
Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyuran Gegerkalong Bandung dan Tokoh Budaya Sunda)
KONTEK sosial masyarakat, mereka mengenal sosok pahlawan di daerah dan tempat masing masing. Bila figur pahlawan, adalah seseorang karena melawan penjajah, kolinial, dan mereja gugur dimedan laga, maka banyak sekali pahlawan, yang tidak tercatat dalam sejarah nasional. Pahlawan Budhi Soetomo (Bung Tomo), Moch. Toha, Patimura, Maulana Yoesoef, Maulana Hasanoeddin, Oentoeng Soerapati, I Goesti Ngoerahrai , Moch. Thamrin, Jendral Soedirman , Cut Nyakdien , RA. Kartini , Rd Dewi Sartika, dsb mereka semua sosok pahlawan yang dikenal.
Pahlawan tak dikenal, para ‘Oelama Ruhani , kiyai pesantren , para guru, para petani, para nelayan, para buruh, para seniman dan budayawan, para pemangku adat dsb banyak sekali yang belum tercatat atau bahkan mereka hanya dikenal di desa dan daerah daerah yang jauh dari pusat pemerintahan saat itu. Pasukan Belapati untuk Ibu Pertiwi, kebanyakan mereka tak mau dikenal, namun jasa-jasanya terasa dan menghidupkan semangat rakyat untuk merdeka. Mereka dikenal dan dikenang sebagai sosok Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, dan pemakamannya tdk di Taman Makam Pahlawan. Makam mereka, di kampung2, bahkan di gunung2 jauh dari keramaian. Meteka2 Pahlawan tak dikenal dalam catatan sejarah Nasional al: Mama Muhammad bin Nuh ; Mama Abdullah bin Nuh; Mama Abdullah Nuh , Cianjur dan Jasinga; Buya Dimyati, Pandeglang; Kiyai Bagus Rangin, Majalengka; Marshal Suryadi Suya Dharma Cirebon; Dalem Wirasuta Widjaja , Cimahi; Mama Entang -Rd Raksa Eni- Dayeuhkolot; Rd. Wirabrata Kusumah, Cihamoelas , Bdg ; Mama Muhammad Hasa Nur Ali; Mama Muhammad Husein Nur Ali , Kabuyutan Gegerjalong, Bandung Utara dan di tempat tempat lainnya.
Pahlawan yang diperkenalkan, srsungguhnya mereka bukan Pahlawan, ketika zaman penjajah, Belanda mereka jadi tentara Knil begitupu ketika zaman Jepang. Mereka berkuasa mengatasnamakan angkatan pejuang kemerdekaan, padahal jiwa jiwa mereka adalah berjiwa budak, mereka mengabdi pada siapapun yg berkuasa.
Penulisan sejarah, oleh para sejarawan, terkadang disinformasi , belum lengkap dan akurat, terburu ditulis, hanya memenuhi kepentingan penguasa di zamannya. Bukan hanya di Indonesia, bahkan dunia, dibelahan bumi manapun ketika para penjajah menginjakan kakinya. Para pemberontak yang melawan penjajah atau penguasa dzalim dan mereka Gugur, sangat langka mereka dituliskan sebagai Pahlawan.
Muthahhari seorang ‘ulama dari Iran, penulisan sejarah , menggunakan metode atau analisis, Material dan Spiritual. Boleh jadi secara material peradaban terbangun, namun secara spiritual kemanusiaan hancur. ..”Selamat berbahagia arwah para Pahlawan, Tuhan Hiyang Mahakuasa, dan penduduk langit menyambut engkau wahai pahlawan; Engkau tak perlu peduli pada penduduk bumi yang tak mau mengenalmu. “.
Cag!@Abah Yusuf-Doct//Kabuyutan
17 Jumadil Awal 1447 H – 9 November 2025 M









Komentar