Surabaya, LINTAS PENA—-Walikota Surabaya Eri Cahyadi,ST,MT dikenal sebagai pemimpin daerah yang kerap menelurkan kebijakan yang mendapat apresiasi tinggi dari warganya.Salah satu kebijakan tersebut adalah Sekolah Kebangsaan yang saat ini seakan ditiru oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Selama ini, Eri Cahyadi tidak mempublikasikan aktivitasnya di media sosial (Youtube, Facebook, TikTok dll) seperti yang dilakukan KDM, mulai penanganan banjir, tata ruang kota, kerja bakti bersama warga, penanganan premanisme hingga kenakalan remaja yang kemudian dimasukkan ke barak meliter.Bahkan, Eri Cahyadi memberikan nama Sekolah Kebangsaan
Sekolah Kebangsaan adalah tempat dimana Pemkot Surabaya mengirim anak-anal bermasalah ke markas militer. Seperti yang saat ini marak dimana Kang Dedi Mulyadi (KDM) mengirim anak-anak tersebut ke barak militer. Artinya. keberadaan Sekolah Kebangsaan ini bukan dipelopori oleh KDM, melainkan oleh Walikota Surabaya Eri Cahyadi sejak awal tahun 2023 yang “tidak mau” terpublikasikan sebelum membuahkan hasil. Eri Cahyadi tidak mau aktivitas dikontenin atau dipublukasikan sebelum berhasil. Bahkan, keberhasilan program kerja atau kinerjanya tidak boleh dipublikasikan secara berlebihan.
Dalam Podcast “BIKIN TERANG” di YouTube Official iNews, Eri Cahyadi bercerita banyak hal mulai dari awal karier sebagai pemimpin daerah hingga gebrakannya dalam mengatasi beragam persoalan sosial di Kota Surabaya.
SOAL SEKOLAH KEBANGSAAN
Pada hari Rabu 22 Februari 2023, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi resmi membuka Sekolah Kebangsaan di Lanudal Juanda dan di Sekolah Kebangsaan kali ini terdapat 57 peserta anak-anak hebat Surabaya, mulai dari jenjang SMP-SMA. Eri Cahyadi mulai bergerak sejak akhir tahun 2022 calon siswa Sekolah Kebangsaan Angkatan pertama yang diresmikan hari Rabu 22 Februari 2023.
Dalam pembukaan Sekolah Wawasan kebangsaan, Wali Kota Eri Cahyadi didampingi oleh Komandan Lanudal Juanda Kolonel Laut (P) Heru Prasetyo, Sekretaris Daerah (Sekda) Ikhsan, dan jajaran asisten serta Kepala PD di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
Wali Kota Eri Cahyadi mengatakan, Sekolah Kebangsaan ini dibuka untuk membentuk karakter anak-anak remaja Surabaya. Menurut dia, dengan Sekolah Kebangsaan, anak-anak remaja Surabaya akan semakin hebat dan luar biasa di segala hal. “Di sini bukan anak-anak yang terjaring razia, di sini bukan anak-anak nakal. Tapi disini adalah anak-anak hebat yang punya kemampuan luar biasa,” kata Wali Kota Eri.
Wali Kota Eri Cahyadi menegaskan, ke depannya Sekolah Kebangsaan terus lakukan rutin. Setiap sekolah di Surabaya, mulai SMP-SMA diminta untuk mengirim siswanya untuk belajar di Sekolah Kebangsaan. “Jadi, semua anak di Surabaya akan mendapatkan Sekolah Kebangsaan, yang dimulai hari ini oleh angkatan pertama, dan semoga bisa berlanjut ke angkatan kedua, ketiga dan seterusnya,” tegas Wali Kota Eri.
Wali kota yang akrab disapa Cak Eri Cahyadi itu menyampaikan, ketika anak-anak Surabaya mengikuti Sekolah Kebangsaan, maka ke depannya akan memiliki ideologi sesuai Pancasila. Dengan begitu, para remaja Surabaya dapat mengedepankan rasa guyub dan gotong royong serta kerukunan.
Cak Eri melanjutkan, ketika para remaja itu kembali ke sekolahnya, diharapkan dapat menyebarkan kebaikan, dan menjadi satu keluarga dengan pemkot, TNI, dan Polri, untuk menerapkan pancasila kepada seluruh masyarakat.
“Siapapun yang menyentuh mereka, maka juga akan berhadapan dengan kami yang ada di sini semuanya. Karena ini akan memunculkan rasa kekeluargaan, rasa pancasila yang didengungkan dan harus dipahami dalam hati,” sebut Cak Eri.
Cak Eri berharap, para remaja yang ikut dalam Sekolah Kebangsaan bisa menjadi seorang pemimpin bermartabat dan memegang teguh ajaran Pancasila. Utamanya dalam memimpin bangsa Indonesia dan Kota Surabaya.
Wali Kota Eri memulai pemaparannya dengan kisah inspiratif dari program sekolah kebangsaan yang diluncurkannya pada akhir tahun 2022, yakni salah satu strategi membentuk karakter anak Surabaya. Kegiatan ini bekerjasama dengan Akademi Angkatan Laut selama 10 hari di Juanda, ia mengumpulkan anak-anak yang memiliki masalah perilaku seperti penyalahgunaan zat, tawuran, atau balapan liar. Hasilnya, terjadi perubahan signifikan pada anak-anak tersebut, membuat orang tua mereka terharu.
“Setelah evaluasi, ditemukan bahwa 90% masalah perilaku anak berasal dari faktor keluarga, seperti perceraian orang tua, ayah yang bekerja di luar kota, atau anak yang dititipkan kepada kerabat,” kata Wali Kota Eri.
