Oleh : Dian Rahmat N, SHI, M.Ag (LTNNU Kab Tasikmalaya, Penghulu Kemenag kota Tasikmalaya )
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْبَشَرِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ في مُحْكَمِ كِتَابِهِ: أَلَمْ تَرَ إِلَىٰ رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ ٱلظِّلَّ وَلَوْ شَآءَ لَجَعَلَهُۥ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا ٱلشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah ini, khatib berwasiat kepada kita semua terutama kepada diri khatib pribadi untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Sang Pencipta manfaat dan mudlarat.
Peristiwa gerhana ini adalah fenomena alam yang langka yang secara astronomi bisa di prediksi kapan akan terjadi dan dimana saja terjadi gerhana, dan gerhana ini tidak ada sama sekali sangkut pautannya dengan hal hal mitos seperti di kaitkan dengan kematian atau kehidupan seseorang. Maka dari itu Rasulullah menegaskan dalam beberapa hadits nya agar ummat islam ketika ada gerhana menganjurkan untuk perbanyak dzikir, takbir, tasbih dan ibadah lainnya. Ini adalah salah satu contoh fenomena alam yang patut kita renungkan atas kemahabesaran Allah SWT.. ” Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua macam tanda dari tanda tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukan karena kematian seseorang atau kehiduoannya. Maka jikalau kamu melihatnya, berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, bersedekahkah serta shalatlah. ( H. R Bukhari dan Muslim ).
Banyaknya kepercayaan masyarakat tentang mitos adanya kematian ketika gerhana ini disangkut pautkan dengan hadits Nabi yang menceritakan tentang putra Rasulullah yang meninggal. Mitos lainnya yang berkembang di masyarakat antara lain sebagai berikut : • Masyarakat biasa ketika terjadi gerhana biasa melakukan apa yang dilakukan oleh masyarakat sebelumnya yaitu memukul mukul pohon kelapa dan sejenisnya dengan tujuan untuk membangunkan bulan dan matahari agar tidak dimakan gerhana. Hal yang dilakukan masyarakat tersebut tidak masuk akal menurut ilmu pengetahuan. • Beda dengan sebagian kepercayaan masyarakat di pedesaan pulau Jawa menganggap kejadian gerhana dengan ada buto ( buta kalarahu ) yang memakan bulan. Orang orang terdahulu atau masyarakat akan beramai ramai menabuh lumping / lesung ( tempat penumbuk kayu ) agar buto nya takut dan cepat hilang. Tindakan ini pun masih tidak masuk akal. •
di suatu tempat di saat terjadinya gerhana sejumlah ibu hamil bersembunyi di bawah ranjang. Itu dilakukan sejumlah ibu hamil agar anak yang di kandungnya ketiak lahir kelak tidak ada cacat dalam tubuhnya. Lalu, ibu hamil tersebut diminta memakai sarung, kemudian neneknya mengusap perut calon ibu itu sebanyak tiga kali usapan sembari memohon agar janin yang di kandungnya terhindar dari baka ( bahaya ). Mereka percaya, ritual itu dilakukan agar bayi yang di lahirkan wajahnya tidak hitam. Selain mitos adapula pelajaran pelajaran dan hikmah yang bisa kita ambil dari kejadian atau fenomena gerhana ini. Antara lain yaitu : • Gerhana adalah peristiwa alam yang menunjukkan ketundukam alam pada Khaliqnya (penciptanya). Maka dari itu selayaknya kita juga menunjukkan ketaqwaan kita kepada Allah selaku hambanya dengan melaksanakan shalat gerhana ketika terjadinya fenomena tersebut.
