Penulis: Dr. Elis Suryani Nani Sumarlina, M.S. (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Univesitas Padjadjaran)
DIMAKLUMI bahwa di jagat raya ini, setiap bangsa, bahkan setiap suku bangsa ini memiliki kebudayaannya masing-masing. Budaya dimaksud senantiasa berkembang sesuai dengan canggihnya teknologi dan pesatnya ilmu pengetahuan, serta perkembangan zaman. Oleh sebab itu, di Era globalisasi saat ini, generasi Z sebagai penerus bangsa, harus mampu menghadapi tantangan pelestarian budaya serta berupaya mencari solusi terbaik, untuk menjaga, melindungi, dan melestarikannya, bahkan lebih mengoptimalisasikan keberlangsungannya.
Sejatinya, warisan budaya tinggalan nenek moyang kita di masa silam tersebut, digali, diteliti, dikaji, dikenalkan, bahkan dikembangkan eksistensinya, agar diketahui dan tetap eksis dan musnah ditelan masa. Apalagi di Era Generasi Z saat ini, perkembangan peradaban beserta aspek-aspek pendukungnya sulit dibendung, sehingga generasi muda harus lebih gigih membentengi diri dari gempuran budaya asing yang kian menyudutkan kearifan lokal budaya nenek moyang kita. Andai generasi muda tidak peduli terhadap kearifan budayanya sendiri, maka sedikit demi sedikit, kekayaan dan keanekaragaman budaya, khususnya budaya Sunda, yang sudah ada tersebut, lambat laun akhirnya akan tergerus dan terkikis, hingga tidak bisa terselamatkan lagi. Apa kiat-kiat generasi Z menghadapi gempuran budaya asing dimaksud? Bagaimana solusi terbaik untuk menghadapi kenyataan dimasud? Apakah generasi muda hanya berpangku tangan, membiarkan eksistensi dan kekayaan budaya warisan nenek moyang tersebut hancur dan musnah ditelan masa?
Terkait situasi dan kondisi kearifan lokal budaya yang kian hari semakin tergerus keberadaannya, Lembaga Independen Tradisi Adat Sejarah dan Budaya Nusantara (Lintas Budaya Nusantara), hari Selasa, tanggal 10 Februari 2026 lalu, di bulan Bahasa Indung ini, berkiprah untuk mengingatkan dan ikut serta mengenalkan kembali adat dan budaya Sunda khususnya, agar para Gen Z lebih mengenal, mempelajari, bahkan ikut serta berperan serta menjaga dan melestarikan eksistensi budaya agar tidak punah ditelan zaman, melalui kegiatan Seminar Nasional secara daring/zoom, dengan mengusung tema “Tantangan Pelestarian Adat dan Budaya, serta Solusinya di Era Globalisasi”.
Kegiatan Seminar Nasional tersebut diprakarsai oleh Ketua Umum, sekaligus pendiri Lintas Budaya Nusantara, Irjen Pol. (Purn) Dr. Drs. Anton Charliyan, M.PKN. Kegiatan dimaksud mendapat perhatian dan dukungan yang sangat besar dari H. Dedi Mulyadi, S.H., M.H., yang lebih dikenal dengan sebutan KDM, selaku Gubernur Provinsi Jawa Barat, melalui Sekretaris Daerahnya, Dr. Drs. H. Herman Suryatman, M.Si., yang begitu antusias dan sangat luar biasa menyampaikan pentingnya kearifan lokal budaya Sunda, yang dapat ditelusuri dari tatatiti, duduga peryoga, karakter kesundaan, melalui Panca Waluya, cageur, bageur, bener, pinter tur singer.
Kelima karakter orang Sunda tersebut, andai kita kaitkan dengan karakter kepeminpinan, maknanya secara tersurat, dapat kita hubungkan dengan kawih Karatagan Pahlawan. Hal ini sejalan dengan makna Panca Waluya dimaksud. Cageur diartikan tidak sedang terkena penyakit, sehat atau sudah/baru sembuh. Pemimpin memang harus sehat, kuat, enerjik, yang berkaitan dengan AQ dan PQ (Phisical Ability).Bageur adalahorang yang suka memberi, baik perilakunya. Bageur lebih mengarah kepada perilaku budi (bijak) – guna (arif) – pradana (saleh), dan ramah (bestari). Pemimpin harus ramah dan karawaléya ‘dermawan’. Kesalehan sosial sangat diperlukan, karena terkait dengan Emotionaility Ability/EQ.
Bener ‘benar’, diartikan tidak salah, sungguh-sungguh. Pemimpin harus menjungjung tinggi kebenaran, memiliki sifat jujur atau isitwa, baik dalam perkataan, pemikiran, maupun perbuatan. Adanya kesepahaman antara pikiran, perasaan, dan tindakan(saciduh metu saucap nyata). Naskah Sanghyang Hayu menjelaskan adanya keselarasan antara mata (penglihatan) – tutuk (ucapan) – talinga (pendengaran), apa yang dilihat, dan didengar harus sesuai dengan apa yang diucapkan, seleras dengan Moral Ability atau SQ.
Pinter ‘pintar’/pandai, berpengetahuan, mampu bekerja, mudah mengerti. Pemimpin harus mahiman (berwawasan luas dan cerdas), memiliki berbagai macam pengetahuan dan berwawasan tinggi. Selain pinter ‘cerdas’ juga harus memiliki keseimbangan rasa dalam bertindak, menyangkut Intelectual Ability (IQ). Sementara itu, makna Singer ‘trampil, adalah gesit, cekatan’, atau lagiman/ cangcingan. Langsitan ‘rapekan’ , segala bisa, multi talenta. Pemimpin dituntut Rajeun ‘rajin’, Morogol-rogol ‘bersemangat, dan beretos kerja tinggi’. Keinginannya untuk berkarya dengan kualitas unggul dan terbaik, berkenaan dengan Personal Abality (PQ). Di samping kelima Panca Waluya tersebut, pemimpin harus memiliki sifat Teger ‘tidak takut, panceg hatḗ, berpendirian. Ia harus ahiman ‘tegas’, prakamya dan leukeun ‘ulet/tekun’. Teger berkaitan dengan wasitwa ‘terbuka untuk dikritik’, ‘legowo’, bijaksana, selaras dengan Reliciance Ability (RQ). Tajeur/tanjeur ‘mampu berdiri kokoh.
Seorang pemimpin harus prapti ‘tepat sasaran’ menyangkut Exelent Ability (ExQ). Sebenarnya ada lagi sifat yang dituntut dari Pemimpin, yakni Wanter ‘berani tampil dalam kondisi apapun’, dituntut purusa ning sa ‘berjiwa pahlawan, jujur, berani’, kreatif dan inovatif. Widagda ‘bijaksana, rasional dan memiliki keseimbangan rasa’. Paka Pradana ‘berani tampil sopan, beretika’. Gapitan ‘berani berkorban untuk keyakinan dirinya’.
Para pembicara Seminar Nasional pun melibatkan Rektor Universitas Perjuangan dan Rektor Universitas Mayasari Bakti Tasikmalaya, serta para Kepala Dinas yang ada di Provinsi Jawa Barat, yang berkaitan dengan budaya, di antaranya Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Bahasa Jabar, dan Pengelola Permuseuman Provinsi Jawa Barat. Seminar Nasional ini pun diikuti oleh Dosen yang menulis di Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH) serta Jurnal Kabuyutan dari berbagai universitas se Indonesia, di antaranya Universitas Padjadjaran, Universitas Siliwangi, Universitas Perjuangan, Universitas Indonesia, Universitas Serang Banten, dan lainnya. (*****









Komentar