelum mendirikan Kabupaten Cianjur, Eyang Dalem Cikundul sering d di kawasan Sagalaherang, Subang.Saat berangkat ia hanya mendapat petunjuk untuk mendirikan kerajaan di kawasan selatan sebelah barat. Petunjuk lainnya, wilayah yang harus dijadikan kerajaan itu adalah sebuah wilayah yang sering dijadikan tempat mandi badak berwarna putih.Eyang Dalem Cikundul akhirnya menemukan tempat pemandian badak putih tersebut. Ia membawa pasukan dan sekitar 500 keluarga ke tempat tersebut.Kini sumur tempat mandi hewan badak putih masih ada di dekat pegadaian.
Dalam perjalanan membawa pasukan, ada beberapa tempat yang kini namanya masih dipakai di Cianjur, yakni Rancabali saat ia menemukan kawasan rawa lalu pasukan balik lagi; Sayang Heulang, tempat ia menemukan pepohonan tinggi dan banyak sarang elangnya; Salakopi, tempat para pasukannya bersama keluarga memetik biji kopi sebagai perbekalan; dan Pamoyanan, tempat berjemur.Sekitar tahun 1691-1692 Masehi berdirilah secara resmi Kerajaan Cianjur yang merdeka dan berdaulat penuh dipimpin Eyang Dalem Cikundul.Raden Aria mendapat tugas menyebarkan agama Islam di wilayah Cianjur, Sukabumi, dan sebagian wilayah Bogor.Memasuki usia lanjut, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya yang bernama Raden Aria Wiramanggala yang bergelar Raden Aria Wiratanu Datar Tarikolot.Pada usia lanjut, Eyang Dalem Cikundul berangkat menuju arah utara mendirikan perguruan Islam di wilayah Cikalongkulon.Tahun 1692-1695 Masehi, Eyang Dalem Cikundul tutup usia dan kemudian disemayamkan di bukit Pasir Gajah, Kampung Majalaya, Desa Cijagang, Kecamatan Cikalongkulon.Ada ciri-ciri yang saya dengar tentang Eyang Dalem Cikundul, sejak kecil sekitar umur tiga tahun ia mempunyai kegemaran naik ke bukit dan menghadap ke arah kiblat seolah-olah merenung dengan mata yang menerawang. Gaung suaranya sangat terkenal. Sekalipun berbisik, suaranya dapat didengar oleh orang yang dipanggil.
Rd.Aria Wiratanudatar waktu kecil bernama Pangeran Jayalalana atau R. Ngabehi Jayasasana. Ayahnya, Raden Aria Wangsagoparana yang juga masih keturunan Raja Talaga, waktu berusia 8 tahun R. Aria Wiratanudatar belajar di Pondok Pesantren di Cirebon untuk mendalami ilmu agama Islam.Ia adalah seorang santri yang paling menonjol dalam bidang keagamaan, kemasyarakatan dan ilmu pemerintahan, sehingga oleh Kesultanan Cirebon diberi gelar Aria sebagai tanda anggota kerabat keraton. Setelah dewasa ia diminta oleh gurunya mendirikan Kadipaten di Cinengah untuk menyebarkan agama Islam.Menyebarkan agama Islam di tengah masyarakat yang waktu itu beragama Hindu dan Budha bukal hal yang gampang. Tantangan dan hambatan datang dari berbagai persoalan. Tapi berkat kepiawaiannya sedikit demi sedikit beliau bisa juga merangkul masyarakat sekitanyar untuk memeluk agama Islam.
Bahkan sejarah Cianjur mencatat sebagai salah seorang dari banyak ulama yang berhasil menyebarkan Islam di wilayah itu. Satu hal menarik mengenai pribadi RA. Wiratanudatar Cikundul, dalam catatan sejarah pernah ditulis bahwa beliau pernah bertapa selama 40 hari 40 malam ( dalam ilmu tashawwuf / Ilmu Kewalian disebut Riyadhoh dan Mujahadah ). Tafakur mendekatkan diri pada Allah SWT di Batu Agung, Tinaragung, Sagala Herang.
