Oleh : Drs. Aman Rochman
ITU momen luar biasa dan sangat membahagiakan kami. Pada 29 Sept. 2022 Saya bersama istri bisa menginjakkan kaki di negara yang jauhnya harus ditempuh entah berapa ratus ribu kilo meter dan harus menyebràng lautan, itulah negara Jerman. Dulu saya kuliah jurusan bahasa Internasional, bhs Inggris. Saya berharap jadi guru dan – pada kesempatan yang tidak mungkin secara syariat – ingin juga bisa pergi keluar negeri. Alhamdulillah atas kasih sayang Alloh ada akses yang dianugrahkan kepada keluargaku, kami bisa mengalaminya.
Hakikatnya ada yang menjadi wasilah semua ini terjadi. Anak perempuanku yang pertama kuliah mengikuti jejakku mengambil jurusan bhs. Inggris di Universitas Siliwangi ( UNSIL ) Tasikmalaya. Pada tahun 2011 dia ada di semester V mengikuti Masudi Award. Alhamdulillah dia juara ke-1 dan mendapatkan hadiah pergi magang ke Belgia selama 2 bulan dan bisa wisata keliling ke beberapa negara di Eropa. Dan apa yang dia alami itu ternyata memotivasi adiknya yang lulusan jurusan Ekonomi FKIP Unsil.
Adiknya, anak perempuanku yang kedua ingin mengalami pergi keluar negeri seperti kakanya itu. Dia mengikuti kursus bahasa Jerman tingkat dasar ketika dia kuliah pada semester IV. Pada thn 2014 Dia selesai lulus ujian bahasa Jerman tingkat dasar dari Goethe Institut Bandung hampir bersamaan lulus kuliah. Ďia mengajukan program AUPAIR via online, yaitu program pertukaran budaya bagi generasi muda untuk memperdalam bahasa Jerman . Alhamdulillah dia diterima, sehingga tiga minggu setelah wisuda di UNSIL dia berangkat ke Jerman.
Dua tahun pengalaman AUPAIR dan kerja di Jerman , akhirnya dia mendapatkan laki-laki pasangan hìdupnya , dia menikah dengan orang Jerman. Dan itu jadi hikmah dan akses , mereka bisa mngundang aku, istri dan adiknya, anak perempuanku yang bungsu. Oleh karenanya kami bisa sampai ke negara Jerman.
Apa yang saya akan ceritakan ini adalah catatan apa yang saya lihat, ketahui dan alami selama di Jerman. Selain sebagai kenangan yang tersipan, juga ingin berbagi ( sharing ) sedikit pengelaman dan hikmah selama saya di Jerman.
Jerman Negara Nyaman
Pada waktu itu kami tiba di bandara Munich, Munchen Jerman 7.00 pagi. Kurang lebih 17 jam perjalan terbang dari bandara Sukarno Hatta dan transit di bandara Doha, Qatar. Kami di jemput anak dan cucuku di Bandara.
Perjalanan dari bandara Munich, Munchen ke rumah kurang lebih 2 jam. Selam perjalanan kami sangat kagum dan terkesan melihat pemandangan pepohonan sepanjang pinggir jalan ratusan kilometer yang hijau , merah dan kuning keemasan.Terlihat tertata taman yang asri dan bersih. Ternyata itu memang sadang perubahan musim. Pada waktu bulan September, yaitu mulai musim gugur ( Autum ). Dan itu tidak hanya sèpanjang jalan, disekitar lingkungan pemukiman juga nampak hijau, asri dan bersih. Jerman memang negara yang paling peduli pada lingkungan dan ahli dalam pengelolaan sampah. Beberapa lama Indonesia sudah bekerja sama dalam pengelolaan sampah dengan Jerman. Dan baru-baru ini Indonesia bermitra dengan Jerman dalam pembangunan integrasi hijau di Sulawesi Utara ( Green infrastructure Initiative ) .
Nagara Jerman terdiri dari 16 negara bagian. Salah satunya adalah Baden Wutternberg, yang ibukotanya di Stuttgart . Dan salah satu daerah dari wilayah Baden Wurttenberg adalah Reutlingen, dimana annakku tinggal.
Relatif mudah untuk bisa datang ke negara jerman. Kita harus mengajukan melalui pembuatan / aplikasi visa schengen di kedutaan. Itu harus didukung, seperti surat tujuan kedatangan apakah wisata atau undangan famili, surat jaminan selama tinggal, asuransi, booking tiket dan lain sebagainya. Saat ini proses pengajuan tersebut lebih mudah manakala kita menguasai atau mampu mengoprasikan alat Teknoligi Informatika.
