Oleh: Agus Pakpahan (Ekonom Kelembagaan dan Pertanian / Rektor Universitas Koperasi Indonesia (2023–sekarang)
Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi, Edisi 27 April 2026
Abstrak
Esai ini bertolak dari sebuah ungkapan yang dicatat oleh Prof. F.G. Winarno dalam Kata Pengantar buku Serangga Layak Santap (2018): ketika Presiden Soeharto bertanya kepada Menteri Pertanian Wardoyo, “Mengapa saya pintar?”, penelitian ilmiah mengungkap bahwa sumber kecerdasan presiden berasal dari konsumsi serangga—laron, jangkrik, belalang—di masa kecilnya di pedesaan Yogyakarta. Berangkat dari alegori ini, esai membangun argumen bahwa Indonesia sesungguhnya memiliki seluruh prasyarat untuk mengatasi krisis gizi ganda—stunting pada anak dan penyakit degeneratif pada orang dewasa—melalui pemulihan kearifan pangan lokal yang telah lama terpinggirkan oleh kolonialisme epistemologi.
Dengan menelusuri studi klasik Chernichovsky dan Meesook (1984) yang mendiagnosis maldistribution dan inadequate diets di semua lapisan masyarakat, esai ini menunjukkan bahwa akar masalah gizi bukanlah kelangkaan, melainkan terputusnya hubungan antara manusia tropis dan sumber pangannya sendiri. Sementara itu, bangsa-bangsa temperate yang dahulu membawa standar pangan kolonial—Belanda melalui Wageningen University, Uni Eropa melalui regulasi Novel Food-nya, dan FAO melalui laporan Edible Insects (2013)—kini justru memimpin riset dan industrialisasi serangga pangan. Ironi ini diperdalam dengan kontras antara Program Makan Bergizi Gratis Indonesia yang masih ragu mengakomodasi serangga, dan Eropa yang telah melegalkan tujuh bahan serangga sebagai pangan masa depan.
Sebagai sintesis, esai ini mengajukan konsep Koperasi Konsumsi Kuantum—sebuah model kelembagaan yang dipinjam dari keberhasilan Koperasi Kredit Keling Kumang di Kalimantan Barat serta kerangka teoritis Koperasi Kuantum (Pakpahan, 2026)—sebagai jembatan strategis yang menghubungkan biodiversitas pangan lokal dengan kebutuhan gizi nasional. Koperasi ini tidak hanya berfungsi sebagai agregator rantai pasok bagi program Makan Bergizi Gratis, tetapi juga sebagai wahana edukasi gizi berbasis kearifan lokal dan sistem jaring pengaman sosial berbasis komunitas yang dapat melawan stunting dan penyakit metabolik sekaligus.
Esai ini menyimpulkan bahwa kedaulatan pangan sejati bukan sekadar kemampuan memproduksi sendiri, melainkan hak untuk mendefinisikan apa yang bergizi dan bermartabat berdasarkan ekologi dan budaya sendiri, diwujudkan dalam kelembagaan yang dimiliki rakyat, dan dipandu oleh sains terbaik yang tersedia. Kecerdasan tidak diimpor; ia tumbuh dari tanah yang kita pijak.
Kata kunci: kedaulatan pangan, epistemologi tropis, serangga pangan, stunting, penyakit degeneratif, Koperasi Konsumsi Kuantum, kolonialisme epistemologi, Makan Bergizi Gratis, Novel Food
Lihatlah sampul itu.
Di atas latar putih bersih, semangkuk serangga tersaji tanpa malu-malu. Kumbang hitam mengkilap, larva gemuk berwarna krem, kaki-kaki kecil yang renyah—semuanya ditampilkan apa adanya, tanpa rekayasa food styling ala majalah mewah. Tidak ada taburan peterseli untuk menyamarkan bentuk aslinya. Mereka adalah makhluk-makhluk kecil yang selama ini sering kita abaikan dari meja makan, yang barangkali kita anggap remeh di sudut dapur, yang kehadirannya sering tak kita sambut.
Di atas foto itu, nama F. G. WINARNO tercetak tegas. Ia bukan sekadar nama; ia adalah cap laboratorium, legitimasi dari ilmuwan pangan paling terkemuka yang pernah dimiliki negeri ini. Judulnya adalah sebuah pernyataan percaya diri: “SERANGGA LAYAK SANTAP”. Kata “layak” di sana bukan sekadar kelaikan teknis—ia adalah pemulihan martabat. Sub-Judulnya, “Sumber Baru bagi Pangan dan Pakan”, merangkul manusia dan ternak sekaligus, seolah berbisik bahwa solusi pangan masa depan tidak memisahkan keduanya, melainkan menyatukan mereka dalam satu siklus ekologi tropis yang purba.
Sampul ini adalah monumen epistemologi tropis yang membalikkan arah pandang: dari rasa malu ke rasa bangga.
Dan di dalam buku inilah, di Kata Pengantarnya, Prof. Winarno menyimpan sebongkah emas naratif yang akan menjadi pintu masuk bagi seluruh permenungan kita (Winarno, 2018).
Sebuah Pertanyaan dari Istana
Suatu hari di akhir dekade 1980-an, Presiden Soeharto—pemimpin yang telah mengabdikan dua dekade hidupnya untuk memimpin negeri—melontarkan sebuah pertanyaan yang sederhana namun penuh makna kepada Menteri Pertaniannya, Wardoyo: “Mengapa saya pintar?”
