Oleh: Gilarsi W. Setijono
SERI #2: KULIAH LOYANG MENJADI EMAS DARI SAHAT M. SINAGA
PERCAKAPAN 1: KORAN PAGI DAN ANGKA YANG MENOHOK
Pagi itu, di beranda padepokan Lembang yang menghadap ke hamparan sawah menguning, Nyi Iteung membaca Kompas sambil menyeruput kopi robusta. Sebuah berita kecil di halaman ekonomi membuat dahinya berkerut: “Produktivitas Sawit Rakyat Stagnan, Petani Mengeluh Hasil Panen Terus Menurun.”
“Aneh,” gumamnya. “Indonesia produsen sawit terbesar dunia, tapi petaninya yang paling miskin.”
Tepat saat itu, terdengar suara mobil berhenti di halaman. Sahat M. Sinaga turun dengan tas kulit berisi tumpukan dokumen.
Sahat: “Selamat pagi, Nyi. Maaf datang tanpa konfirmasi. Saya dengar Nyi sedang research tentang sawit?”
Nyi Iteung: (tersenyum) “Pak Sahat, timing sempurna. Duduk dulu. Kopi?”
Sahat: “Terima kasih. Hitam saja.”
Nyi Iteung: (sambil menuangkan kopi) “Pak Sahat, saya baca artikel ini. Katanya produktivitas sawit rakyat cuma 9 ton per hektare. Itu angka real atau wartawan yang salah ketik?”
Sahat: (menghela napas panjang) “Real, Nyi. Malah generous. Banyak yang di bawah itu. Rata-rata nasional sawit rakyat: 9,3 ton TBS per hektare per tahun.”
Nyi Iteung: “Versus?”
Sahat: “Versus potensi maksimal 33 ton. Versus PTPN yang 23,4 ton. Bahkan versus PIR-BUN Ophir di tahun 1980-an yang mencapai 28 ton.”
Nyi Iteung: (hampir tersedak kopi) “Tunggu—tahun 1980-an? Empat dekade lalu lebih bagus dari sekarang?”
Sahat: “Exactly! That’s the paradox I want to talk about.”
PERCAKAPAN 2: ANATOMI SEBUAH KEGAGALAN SISTEMIK
Nyi Iteung: “Okay Pak Sahat, sebelum kita masuk lebih dalam, saya butuh baseline yang clear. Berapa sih luas lahan sawit rakyat ini?”
Sahat: (membuka laptop) “Total lahan sawit nasional 16,38 juta hektare. Dari itu, 42%—sekitar 6,87 juta hektare—dikuasai petani rakyat.”
Nyi Iteung: “42%? Itu mayoritas!”
Sahat: “Betul. Mereka pemegang lahan terluas dalam industri sawit Indonesia—lebih besar dari PTPN atau swasta besar. Tapi produktivitasnya? Only 28% dari potensi maksimal.”
Nyi Iteung: (mencatat) “Jadi seperti punya mesin delapan silinder tapi cuma dua yang nyala?”
Sahat: (tersenyum getir) “Analogi yang tepat. Dan enam silinder yang mati itu bukan karena rusak—tapi karena tidak pernah diservis.”
Nyi Iteung: “Servis dalam konteks ini maksudnya?”
Sahat: “Pengetahuan agronomi dasar, Nyi. Mayoritas petani sawit tidak paham konsep Organisme Pengganggu Tanaman—OPT. Tidak tahu bahwa pH tanah ideal untuk sawit adalah 5,0-6,5. Tidak tahu apa itu soil organic carbon, CEC, peran cacing tanah sebagai insinyur tanah alami, trace metals seperti boron dan zinc, kelembapan minimal 30%.”
Nyi Iteung: “Sebentar Pak—ini bukan kemampuan rocket science kan? Ini basic agronomy.”
Sahat: “Exactly! Tapi siapa yang mengajarkan? Program PIR-BUN yang dulu membawa eks prajurit Timor Timur ke Ophir pada 1978 punya transfer pengetahuan yang structured. KfW Jerman datang dengan teknologi dan manajemen modern. Hasilnya? 28 ton per hektare—melampaui bahkan PTPN.”
