Jakarta, 27 Juni 2026 – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-1 ADAKSI yang diselenggarakan di Best Western Senayan, Jakarta, berlangsung penuh semangat, haru, dan nuansa kebersamaan. Selain menjadi ajang silaturahmi dosen dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, perayaan ini juga menghadirkan pertunjukan seni yang menyuarakan aspirasi, idealisme, dan dedikasi para dosen dalam memperjuangkan kemajuan pendidikan tinggi Indonesia.
Salah satu penampilan yang menjadi perhatian peserta adalah sajian lagu-lagu perjuangan ADAKSI karya Da Sas (Dr. Sastra Munafri, M.Sn.), dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang. Melalui karya-karyanya, Da Sas menghadirkan musik sebagai media perjuangan yang membangkitkan semangat persatuan, solidaritas, dan optimisme dosen Indonesia.
Rangkaian pertunjukan diawali dengan lagu “HUT ADAKSI Ke-1”, dilanjutkan dengan “Guru dan Dosen Jangan Dijual Murah” yang menggambarkan pentingnya penghargaan terhadap profesi guru dan dosen. Suasana semakin menyentuh ketika dipersembahkan lagu “Dengarkan Suara Kami”, yang menjadi simbol suara hati dan harapan para dosen kepada para pemangku kebijakan. Seluruh rangkaian ditutup secara megah dengan lagu “Majulah Pendidikan Tinggi Indonesia”, yang mengajak seluruh insan akademik untuk bersatu membangun pendidikan tinggi Indonesia yang maju, bermartabat, dan berdaya saing.
Lagu “Majulah Pendidikan Tinggi Indonesia” memiliki nilai historis bagi ADAKSI. Karya tersebut diciptakan oleh Da Sas pada momentum Musyawarah Nasional (Munas) ADAKSI tanggal 2 Mei 2025 di Gedung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Lagu ini pertama kali dipersembahkan pada pembukaan Munas yang dibuka oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, yang saat itu baru dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto.
Pementasan seni pada HUT Ke-1 ADAKSI merupakan hasil kolaborasi dosen dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Puisi “Dengarkan Suara Kami” ditulis oleh Ibu Nur Amelia dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta. Puisi tersebut kemudian dibacakan dengan penuh penghayatan oleh Ibu Santa dari Universitas Mercu Buana, sehingga mampu menghadirkan suasana haru dan memperoleh apresiasi yang meriah dari seluruh peserta.
Sementara itu, monolog perjuangan dosen yang dibawakan oleh Bapak Gadriaman dari Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, berhasil menggambarkan realitas kehidupan dosen Indonesia dengan sentuhan emosional sekaligus kritis. Penampilan monolog tersebut semakin memperkuat pesan bahwa perjuangan dosen bukan hanya tentang pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga tentang menjaga martabat profesi serta memperjuangkan masa depan pendidikan tinggi Indonesia.
Kolaborasi musik, monolog, dan puisi dalam HUT Ke-1 ADAKSI menjadi bukti bahwa seni dapat menjadi media yang kuat dalam menyampaikan gagasan, aspirasi, dan semangat perubahan. Melalui karya-karya tersebut, para dosen tidak hanya berbicara melalui data dan argumentasi ilmiah, tetapi juga melalui bahasa seni yang mampu menyentuh hati dan membangkitkan kepedulian bersama.
Perayaan HUT Ke-1 ADAKSI di Best Western Senayan, Jakarta, menjadi momentum penting untuk mempererat persaudaraan, memperkuat solidaritas, dan meneguhkan komitmen seluruh anggota ADAKSI dalam memperjuangkan pendidikan tinggi Indonesia yang lebih adil, bermartabat, dan berkualitas menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045.(****














Komentar