Anakku menikah dengan lelaki Jerman sudah 7 tahun. Dia sudah dikurniai anak perempuan dan Alhamdulillah sekarang sedang mengandung anak yang kedua. Begitu juga kebahagian yang diberikan Alloh dia sudah memiliki rumah sendiri. Di Jerman untuk memiliki rumah sendiri tidak mudah. Jangankan membangun, membeli rumah yang bekas saja mahal dan sulit. Luas rumah yang kurang lebih 100 m2 harganya mencapai 2,5 milyar dan harus mengajukan terlebih dahulu pada makelar. Kemudian makelar akan menyeleksi pengajuan itu dan bersaing dengan ratusan orang yang mengajukan atau orang berminat lainnya. Yang diseleksi, seperti penghasilan kerja mereka, keberadaan keluarga dsb.
Selama dua bulan saya tinggal di Jerman. Saya memanfaatkan waktu bermain bersama anak dan cucu serta mengenali sedikit keberadaan lingkungan. Saya tinggal merasa betah dan nyaman. Lingkungan sangat asri dan bersih dan selama beberapa hari saya nikmati bergowes (bersepeda ) disana . Keberadaan rumah sepeŕti lingkungan perumahan . Setiap rumah tidak berdempetan, paling dua rumah. Setiap ruangan rumah ada pentilasi masuk cahaya dan udara yang ideal. Tak nampak jemuran di depan atau belakang rumah. Mereka harùs memilah sampah yang dibuang, yang nantinya diangkut oleh sebuah mobil truk sampah. Sampah akan dikelola dengan pola 3R ( reduce, reuse dan recycle ). Apabila kita beli minuman atau makanan kemasan, seperti botol plastik, logam dsb, bekas kemasannya dibawa ke super market, kita akan mendapat penggatian uang. Caranya botol atau kemasan itu dimasukkan kedalam mesin khusus. Secara otomatis dengan memijit tombol, mesin akan mengeluarkan catatat jumlah besarnya uang yang akan kita terima.
Keberadaan masyarakat lingkungan tetangga tenang dan nyaman. Sesekali penghuni rumah keluar dan bercengkrama dengan tetangga sebelahnya. Mereka ramah , saling sapa pada mereka yang lewat. Namun mereka jarang berkunjung mendatangi rumah atau bertemu. Mereka jarang saling kunjung ke rumàh tapi sekali-kali mereka bercengkrama di halaman depan rumah. Kalau mereka akan menerima tamu di rumah biasanya janjian. Mereka ngobrol-ngobrol di ruang tempat makan, sambil disediakan sajian makanan. Kalau di daerah kita warga bisa sering bertemu saat pengajian, undangan syukuran dsb. Sehingga tetangga agak jauh pun bisa saling kenal. Acara seperti itu memang tidak ada karena mayoritas agama mereka non-musli. Kalau tetangga dalam lingkungan itu berjauhan, boleh jadi tak kenal .
Hidup berkeluarga bisa dibilang senang. Banyak jaminan dari pemerintah untuk biaya tuntutan hidup, seperti tunjangan ibu hamil, biaya sekolah anak dsb. Negara itu telah menjalan keadilan bagi masyarakatnya. Namun bagaimanapun kita harus memiliki pekerjaan tetap. Biaya hidup kalau dibandingkan dengan rupiah kita akan terengah-engah. Bayar rekening untuk air kebutuhan sehari-hari untuk minum, mandi, cuci pakaian dan pemenas ruangan yang menggunkan gas. Itu mencapai 5 juta rupiah lebih perbulan. Terlebih harga gas saat ini yang melonjak naik karena itu diimpor dari dari negara Rusia. Kalau kita pendapatan gaji pegawai negeri Indonesia seorang sarjana 5 juta rupiah untuk kehidupan sehari-hari, kata orang sunda itu jauh mela melu dari cukup.
Saya selama tinggal harus menyesuiakan kebiasaan makan disana. Makanan pokok ( staple food ) adalah roti (yang terbuat dari terigu atau gandum ) ,kejù, daging, dan kentang . Kita bisa makan nasi , tapi itu sekali-kali karena harga beras mahal. Ada banyak macam rasa dan bentuk roti yang bisa kita makan sehari-hari. Seperti nasi yang kita makan, ada nasi rames, nasi kuning, nasi TO, nasi uduk dsb. Orang Jerman suka makanan yang berasa dan beraroma rempah-rempah, yaitu ada terasa dan aroma jamu tradisional ( seperti pakai kayu manis dsb. ). Saat ini banyak macam makanan Indonesia ada di Jerman. Kita mudah mendapatkanya seperti di Asia super market. Utamanya asal kita punya uang .