Nyi Iteung: “Dan kenapa model Ophir tidak direplikasi?”
Sahat: (nada frustasi) “Karena Ophir dianggap anomali, bukan cetak biru. Pemerintah lebih suka ekspansi lahan daripada intensifikasi produktivitas. Buka hutan baru, kasih lahan ke petani, suruh tanam sendiri—tanpa pendampingan sistematis.”
PERCAKAPAN 3: PELAJARAN DARI DUA BENUA
Nyi Iteung: “Pak Sahat, saya pernah baca bahwa sawit itu aslinya dari Afrika. Kondisi di sana bagaimana?”
Sahat: (mengangguk) “Good question. Afrika Barat—Guinea, Nigeria, Kamerun—itu birthplace kelapa sawit. Sawit sudah dibudidayakan di sana ribuan tahun sebelum Belanda bawa empat biji ke Bogor tahun 1848.”
Nyi Iteung: “Jadi mereka harusnya jadi raja sawit dong?”
Sahat: “Seharusnya. Tapi realitanya? Afrika Barat tetap pemain pinggiran. Produktivitas rendah, kualitas tidak konsisten, tidak bisa compete di pasar global.”
Nyi Iteung: “Kenapa?”
Sahat: “Sistem individual dan terfragmentasi. Petani kecil mengelola kebunnya sendiri-sendiri tanpa koordinasi, tanpa standarisasi, tanpa transfer pengetahuan terstruktur. Tidak ada FELDA versi mereka.”
Nyi Iteung: (matanya berbinar) “Ah, FELDA! Malaysia’s success story. Tapi Pak Sahat, explain dong—apa sih beda fundamental FELDA dengan sistem kita?”
Sahat: “FELDA itu entitas korporasi yang dirancang khusus untuk mengelola perkebunan smallholders sejak 1956. Bukan sekadar koperasi biasa—ini mesin raksasa yang mengintegrasikan segala aspek: penyediaan lahan, bibit unggul, pelatihan agronomi, pembiayaan, hingga akses pasar.”
Nyi Iteung: “Jadi petani FELDA tidak berjuang sendiri?”
Sahat: “Tidak. Mereka menjadi bagian dari ekosistem yang terkelola secara korporat dengan standar internasional MSPO dan RSPO. Hasilnya? Petani FELDA tidak hanya survive—mereka thrive. Anak-anak mereka sekolah tinggi, punya rumah permanen, kebun jadi aset yang diwariskan dengan bangga.”
Nyi Iteung: (bersandar di kursi) “Sementara petani sawit kita…”
Sahat: “Sementara petani kita seperti Afrika Barat: punya lahan luas, tapi terfragmentasi. Punya potensi besar, tapi tidak ada sistem yang mengonsolidasikan dan mengoptimalkan.”
PERCAKAPAN 4: RESIDU SEJARAH ATAU PILAR MASA DEPAN?
Nyi Iteung: “Pak Sahat, saya mau challenge sedikit. Anda bilang produktivitas rendah karena kurang pengetahuan. Tapi bukankah banyak program penyuluhan dari Dinas Pertanian?”
Sahat: (mengangguk) “Ada, Nyi. Tapi sporadis, tidak sistemik, dan sering tidak on-target. Penyuluh datang sekali-dua kali, kasih leaflet, lalu hilang. Tidak ada follow-up, tidak ada monitoring, tidak ada accountability.”
Nyi Iteung: “Jadi solusinya?”
Sahat: “Transformasi radikal dalam tiga pilar. Pertama: pembentukan badan khusus sawit—semacam FELDA ala Malaysia—yang punya wewenang penuh dan fokus pada kesejahteraan petani. Kedua: transfer pengetahuan agronomi secara masif dan terstruktur. Ketiga: akses ke bibit unggul dan teknologi pengolahan modern.”
Nyi Iteung: “Anda menyebut ‘badan khusus’—kenapa tidak koperasi saja? Atau PTPN yang sudah ada?”
Sahat: “Koperasi bisa, tapi harus koperasi korporat yang profesional—bukan KUD era Orba yang korup. PTPN? Mereka punya prioritas sendiri. Kita butuh dedicated entity dengan single mandate: angkat petani sawit rakyat dari produktivitas 9 ton ke 20-25 ton.”