Dalam pertapaan tersebut, R.A. Wiratanudatar didatangi dan digoda putri Jin yang sangat cantik putera dari raja jin Islam bernama Syech Jubaedi. 3 puteri jin itu bernama Arum Cahaya, Arum wangi, Arum Endah dan pengasuhnya bernama Arum Paka. Karena kekhusyuan RA. Wiratanu 1, putri paling bungsu, Arum Endah, tertarik dan jatuh cinta kepada RA. Wiratanu 1. Akhirnya sang putri Jin menikah dan melahirkan 3 orang putera bernama Rd. Suryakencana, Rd. Andaka Wirusajagat dan Rd Endang Sukaesih. Sementara itu dari manusia biasa Rd. Aria Wiratanu datar mempunyai 11 orang putera.
Setelah itu, ia mengembara ke daerah Cianjur menyusuri Sungai Citarum dengan membawa anak buahnya sebanyak 300 umpi. Setiap tempat disinggahinya sambil menyebarkan agama Islam dan ia pernah bertemu dengan Rd. H Abdulsyukur, Kiai Gunung Wayang.
Setelah sampai di daerah Cianjur ia merintis untuk mendirikan kota Cianjur dan menjadi Dalem pertama Kadipaten Cianjur dengan wilayah kekuasaan sebagian wilayah Bogor dan Sukabumi. Sementara itu Cikundul yang sebelumnya hanyalah merupakan sub nagari menjadi Ibu Nagari tempat pemukiman rakyat Djajasasana.
Beberapa tahun sebelum tahun 1680 sub nagari tempat Raden Djajasasana disebut Cianjur (Tsitsanjoer-Tjiandjoer). Lokasi yang pertama kali dipilihnya adalah sekitar kp. Pamoyanan, tepat di tepi Sungai cianjur, disanalah Dalem Cikundul mendirikan Pemerintahan, dengan membangun pendopo sebagai tempat atau pusat Pemerintahan, yang hingga kini gedung tersebut masih kokoh berdiri.Masa pemerintahan Bupati Rd. Aria Wiratanu I ini antara tahun 1640- 1691 Masehi, setelah itu Pemerintahan di turunkan kepada Putra Pertama nya dari keturunan Manusia, (karena Dalem Cikundul Konon memiliki 2 Istri ,satu dari bangsa manusia dan satunya lagi dari Bangsa Jin,), yang bernama Rd. Aria Wiramanggala, Atau dalem Tarikolot, bergelar Aria Wiratanu II. dan memerintah dari tahun 1691 – 1707 Masehi.
Setelah lanjut usia ia menetap di Kampung Majalaya dengan mendirikan pesantren dan mengamalkan ilmu agamanya sampai wafatnya yakni wafat pada hari Jum`at 13 Robi`ul Awwal 1118 H / 25 juni 1706 M. 1706 Masehi dan dimakamkan di puncak Bukit Cijagang. Kampung Majalaya, Desa Cijagang, Kecamatan Cikalong-kulon. Cianjur, Jawa Barat . Beliau meninggalkan putra-puteri sebanyak 11 orang diantaranya : 1. Dalem Aria Wiramanggala. ( Aria Wiratanu II ); 2. Dalem Aria Martayuda (Dalem Sarampad).; 3. Dalem Aria Tirta (di Karawang); 4. Dalem Aria Natamanggala (Dalem Aria Kidul / Gunung Jati Cianjur),; 5. R.Aria Wiradimanggala (Dalem Aria Cikondang); 6. Dalem Aria Suradiwangsa (Dalem Panembong); 7. Nyi Mas R. Kaluntar ; 8. Nyi Mas R. Bogem; 9. Nyi Mas R. Karangan; 10. Nyi Mas R. Kara dan 11. Nyi Mas R. Djenggot
Sedangja putra putrinya dari bangsa jin Islam, memiliki 2 orang putra – dan 1 putri, yaitu 1) Eyang Surya-Kancana Mangkubumi . yang hingga sekarang dipercayai bersemayam di Gunung Gede atau hidup di alam jin. 2) Nyi Mas Indang Kancana alias Indang Sukaesih alias Nyai Mas Kara, bersemayam di Gunung Ceremai, R. Andaka Warusajagad di Gunung Kumbang Karawang. 3) Aria Wiratanu 1 Raden Djayasasana Bin Aria Wangsa Goparana lahir di Sagalaherang Subang Jawa Barat pada hari ahad tanggal 10 Robi`ul Akhir 1025 H / bertepatan dengan 8 Mei 1616 M dan meninggal pada hari jum`at 13 Robi`ul Awwal 1118 H / 25 juni 1706 M.
