NAMA Tjilik Riwut jarang muncul dalam cerita besar Revolusi Indonesia, padahal di Kalimantan ia menjadi tokoh yang membuat kekuasaan Belanda tidak pernah benar benar aman di pedalaman. Ketika kota kota pesisir masih dikuasai kolonial, hutan Borneo justru berubah menjadi wilayah perlawanan yang sulit ditembus.
Sejak muda Tjilik Riwut sudah menjelajahi hampir seluruh Kalimantan menggunakan perahu sungai dan perjalanan kaki berbulan bulan. Ia mengenal jalur air tersembunyi, kampung adat terpencil, hingga rute hutan yang tidak tercatat dalam peta militer Belanda. Pengetahuan inilah yang kemudian menjadi senjata paling berbahaya dalam perang gerilya. Pasukan kolonial mampu menguasai pelabuhan dan kota dagang, tetapi hampir mustahil mengejar kelompok kecil pejuang yang bergerak bersama masyarakat pedalaman.
Tahun 1946 menjadi titik penting ketika ia membawa para pemimpin adat Dayak menuju Yogyakarta dan menyatakan kesetiaan kepada Republik di hadapan Presiden Soekarno. Dukungan ini memiliki dampak strategis besar karena Belanda saat itu sedang berusaha membangun negara federal di Kalimantan untuk memisahkan wilayah tersebut dari Republik Indonesia. Ketika masyarakat pedalaman memilih Republik, rencana politik itu mulai runtuh dari dalam.
Setahun kemudian operasi militer rahasia Republik dilaksanakan melalui penerjunan pasukan MN 1001 pada 17 Oktober 1947. Operasi ini tidak berjalan mulus dan banyak pejuang tertangkap atau gugur. Namun justru setelah situasi memburuk, jaringan gerilya yang dibangun Tjilik Riwut mulai bekerja. Basis perlawanan muncul di pedalaman, serangan kecil dilakukan terhadap jalur komunikasi Belanda, sementara informasi pergerakan musuh mengalir melalui jaringan masyarakat adat. Belanda menguasai peta resmi, tetapi Tjilik Riwut menguasai medan sebenarnya.
Perlawanan di Kalimantan tidak selalu berupa pertempuran besar. Strateginya adalah membuat wilayah luas menjadi tidak stabil bagi pasukan kolonial. Sungai berubah menjadi jalur logistik Republik, kampung adat menjadi pusat informasi, dan hutan menjadi perlindungan alami. Model perang seperti ini membuat Belanda menghabiskan sumber daya besar tanpa pernah benar benar menundukkan interior Kalimantan.
Setelah pengakuan kedaulatan tahun 1949, perjuangannya tidak berhenti di medan perang. Indonesia sempat berubah menjadi Republik Indonesia Serikat dan beberapa wilayah Kalimantan berada dalam negara bentukan Belanda. Tjilik Riwut kembali bergerak, kali ini melalui jalur politik, mendorong agar seluruh Kalimantan bergabung penuh ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 1950.
Karier pemerintahannya berkembang cepat. Ia menjadi Wedana Sampit, kemudian Bupati Kotawaringin Timur, hingga akhirnya menjadi tokoh utama lahirnya Provinsi Kalimantan Tengah pada 1957. Sebagai gubernur pertama, ia memimpin pembukaan wilayah hutan untuk membangun Palangka Raya dari nol, sebuah kota yang pada masa itu bahkan belum memiliki infrastruktur dasar.
Visinya jauh melampaui pembangunan daerah. Bersama Presiden Soekarno, Palangka Raya pernah dipertimbangkan sebagai calon ibu kota Indonesia karena letaknya berada di tengah Nusantara dan dianggap aman secara geopolitik. Gagasan tersebut muncul puluhan tahun sebelum wacana pemindahan ibu kota kembali dibicarakan di era modern.
Warisan terbesar Tjilik Riwut bukan hanya kemenangan militer atau jabatan politik, melainkan keberhasilannya menyatukan identitas Dayak dengan nasionalisme Indonesia. Ia membuktikan bahwa Republik tidak hanya diperjuangkan di Jawa, tetapi juga dijaga oleh masyarakat pedalaman yang memilih berdiri bersama negara yang baru lahir.
Di Kalimantan, namanya tidak sekadar dikenang sebagai gubernur atau perwira militer. Ia dianggap sosok yang memahami hutan, budaya, dan perjuangan rakyatnya sekaligus menjadikannya kekuatan strategis dalam mempertahankan Indonesia.(****








Komentar