Oleh karena itu, Wali Kota Eri mengubah pendekatannya dengan membangun sekolah asrama bagi anak-anak kurang mampu di Surabaya melalui Rumah Ilmu Arek Suroboyo (RIAS). Ia menunjukkan keberhasilan program ini dengan contoh nyata, anak-anak yang dulunya terlibat tawuran kini menjadi atlet peraih emas, bahkan ada yang melanjutkan pendidikan menjadi perawat.
Ia juga menjelaskan alasan mengapa program ini tidak banyak dipublikasikan di media massa. “Anak-anak ini punya masa depan panjang. Jika mereka diliput media, mereka akan dicap sebagai anak nakal selamanya. Dampak psikologisnya akan jauh lebih besar,” ungkapnya.
Sementara itu, Komandan Lanudal Juanda Kolonel Laut (P) Heru Prasetyo menyampaikan, para remaja yang ikut dalam Sekolah Kebangsaan akan dilatih dan dibina selama 8 hari ke depan. Dalam kurun waktu tersebut, para remaja akan diajarkan kedisiplinan dan diberi pendidikan dasar-dasar bagaimana memahami diri sendiri.
Di dalam Sekolah Kebangsaan, mereka juga harus bisa memahami tentang hidup berkelompok dan teratur sesuai dengan porsi para peserta Sekolah Kebangsaan. “Seperti inilah yang harus kita diberikan ke mereka. Intinya adalah dasar-dasar disiplin. Dan hari ini, Pak Wali mengadakan kegiatan Sekolah Kebangsaan ini sangat luar biasa dan akan saya laksanakan dengan sebaik-baiknya selama 8 hari ke depan,” kata Kolonel Laut (P) Heru.
Heru melanjutkan, mereka akan diminta bangun setiap pukul 04.30 WIB. Setelah bangun, akan diajak berolahraga bersama dengan siswa Akademi Angkatan Laut yang juga sedang melaksanakan pendidikan di Lanudal Juanda. “Nanti mereka akan ketemu kalau olahraga pagi. Dia biar tahu militer itu bagaimana, maka adik-adik ini harus mengenal Apa itu disiplin,” lanjut Heru.
Tak hanya itu, para remaja itu juga akan dibimbing untuk membersihkan diri, dan melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing, setelah itu melaksanakan apel pagi pada Pukul 07.00 WIB. “Pendidikan selalu kita kumpulkan setiap pagi itu ada namanya apel pagi. Habis gitu baru nanti kegiatannya nanti pelatih yang akan ngatur,” sebutnya.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kota Surabaya, Eddy Christijanto menambahkan, di dalam Sekolah Kebangsaan, para remaja akan diajarkan dasar-dasar kepemimpinan, utamanya cinta tanah air, kedisiplinan, dan mempelajari ideologi Pancasila.
“Seperti kata Pak Wali dan Komandan Lanudal tadi, kalau seorang pemimpin tidak tahu dasar-dasar kehidupan itu, maka dia tidak akan bisa menjadi pemimpin. Orang yang tidak disiplin itu adalah cenderungnya korupsi,” tambah Eddy.
Remaja yang ikut di gelombang pertama Sekolah Kebangsaan, Eddy melanjutkan, total ada 57 remaja. Diantaranya 50 siswa laki-laki dan 7 perempuan, yang terdiri dari sekolah SMP-SMA di Surabaya. “Yang awalnya total ada 77 peserta, kini menjadi 57. Ada sebagian peserta yang tidak bisa ikut, karena sedang melaksanakan ujian praktik. Seperti sekolah SMK itu kan ada ujian praktik, sehingga mereka tidak bisa ikut,” pungkasnya.
Akses pendidikan yang merata terus diupayakan oleh Pemkot Surabaya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memberikan beasiswa kepada anak-anak kurang mampu agar dapat terus bersekolah.”Tapi kalau tidak punya biaya, serahkan ke Pemkot Surabaya, akan kami sekolahkan. Syaratnya sederhana, anak-anak harus berada di rumah pada pukul 22.00 WIB,” tutur Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, Minggu 25 Mei 2025.
Anak-anak penerima bantuan Pemkot Surabaya akan tinggal di Kampung Anak Negeri atau Asrama Bibit Unggul. Wali Kota Eri ingin menghapus anggapan bahwa asrama sebagai hukuman.Sebaliknya, asrama justru memberikan kebersamaan dan fasilitas belajar yang memadai. Dengan begitu, pola pikir anak-anak menjadi lebih positif dan produktif dalam lingkungan yang suportif.
“Jadi kalau dari keluarga gak mampu, kami bantu, bisa melalui sekolah dan masuk asrama KANRI atau Bibit Unggul. Tetapi kalau masih mampu, ya tetap melakukan pengawasannya kita bersama. Ini lah gotong royong,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Eri menerangkan bahwa Pemkot Surabaya sedang menyiapkan kuota sekitar 200 untuk Asrama Bibit Unggul melalui program Satu Keluarga Satu Sarjana, serta 200 lagi untuk jenjang SMP dan SMA.
“Sejak 2022 saya bergerak, saya berusaha menjaga privasi warga saya yang saya datangi. Saya tidak ingin mereka malu atau minder,” terang Eri yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pengurus APEKSI 2025-2030.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyoroti tentang anak-anak yang terlibat kenakalan, seperti tawuran, berkelahi, ngelem, hingga vandalisme yang kerap terjaring razia Satpol PP.
“Kami berupaya melakukan intervensi melalui Sekolah Kebangsaan. Program ini membekali anak-anak dengan wawasan kebangsaan selama 10 hari, yang terbukti membawa perubahan drastis,” pungkas Walikota Surabaya.(REDI MULYADI/Berbagai Sumber)****









Komentar