oleh

Model Pembelajaran Hybrid Learning pada Masa Pandemic

Oleh : Devi Selvia Harlena, S.Pd

Guru SDN 1 Pengadilan Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya

Masa pandemic covid-19 merupakan masa-masa sulit dalam kehidupan sosial masyarakat. Masa pandemic penuh ujian lahir batin, jiwa dan raga, dibutuhkan kesabaran dan kebijakansanaan dalam menyikapinya. Hampir semua elemen kehidupan terdampak degan adanya pandemic covid-19. Diantara aspek yang terdapak besaradalah pendidikan. Sebagai salah satu aspek yang mengalami banyak perubahan dimasa pandemic, seluruh komponen pendidikan terutama harus melakukan banyak inovasi adar pendidikan dapat berjalan. Awalnya proses belajar mengajar hanya terjadi di ruang kelas, namun seiring perkembangan zaman, belajar mengajar tidak terikat oleh ruang dan waktu. Apalagi saat ini dimasa pandemi kebiajakan pemerintah yang sampai saat belum sepenuhnya menerapakan kebijakan masuk sekolah sepeuhnya 100%. Kebijakan pembelajaran tatap muka yang baru 50% diizinkan seperti saat ini, sehingga pembelajaran daring kombinasi dengan berbagai modelnya menjadi alternatif pembelaharan yang dapat digunakan.

Diantara model pembelajaran kombinasi yang dapat digunakan adalah model Hybrid Learning. Hybrid learning adalah pembelajaran yang menggabungkan berbagai pendekatan dalam pembelajaran yakni pembelajaran tatap muka (PTM) dengan pembelajaran berbasis komputer dan pembelajaran berbasis online (internet dan mobile learning). Ada juga yang menganggap hybrid learning sama halnya dengan blended learning. Bentuk pembelajarannya merupakan kombinasi antara pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran daring. Hybrid yang dimaksud adalah pembelajaran tatap muka dilakukan secara rotasi dengan jumlah siswa 50 persen. Misalnya, dari jumlah siswa 32 orang menjadi 16 orang per pertemuan tatap muka di kelas. Sisanya mengikuti kelas pembelajaran daring atau luring, dan bergantian. Pembelajaran tatap muka dilakukan untuk memberi kesempatan bagi anak-anak yang kesulitan melakukan PJJ.

Hybrid learning adalah sebuah metode yang dapat menjadi sebuah alternatif di Indonesia di masa pendemic dan dalam menghadapi era digital. Mengingat kini, hampir di berbagai negara telah menggunakannya untuk meningkatkan mutu pendidikan dan membuat peserta pelatihan dan pengajar lebih mudah dalam proses pemberian materi pelatihan. Penerapan hybrid learning sama seperti dengan pembelajaran yang dilakukan selama ini, yaitu dimulai dengan persiapan. Persiapan hybrid learning dimulai dengan melakukan analisis peserta didik, konteks dan konten pembelajaran atau perkuliahan. Hasil dari analisis ini untuk memetakan kompetensi harus dikuasai oleh peserta didik melalui tatap muka secara langsung atau mandiri secara daring. Selanjutnya hasil analisis tersebut dituangkan ke dalam silabus atau rencana pembelajaran. Pelaksanaan hybrid learning dapat dilaksanakan dengan pembagian peserta pembelajaran dalam satu kelas dibagi menjadi dua shift. Untuk minggu pertama misal shift A pembelajaran tatap muka shift B pembelajaran secara daring. Sebaliknya pada minggu kedua shift A pembelajaran secara daring shift B pembelajaran tatap muka. Pembelajaran tatap muka dilakukan secara langsung di dalam kelas. Pembelajaran secara daring dilakukan untuk memfasilitasi interaksi daring dengan menggunakan learning management system (LMS), misal Edmodo, Google Classroom, Google Meet, Zoom Meet, Skype, Whatsapp atau media daring lain. Pembelajaran secara daring real time sebaiknya juga disertai tugas mandiri dan terstruktur. Evaluasi pembelajaran hybrid learning mencakup evaluasi atau hasil capaian pembelajaran untuk mengukur penguasaan kognitif, psikomotorik, dan afektif. Ujian dapat dilakukan secara tata muka di sekolah atau dilakukan secara daring.

Setidaknya ada beberapa manfaat utama yang dapat Anda rasakan ketika menggunakan metode blended learning dan hybrid learning di institusi pendidikan Berikut beberapa di antaranya. Pertama, Lebih efektif dan efisien Tidak bisa dipungkiri lagi, setiap peserta didik memang memiliki cara belajar yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Contohnya saja, ada tipe peserta didik yang dapat semangat belajar sembari mendengarkan musik. Di sisi lain, ada pula tipe peserta didik yang lebih menyukai cara belajar dengan suasana yang tenang agar semua materi mudah diserap dan lebih berkonsentrasi. Perbedaan cara belajar seperti ini memang tidak bisa dipukul rata ketika berada di kelas. Dengan adanya metode pembelajaran blended learning seolah merupakan jawaban dari hal tersebut. Peserta didik dapat mengatur dan memilih waktu belajar sendiri di mana saja dan kapan saja. Tentu saja, selain efektif ini akan memangkas biaya bahkan sampai 50% lebih rendah bila dibandingkan dengan cara belajar konvensional.

Kedua, Tren belajar di masa depan tren mengenai blended learning dalam perkembangannya cukup banyak diminati oleh semua kalangan, tidak hanya bagi para peserta pelatihan saja, tetapi juga institusi maupun perusahaan. Ini dikarenakan metode pembelajaran blended learning didukung dengan berbagai ragam kemudahan seseorang dalam mencari informasi tertentu. Bahkan di sini peserta pelatihan tidak hanya dapat mencari informasi materi dari kampus atau institusi pendidikan mereka saja, tetapi juga dari kampus-kampus ternama di dunia. Ketiga, mendukung pengembangan keterampilan digital peserta didik dan pengajar. Disadari atau tidak keberadaan metode pembelajaran blended learning juga mampu meningkatkan keterampilan digital dalam proses belajar mengajar. Baik itu bagi peserta didik maupun pengajar. Dengan menggunakan perangkat digital yang terkoneksi dengan jaringan internet, para peserta didik dapat berinteraksi secara intens dengan pengajar.

Di samping itu, keberadaan blended learning dinilai mendukung adanya akses yang adil pada sumber materi belajar maupun keahlian khusus. Para peserta didikpun dapat mengembangkan jaringan sosial dengan peserta didik dari berbagai wilayah Indonesia dan luar negeri. (https://sevima.com/apa-perbedaan-blended-learning-dan-hybrid-learning)

Komentar