Matahari dan bulan tidak pernah menyalahi hukum – Nya, sehingga manusia pun dapat memperkirakan secara tepat waktu terjadinya gerhana. Manusia karena nafsunya seringkali, sengaja atau tidak sengaja dalam menyalahi hukum Allah.. Maka sudah selayaknya peristiwa gerhana ini mengingatkan kita untuk memperbanyak istighfar, mengingat kekuasaan Allah yang maha kuasa. Matahari dan bulan bisa beriringan dan berdampingan memperlihatkan keharmonisan yang kadang menunjukkan fenomena cincin atau mahkotanya yang indah disebut juga dengan korona ( perhatikan struktur korona yang tidak simetri bundar, hal ini menujukkan adanya aktivitas di permukaan matahari. Korona matahari merupakan plasma dengan temperatur berjuta derajat ) yang biasanya tidak terlihat. Bagi para saintis, momentun gerhana matahari total dapat dijadikan sumber data ” membongkar rahasia matahari “, terutama struktur matahari, ledakan serta fenomena temperatur matahari.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Fenomena ini pula mengajarkan kita untuk selalu dapat berjalan beriringan dan berdampingan dengan sesama manusia, maka dari itu sudah selayaknya direpresentasikan dalam bentuk anjuran memperbanyak sedekah. Lalu khotib pun perlu mengingatkan kepada para jama’ah nya ketika menyampaikan khutbah setelah terjadi gerhana bahwa fenomena alam ini tidak ada kaitannya dengan kelahiran atau kematian seseorang, palagi orang awwam harus di fahamkan betul tengah fenomena iniini, juga tidak ada sama sekali keterkaitan dengan nasib manusia atau bebcana alam, akan tetapi merupakan sebagian tanda tanda kebesaran-Nya di alam semesta ini. Menyaksikan gerhana matahari total ataupun gerhana yang lainnya, merupakan momen yang langka bahkan gerhana matahari total hanya dapat dilihat sekali seumur hidup ( asumsi usia manusia kurang dari 100 tahun ). Beberapa ratus juta tahun mendatang, generasi penerus planet bumi hanya akan mendengar dongeng tentang gerhana.
Pada waktu itu matahari akan berevolusi menjadi bintang raksasa, membesar dimensinya, diameter sudut matahari akan lebih besar dari bulan. Dengan demikian tidak akan pernah lagi terjadi gerhana matahari total. Walaupun dalam jangka waktu yang masih sangat lama tapi hukum alam member keyakinan hal itu akan terjadi. • Fenomena gerhana ini telah menarik perhatian sejak awal peradaban manusia. Pada zaman Babylonia ( 2000 SM – 1000 SM ) di lembah sungai Eufrat dan Tigris telah mengenal silus Saros, siklus terjadunya gerhana tiap 223 kali periode sinodis bulan atau 6585,3 hari disaat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masih sangat sederhana. Thales ( dari Miletus, 624 SM – 547 SM ) termasuk ilmuan dan filosof yang mentransmisikan pengetahuan tentang siklus Saros dari Babylonia ke Yunani. Murid dari Aristoteles yaitu salah satunya Plato yang di kenal sebagai ilmuwan Yunani menggunakan gerhana bulan sebagai bukti bahwa bumi berbentuk bola. Batas umbra bumi yang berbentuk busur lingkaran sebenarnya merupakan bayang bayang bumi oleh matahari. Kita dapat melihat dan mengamati bagaimana reaksi binatang binatang saat gerhana berlangsung. Okeh, kita ambil salah satu binatang yaitu ayam, ayam akan berkokok yang saling bersahutan karena mendadak suasana yang tadinya gelap kembali terang seperti pagi hari. Dan itu terjadi disaat gerhana matahari total. Untuk memperkaya karya seni fotografi bisa juga diambil dari foto gerhana saat kejadian berlangsung tentunya dengan memakai alat atau disebut juga karya Astrofotografi.
Selain memperkaya pengetahuan manusia tentang gerhana, seperti menguji presisi, ketepatan, berbagai metode perhitungan kedudukan bulan dan matahari dan masih banyak pelajaran serta hikmah yang bisa diambil dari fenomena gerhana ini. • Memanfaatkan sebaik baiknya kesempatan momen yang langka ini yaitu dimana saat terjadinya gerhana, untuk pendidikan anak mempelajari sains tentang gerhana, karena fenomena alam yang menakjubkan juga membuat tantangan intelektualitas manusia yang memikirkannya. Allah berfirman dalam surat Al-furqon [ 25 ] : 45 dan 46 ْ
أَلَمْ تَرَ إِلَىٰ رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ ٱلظِّلَّ وَلَوْ شَآءَ لَجَعَلَهُۥ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا ٱلشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا
ثُمَّ قَبَضْنٰهُ اِلَيْنَا قَبْضًا يَّسِيْرًا
Apakah kamu tidak memperhatikan ( penciptaan ) Tuhanmu, bagaimana dia memanjangkan ( dan memendekkan ) bayang bayang dan kalau dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang bayang itu, kemudian kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang bayang itu. Kemudian kamu menarik bayang bayang itu kepada kami dengan tarikan yang perlahan lahan .
