
Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Bandung & Tokoh Budaya Sunda)**
Banyak satrawan dan budayawan yang melakukan otokritik terhadap khirakis, struktur sosial masyarakat. Pramudiya, dalam bukunya Bumi Manusia , Rumah Kaca, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Dengan tulisan karya sastranya yang kontroversi, hingga ia dijuluki sastrawan berhaluan kiri di zaman Orba. Karya karya sastranya sempat dilarang dan ditarik dari peredaran. Hingga Pram dibuang ke Pulau Buru, Maluku , tempat pembuangan lawan politik Orba yang dianggap kiri. Ada para sastrawan , pujangga Baru, HAMKA, yang karena karyanya ia sempat jadi tahanan politik diera ORLA. Hikmah ia ditahan, melahirkan tulisan Tafsir Al Quran Al Azhar. Kritik sosialpun banyak dilakukan oleh sastrawan lain, Muchtar Lubis, Rendra, Ayip Rosyidi, dsb. Menarik untuk diperhatikan, gaya tulisannya cenderung mengkritik kondisi sosial-politik.
Bila sttuktur sosial, pada versi orientalis adalah cenderung melihat dari sisi keagamaan yang berpenguruh ditengah masyarakat. Snouch Grongne, ia orientalis yg punya tugas untuk menghancurkan tatanan masyarakat darisisi keagamaan- Islam-.Dowes Decker, seorang orientalis yang menentang koloni Belanda, melakukan penjajahan dengan pertentangan kelas Bangsawan dan cacah.. yang kerena tulisan DD, mengilhami tulisan, RA Kartini, dalan tulisannya, jadi Karya Sastra, Habis Gelap Terbitlah Terang. Klas sosial terbentuk secara alami dan spontan.
Lahirlah Istilah Ningrat dan Priyayi.
Struktur sosial masyarakat Indonesia, Nusantara masa lalu, terdiri atas , struktur sosial yang didisain sejak, awal berdasarkan Status sosial dilihat dari garis keturunan.Terjadinya perbedaan status sosial tersebut, karena warisan budaya Kerajaan , Kesultanan, serta masyarakat biasa. Mereka yang memiliki trah, dari sisi silsilah (geneologis) tercatat rapih keberadaannya.Asal usul, leluhur dari ranji akan nampak dan nama seseorang selalu melekatkan nama leluhurnya.
Kekacauan struktur sosial yg tertata rapih, menjadi hancur karena kehadiran koloni baru, yakni kolonial, penjajah. Mereka membelah struktur masyarakat berdasarkan ketaatan pada mereka atau melawan mereka.
Banyak karya sastra, catatan sejarah yang hilang, boleh jadi dibawa oleh kolonial atau dibakar oleh mereka yv tdk memiliki sistem nilai dalam kehidupan.
Kiwari kerancuan makin nampak, orang banyak yang gagal faham tentang penyebutan Ningrat dan Priyayi. Mengapa istilah tersebut perlu dibahas dan disampaikan pada halayak. Layak tidaknya dibahas bergantung pada kebutuhan.
NINGRAT
Ningrat, adalah istilah dalam bahasa Indonesia yang merujuk pada golongan atau kelompok masyarakat yang berasal dari kalangan bangsawan atau aristokrat. Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki garis keturunan kerajaan, keluarga terpandang, atau elite tradisional di suatu daerah.
Beberapa ciri yang sering diasosiasikan dengan golongan ningrat:
- Keturunan Bangsawan: Ningrat biasanya berasal dari keluarga yang memiliki hubungan dengan kerajaan atau kesultanan.
- Status Sosial Tinggi: Mereka sering dianggap memiliki kedudukan sosial yang lebih tinggi dalam masyarakat tradisional.
- Gaya Hidup: Golongan ningrat sering diidentikkan dengan tata krama, adat istiadat, dan gaya hidup yang dianggap lebih “halus” atau “berkelas.”
Namun, istilah ini sekarang lebih jarang digunakan dalam konteks sosial modern karena sistem feodal telah memudar, dan masyarakat lebih mengutamakan kesetaraan.
