Oleh: Yuda Wibiksana
Energi itu netral.. Pikiran manusialah yang memberi rupa. Hantu sebagai ENERGI HALUS merupakan energi yang tidak berbentuk tetap.
Ada hantu (jin) yang memang redusi arwah atau redusi jiwa manusia kolekatif masa lampau, Ada juga hantu (jin) yang hanya berupa energi halus negatif belaka. Dan bahkan ada juga hantu (jin) yang lahir dari rasa takut manusia itu sendiri.
Yuda Wibiksana | Spirit meets Science
Hantu seringkali merupakan cermin budaya lokal sebagai manifestasi teror & ketakutan, mitos & trauma kolektif masyarakat tertentu. Misalnya wewe Gombel, pocong, kuntilanak, begu ganjang, gendruwo, kuyang, dll merefleksikan nilai² adat, tabu sosial, pamali & ketakutan akan kematian yg tidak wajar. Dracula, Banshe, Chupacabra dsb di Barat berasal dari ketakutan terhadap epidemi, darah, teror kematian & tekanan seksualitas dalam era kegelapan Eropa serta tragedi genosid di Amerika.
Hantu bukanlah entitas universal dengan bentuk tunggal,namun proyeksi yg dibangun berdasarkan mental dari memori adat budaya & kolektivitas spiritual lokal. Dalam pandangan arketipe Jungian (simbol psikologi warisan budaya yang muncul dalam bentuk mitos, legenda berbagai daerah).
Hantu merupakan simbol kolektif suatu masyarakat. Menurut Carl Gustav Jung menyebut hal² seperti itu sebagai arketipe yaitu bentuk mental kolektif yang diwariskan secara turun-temurun & termanifestasi sesuai dengan konteks budaya lokal. Misal, masyarakat Jawa lebih “mencetak” bentuk hantu dalam rupa sosok perempuan berbaju putih atau orang yg masih berpocong kain putih karena ada jejak trauma & ketakutan kolektif terhadap kematian yang identik dengan warna umum kain kafan. Sementara masyarakat Eropa atau Amerika mengembangkan Dracula karena sejarah kelam tentang tragedi pembantaian, Vampir tentang epidemik penyakit menular & teror kematian dan sebagainya.
Mengapa hantu tidak bisa bertukar tempat lintas benua ? misal kuntilanak ke Eropa atau Dracula ke pedalaman Jawa, hal ini karena hantu tidak seperti makhluk biologis yg pindah lokasi, melainkan fenomena kesadaran lokal. Hantu dapat muncul karena “tinggal” di dalam kesadaran & persepsi masyarakat lokal. Namun jika seseorang dari Jawa ke Eropa,ia mungkin tetap akan melihat kuntilanak jika trauma budayanya belum selesai,tapi orang Eropa tidak akan melihat kuntilanak di sana kecuali ia pernah sangat terpengaruh oleh budaya mistis Jawa.
Berdasarkan hipotesis jagad parallel & ruang-waktu Möbius, maka setiap koordinat ruang-waktu memiliki “frekuensi getaran” spesialnya sendiri. Kesadaran lokal dapat membuka “celah dimensi” sesuai dengan arketipe yg hidup dalam masyarakat itu sehingga yg muncul adalah bentuk entitas (hantu) yg selaras dengan getaran lokal & memori kolektif.
Penjelasan tentang “frekuensi getaran khas lokasi” bisa didekati secara metaforis semi-fisikal, terutama bila kita menggunakan hipotesis medan morfik & resonansi kesadaran lokal. Setiap tempat di muka bumi menyimpan jejak energi residual, sejarah kelam, emosi & trauma kolektif masyarakatnya. Dalam hipotesis ini, setiap lokasi memiliki “getaran” atau frekuensi dari neuronal kolektif yg khas, yg beberapa diantaranya ditentukan oleh peristiwa sejarah (perang, bencana, kolonialisme, dll), budaya & kepercayaan yg hidup di masyarakat, topografi & geomagnetisme (gunung, sungai, batuan, dsb) serta jejak emosional kolektif (trauma, mitos, legenda). Faktor² itu menciptakan semacam frekuensi morfik dimana hanya bentuk² entitas tertentu (hantu, lelembut, memedi dll) yang bisa selaras atau resonansi di lokasi tertentu.