Bukan pertanyaan yang lazim keluar dari mulut seorang kepala negara. Namun di baliknya tersimpan keingintahuan yang tulus: adakah sesuatu dalam perjalanan hidup, dalam kebiasaan sehari-hari, yang membentuk ketajaman berpikir seseorang? Wardoyo, dengan pemahaman bahwa setiap pertanyaan dari pemimpin adalah kesempatan untuk belajar, memilih jalur sains. Ia menugaskan Prof. F.G. Winarno untuk mencari jawabannya.
Maka sang profesor pun mengerahkan seluruh metodologi ilmu pangan modern. Ia menyelami biografi Soeharto—bukan biografi politik atau militernya, melainkan biografi piringnya: apa yang disantap oleh Soeharto kecil di desa Kemusuk, Yogyakarta, pada era 1920-an? Apa yang masuk ke dalam tubuh bocah yang kelak akan memimpin Indonesia selama 32 tahun?
Hasilnya membukakan mata: Soeharto kecil gemar mengkonsumsi serangga. Laron yang bergerombol di musim hujan, jangkrik yang bersembunyi di balik batu-batu, belalang di pematang sawah, dan aneka serangga liar lainnya adalah bagian dari keseharian bocah desa itu (Winarno, 2018).
Temuan ini memberikan perspektif baru. Pada masa ketika standar gizi mulai diukur dengan daging sapi, susu formula, dan roti, Prof. Winarno menunjukkan bahwa sumber kecerdasan presiden terbentuk dari pangan lokal tropis yang tersedia di sekitarnya. Laron dan jangkrik, yang merupakan bagian dari kearifan pangan tradisional, ternyata menyimpan potensi luar biasa bagi perkembangan kognitif manusia. Buku Serangga Layak Santap menjadi monumen yang mengabadikan pengetahuan ini, agar ia tidak hilang ditelan zaman.
Laboratorium Tropis dalam Tubuh Serangga
Jika kita membaca temuan ini sebagai data saintifik yang serius, maka sebuah kebenaran besar segera menampakkan diri. Serangga adalah “superfood” tropis yang telah dibentuk oleh jutaan tahun evolusi untuk menyediakan nutrisi paling lengkap bagi manusia yang hidup di garis khatulistiwa.
Lihatlah profil gizinya. Seratus gram jangkrik mengandung sekitar 65 gram protein—hampir tiga kali lipat daging sapi yang hanya 26 gram. Kandungan zat besinya mencapai 9,5 mg per 100 gram, jauh melampaui bayam yang sering dipuja-puja. Kandungan seng (zinc)-nya 18,6 mg, mineral paling kritis untuk mencegah stunting karena ia adalah katalisator dalam pembelahan sel, pertumbuhan tulang, dan perkembangan kognitif. Laron, yang menjadi camilan bocah-bocah desa di musim penghujan, adalah bom protein dan asam lemak esensial yang mendukung pertumbuhan otak.
Yang lebih menakjubkan adalah kandungan kitin—serat dari eksoskeleton serangga yang tidak ditemukan dalam daging mamalia. Kitin adalah prebiotik alami, makanan bagi bakteri baik di usus kita. Di lingkungan tropis yang lembab dan dipenuhi patogen, usus yang sehat adalah benteng pertama imunitas. Lebih dari itu, riset kontemporer menunjukkan bahwa kesehatan mikrobiota usus adalah kunci dalam pencegahan obesitas, resistensi insulin, dan berbagai gangguan metabolik. Kitin dalam eksoskeleton serangga, dengan demikian, bukan sekadar serat—ia adalah agen pemelihara metabolisme yang sangat relevan bagi tantangan kesehatan modern. Makan serangga adalah strategi adaptasi biologis yang brilian antara manusia tropis dan ekosistemnya, sebuah simbiosis yang telah dijalani nenek moyang kita selama ribuan tahun.
Jadi, ketika Prof. Winarno menyimpulkan bahwa kecerdasan Pak Harto berkaitan erat dengan konsumsi laron dan jangkrik di masa kecilnya, ia sebenarnya sedang menyuarakan kebenaran yang telah lama terpatri dalam kearifan leluhur: alam tropis telah menyediakan segalanya. Protein, zat besi, seng, dan senyawa bioaktif spesifik untuk tubuh tropis—semuanya tersedia di sekitar kita, sebagai anugerah yang menunggu untuk digali kembali.
Dari Piring Desa Menuju Ketahanan Pangan Nasional
Kisah ini menjadi semakin kaya makna ketika kita menempatkannya dalam konteks perjalanan bangsa.
Presiden yang masa kecilnya akrab dengan laron dan jangkrik adalah pemimpin yang mengemban tugas berat membangun ketahanan pangan nasional. Di bawah kepemimpinannya, Indonesia menjalankan program pembangunan pertanian yang ambisius: Revolusi Hijau. Sawah-sawah diperluas, irigasi dibangun, bibit unggul diperkenalkan, dan pupuk serta pestisida menjadi bagian dari modernisasi pertanian. Hasilnya, pada 1984—tahun yang nyaris bersamaan dengan terbitnya studi Chernichovsky dan Meesook—Indonesia berhasil mencapai swasembada beras, sebuah prestasi yang mendapatkan pengakuan dari FAO.
Fokus pada beras pada masa itu merupakan pilihan strategis yang dapat dipahami. Beras adalah kebutuhan pokok mayoritas penduduk, dan menjaga ketersediaannya secara stabil adalah prasyarat bagi stabilitas nasional. Namun, sebagaimana setiap kebijakan berskala besar, ada dinamika yang tak terelakkan: konsentrasi pada satu komoditas utama secara bertahap mendorong terpinggirkannya keragaman pangan lokal. Pengetahuan tentang sagu, jewawut, talas, dan—tentu saja—serangga sebagai sumber protein, perlahan meredup dari ingatan kolektif.
