Oleh: Agus Pakpahan (Ekonom Kelembagaan/ Rektor Universitas Koperasi Indonesia)
Serial Tropikanisasi–Kooperatisasi, 13 Juni 2026
ADA satu pertanyaan yang jarang diajukan dalam pembangunan ekonomi Indonesia: mengapa begitu banyak model kelembagaan yang berhasil di negara empat musim justru melemah ketika ditanam di tanah tropis?
Kita sering menganggap kelembagaan sebagai sesuatu yang universal. Jika sebuah model berhasil di Eropa, Amerika Utara, atau Jepang, maka ia dianggap dapat diterapkan di mana saja.
Tetapi alam tropis mengajarkan sesuatu yang berbeda. Baja terbaik dari Eropa dapat berkarat lebih cepat di udara tropis yang lembab. Sebaliknya, kayu ulin yang dianggap “tradisional” mampu bertahan ratusan tahun di tengah hujan, panas, jamur, dan serangan serangga.
Persoalannya bukan kualitas material semata. Persoalannya adalah kesesuaian dengan ekologi.
Begitu pula dengan kelembagaan ekonomi.
Selama puluhan tahun kita mengimpor berbagai model organisasi yang dibangun di atas asumsi individualisme, kontrak formal, dan kontrol birokratik. Model-model ini memang mampu menghasilkan efisiensi dalam lingkungan yang relatif stabil. Namun ketika berhadapan dengan kenyataan tropis—fluktuasi harga komoditas, ketidakpastian iklim, perubahan sosial yang cepat, dan keterbatasan infrastruktur—banyak di antaranya menunjukkan kerentanan yang serius.
Di sinilah pengalaman Koperasi Kredit Keling Kumang menjadi menarik.
Keling Kumang tumbuh bukan dengan menghmapus karakter tropis masyarakatnya, tetapi justru dengan memanfaatkan kekuatan yang lahir dari budaya tropis itu sendiri: kekeluargaan.
Selama ini kita cenderung memahami kekeluargaan sebagai nilai moral atau norma sosial. Dalam perspektif Koperasi Kuantum, kekeluargaan memang merupakan sumber energi sosial yang memungkinkan kooperasi tumbuh. Namun saya semakin melihat bahwa kekeluargaan juga dapat dipahami sebagai sistem biologis.
Lebih tepatnya, sebagai sistem imun dan jaringan miselium sosial.
Dalam tubuh manusia, sistem imun tidak bekerja dengan cara menunggu perintah pusat setiap kali ancaman muncul.
Sel-sel darah putih bergerak ke seluruh tubuh. Mereka mengenali gejala lebih awal, merespons secara lokal, dan mencegah kerusakan menyebar menjadi krisis.
Demikian pula dalam koperasi berbasis kekeluargaan.
Ketika seorang anggota mengalami kesulitan, informasi tidak menunggu laporan resmi triwulanan. Informasi mengalir melalui hubungan sehari-hari. Tetangga mengetahui. Kelompok mengetahui. Pengurus mengetahui. Sebelum masalah menjadi besar, komunitas telah mulai bergerak.
Inilah yang saya sebut sebagai antibodi sosial.
Antibodi sosial bukanlah program formal. Ia hidup dalam handep, gotong royong, saling kunjung, saling mendengar, dan kesediaan untuk membantu tanpa menunggu instruksi.
Sebaliknya, banyak organisasi modern justru kehilangan antibodi sosialnya. Mereka memiliki sistem pelaporan yang canggih, tetapi terlambat mengetahui bahwa anggotanya sedang mengalami kesulitan. Mereka memiliki prosedur yang lengkap, tetapi kehilangan kemampuan untuk membaca gejala-gejala awal krisis.
Akibatnya, masalah kecil berkembang menjadi krisis besar.
Dalam bahasa biologi, tubuh mengalami sepsis.
Dalam bahasa sosial, komunitas mengalami disintegrasi.
Namun metafora yang menurut saya lebih kuat adalah miselium.
Miselium adalah jaringan benang-benang jamur yang hidup di bawah tanah. Ia hampir tidak terlihat oleh mata manusia. Tetapi penelitian ekologi modern menunjukkan bahwa jaringan ini menghubungkan pohon-pohon dalam hutan.
Melalui miselium, pohon-pohon bertukar informasi. Mereka saling memberi peringatan. Mereka bahkan saling berbagi nutrisi.
Pohon yang kuat membantu pohon yang lemah.
Pohon yang terkena serangan hama memberi sinyal kepada pohon lain untuk mempersiapkan pertahanan.
Hutan ternyata bukan sekumpulan individu yang bersaing. Hutan adalah komunitas yang saling terhubung.