Silsilah leluhurnya :
1. Nabi Adam As.
2. Nabi Syis As.
3. Anwar ( Nur Cahya )
4. Sangyang Nurasa
5. Sangyang Wenang
6. Sangyang Tunggal
7. Sangyang Manik Maya
8. Brahma
9. Bramasada
10. Bramasatapa
11. Parikenan
12. Manumayasa
13. Sekutrem
14. Sakri
15. Palasara
16. Abiyasa
17. Pandu Dewanata
18. Arjuna
19. Abimanyu
20. Parikesit
21. Yudayana
22. Yudayaka
23. Jaya Amijaya
24. Kendrayana
25. Sumawicitra
26. Citrasoma
27. Pancadriya
28. Prabu Suwela
29. Sri Mahapunggung
30. Resi Kandihawan
31. Resi Gentayu
32. Lembu Amiluhur
33. Panji Asmarabangun
34. Rawisrengga
35. Prabu Lelea ( Maha Raja Adi Mulya )
36. Prabu Ciung Wanara ( Sang Manarah Raja Galuh 739 – 783 M )
37. Sri Ratu Dewi Purbasari ( Sang Manistri Raja Galuh 783 – 799 M )
38. Prabu Lingga Hiang ( Raja Sunda – Galuh 799 – 1333 M )
39. Prabu Lingga Wesi ( Raja Sunda – Galuh 1333 -1340 M )
40. Prabu Susuk Tunggal
41. Prabu Banyak Larang
42. Prabu Banyak Wangi
43. Prabu Munding Kawati /Prabu Lingga Buana ( Sang Mokteng Ing Bubat 1350 – 1357 M )
44. Prabu Silih Wangi 1 (Prabu Wastu Kencana) Raja Sunda-Galuh 1371 – 1475 M )
45. Prabu Anggalarang ( Prabu Dewa Niskala Raja Galuh / Kawali 1475-1482 M )
46. Prabu Silih Wangi 2 Raja Pakuan Pajajaran 1482 – 1521 M )
( Rd.Pamanah Rasa ) Nikah Ka Nyimas Padmawati :
47. Prabu Munding Surya Ageung / Prabu Munding Wangi /
Munding Laya Dikusumah / Munding Sari Ageung / Munding Sari 2
48. Prabu Munding Surya Leutik / Munding Sari Leutik / Munding Sari 3
49. Prabu Pucuk Umum / Raden Rangga Mantri
( Raja Maja Plus Raja Talaga Terakhir ) Nikah Ka
Ratu Dewi Sunyalarang ( Ratu Parung Taun 1500 M ) / Ratu Wulansari Putri
Sunan Parung / Sunan Corendra / Raja Talaga Prabu Sakawayana 1450 M
Rd. Ranggamantri di islamkeun ku Raden Syarif Hidayatulloh Sunan Gunung Jati Cirebon dina taun 1529 M , Prabu Pucuk Umum Apuputra :
50. Sunan Parunggangsa
51. Sunan Wanaperih / Sunan Cibinong / Raden Aria Kikis
52. Sunan Ciburang / Raden Aria Saringsingan
Kampung Ciburang Desa Maniis Kec.Cingambul Kab.Majalengka
53. Sunan Sagalaherang / Raden Aria Wangsa Goparana
54. Pangeran Ngabehi Jaya Sasana / Jaya Lalana / Raja Gagang / Wiratanu I Eyang Dalem Cikundul. (@@@@









Komentar