Ini bukanlah sebuah kesalahan yang disengaja, melainkan sebuah proses sejarah yang alami. Setiap era memiliki prioritasnya sendiri. Yang penting adalah bagaimana kita, sebagai generasi penerus, dapat mengambil pelajaran berharga dari masa lalu: bahwa kearifan pangan lokal yang telah terbukti menyehatkan dan mencerdaskan—seperti yang dicontohkan oleh pengalaman masa kecil Pak Harto—adalah warisan yang patut kita gali kembali dan integrasikan dengan pengetahuan modern.
Luka yang Terekam oleh Data
Beberapa tahun setelah puncak Revolusi Hijau, dua ekonom dari Bank Dunia—Dov Chernichovsky dan G.A. Meesook—menganalisis data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 1978. Hasilnya diterbitkan pada 1984 sebagai World Bank Staff Working Paper No. 670: Patterns of Food Consumption and Nutrition in Indonesia (Chernichovsky & Meesook, 1984).
Studi itu menemukan bahwa Indonesia mengalami defisiensi serius pada semua jenis zat gizi. Namun yang paling menarik adalah diagnosis mereka: masalahnya bukan kekurangan pasokan nasional, melainkan maldistribution—ketidakmerataan distribusi. Dan lebih mencengangkan lagi, laporan itu menyatakan bahwa “inadequate diets are prevalent among the better-off and the better-educated as well” (Chernichovsky & Meesook, 1984). Pola makan yang buruk meluas bahkan ke kalangan mapan dan berpendidikan.
Ini adalah pengakuan jujur dari dalam sistem: pengetahuan gizi yang dominan belum sepenuhnya menjangkau masyarakat secara luas. Orang kaya dan berpendidikan pun bisa menderita gizi buruk karena keterbatasan akses terhadap pemahaman tentang apa yang baik untuk dimakan. Mereka membutuhkan jembatan antara pengetahuan lokal dan ilmu gizi modern.
Namun ada hal yang perlu dicermati. Studi ini dilakukan dalam kerangka epistemologi Bank Dunia—sebuah institusi yang mewarisi tradisi temperate. Alat analisisnya, definisi “kecukupan gizi”, kategori pangannya—semua sudah dibingkai oleh standar pangan Barat. Mereka bisa mendiagnosis maldistribution dan lack of nutrition education, tetapi mereka belum sepenuhnya menyentuh akar persoalannya: bahwa “pendidikan gizi” yang dibawa dari luar belum tentu selaras dengan kearifan pangan lokal yang telah teruji selama ribuan tahun.
Studi itu adalah penanda penting dalam perjalanan pemahaman kita tentang gizi di Indonesia—sebuah undangan untuk terus belajar dan menyempurnakan kebijakan.
Kolonialisme Epistemologi: Warisan yang Perlu Dipahami
Untuk memahami mengapa kearifan pangan seperti konsumsi serangga bisa begitu lama terabaikan, kita perlu menengok akar sejarah yang lebih tua: kolonialisme epistemologi pangan.
Sejak bangsa Eropa pertama kali datang ke Nusantara, mereka membawa standar peradaban yang dianggap universal. Mereka mencari “roti” di negeri tropis, dan karena tidak menemukan gandum, barley, atau rye, mereka mengarahkan perhatian pada satu komoditas yang paling mudah dikenali dan diperdagangkan: beras.
Sagu—yang tumbuh subur di rawa-rawa Maluku dan Papua tanpa perlu irigasi atau pupuk—dipandang sebelah mata. Jagung, jewawut, talas, dan aneka umbi-umbian dianggap kurang bergengsi. Dan serangga? Mereka bahkan tidak masuk dalam kategori makanan; mereka dianggap sebagai hama, binatang yang menjijikkan, tanda kemiskinan dan keterbelakangan.
Pandangan ini tertanam selama berabad-abad melalui apa yang oleh filsuf Boaventura de Sousa Santos disebut sebagai epistemicide—proses terpinggirkannya pengetahuan lokal (De Sousa Santos, 2014). Ilmu gizi modern yang lahir dari laboratorium Eropa dan Amerika Utara pada akhir abad ke-19 semakin memperkuat keadaan. Kategori “protein hewani berkualitas” dibakukan pada daging sapi, ayam, dan susu—hewan dari ekosistem temperate. Standar inilah yang kemudian menyebar ke seluruh dunia.
Akibatnya, sumber protein luar biasa dari ekologi tropis kurang mendapat perhatian: ulat sagu dari Papua, kroto (telur semut rangrang) dari Jawa dan Sumatra, belalang dari Nusa Tenggara, jangkrik dari berbagai daerah. Bahkan tempe—sebuah inovasi bioteknologi tropis yang daya cerna proteinnya lebih unggul dari kedelai mentah—harus menempuh perjalanan panjang untuk diakui dunia.
Sang ibu di NTT atau Papua, selama bertahun-tahun, menerima pesan bahwa “makanan bergizi” adalah susu formula dan biskuit buatan pabrik. Sementara itu, ikan segar dari laut di depan rumahnya, jantung pisang dari kebunnya, atau ulat sagu dari hutan di belakang kampungnya adalah makanan yang sejatinya jauh lebih segar, lebih kaya gizi, dan lebih cocok untuk tubuh tropis anaknya—namun belum memperoleh tempat yang layak dalam narasi gizi nasional.
Wageningen dan FAO: Ketika Dunia Mulai Belajar Kembali
Pada saat Indonesia, sebagaimana banyak negara lain, masih berkutat dengan paradigma pangan yang diwarisi dari era kolonial, dunia justru sedang berbalik arah. Dan inilah ironi yang menggembirakan: justru bangsa-bangsa temperate—para pewaris tradisi ilmiah yang dulu membawa standar pangan kolonial—kini berada di garis depan riset dan pelembagaan insekta sebagai pangan masa depan.
