oleh

Mengikis Lupa Melalui Tulisan

Oleh : Hendri Hendarsah (ASN MTs Negeri 2 Kota Tasikmalaya)

PENA seorang penulis cukup satu kali berbicara, melekat terus dalam hati dan akan menjadi buah tutur setiap hari. Itulah salah satu keunggulan dengan menulis. Al Qur’an QS. Al Qalam : 1; “Nun, perhatikanlah al Qalam dan apa yang dituliskannya”. Sebuah tulisan bisa dijadikan sebuah dakwah. Dakwah bil kitabah atau dakwah bil qalam adalah dakwah dengan menggunakan media pena untuk disampaikan kepada khalayak umum dengan tujuan sebagai bagian ikhtiar menyampaikan berbagai keilmuan yang memberikan manfaat.

            Perkembangan zaman memberikan dampak dalam perkembangan dakwah. Dakwah tidak cukup dengan lisan, tetapi era sekarang terjadi pergeseran media dakwah.  Pada era digital sekarang ini, media informasi dan teknologi terus berkembang pesat tidak hanya sebatas pada media cetak saja, tetapi sudah merambah kepada media online. Kondisi ini dimanfaatkan bagi para penulis/juru dakwah untuk menyampaikan ide, gagasan maupun opininya dalam rangka mengembangkan khazanah keilmuan.

            Alasan utamanya adalah untuk masa sekarang ini manusia cenderung memanfaatkan media (media massa) dalam mencari berbagai informasi yang dibutuhkan.  Selain  itu media tulisan dapat menjangkau objek yang banyak.

            Bagi penulis, melalui tulisan adalah sebuah ikhtiar untuk mengikis lupa. Karena lupa yang merupakan kodrat manusia. Maka perlunya upaya untuk menghindari lupa tersebut dengan menuliskan apa-apa yang seharusnya ditulis dan bisa diingat pada masa yang akan datang.

            Kegiatan menulis merupakan rangkaian aktivitas terakhir setelah mendengar, melihat dan membaca. Sebagian orang, menulis adalah sebuah hobi, tetapi bagi sebagian orang menulis merupakan sebuah profesi ataupun konsep hidup. Sebuah gagasan bisa di goreskan melalui pena dan akan tersimpan dalam jangka waktu yang sangat lama.

            Keilmuan para ulama zaman dahulu masih bisa kita lihat melalui tulisannya baik melalui kitab ataupun buku yang ditulisnya. Sungguh luar biasa Allah menciptakan akal manusia  untuk membantu berpikir, membaca dan menulis.

 Gerakan menulis

            Seperti yang telah diungkapkan di atas, bahwa kegiatan menulis bisa di mana saja. Karena aktivitas menulis tidak hanya dilakukan dibangku sekolah atau kuliah saja. Tetapi salah satunya bisa dilakukan dimeja kerja bagi para pegawai. Memanfaatkan waktu istirahat adalah salah satu kesempatan untuk menggoreskan pena membuat suatu opini, ide atau gagasan untuk menambah keilmuan. Ini adalah sebuah upaya bagaimana literasi menulis perlu dikembangkan. Selain itu tentunya perlu didorong oleh niat yang kuat. Karena niat akan mengantarkan  kepada kemudahan dalam melakukan suatu perbuatan. Kemudian sikap konsistensi terhadap dunia menulis adalah sebuah modal yang sangat berharga. Memberikan ruang waktu minimal 15 menit sehari untuk melakukan aktivitas membaca memberikan dampak positif untuk melakukan kegiatan menulis. Dengan membaca tentunya kita akan mengetahui apa yang menjadi tujuan penulis melalui tulisannya.

            Levry Kurniawan, penulis buku “Ikhtiar dalam Penantian” menjelaskan untuk membuat tulisan hendaknya berangkat dari ide yang orisinal. “Oleh karena itu, dalam memulai menulis kembangkanlah pola pikir dalam menyikapi berbagai persoalan membangun keyakinan diri atas apa ide yang sudah kita tanamkan ke dalam sebuah tulisan”. Ketika tulisan diremehkan orang lain, tetaplah menulis karena tulisan seperti apapun pasti ada penikmatnya. “Teruslah berpikir positif kepada orang-orang yang menghargai karya kita dan jadikanlah kritik orang lain sebagai bahan evaluasi dan penyemangat guna menjadikan tulisan kita lebih baik lagi”. Dia juga menjelaskan bahwa  dunia kepenulisan dan dakwah konsisten adalah faktor utama yang harus di perhatikan. Buatlah target dan kita harus bisa mengalokasikan waktu untuk mencapai target tersebut, karena dengan konsisten maka kemampuan kita akan terus terbentuk.

            Marilah kita ikut andil dalam berdakwah sesuai kapasitas dan kemampuan kita, karena dengan kemajuan zaman yang ada juga memudahkan jalan kita untuk berdakwah. Tidak ada kata terlambat karena dunia menulis tidak memandang usia. Mulailah melakukan aktivitas menulis. Merakit kata menjadi kalimat, kemudian merangkainya menjadi karya tulis yang bermakna. Menulis adalah pekerjaan yang membutuhkan ketekunan dan juga kesenangan. Seorang yang menulis akan semakin kaya dalam  gagasan, karena menulis  menambah pengetahuan baru sekaligus mempertajam pikiran dan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.

Tajamkan pikiran, tajamkan pena mulai menggoreskan pena untuk mengikis lupa melalui tulisan.