Tidak sedikit orang Jerman hidupnya lebih mementingkan status sosial, mengejar jabatan. Mereka sibuk bekerja. Ada yang beranggapan punya anak merepotkan, mereka lebih baik memelihara binatang, seperti anjing sebagai teman hidup di rumah dan santai. Pemerintah berupaya meningkatkan jumlah populasi bangsa jerman sehingga warga negaranya yang mengandung diberi jaminan pemeliharaan dan kelahiran.
Negara Unggul Teknologi
Ketika saya diam dan membantu mengerjakan kegiatan di rumah sehari-hari, tidak merasa di luar negeri. saya merasa sedang di rumah sendiri. Ketika kita berada diluar rumah, sedang jalan atau belanja saya merasakan, melihat bahwa saya sedang diluar negeri, di Jerman. Misalnya ketika saya melihat bangunan gedung rumah dan pertokoan ( outlet ) . Di tempat parkir kendaraan tidak ada tukang parkir. Kita parkir sendiri dan bayar secara mekanik dengan koin, 1 uro per jam dan pekerja parkir hanya mengontrol saja. Kalau di daerah kita, misalnya bayar parkir kadang karna merasa kasian pada orang yang mengendalikan parkiran sampai 3 kali memberi , yaitu berangkat dari empat parkir kemudian keluar pintu parkir dan di belokan ke jalan raya. Begitu juga kita bayar belanjaan, tidak menggunakan uang tunai. Sebagian besar pekerjaan dan kegiatan menggunakan mesin atau alat mekanis yang dibuat negara itu sendiri.
Jerman adalah negara teknologi. Banyak produknya yang digunakan dan dinikmati kita di indonesia. Ada produk otomotif, alat listrik dan elektronik seperti ; mobil Mercedes, Porsche, BMW, Audi, VW, Philif atau siemen electronik dan masih banyak jenis priduk lainnya.
Pada saat itu saya sempat mengunjungi musium mobil AUDI, Mercedes dan PORSCHE. Mr. Morsche sudah membuat mobil sejak tahun 1931 yang diberi nama PORSCHE sesuia nama dirinya, demikian juga Mercides Benz, yang tidak hanya membuat mobil tapi mesin pesawat terbang dan kapal laut. Saat ini revolusi, evolusi dan innovasinya industri- industri mobil ini sudah bisa membuat mobil tenaga listrik. Hampir ada ratusan mobil yang beraneka macam bentuk dan jenis yang dipamerkan di setiap musium industri mobil itu. Mereka bersaing produk dan harga.
Almarhum Bapak BJ Habibie, mantan presiden ke 3 kita adalah salah seorang lulusan sekolah teknologi Jerman. Dia mendapat julukan Mr Crack karena dia menemukan rumus pengelolaan logam, seperti bagaimana sayap pesawat terbang tahan dari retakan . Beliau pulang ke Indonesia dan mendirikan industri pesawat terbang di Indonesia( IPTN ). Dia membuat pesawat, salah satunya pesawat halikopter pesananan Bapak Abdul Rizal Bakri. Alhamdulillah saya sempat melihat pengerjaannya ketika kegiatan kùjungan industri para siswa kami ( STM YPS 1 ) pada tahun 1990.
Saat ini Jerman memiliki keunggulan dari hasil teknologinya, yaitu energi terbarukan ( Industri 4.0 ) seperti ; energy trasition financing, energi hidrogen, mobil listrik dan kereta api cepat. Baru-baru ini ada hasil karya teknologi luar biasa yang saya sempat tunggangi saat berada disana. Yaitu sebuah menara yang tingginya 232 m. Namanya Rottweiler Testturm berada di daerah Rottweil. Kita bisa melihat kota jerman ketika berada diatas menara itu. Menara itu dibuat dengan inovasi teknologi baru. Liftnya bergerak dengan kecepatan luar biasa dan tidak terasa getaran. Ini berbeda dengan yang saya alami ketika menaiki lift menara Asmaul Husna yang tingginya 99 m di Semarang.
Sekolah di Jerman.
Saat ini cucuku ber usia 5 tahun 4 bulan. Dia sudah masuk pendidikan Taman Kanak-kanak. Agustus tahun depan dia berusia 6 tahun . Berdasarkan ketentuan pemerintahan bahwa dia usia 6 tahun boleh masuk Sekolah Dasar, namun sebaiknya adalah 7 tahun.