Wageningen University: Mercusuar Ilmu Serangga Dunia
Di Belanda, Wageningen University & Research (WUR)—universitas pertanian nomor satu dunia—telah menjadikan entomofagi sebagai salah satu unggulan akademiknya. Prof. Marcel Dicke, profesor entomologi terkemuka, selama lebih dari empat dekade mempelopori riset serangga pangan dan mempromosikannya ke seluruh dunia. Bersama koleganya, Arnold van Huis—entomolog tropis yang menjadi penulis utama laporan FAO 2013 yang legendaris—Marcel Dicke ikut menyusun The Insect Cookbook yang diterbitkan Columbia University Press (Dicke & van Huis, 2014).
WUR tidak hanya meneliti. Mereka melembagakan. Kursus “Edible Insects: Future Prospects for Food and Feed” ditawarkan secara daring dan telah menarik ribuan peserta dari seluruh dunia. WUR bahkan memiliki pilot insect farm sendiri, lengkap dengan laboratorium uji rasa dan prototipe produk—protein bar, pasta, tepung, dan kudapan berbasis serangga. Proyek ambisius bernama SUSINCHAIN dikoordinasikan oleh WUR di bawah kepemimpinan Prof. Teun Veldkamp bersama mitra-mitra Eropa, dengan target menggantikan 20 persen protein hewani yang dikonsumsi di Eropa dengan protein serangga, sekaligus meningkatkan volume produksi dan lapangan kerja di sektor ini hingga seribu kali lipat (Veldkamp et al., 2022–2025).
FAO: Membangun Kerangka Global
Pada 2013, FAO—organisasi pangan dan pertanian dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa—menerbitkan laporan monumental berjudul Edible Insects: Future Prospects for Food and Feed Security. Laporan ini, yang disusun melalui konsultasi pakar internasional di markas FAO di Roma, mendokumentasikan lebih dari 1.900 spesies serangga layak konsumsi dan melibatkan para ahli dari berbagai disiplin: kehutanan, peternakan, nutrisi, industri pakan, legislasi, dan kebijakan ketahanan pangan (Van Huis et al., 2013).
Apa kata FAO? Serangga adalah sumber pangan bergizi tinggi dan sehat, dengan kandungan lemak, protein, vitamin, serat, dan mineral yang sangat baik. Serangga dapat diproduksi dengan biaya lingkungan yang rendah, memberikan kontribusi positif bagi mata pencaharian, dan memainkan peran fundamental di alam. FAO secara eksplisit menyatakan bahwa standar keamanan pangan dapat diperluas untuk memasukkan serangga dan produk berbasis serangga (Van Huis et al., 2013). Ini adalah langkah besar menuju pelembagaan serangga sebagai pangan dan pakan masa depan.
Bahkan, dalam panduan yang diterbitkan para peneliti Wageningen pada 2022, tercatat sebuah pengakuan yang jujur: “Di daerah tropis, orang tidak membicarakannya, karena mereka tahu bahwa di dunia Barat hal itu dianggap primitif” (Veldkamp et al., 2022–2025). Kalimat ini adalah cermin bagi kita semua: bahwa sudah waktunya kita mengubah cara pandang, membuang rasa rendah diri yang tidak perlu, dan menggali kembali kekayaan pangan kita sendiri.
Dua Cermin: Program Makan Bergizi Gratis vs. Novel Food Eropa
Jika diletakkan berdampingan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Indonesia dan kebijakan Novel Food Eropa adalah dua cermin yang menunjukkan perkembangan terkini.
Dari segi filosofi, keduanya berangkat dari semangat yang mulia. MBG yang diluncurkan pada 6 Januari 2025 mendeklarasikan bahwa gizi anak Indonesia harus hadir dari tanahnya sendiri—menu disesuaikan dengan potensi pangan lokal di setiap daerah. Ikan tongkol di Maluku, sagu di Papua, jagung di NTT, hingga sayuran dataran tinggi di Jawa Barat dirancang menjadi bahan utama menu gizi seimbang. Hingga November 2025, program ini telah menjangkau lebih dari 42 juta penerima manfaat di 38 provinsi dan 509 kabupaten, melalui 14.853 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (Badan Gizi Nasional, 2025). Sementara itu, Eropa membingkai langkahnya sebagai strategi besar untuk keberlanjutan ekologis, ketahanan pangan, dan mitigasi perubahan iklim.
Namun, di atas fondasi filosofi yang sama-sama kuat itu, status regulasi keduanya menunjukkan kecepatan yang berbeda. Hingga triwulan ketiga 2025, Eropa telah melegalkan tujuh bahan berbasis serangga sebagai Novel Food dengan sepuluh opini keamanan positif dari Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA). Salah satu otorisasi terbaru mencakup bubuk larva kumbang Tenebrio molitor yang diolah dengan sinar UV, yang dapat dicampurkan ke dalam roti, keju, selai, dan pasta (European Commission, 2025). Sebaliknya, di Indonesia, Kepala BGN Dadan Hindayana pada Januari 2025 membuka kemungkinan serangga masuk dalam menu MBG, namun usulan itu masih menuai pertanyaan dan perlu kajian lebih lanjut—sebuah proses yang wajar dalam demokrasi. BGN sendiri telah menetapkan bahwa yang distandardisasi adalah komposisi gizi, bukan jenis menu—artinya, secara teknis, serangga yang kaya protein dan seng sangat memenuhi syarat. Namun resistensi kultural dan kelembagaan membuat potensi ini belum sepenuhnya terealisasi.