Ada sebuah kisah yang menarik untuk kita simak yang pastinya terkait dengan peristiwa gerhana matahari. Tokohnya adalah seorang ahli ilmu falak Indonesia beliau yaitu Turaikhan Adjhuri ( penggagas kalender menara Kudus ). Beliau dia nggak berbeda, tidak sejalan menentang pemerintah dimasa Orde Baru dan sempat pula di interogasi karena perbedaan penentuan waktu idul fitri yang berbeda dengan pemerintah yang menyeru agar masyarakat bersembunyi di rumah rumah Ketika gerhana matahari total pada tahun 1983 ( seribu sembilan ratus delapan puluh tiga ) dengan menganjurkan ummat melihat gerhana dan mendirikan shalat kusuf. Ia mencoba menyadarkan ummat islam Indonesia bahwa gerhana mataharai adalah sebuah fenomena alam / peristiwa astronomi yang tidak perlu ditakuti.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Dan banyak pelajaran penting serta hikmah yang bisa di petik / di ambil dibalik peristiwa tersebut . Dari apa yang telah diuraikan di atas ada yang harus kita garis tebali yaitu kita ambil dari hadits yang pertma “ Jikalau kamu melihatnya “ Hadits tersebut menyebabkan terdapatnya beberapa perbedaan pemahaman seperti pada permasalahan penentuan awal bulan hijriyyah ( qomariyyah ). Apakah harus melihat secara langsung atau cukup dengan perhitungan astronomi. Bagaimana kalau tertutup awan? Dan beberapa pertanyaan lainnya. Permasalahan ini tidaklah serumit pada permasalahan awal bulan qamariyyah karena shalat gerhana merupakan ibadah sunnah bukan wajib seperti puasa Ramadhan maupun pelaksanaan wuquf di padang Arafah bagi jama’ah haji dan ibadah wajib lainnya. Pertama, pensyari’atan pelaksanann shalat gerhana adalah pada saat terjadinya gerhana umbra. Karena jika gerhana penumbra itu biasanya tidak begitu dirasakan Kejadiannya oleh masyarakat secara umum. Jadi pada saat terjadi gerhana umbra lah shalat gerhana dilaksakan. Kedua, pensyari’atan pelaksanaan shalat gerhana hanya di peruntukkan bagi daerah daerah yang mengalami gerhana. Apabila suatu daerah tidak dilewati / dilintasi oleh gerhana maka tidak di syari’atkan untuk melaksanakan shalat gerhana. Ketiga, gerhana matahari waktunya ditentukan oleh gerhana bayangan bulan melintasi suatu daerah jadi kita harus melihat data gerhana untuk setiap daerahnya. Kalau tidak cermat, kita bisa bisa mengumumkan informasi kepada masyarakat lainnya dengan keliru.
Pada pengumuman itu disebutkan waktu gerhana merujuk pada data global gerhana matahari. Sehingga pada saat yang telah dijelaskan tersebut gerhana belum terjadi, belum melewati daerah yang telah diumumkan. Dan yang dirujuk seharusnya adalah data yang menjelaskan saat gerhana matahari melintas di daerah tersebut. Ibnu Qudamah menegaskan bahwa waktu shalat gerhana itu adalah sejak mulai terjadinya kusuf hingga berakhirnya. Jika waktu itu terlewatkan, maka tidak ada qadha. Karena diriwayatkan dari Nabi SAW., bahwa beliau bersabada : ” Apabila kamu melihat hal itu, maka berdo’alah kepada Allah dan kerjakan shalat sampai matahari itu terang ( selesai gerhana ) . Jadi Nabi SAW., menjadikan berakhirnya gerhana sebagai akhir waktu shalat. Apabila gerhana berakhir ketika shalat masih berlangsung, maka sholatnya diselesaikan dengan dipersingkat. Jika matahari terbenam dalam keadaan gerhana dengan terbenamnya matahari, demikian pula apabila matahari terbit saat gerhana bulan ( di waktu pagi ) Imam al – Rafi’i menegaskan, sabda Nabi SAW., menyatakan, ” Apabila kamu melihat gerhana, maka shalatlah sampai matahari terang ( selesai gerhana ) ” Menujukkan arti bahwa shalat tersebut tidak di laksanakan sesudah selesainya gerhana. Yang dimaksud selesainya gerhana ialah berakhirnya gerhana secara keseluruhan. Imaan al – Nawawi menyatakan ” Waktu shalat gerhana berakhir dengan lepasnya seluruh piringan matahari dari gerhana. Jika baru sebagian yang lepas dari gerhana, maka ( orang yang belum melakukan shalat gerhana ) dapat melaksanakan shalat untuk gerhana yang tersisa seperti kalau gerhana hanya sebagian saja.
Hadirin rahimakumullah, Demikian khutbah yang singkat ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. ـ














Komentar