Pendidikan dasar di jerman wajib diikuti warganya. Yaitu mulai tingkat dasar ( grundschule ) selama 4 tahun hingga tingkat menengah. Biaya pendidikan bagi mereka geratis, kecuali kebutuhan alat tulis. Dan meski itu gratis, itu tetap menghasilkan siswa berkualitas.
Siswa yang lulus tingķat dasar bisa melanjutkan ke Gymnasium jika nilainya luar biasa. Siswa yang nilainya rata-rata atau sedang dapat masuk ke Realschule, Hauptscule atau Gesamschule. Jenis-jenis jenjang pendidikan, seperti, Gymnasium, Reaischule , Hauptscule dan Gesamschule adalah sekolah tingkat menengah ( Sekundàrstufe ).
Di Indonesia ketiga jenis sekolah itu sama dengan jenjang Sekolah Menengah Pertama ( SMP ), tapi ada perbedaan implementasinya. Siswa Gymnasium berlangsung dari kls 5 hingga kelas 12 . Siswa belajar fisika, Kimia, Biologi dll. Jadi siswa Gymnasium dipersiapkan melanjutkan keperguruan tinggi dengan melalui tes Abitur. Siswa jenjang Reaischule berlangsung dari kls 5 sampai kelas 10. Pada jenis sekolah lanjutan ini siswa tidak hanya belajar mata pelajaran reguler, tapi belajar juga kebutuhan praktis untuk bekerja seperti bengkel, pertukangan, dll. Siwa lulusan Hauptscule dipersiapkan belajar dan mengikuti kerja praktek ( Ausbildung ) selama 3 tahun. Di Indonesia kita cara belajar ausbildung adalah belajar sambil mempraktekkan ( learning by doing ). Adapun jenis pendidikan menengah Gesamtschule ( Sekolah Campuran ), itu menggabungkan 3 jenis sekolah tersebut diatas. Karena, siswa pada pada kelas 4 belum bisa menetukan pilihan yang sesuai dengan kemampuannya. Hasil aplikasi sistem pendidikan ini semua pekerja di Jerman memiliki kualitas yang tinggi karena sudah terlatih sejak dari sekolah menengah.
Dulu di Indonesia pernah melaksanakan setelah pendidikan dasar 6 tahun bisa melanjutkan ke pendidikan yang mengarahkan pada keahlian ( vocational ) jenjang pendidikan Sekolah Lanjutan menengah Pertama ( SLTP ). Yaitu Sekolah Teknik ( ST ) 3 tahun dan Sekolah Menengah Ekonomi Pertama ( SMEP) 3 tahun dan Sekolah Kepandaian Putri ( SKP )3 tahun. Pada thn .1990-an Itu semua diganti jadi Sekolah Menengah Pertama (SMP ).
Agama Islam di Jerman
Penduduk Jerman mayoritas lebih kurang 50 % beragama kristen. Berdasarkan reperensi yang saya baca di goggle mereka yang beragama Islam 2 %. Saya tidak pernah mendengar adzan setiap sholat 5 waktu karena tidak ada masjid di lungkungan sekitar. Saya pergi ke masjid apabila sembahyang jum’at. Ada yang jarak 7 kilo sampai 10 kilo dari rumah. Jemaahnya 75 % orañg Turki. Namun perkembangan Islam di Jerman berdasarkan informasi media berkembang terus.
Hampir di setiap lingkungan pemukiman ada gereja. Gereja yang megah berada di lingkungan istana Hohenzollern peninggalan Raja Prussia, Frederick William tahun 1061. Saya sempat datang kesana. Didalam Istana itu terdapat perhiasan , senjata perang, baju yang dipakai perang Raja Frederik dsb. Disamping kanan dan kiri istana itu ada gerja katolik dan gereja protestan.
Itulah mungkin persistiwa sejarah, yang menjadikan penduduk warga Jerman mayoritas beragama kristen. Namun saat ini penduduk keturunan Turki yang jadi warga negara Jerman semakin meningkat. Saat ini banyak para pendatang atau pengungsi muslim yang baŕu jadi warga negara Jerman ( imigran ). Insha Alloh para imigran ini bisa membawa perkembangan positif bagi agama Islam di Jerman apabila mereka berakhlak islami dalam prilaku kesehariaannya, bisa berbahasa Jerman dan bisa berdakwah, bukan hanya untuk tujuan berbisnis.