Kesenjangan paling kontras terlihat pada tataran industrialisasi. Di Polandia, perusahaan HiProMine tengah membangun fasilitas produksi massal dengan kapasitas mencapai 50.000 hingga 60.000 ton per tahun. Perusahaan Prancis Ÿnsect dan Agronutris telah memproduksi tepung mealworm secara industrial. Produk-produk seperti protein bar berbahan jangkrik telah tersedia di rak-rak ritel modern di Eropa. Sementara itu, Indonesia—dengan segala kekayaan hayatinya—baru mulai merintis langkah serupa. Ini adalah peluang, bukan ancaman.
Bahkan Singapura, yang iklimnya tropis seperti Indonesia, pada 2024 telah menyetujui 16 spesies serangga untuk konsumsi manusia. Negeri kecil itu telah menunjukkan bahwa regulasi yang mendukung dapat menjadi katalis bagi pemanfaatan pangan lokal.
Persepsi publik pun sedang bergeser. Survei Forsa 2019/2020 di Jerman menunjukkan bahwa separuh anak muda berusia 14 hingga 29 tahun sudah dapat membayangkan mengonsumsi serangga. Di Indonesia, masih ada jarak yang perlu dijembatani antara persepsi dan potensi. Namun hal ini justru menjadi ruang bagi edukasi, inovasi, dan kampanye yang positif—menggunakan cerita seperti pengalaman masa kecil Pak Harto sebagai inspirasi bahwa pangan lokal kita adalah bagian dari identitas dan kekuatan bangsa.
Paradoks Ganda: Stunting dan Penyakit Degeneratif
Di titik ini, kita sampai pada sebuah paradoks yang memilukan sekaligus menuntut perhatian serius.
Di satu sisi, Indonesia masih bergulat dengan stunting—kekerdilan yang merekam malnutrisi kronis pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Chernichovsky dan Meesook (1984) telah memperingatkan sejak empat dekade silam bahwa “alleviating malnutrition in Indonesia is not just a matter of raising levels of income but also of nutrition education.” Namun prevalensi stunting yang masih berkisar di angka dua puluhan persen pada dua dekade pertama abad ke-21 menunjukkan bahwa peringatan itu belum sepenuhnya ditransformasi menjadi kebijakan yang efektif. Anak-anak yang seharusnya tumbuh dengan dukungan ulat sagu, kroto, dan jangkrik, justru bertahan dengan nasi kosong dan lauk seadanya—sementara sumber protein terbaik tersedia di hutan dan pekarangan mereka sendiri, namun tak tersentuh oleh kebijakan dan tak terjangkau oleh pengetahuan.
Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi epidemi senyap yang tak kalah mengancam: penyakit degeneratif akibat gangguan metabolisme. Diabetes mellitus, hipertensi, dislipidemia, dan obesitas sentral—yang berkumpul dalam apa yang disebut sebagai sindrom metabolik—kini mewabah terutama di kalangan usia produktif dan lansia. Pola makan tinggi karbohidrat sederhana—terutama dari nasi putih yang dikonsumsi berlebihan—dan rendah serat serta protein berkualitas, diperparah oleh maraknya pangan olahan ultra-proses, menjadi pendorong utama epidemi ini.
Paradoksnya miris: di negeri yang sama, sebagian anak-anak kekurangan gizi mikro, sementara sebagian orang dewasa mengalami kelebihan kalori dari pangan yang miskin nutrisi. Keduanya adalah wajah dari krisis yang sama: terputusnya manusia modern dari pangan alaminya.
Di sinilah serangga pangan, sagu, dan aneka pangan tropis lainnya menemukan relevansi ganda. Bagi anak-anak, mereka adalah sumber protein dan mikronutrien yang dapat mencegah stunting. Bagi orang dewasa, mereka adalah pangan dengan indeks glikemik rendah, kaya serat prebiotik seperti kitin, dan mengandung asam lemak esensial yang justru membantu memelihara sensitivitas insulin dan kesehatan kardiovaskular. Serangga bukan sekadar obat bagi kekurangan gizi; ia juga adalah benteng melawan kelebihan gizi yang salah arah.
Koperasi Konsumsi Kuantum: Jembatan Menuju Kedaulatan Kesehatan
Cerita tentang “Mengapa Pak Harto Pintar”, riset Wageningen dan FAO, cermin dari Eropa, serta paradoks ganda stunting dan penyakit degeneratif semuanya mengarah pada satu kesimpulan: Indonesia memiliki segalanya—biodiversitas, kearifan lokal, validasi saintifik, dan kerangka kebijakan yang mulai terbuka melalui program Makan Bergizi Gratis. Namun satu mata rantai yang masih lemah adalah kelembagaan yang mampu menghubungkan produsen pangan lokal dengan konsumen secara massif, berkelanjutan, dan bermartabat.
Di sinilah konsep Koperasi Konsumsi Kuantum menemukan urgensinya.
Kerangka Teoretik: Koperasi Kuantum
Gagasan ini bertumpu pada kerangka teoritis Koperasi Kuantum yang dikembangkan oleh Pakpahan (2026) di Universitas Koperasi Indonesia. Dalam kerangka ini, koperasi dipahami bukan semata-mata sebagai entitas ekonomi, melainkan sebagai medan kesadaran kolektif (collective consciousness field) yang memungkinkan terjadinya lompatan kuantum (quantum leap) dalam kinerja dan dampaknya. Prinsip-prinsip seperti superposisi (kesejahteraan individu dan kolektif hadir secara simultan), keterjeratan kuantum (quantum entanglement: keberhasilan satu anggota secara non-lokal memperkuat keyakinan dan kapasitas anggota lain), dan non-linearitas (pertumbuhan yang tidak mengikuti pola bertahap, melainkan melompat pada titik kritis tertentu) menjadi fondasi operasionalnya (Pakpahan, 2026).
