Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Bandung & Tokoh Budaya Sunda)
ALKISAH, seorang penyamun, dia sudah terancam hidupnya. Disetiap sudut kota terpampang wajahnya, dan dinyatakan DPO -Wanted-, bahkan ditambahkan tulisan, barangsiapa menemukan, mensngkapnya, dalam keadaan hidup atau mati dan menyerahkannya pada Sultan, Raja, Al Makmun, pada Dinasti Abasiah, akan dapat hadiah, Dinar, Dirham , permata, satu peti. Berita tersebut tersebut, dan dilihat oleh penyamun.
Penyamun makin putus asa. Pada keheningan malam , penyamun, keluar dari persembunyiannya, memberanikan diri mendatangi rumah Dzuriyat Rasulullah saw, Imam Muhammad al Jawad bin ‘Ali al Ridha bin Musa bin Ja’far bin Muhammad al Baqir bin ‘Ali Zainal Abidin bin Husrin bin ‘Ali bin Abu Thalib as. Imam ke 10 dalam mazhab Syi’ah.
Penyamun mengucapkan , asalamu’akaika yabna Rasulillah saw, Alsikasalam jawab Imam. Ada keperluan apa ? Penyamun, berkata , aku mohon perlindungan dan pertolonganmu, karena hidupku dalam ancaman Sultan al Makmun. Jawab Imam, pada penyamun: Sampaikan salam pada al Makmun dariku kata Imam. Penyamun kaget, ia bergumam , kalau begitu aku akan cepat menuju kematian. ..Imam, pergilah pada al Makmun dan sampaikan salam dariku. .dan ini rahasia.jangan engkau sampaikan pada siapapun, kecuali pada al Makmun kata Imam.
Akhirnya penyamun pergi dengan menutup wajahnya (masker). Singkat cerita.
Dalam perjalanan Penyamun berpapasan dengan seorang ‘Alim Ruhani. Sang ‘Alim bertanya, hendak kemana Anda pergi, spotan penyamun jawab, aku akan ke al Makmun. ‘Alim kaget dan keduanya pingsan. Saat keduanya siuman, ‘Alim bertanya kenapa Anda pingsan , jawab penyamun , ucapanku yg rahasiah titah Imam, aku langgar. Penyamun bertanya, ya ‘Alim kenapa andapun pingsan? Jawab ‘alim, karena aku melihat nyawamu hanya tinggal dilidah. Baik ‘alim, kalau begitu aku pergi.-‘Alim ruhani yang memiliki dan mengetahui ilmu tanda tanda kematian-.
Penyamun memasuki gerbang kota, disitu ia bertemu seorang algojo di gerbang pertama al Makmun. Penyamun sebelum ditanya, ia bertanya lebih dahulu. Dimana Makmun. Algojo tahu, ia penyamun yang ia cari, melihat nyalinya besar, ia persilahkan lewat, lolos gerbang pertama ,ia bertemu dgn algojo gerbang kedua, dengan pertanyaan yang sama, ahirnya algojo kedua menyilahkannya pergi, gerbang ketiga…hingga ketujuh, dengan pertanyaan yg sama penyamun dipersilahkan masuk ke Ruang Istana, dimana al Makmun dengan algojo algojo pengawal pribadi, dan para penasehatnya sedang membahas tentang penyamun. Dengan suara keras, penyamun bertanya dimana Makmun? Al Gojo pengawal menghadangnya, ya Sultan, ini penyamun yang kita bahas, ijinkan saya memenggalnya.
Sebentar kata al Makmun. Ia sangat berani kata al Makmun. Apa ada yang ingin kau sampaikan. Ya Makmun, aku datang ingin menyampaikan sesuatu dan hanya engkau yang tahu. Diijinkanlah penyamun menyampaikan pesan Imam. Ya Makmun , ada Salam dari Putra (Dzuriyat) Rasulullah SAW, Imam Muhammad Al Jawad As. Makmun menjawab, salam juga padamu dan pada Imam. Kata Makmun sudah lama aku ingin berjumpa dengan Putra Rasulullah SAW.
Sedang dialog singkat antara Makmun dan penyamun. Seorang algojo menyela, ya Sultan ijinkan aku memenggalnya. Al Makmun, dengan nada marah, diam kakian!
Aku sdh lama ingin berjumpa dengan putra Rasulullah SAW. Dan hanya Penyamun ini yg mengantarkan salam darinya. Makmun berkata pada para algojo pengawal pribadi dan para penasehatnya: Sejak saat ini, penyamun berada dibawah perlindunganku, barang siapa yang berani hata menyentuh sehelai rambutnya, maka ia berhadapan denganku. Penyamun mendengar itu kaget, dan semua yang hadir kaget pula.
Selesai ucapannya, Makmun memerintahkan pada salahsatu algojo untuk membawa satu peti yang isinya Dinar, Dirham dan Permata. Berikan pada penyamun sebagai hadiah dariku atas amanat Salam dari Imam yang disampaikannya. Dalam keadaan terdiam penyamun. Makmun berkata terimalah dan saya persilahkan anda pulang.
Diperjalanan, penyamun bergumam dalam keadaan kaget dan heran. Aku selamat dari kematian dan bahkan diberi hadiah satu peti. Ia bergegas menuju Imam dengan memanggul peti sebagai hadiah dari makmun. Sesampainya dirumah Imam, ia ucapkan salam pada Imam. Imam menyuruh penyamun masuk. Alhamdulillah engkau selamat yang penyamun dan apa yang engkau bawa. Penyamun dalam keadaan gembira sekamat dari kematian , ia sampaikan Peti tersebut pada Imam. Imam menolaknya seraya berkata, wahai penyamun, Dinar, Dirham, dan permata satu peti tersebut bawalah olehmu, dan dengan bekal itu engkau berhenti jadi penyamun, cukup untuk bekal hidupmu. Penyamun bahagia dan terharu dengan sikap Imam, hingga tetes airmata tak terasa telah membasahi wajahnya. Kemudian dengan lirih menyampaikan ayat, “.. Huwa maulakum ni’mal maula wa ni’mal nashir.”. Ayat tersebut bahwa Imam adalah Pemimpin yang nyata dan Penolong yang sesungguhnya..
Cag!@Abah Yusuf-Doct//Kabuyutan
28 Jumsdil Awal 1447 H – 20 November 2025 M









Komentar