Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Bandung dan Tokoh Budaya Sunda)
KETIKA memahami satu Teks, maka secara sosiolinguistik, sosiologis, sosiokultural, kontekstual nya sedang terjadi apa , dimana dan mengapa.? Yang menjadi permasalahan, ketika kata, bahasa, sudah menjadi latah diucapkan oleh umum (awam), semula merupakan bahasa kajian terbatas dari sisi epistimologis, aksiologis, dan ontologis. Para pemikir, filosof, mereka mempertanyakan, menulusuri, dan merunut permasalahan secara radik, rinci. Bukan hanya kalimat, bahkan titik, koma, tanda petik, tanda serupun dipertanyakan.
Nihil euy! Artinya tidak ada apa-apa dan tidak mendapatkan apa-apa.
Absurd etamah! Artinya telah rusak, tidak berbekas. Kata, kalimat tersebut sudah latah dipakai umum. Istilah dan definisi adalah bagian dari konstruksi berfikir dalam menganalisis permasalahan.
NIHILISME
Nihilisme adalah sebuah aliran filsafat yang mempertanyakan nilai dan makna kehidupan. Nihilisme berasal dari kata Latin “nihil”, yang berarti “tidak ada” atau “tidak ada apa-apa”.
Nihilisme mempertanyakan apakah kehidupan memiliki makna dan tujuan, atau apakah nilai-nilai dan moralitas hanya merupakan konstruksi sosial yang tidak memiliki dasar objektif.
Beberapa tokoh terkenal yang terkait dengan nihilisme adalah:
- Friedrich Nietzsche : seorang filsuf Jerman yang mempertanyakan nilai-nilai tradisional dan mengusulkan konsep “Übermensch” (manusia super) sebagai cara untuk mengatasi nihilisme.
- Jean-Paul Sartre: seorang filsuf Perancis yang mengembangkan konsep “eksistensialisme” dan mempertanyakan makna kehidupan.
- Martin Heidegger : seorang filsuf Jerman yang mempertanyakan konsep “Being” (keberadaan) dan mengusulkan konsep “Dasein” (keberadaan manusia).
Nihilisme dapat dibagi menjadi beberapa jenis, termasuk:
- Nihilisme epistemologis : mempertanyakan kemungkinan pengetahuan objektif.
- Nihilisme moral : mempertanyakan nilai-nilai moral dan etika.
- Nihilisme eksistensial : mempertanyakan makna dan tujuan kehidupan.
Nihilisme dapat dilihat sebagai sebuah tantangan untuk mempertanyakan asumsi-asumsi kita tentang kehidupan dan nilai-nilai, namun juga dapat dilihat sebagai sebuah ancaman bagi nilai-nilai dan makna kehidupan.
ABSURDISME
Absurdisme adalah sebuah aliran filsafat yang mempertanyakan makna dan tujuan kehidupan, serta menganggap bahwa kehidupan tidak memiliki makna atau tujuan yang objektif.
Absurdisme berasal dari kata Latin “absurdus”, yang berarti “tidak masuk akal” atau “tidak logis”. Aliran ini berkembang pada abad ke-20, terutama melalui karya-karya Albert Camus dan Jean-Paul Sartre.
Beberapa prinsip dasar absurdisme adalah:
- Keberadaan tidak memiliki makna : Absurdisme menganggap bahwa kehidupan tidak memiliki makna atau tujuan yang objektif.
- Ketidakpastian : Absurdisme menganggap bahwa kehidupan penuh dengan ketidakpastian dan ketidakjelasan.
- Kebebasan : Absurdisme menganggap bahwa manusia memiliki kebebasan untuk memilih dan menciptakan makna hidup sendiri.
- Ketidakadilan : Absurdisme menganggap bahwa kehidupan tidak adil dan tidak memiliki keadilan yang objektif.
Beberapa tokoh terkenal yang terkait dengan absurdisme adalah:
- Albert Camus : seorang filsuf dan penulis Perancis yang mengembangkan konsep “absurditas” dan mengusulkan bahwa manusia harus menciptakan makna hidup sendiri.
- Jean-Paul Sartre : seorang filsuf Perancis yang mengembangkan konsep “eksistensialisme” dan mempertanyakan makna kehidupan.
- Samuel Beckett : seorang penulis Irlandia yang menulis karya-karya yang mempertanyakan makna kehidupan dan ketidakpastian.
Absurdisme dapat dilihat sebagai sebuah cara untuk mempertanyakan asumsi-asumsi kita tentang kehidupan dan nilai-nilai, namun juga dapat dilihat sebagai sebuah tantangan untuk menciptakan makna hidup sendiri dalam menghadapi ketidakpastian dan ketidakadilan.
PERBEDAAN PRINSIP NIHILISME dgn ABSURDISME
Perbedaan prinsip antara Nihilisme dan Absurdisme adalah:
Nihilisme :
- Menganggap bahwa kehidupan tidak memiliki makna atau tujuan yang objektif.
- Menganggap bahwa nilai-nilai dan moralitas hanya merupakan konstruksi sosial yang tidak memiliki dasar objektif.
- Menganggap bahwa kehidupan tidak memiliki keadilan atau kebenaran yang objektif.
- Menganggap bahwa manusia tidak memiliki kebebasan untuk memilih atau menciptakan makna hidup sendiri.
Absurdisme :
- Menganggap bahwa kehidupan tidak memiliki makna atau tujuan yang objektif, namun manusia dapat menciptakan makna hidup sendiri.
- Menganggap bahwa nilai-nilai dan moralitas dapat diciptakan oleh manusia sendiri, meskipun tidak memiliki dasar objektif.
- Menganggap bahwa kehidupan penuh dengan ketidakpastian dan ketidakadilan, namun manusia dapat memilih untuk menciptakan makna hidup sendiri.
- Menganggap bahwa manusia memiliki kebebasan untuk memilih dan menciptakan makna hidup sendiri.
Dalam singkat, Nihilisme cenderung lebih pesimis dan menganggap bahwa kehidupan tidak memiliki makna atau tujuan, sedangkan Absurdisme cenderung lebih optimis dan menganggap bahwa manusia dapat menciptakan makna hidup sendiri meskipun kehidupan tidak memiliki makna objektif.
Melihat frase di atas, pernyataan para pemikir, filosof, mengajarkan manusia agar berfikir jernih dan tertib, terpola. Bila pola fikir terstruktur rapih, maka pola tindak akan paralel antara apa yg difikirkan dengan apa yg dilakukan.
Sebuah kritik Gusdur terhadap bangsa Indonesia secara umum, saat diwawancara Qik Andy , Gusdur, mengatakan, perilaku bangsa ini, apa yg diomongkan dengan apa yg dilakukan tidak ada hubungannya. Tutur Gusdur.
Cag!@Abah Yusuf-Doct//Kabuyutan
24 Jumadil Akhirv1447 H – 13 Desember 2025 M









Komentar