Meminjam Inspirasi dari Kalimantan Barat
Kerangka teoritik ini menemukan pembuktian empirisnya di Kalimantan Barat. Koperasi Kredit Keling Kumang telah membuktikan bahwa institusi berbasis masyarakat dapat mengalami lompatan kuantum yang tak bisa dijelaskan oleh model ekonomi konvensional. Dalam 33 tahun, asetnya melonjak dari Rp291.000 menjadi Rp2,3 triliun—sebuah pertumbuhan 29.336 kali lipat yang sepenuhnya tidak linear (Masiun, 2025). Pertumbuhan ini tidak digerakkan oleh modal finansial semata, melainkan oleh apa yang oleh kerangka Koperasi Kuantum (Pakpahan, 2026) disebut sebagai Medan Kesadaran: nilai-nilai bersama, kepercayaan, solidaritas, dan tujuan kolektif yang meresapi setiap aktivitas koperasi.
Ketika krisis moneter 1998 menghantam dan bank-bank konvensional mengalami panic withdrawal, anggota Keling Kumang justru menambah simpanan hingga 15% (Masiun, 2025). Ini bukan fenomena ekonomi biasa; ini adalah manifestasi dari Keterjeratan Kuantum—sebuah jaringan kepercayaan non-lokal di mana keberhasilan satu anggota secara instan memperkuat keyakinan anggota lain (Pakpahan, 2026).
Mengapa kisah ini relevan bagi persoalan gizi dan kesehatan bangsa? Karena baik stunting maupun penyakit degeneratif memiliki akar yang sama: terputusnya hubungan antara manusia dengan sumber pangannya sendiri. Koperasi Kuantum, dengan fondasi Medan Kesadaran dan Keterjeratan Kuantum, adalah kelembagaan yang dapat menyambung kembali hubungan yang terputus itu (Pakpahan, 2026).
Dari Kredit ke Konsumsi: Mentransplantasi Model
Bayangkan jika model Keling Kumang dan kerangka Koperasi Kuantum ditransplantasikan ke ranah pangan. Yang dibutuhkan bukanlah Koperasi Kredit, melainkan Koperasi Konsumsi Kuantum yang secara spesifik bergerak di bidang penyediaan pangan bergizi berbasis lokal.
Koperasi ini akan beroperasi dengan prinsip-prinsip yang familiar bagi masyarakat Nusantara. Ia tidak dimulai dengan modal besar, melainkan dengan penanaman kesadaran bersama bahwa “aku sehat karena kita sehat”—sebuah prinsip superposisi yang melampaui logika zero-sum game antara individu dan kolektif (Pakpahan, 2026). Sebagaimana Keling Kumang mengalokasikan SHU 45:55 antara dividen dan dana sosial/pendidikan (Masiun, 2025), Koperasi Konsumsi Kuantum dapat mendesain mekanisme subsidi silang di mana anggota yang lebih mampu mensubsidi akses pangan bergizi bagi anggota yang memiliki balita atau lansia berisiko.
Peran dalam Program Makan Bergizi Gratis
Pemerintah, melalui Badan Gizi Nasional, telah menempatkan koperasi sebagai mitra strategis dalam rantai pasok Makan Bergizi Gratis (Badan Gizi Nasional, 2025). Kementerian Koordinator Bidang Pangan bahkan telah menggagas agar Koperasi Desa Merah Putih menjadi agregator yang menyerap hasil produksi petani, peternak, dan nelayan lokal untuk memasok dapur-dapur SPPG.
Ini adalah kerangka yang tepat. Namun tanpa fondasi kesadaran yang kuat, koperasi-koperasi ini berisiko menjadi sekadar kepanjangan tangan birokrasi—mesin administratif tanpa jiwa. Konsep Koperasi Konsumsi Kuantum melengkapinya dengan menambahkan dimensi yang selama ini dianggap “tak terukur”: kepercayaan, solidaritas, dan rasa memiliki yang berakar pada Medan Kesadaran kolektif (Pakpahan, 2026).
Dalam praktiknya, Koperasi Konsumsi Kuantum dapat:
- Menghubungkan petani serangga pangan (jangkrik, ulat sagu, kroto) dengan SPPG secara langsung, memotong rantai distribusi panjang yang menggerus nilai di tingkat produsen.
- Menyelenggarakan dapur kolektif di tingkat desa atau kelurahan yang tidak hanya memasok MBG, tetapi juga menyediakan pangan bergizi bagi lansia dan kelompok rentan lainnya.
- Mengedukasi anggota tentang gizi berbasis kearifan lokal melalui forum-forum yang menyerupai musyawarah adat—tempat pengetahuan turun-temurun tentang khasiat serangga, umbi-umbian, dan pangan tropis diwariskan dari generasi ke generasi.
- Menjalankan program subsidi silang di mana anggota yang sehat dan produktif berkontribusi pada pemenuhan gizi anggota yang membutuhkan—sebuah sistem jaring pengaman sosial berbasis komunitas yang lebih tangkas dan bermartabat.
Melawan Penyakit Degeneratif dari Akarnya
Yang membedakan Koperasi Konsumsi Kuantum dari sekadar program bantuan pangan adalah jangkauannya yang holistik. Ia tidak hanya menyasar anak-anak balita untuk mencegah stunting, tetapi juga menyediakan akses ke pangan lokal segar bagi seluruh anggota—termasuk mereka yang berisiko atau telah menderita penyakit metabolik.
