Oleh: Abah Yusuf Bachtiar Kabuyutan
SUNDANESIA adalah target utama misi rahasia Gospel, Emas dan Kejayaan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), setelah Malukunesia. Total 196 tahun VOC sukses menguasai Sundanesia, dari tahun 1603-1799 Masehi. Misteri manuskrip mistik Kuil Matahari Gunung Padang, yang ditemukan di Pulau Tidore Malukunesia tahun 1610 Masehi. Sebelumnya manuskrip Gunung Padang, sudah ditemukan Spanyol dan Portugis pada tahun 1511 Masehi di Malaka. Portugis langsung mengirim utusan misionaris Kabbalah ke Sundanesia.
Prabu Siliwangi sebagai Raja Pajajaran Raya mengirim pangetan Surawisesa ke markas Portugis di Malaka, untuk kerjasama militer pada tahun 1512 Masehi dan kedua kali sebelum Prabu Siliwangi wafat tgl 31 Desember 1521 Masehi. Gubernur militer Portugis di Malaka, Alfonso de Albouquerque, mengirim iparnya Hendrique de Leme ke lokasi Gunung Padang, ditemani Prabu Surawisesa.
Kedatangan rombongan Kabbalah Portugis yang dipimpin Hendrique de Leme dengan armada militer di Sunda Kelapa tahun 1522 Masehi, jadi jejak sejarah ribuan tahun misi rahasia kelompok Kabbalah Babilonia di Sundanesia. Kehadiran armada militer dan misionaris Kabbalah ke ibukota Pajajaran Raya ini, kemudian menandai babak pertama perang terbuka kelompok Muhammaden dan kelompok Kabbalah Babilonia di Sundanesia. Panglima perang gabungan Muhammaden di Kesultanan Demak dan Cirebon, Fadillah Khan memutuakan untuk menyerang pos-pos pelatihan Kabbalah Babilonia dan kontraktor militer Portugal di Sunda Kelapa, Banten dan Galuh pada tahun 1522-1528 Masehi.
Setelah kerajaan Banten, Sunda Kelapa dan kerajaan Galuh direbut oleh pasukan gabungan Muhammaden, Prabu Surawisesa mengajukan perdamaian total dengan Kesultanan Cirebon. Isinya, agama Islam jadi agama resmi di wilayah Pakuan Pajajaran, tentara Portugis dan misionaris Kabbalah diusir dari seluruh wilayah Sundanesia dan pasukan Muhammaden sebagai pemilik semua aset ekonomi dan wilayah perang. Isi perjanjian disetujui Sultan Cirebon, keponakan Prabu Kratina, yakni Sunan Gunung Jati dan cucu-cucu Prabu Kratina, Sultan Banten, Maulana Hasanudin, pada tahun 1531 Masehi.
Panglima militer Portugis di Malaka dan pemimpin kelompok Kabbalah Babilonia di India, tidak pernah memenuhi janjinya untuk membantu Raja Pajajaran Raya hingga bubarnya seluruh sistem kerajaan Pajajaran Raya, digantikan sistem Kesultanan Cirebon Raya. Situasi ini dimanfaatkan oleh VOC Belanda untuk menguasai Sundanesia dan Malukunesia, memanfaatkan perpecahan para bangsawan di seluruh kerajaan. Misi rahasia Kabbalah Babilonia dipindahkan dari misionaris Portugis ke misionaris Belanda, Prancis, Jerman dan Belgia.
Bangsawan-bangsawan pemimpin kelompok Kabbalah Babilonia dari seluruh kerajaan di Eropa, dipimpin oleh Issac Le Maire, Jacques De Velaer, Hans Hunger, Marcus De Vogelaer dan Gerard Reynst mendirikan perusahaan bisnis tentara bayaran global, bernama Brabantsche, tahun 1599 Masehi. Sosok Pieter Both, sebagai kepala intelijen ekonomi militer sudah mendapat dukungan dari 500 keluarga bangsawan anggota sekte mistis Kabbalah Babilonia di kerajaan dan kesultanan di Asia Tenggara dan Asia Selatan yg bersedia ikut mengkudeta Raja dan Sultan diwilayah masing2.Cutatan tersambung. Cag!@Abahyusuf//Doct-Kabuyutan









Komentar