Nyi Iteung: (menatap tajam) “Pak Sahat, saya dengar passion Anda. Tapi realistically—dengan political will yang ada sekarang, berapa persen chance ini terjadi?”
Sahat: (terdiam sejenak) “Honestly? Tanpa political will yang kuat, chance-nya kecil. Tapi Nyi, kalau kita tidak mulai sekarang, apa yang terjadi dengan 6,87 juta hektare lahan ini dalam 10-20 tahun?”
Nyi Iteung: “Anda yang bilang: residu sejarah.”
Sahat: “Betul. Residu sejarah yang memalukan. Lahan yang dulu produktif jadi beban. Kebun yang dulu menjanjikan jadi sumber kemiskinan. Petani yang dulu penuh harap jadi pasrah dalam ketidakberdayaan.”
Nyi Iteung: (nada serius) “Dan alternatifnya?”
Sahat: “Alternatifnya adalah keberanian untuk transform sistem. Bukan tambal sulam bantuan pupuk atau subsidi kredit. Tapi rebuild dari fondasinya: konsolidasi lahan melalui koperasi profesional, transfer teknologi sistematis, integrasi vertikal sampai ke pengolahan. Ophir membuktikan ini bisa. FELDA membuktikan ini bisa. Kita tidak perlu invent new wheel—tinggal punya keberanian untuk execute.”
EPILOG: KOPI DINGIN DAN PERTANYAAN YANG MENGGANTUNG
Sahat pamit sore itu setelah diskusi hampir empat jam. Nyi Iteung duduk sendirian di beranda, menatap matahari yang mulai condong ke barat. Kopinya sudah dingin, tapi pikirannya masih panas.
“42% lahan sawit nasional. 6,87 juta hektare. Tapi produktivitas cuma 28% dari potensi.”
Ia membayangkan jutaan petani di Riau, Jambi, Kalimantan, Sumatra Barat—bangun subuh, kerja seharian di kebun, pulang dengan hasil yang pas-pasan. Bukan karena malas, tapi karena sistem yang tidak mendukung mereka untuk sukses.
“Sahat bilang ini tentang keberanian transform sistem. Tapi siapa yang akan mulai? Pemerintah? Pengusaha? Petani sendiri?”
Pertanyaan itu menggantung di udara sore Lembang, tanpa jawaban yang jelas.
Yang jelas bagi Nyi Iteung: angka 9,3 ton per hektare itu bukan sekadar statistik. Itu adalah jutaan keluarga yang hidup di bawah potensi mereka—bukan karena keterbatasan alam, tapi karena keterbatasan sistem.
“Pak Sahat akan datang lagi minggu depan,” pikirnya. “Kita akan bahas teknologi pengolahan. Katanya ada yang namanya wet process yang menghancurkan nutrisi sawit. Saya harus prepare questions yang tajam.”
Ia bangkit, membawa cangkir kopi dingin ke dapur, sambil bergumam pepatah Sunda yang sering diucap ayahnya: “Cai teu kaluar tina batu”—air tidak keluar dari batu.
Dari hulu yang gersang dan timpang, tak mungkin mengalir kesejahteraan ke hilir.
Bersambung ke Seri #3: “Wet Process: Murah Hari Ini, Mahalnya Besok”
Catatan Penulis: Seri tulisan “KULIAH LOYANG MENJADI EMAS DARI SAHAT M. SINAGA” adalah percakapan fiktif berbasis fakta riil, merupakan karya kolaboratif antara GWS dan Sahat M. Sinaga.
CATATAN TEKNIS:
- Produktivitas sawit rakyat: 9,3 ton TBS/ha/tahun (data industri)
- Total lahan sawit nasional: 16,38 juta ha
- Lahan sawit rakyat: 42% atau ~6,87 juta ha
- PIR-BUN Ophir productivity: 28 ton/ha/tahun (historical record)
- PTPN average: 23,4 ton/ha/tahun
- Potensi maksimal: 33 ton/ha/tahun
GWS, 25 Januari 2026








Komentar