Serangga, sagu, dan aneka umbi tropis adalah pangan dengan profil metabolik yang bersahabat. Dibandingkan nasi putih yang indeks glikemiknya tinggi dan miskin serat, sagu mengandung karbohidrat kompleks dengan pelepasan energi yang lebih perlahan. Dibandingkan daging merah yang konsumsi berlebihannya dikaitkan dengan risiko kardiovaskular, serangga menawarkan protein dengan profil asam lemak yang lebih sehat. Koperasi dapat menjadi saluran yang membuat pangan-pangan ini tersedia, terjangkau, dan diterima secara kultural—mengubahnya dari sekadar “makanan kampung” menjadi pilihan sadar untuk kesehatan jangka panjang.
Menuju Kedaulatan Kesehatan yang Holistik
Pada akhirnya, Koperasi Konsumsi Kuantum bukan sekadar tentang pangan. Ia adalah tentang memulihkan kedaulatan biologis bangsa—hak setiap warga negara untuk menentukan apa yang masuk ke dalam tubuhnya, berdasarkan kearifan ekologi dan budayanya sendiri, didukung oleh sains terbaik yang tersedia, dan difasilitasi oleh kelembagaan yang berakar di komunitasnya (Pakpahan, 2026).
Dengan koperasi, kita tidak perlu menunggu Eropa memproduksi insect burger secara massal untuk kemudian kita impor. Kita bisa memulainya dari dapur-dapur desa, dari peternakan jangkrik di pekarangan, dari budidaya ulat sagu di kebun-kebun sagu di Papua dan Maluku, yang diagregasi oleh koperasi, didistribusikan ke SPPG dan rumah tangga, dan dirayakan sebagai kekayaan kuliner bangsa.
Sebagaimana ditunjukkan oleh Keling Kumang, pertumbuhan sejati tidak bersifat linear. Ia melompat secara kuantum ketika energi kesadaran kolektif mencapai ambang kritis (Pakpahan, 2026). Rektor Ikopin University menegaskan bahwa model Keling Kumang adalah “bukti model koperasi berbasis komunitas yang telah terbukti berhasil” dan dapat menjadi “rujukan konkret bagi pengembangan koperasi di berbagai daerah di Indonesia” (Masiun, 2025). Lompatan itulah yang kini dibutuhkan Indonesia: dari negara dengan prevalensi stunting dan penyakit metabolik yang tinggi, menuju negara dengan ketahanan pangan dan kesehatan yang berdaulat.
Pelajaran dari Alegori: Memulihkan Ingatan, Membebaskan Potensi
Cerita “Mengapa Pak Harto Pintar” yang dicatat oleh Prof. Winarno (2018) dalam Kata Pengantar Serangga Layak Santap adalah lampu sorot yang menerangi jalan ke depan. Riset Wageningen dan laporan FAO adalah peta navigasi yang telah disediakan oleh masyarakat ilmiah global. Kontras antara MBG dan Novel Food Eropa adalah cermin yang menunjukkan dengan jujur posisi kita. Dan Koperasi Konsumsi Kuantum, yang berpijak pada kerangka teoretik Koperasi Kuantum (Pakpahan, 2026), adalah jembatan yang dapat menghubungkan kekayaan hayati dengan kebutuhan gizi seluruh rakyat.
Dari semua ini, tiga pelajaran utama dapat kita petik.
Pertama, kecerdasan dan kesehatan bangsa bersumber dari apa yang telah disediakan oleh ekosistem di sekitar kita. Laron, jangkrik, ulat sagu, kroto, belalang—mereka adalah warisan nutrisi yang telah teruji oleh ribuan tahun dan kini divalidasi oleh sains mutakhir (Van Huis et al., 2013; Dicke & van Huis, 2014). Pengalaman masa kecil Pak Harto yang dicatat oleh Prof. Winarno (2018) adalah bukti hidup akan hal ini.
Kedua, dunia telah berubah dan kita tidak boleh tertinggal. Negara-negara maju yang dahulu membawa standar pangan asing kini justru menjadi pusat riset dan pelembagaan serangga pangan. Uni Eropa telah mengeluarkan regulasi Novel Food untuk insekta (European Commission, 2025), sementara Indonesia baru memulai diskusi. Jika Indonesia segera bergerak—dengan regulasi yang mendukung, investasi riset, dan kelembagaan koperasi yang kuat—kita bukan hanya bisa memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga menjadi pemimpin di kawasan tropis.
Ketiga, kedaulatan pangan sejati adalah hak dan kemampuan untuk mendefinisikan sendiri apa itu makanan bergizi, apa itu pangan bermartabat, berdasarkan kearifan ekologi, budaya, dan sains terbaik yang tersedia—dan mewujudkannya dalam kelembagaan yang dimiliki dan dikendalikan oleh rakyat sendiri (De Sousa Santos, 2014; Pakpahan, 2026).
Untuk itu, arah kebijakan pangan nasional dapat mempertimbangkan beberapa langkah strategis: bantuan pangan untuk ibu hamil dan balita yang kian beragam dengan pangan lokal segar—bubur sagu dengan abon ulat sagu, bubur jagung dengan tepung jangkrik, rempeyek laron, kroto segar. Kurikulum sekolah dan posyandu dapat diisi dengan kebanggaan akan superfood tropis yang ada di pekarangan sendiri. Anggaran riset dapat dialokasikan untuk budidaya serangga pangan dan kerja sama dengan institusi seperti Wageningen University yang telah memimpin riset global melalui proyek SUSINCHAIN (Veldkamp et al., 2022–2025). Kerangka regulasi keamanan pangan untuk serangga perlu dibangun, merujuk pada rekomendasi FAO (Van Huis et al., 2013) dan praktik terbaik dari Eropa (European Commission, 2025). Dan yang paling fundamental: pendirian dan penguatan Koperasi Konsumsi Kuantum di seluruh pelosok Nusantara, sebagai tulang punggung rantai pasok pangan bergizi yang berdaulat, dengan inspirasi dari keberhasilan Keling Kumang (Masiun, 2025) dan fondasi teoretik Koperasi Kuantum (Pakpahan, 2026).