Analogi yang mudah; seperti halnya radio atau televisi (tv) kalau stasiun radio A atau stasiun tv mengudara di frekuensi gelombang 103.5 FM misalnya, maka hanya penerima yg disetel di frekuensi itu saja yang dapat menangkapnya. Begitu pula dengan entitas energi halus atau hantu (kejadian paranormal), dimana mereka hanya bisa ‘tertala’ (terpaku/terkait) oleh kesadaran manusia, maka jika frekuensi mereka cocok dengan medan frekuensi morfik (bentuk) lokal. Contohnya, Dracula di Eropa dapat muncul dalam spektrum ketakutan akan darah & kematian karena tragedi pembantaian yg sangat keji. Wewe gombel di Jawa dapat muncul dalam medan sosial yg sensitif terhadap kematian perempuan yg mati bunuh diri karena mandul & dikhianati suaminya atau tertindas oleh budaya patriarki (otoritas sosial). Jadi, dracula tidak dapat muncul di Jawa bukan karena tidak ada, akan tetapi karena kesadaran kolektif di Jawa tidak mampu memancarkan atau menerima frekuensi morfik (bentuk) tersebut, demikian juga kuntilanak tidak mampu terproyeksi di Eropa atau Amerika.
Terdapat semacam hambatan perpindahan entitas antar koordinat, yg mana menurut hipotesis jagad Möbius & layer ruang-waktu, bahwa setiap entitas berasal dari simpul getaran ruang-waktu tertentu sehingga untuk “muncul” di koordinat lain (misal, dracula di Jawa), ia harus menembus medan frekuensi lokal yg berbeda secara total. Analog dengan tuning kesadaran kolektif yg jika tidak selaras, entitas itu tidak dapat termanifestasi dengan stabil atau tidak akan tampak dengan jelas. Maka tempat angker di suatu wilayah akan memunculkan sosok yg berulang sama karena frekuensi trauma lokal itu bersifat tetap sebagai jejak kelam historis. Jika suatu lokasi mengalami transformasi budaya besar²an, maka manifestasi entitas pun dapat berubah bentuk, misal kemunculan hantu noni Belanda atau wew Madam yang juga sering di dapati di Jawa itu karena ada jejak energi residual yg tertinggal dari sejarah tragedi…sy sendiri pernah melihat rupa wewe Madam yg penampilannya lebih rapi gaun berlapis dengan penutup kepala, cuma mukanya seperti burung owl albino ….
Di islam, sudah dijelaskan akan masalah jin..
Jin itu kasat mata (gaib) tapi bisa terluka dan
Jin itu bisa saja terbunuh bahkan oleh pisau cukur dan bahkan dengan air panas kecuali iblis yg hanya bisa dibunuh nabi ‘isa ibni maryam.
Jin itu bisa berubah wujud dan bisa berpindah tempat tapi tidak bisa menembus tembok, saat jin sudah sepenuhnya dalam dimensi ketiga, ia akan mengalami rematrialisasi untuk mengambil unsur materi yang solid maka terbentuklah sesosok yang umum dikatakan dengan “penampakan’ itu bisa terjadi karena adanya Residu Arwah (Residu Jiwa) warisan budaya yang muncul dalam bentuk mitos, legenda berbagai daerah akhirnya terbentuklah ragam dari hantu.
Banyak orang teriak “wajib percaya ghaib!”
Tapi lupa satu hal penting dalam Islam:
● mana gaib yang wajib diimani dan mana klaim ghaib yang diucapkan manusia.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sudah kasih peringatan tegas:
وَلَا تَقْفُ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ…
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu ilmu yang tidak kamu ketahui (tentang itu)..
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 36)
TEAM PARANORMAL EDUCATION & ANALISIS MISTIS NUSANTARA








Komentar