Ketika pertama kali membaca penelitian tentang miselium, saya langsung teringat kepada koperasi.
Selama ini kita melihat koperasi melalui permukaan yang tampak: aset, simpanan, pinjaman, kantor, dan laporan keuangan.
Tetapi sesungguhnya kehidupan koperasi tidak berada di permukaan itu.
Kehidupan koperasi berada di bawahnya.
Ia berada dalam jaringan kepercayaan.
Dalam hubungan antaranggota.
Dalam kebiasaan saling membantu.
Dalam memori kolektif yang diwariskan lintas generasi.
Dalam bahasa sederhana, ia berada dalam kekeluargaan.
Kekeluargaan adalah miselium sosial.
Ketika seorang anggota kehilangan harapan, jaringan itu bekerja.
Ketika sebuah keluarga mengalami musibah, jaringan itu bergerak.
Ketika generasi muda mulai menjauh dari koperasi, jaringan itu berusaha menarik mereka kembali melalui pendidikan, kaderisasi, dan pewarisan nilai.
Semua ini sering kali tidak muncul dalam laporan keuangan.
Tetapi justru inilah yang menentukan apakah sebuah koperasi akan bertahan selama puluhan tahun atau tidak.
Sayangnya, pembangunan modern sering terjebak pada apa yang dapat diukur.
Kita menghitung aset.
Kita menghitung laba.
Kita menghitung pertumbuhan.
Tetapi kita jarang menghitung kesehatan tanah sosial tempat semua itu tumbuh.
Padahal hutan tidak hidup karena pohonnya.
Hutan hidup karena tanahnya.
Karena itu ancaman terbesar bagi koperasi sesungguhnya bukanlah kekurangan modal.
Ancaman terbesar adalah apa yang saya sebut sebagai deforestasi sosial.
Deforestasi sosial terjadi ketika hubungan-hubungan yang menopang kehidupan bersama mulai terputus.
Ketika orang tidak lagi saling mengenal.
Ketika rapat berubah menjadi formalitas.
Ketika anggota berubah menjadi pelanggan.
Ketika efisiensi dianggap lebih penting daripada kebersamaan.
Ketika ritual sosial dianggap tidak produktif.
Pada saat itulah miselium mulai mati.
Dan ketika miselium mati, pohon-pohon mungkin masih berdiri untuk beberapa waktu.
Tetapi akar kehidupan mereka sesungguhnya sudah mulai mengering.
Pengalaman Keling Kumang memberikan pelajaran yang sangat penting bagi gerakan koperasi Indonesia.
Keberhasilan koperasi tidak cukup dijelaskan oleh modal, manajemen, atau teknologi.
Semua itu penting.
Tetapi ada sesuatu yang lebih mendasar.
Yaitu kemampuan merawat tanah sosial tempat kehidupan koperasi bertumbuh.
Para pendiri Keling Kumang tampaknya memahami hal ini dengan sangat baik.
Mereka tidak hanya membangun organisasi.
Mereka membangun ekosistem.
Mereka tidak hanya mengelola uang.
Mereka merawat hubungan.
Mereka tidak hanya menciptakan layanan.
Mereka menumbuhkan kepercayaan.
Dan mungkin di situlah letak rahasia ketahanan mereka.
Mereka menjadi penjaga tanah.
Di tengah ketidakpastian global, krisis iklim, dan disrupsi teknologi yang semakin cepat, saya semakin yakin bahwa masa depan tidak akan dimenangkan oleh organisasi yang paling besar.
Juga tidak oleh organisasi yang paling efisien.
Masa depan akan dimenangkan oleh organisasi yang paling hidup.
Yaitu organisasi yang memiliki jaringan hubungan paling kuat.
Yang memiliki memori kolektif paling sehat.
Yang memiliki sistem imun sosial paling adaptif.
Dan yang memiliki miselium kekeluargaan paling dalam.
Karena pada akhirnya, seperti hutan tropis yang bertahan bukan karena satu pohon besar tetapi karena seluruh jaringan kehidupan di bawahnya, koperasi pun akan bertahan bukan karena aset yang dimilikinya.
Ia akan bertahan karena hubungan yang dipeliharanya.
Itulah sebabnya tugas terbesar kita bukan sekadar membangun organisasi.
Tugas terbesar kita adalah menjadi penjaga tanah.
Tanah tempat kepercayaan tumbuh.
Tanah tempat solidaritas berakar.
Tanah tempat generasi berikutnya menemukan alasan untuk tetap berjalan bersama.
Sebab ketika tanah itu tetap hidup, hutan akan selalu menemukan cara untuk tumbuh kembali.(***





Komentar