Epilog: Kecerdasan Ada di Piring Kita
Prof. F.G. Winarno, melalui bukunya yang sampulnya kini terbentang di hadapan kita, telah meninggalkan warisan yang amat berharga. Ia merekam sebuah kesaksian—bahwa kecerdasan tidak diimpor, melainkan tumbuh dari tanah sendiri, dari laron dan jangkrik yang beterbangan di musim hujan, dari ulat sagu yang menggemuk di batang pohon yang tumbang (Winarno, 2018).
Arnold van Huis, Marcel Dicke, dan para ilmuwan di Wageningen telah menyediakan peta navigasi. FAO telah membangun kerangka kelembagaan global. EFSA telah menerbitkan panduan keamanan pangan yang ketat. Keling Kumang telah membuktikan bahwa koperasi berbasis kesadaran kolektif dapat mengalami lompatan kuantum. Pakpahan (2026) telah menyediakan kerangka teoretiknya. Semua itu tersedia, terbuka, menunggu untuk diadaptasi dan diwujudkan dalam kebijakan yang membumi.
Pak Harto pintar karena ia mengkonsumsi serangga. Kini, pertanyaan yang penuh harapan bagi kita adalah: akankah anak-anak Indonesia generasi emas mendatang menjadi semakin sehat dan cerdas—terbebas dari stunting, terlindungi dari penyakit metabolik—karena kita kembali menggali potensi jangkrik, ulat sagu, dan kroto, didukung oleh sains modern, difasilitasi oleh Koperasi Konsumsi Kuantum, dan dirayakan sebagai identitas bangsa?
Jawabannya terletak pada keberanian kita untuk menatap masa lalu dengan rasa syukur dan belajar, menatap masa kini dengan ketajaman sains dan kejernihan berpikir, serta menatap masa depan dengan langkah yang terencana dan penuh percaya diri—termasuk keberanian untuk membangun kelembagaan ekonomi rakyat yang menjadi tulang punggung kedaulatan pangan.
Kecerdasan tidak diimpor dalam kontainer. Ia tumbuh dari tanah yang kita pijak.
Dan tanah tropis kita, dengan segala laron, jangkrik, ulat sagu yang merayap di dalamnya—serta dengan warisan riset Prof. Winarno, van Huis, Dicke, laporan FAO, regulasi EFSA, inspirasi dari Keling Kumang, dan kerangka Koperasi Kuantum yang kini tersedia—sesungguhnya telah menyediakan segalanya untuk menjadikan bangsa ini besar.
Tinggal apakah kita akan terus berpaling, atau kembali memandangnya dengan mata yang baru. Mata yang penuh penghargaan, seperti bocah Kemusuk itu memandang laron beterbangan di pelita, menangkapnya dengan tangan kecil, dan memasukkannya ke mulut, tanpa tahu bahwa ia sedang menyantap masa depannya sendiri—dan bahwa kelak, pengalaman itu akan menjadi inspirasi bagi jutaan anak Indonesia lainnya, yang kini menanti di desa-desa, di tepi hutan sagu, di pematang sawah, dan di pekarangan rumah, untuk kita sambut dengan kebijakan yang berpihak, kelembagaan yang melayani, dan masa depan yang bermartabat.
Daftar Pustaka
- Badan Gizi Nasional. (2025). Program MBG Telah Layani Lebih dari 42 Juta Penerima Manfaat Seluruh Indonesia. Siaran Pers No. SIPERS-336/BGN/11/2025.
- Chernichovsky, D., & Meesook, O. A. (1984). Patterns of Food Consumption and Nutrition in Indonesia: An Analysis of the National Socioeconomic Survey, 1978 (World Bank Staff Working Papers No. 670). Washington, D.C.: The World Bank.
- De Sousa Santos, B. (2014). Epistemologies of the South: Justice Against Epistemicide. London: Routledge.
- Dicke, M., & van Huis, A. (2014). The Insect Cookbook: Food for a Sustainable Planet. New York: Columbia University Press.
- European Commission. (2025). Commission Implementing Regulation (EU) 2025/89 of 20 January 2025 authorising the placing on the market of UV-treated powder of whole yellow mealworm (Tenebrio molitor larva) as a novel food. Official Journal of the European Union.
- Masiun, S. (2025). Model Koperasi Kredit Union Keling Kumang. Dipresentasikan pada Kuliah Umum Ikopin University, 17 Juli 2025.
- Pakpahan, A. (2026). Koperasi Kuantum: Sebuah Kerangka Teoretik untuk Lompatan Kolektif. Sumedang: Universitas Koperasi Indonesia.
- Van Huis, A., Van Itterbeeck, J., Klunder, H., Mertens, E., Halloran, A., Muir, G., & Vantomme, P. (2013). Edible Insects: Future Prospects for Food and Feed Security. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO).
- Veldkamp, T., et al. (2022–2025). SUSINCHAIN: Sustainable Insect Chain. Wageningen University & Research.
- Winarno, F. G. (2018). Serangga Layak Santap: Sumber Baru bagi Pangan dan Pakan. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.









Komentar