Hikmah Pengalaman
Pengalaman adalah guru terbaik ( experience is the best teacher ). Itu adalah ungkapan yang sering kita dengar. Karena, memang dari peristiwa apa yang kita alami sering jadi pedoman atau pelajaran kehidupan. Ada pelajaran yang didapat dari pengalaman selama saya tinggal di Jerman itu. Saya mentapakuri akan kebenaran pesan Alloh dan Rasulnya. Dulu orang muslim bilang jangan belajar bahasa bangsa Eropa. Itu adalah bahasa kafir. Padahal Rasululloh juga memerintahkan Zaid bin Tsabit mempelajari bahasa Suryani/ Ibrani agar mudah memahami dan membalas surat menyurat ( al hadist ).
Alloh swt. menciptakan Nabi Adam dan Hawa untuk menghuni bumi dan merawatnya, berkembang biak turun temurun, mengelola kekayaan yang terpendam di Bumi sepanjang masa yang telah ditakdirkan baginya. Itu sebagaimana yang tersirat dari firman Alloh ; ” Alloh menciptakan manusia dari laki-laki dan perempuan. Mereka dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal… ( QS Al Hujurat : 13 ).
Orang yang memilki minat dan ingin mengabdikan kompetensinya bisa bertebaran dimuka bumi Alloh ini. Yang penting kita harus mencari rizqi yang di ridloiNya. Di dalam Al Qur’an Alloh menyerukan bahwa bumi ini untuk dijelajahi dan dimakan rizqiNya ( QS. Al Mulk : 15 ) . Karena di suatu negara asing boleh jadi mencari ilmu dan mencari rizqi. Itu membuat kita jadi pintar dan meningkatkan keimana dan ketaqwaan pada Alloh. Pa BJ. Habibi misalnya, selain menjadi seorang teknokrat juga menjadi seorang ketua cendikiawan muslim sepulangnya dari negara Jerman.
Ketika saya berada di Jerman ingat pada seorang ilmuwan besar, Albert Einstin. Dia adalah bangsa Jerman keturunan Yahudi. Dia bukan muslim dan juga bukan atheis. Ahli fisika ini menyatakan bahwa Ilmu tanpa agama buta, Agama tanpa ilmu lumpuh ( Science without religion is blind. Religion without science is lame. ). Sesungguhnya Alloh maha ahli fisika telah mengingatkan para cendikiawan ( ulil albab ) untuk mentafakuri ciptaanNya ( QS Ali Imran : 190 ).
Pada waktu itu saya sempat pula berada di Switzerland ( Swiss ) selama dua hari sekedar menikmati alam yang indah nian dan mengesankan ( impressive ). Orang-orang terpukau dengan kecantikan taman dan alamnya. Begitu juga hujan salju yang baru pertama kali saya alami. Semua pengalaman itu memberi hikmah bagiku. Saya mentadaburi dan mentafakurinya, apalagi kecantikan alam dan taman yang ada di surga nanti ( firdaus ), seperti yang diceritakan dalam Al Quran Surat Ali Imran ayat 15 dan Ar Rahman : 48 – 76.
Selain ke Switzerland, Alhamdulillah selama 2 hari saya sempat pula diajak wisata oleh anakku ke Paris ibukota negara Perancis dan beberapa kota di Jerman. Di dunia Paris terkenal kota mode atau fashion. Namun saya kagum pada para ilmuwan bangunan ( architect ) negara itu yang telah membangun gedung-gedung di perkotaan, jembatan, angkutan kereta metro di bawah tanah, menara Eiffel dan lain-lainnya. Semua itu menajubkan ( magnificant ). Itu bisa menjadi objek untuk kita pelajari. Bagi umat Islam, hakikatnya Al Qur’an sudah mengajarkan bahwa adanya besi untuk membuat sebuah kontruksi ( QS. Al Hadid : 25 ). Hal ini harus jadi motivasi dan bangkit , bukan sekedar renungan.
Suatu pesan yang bagus , dalam suatu diskusi Pak Anies Baswedan ( mantan Gubernur DKI Jakarta ) mengatakan bahwa kaum Millineal harus memiliki 3 paspor ( passport ) , yaitu passport Jakarta, Indonesia dan dunia. Mereka harus memiliki brandmark. Mereka bisa membangun Indonesia, sehingga mempesona di negri orang. Itu tentu salah satunya yang harus dikuasai untuk terwujudnya obsesi itu adalah penguasaan bahasa asing ( foreign language ).
Last but not least, semoga cerita singkat ini memberi manfaat bagi yang membaca dan Alloh swt. memberkati kita semua. ( Penulis ; warga Perum Bumi Asri Lewidahu Kota Tasikmalaya. )















Komentar