PRIYAYI
Priyayi, adalah istilah yang merujuk pada golongan elite atau kelas atas dalam masyarakat Jawa pada masa feodal. Secara historis, priyayi adalah kelompok masyarakat yang memiliki kedudukan tinggi dalam struktur pemerintahan tradisional, seperti abdi dalem (pegawai kerajaan), pejabat administrasi kolonial, atau bangsawan yang melayani raja atau sultan.
Ciri khas priyayi meliputi:
- Keturunan atau Jabatan: Priyayi biasanya berasal dari keluarga bangsawan atau mendapatkan status melalui jabatan di pemerintahan.
- Tata Krama dan Adat Halus: Priyayi dikenal dengan sikap santun, cara bicara halus, dan penguasaan tata krama yang mencerminkan budaya Jawa.
- Pendidikan dan Budaya: Pada masa kolonial, banyak priyayi yang mendapat pendidikan formal dan memainkan peran penting dalam administrasi Hindia Belanda.
- Kehidupan Sosial: Priyayi sering dianggap sebagai panutan dalam masyarakat karena kedudukan dan gaya hidupnya yang dianggap lebih “berkelas.”
Istilah ini sering digunakan dalam konteks budaya Jawa, tetapi dalam masyarakat modern, konsep priyayi mulai memudar seiring dengan perubahan sosial yang lebih egaliter.
Perbedaan antara Ningrat dan Priyayi terletak pada asal-usul status sosial dan peran mereka dalam masyarakat, terutama dalam konteks budaya Jawa dan sistem feodal di masa lalu:
1. Asal-usul Status:
- Ningrat: Istilah ini merujuk pada bangsawan berdarah biru , yang memiliki garis keturunan langsung dari keluarga kerajaan atau kesultanan. Status ningrat biasanya diwariskan secara turun-temurun.
- Priyayi: Merujuk pada kelas elite administratif atau birokrasi yang mendapatkan status sosialnya melalui jabatan pemerintahan atau pengabdian kepada kerajaan. Priyayi bisa berasal dari rakyat biasa yang diangkat menjadi pejabat.
2. Kedudukan dalam Struktur Sosial:
- Ningrat: Berada di puncak hierarki sosial karena mereka adalah keturunan langsung dari raja atau sultan.
- Priyayi: Berada di bawah ningrat dalam hierarki sosial, meskipun tetap dianggap sebagai kelas elite karena peran mereka dalam pemerintahan dan administrasi.
3. Peran dalam Masyarakat:
- Ningrat: Lebih berfokus pada simbol status, adat, dan kebangsawanan. Mereka sering menjadi pemimpin tradisional tanpa harus bekerja dalam administrasi pemerintahan.
- Priyayi: Berperan aktif dalam pemerintahan atau administrasi, seperti menjadi pejabat kolonial Belanda, abdi dalem, atau pegawai kerajaan.
4. Cakupan Wilayah:
- Ningrat: Tidak terbatas pada budaya Jawa saja, tetapi berlaku untuk bangsawan di berbagai daerah di Indonesia (misalnya, bangsawan Bugis, Bali, Minangkabau, dll.).
- Priyayi: Istilah ini lebih spesifik untuk budaya dan sistem sosial Jawa.Secara sederhana, semua ningrat bisa dianggap lebih tinggi dari priyayi dalam tatanan sosial tradisional, tetapi tidak semua priyayi adalah ningrat. Priyayi lebih terkait dengan jabatan administratif daripada garis keturunan murni.
Dari frase di atas, kiwari perubahan sosial, dan struktur sosial, kelas soaial tetap ada. Bangsawan vs Cacah, Ningrat vs Priyayi , Dr Akademik vs Dr HC, Prof Akademik vs Prof HC. Permasalahan yang muncul dan menjadi masalah mental blok dari keadaan sosial masyarakat. Ranji, Silsilah, Geneologis, Nasab, banyak yang merusak, bahkan dihilangkan dengan alasan yang tidak berdasar. Penghilangan Nasab adalah awal munculnya Genecida , penghancuran keadaban manusia yg sedang menuju kesempurnaan. Kemanusiaan yang adil dan beradab vs Ketidakmanusiaan yang tidak adil dan tidak beradab.
Cag!@Abah Yusuf-Doct/Kabuyutan
9 Jumadil Awal 1447 H – 31 Oktober 2025 M









Komentar