Penulis: Dr. Elis Suryani Nani Sumarlina, M.S. (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)
PERKEMBANGAN zaman, ilmu pengetahuan, dan kecanggihan teknologi, beriringan dengan pesatnya kemajuan di segala bidang. Hal itu berlaku terhadap ketujuh unsur budaya Sunda, yang eksistensinya masih bisa kita lihat dan kita rasakan di era Gen Z saat ini. Kenyataan dimaksud memengaruhi eksistensi tatanan kehidupan masyarakat, termasuk unsur seni.
Kecanggihan di bidang apapun, tentu saja berimbas terhadap perkembangan kemampuan manusia dalam berinteraksi sosial, baik antardaerah maupun antarnegara. Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri juga bahwa ada beberapa suku, khususnya Suku Sunda, yang masih bersikukuh dan taat asas mempertahankan ketradisionalan dan adat istiadatnya, di antaranya masyarakat adat Kampung Naga dan masyarakat adat Kanekes Baduy. Terkait hal itu, kedua masyarakat adat dimaksud harus lebih kuat membentengi diri dari pengaruh luar, yang semakin menggerus unsur-unsur budaya, salah satunya unsur seni, termasuk waditra yang digunakan dan mengiringinya, agar seni yang mereka miliki tidak musnah ditelan masa.
Di era generasi Z, perkembangan dan pengaruh budaya luar terhadap budaya daerah saat ini tidak terelakkan lagi, hingga semakin menggerus kearifan lokal budaya buhun ‘kuno’, yang apabila dibiarkan dan tidak memiliki filter yang kuat, maka kearifan lokal dimaksud sedikit demi sedikit akan terkikis dan mungkin hilang. Untuk itu, generasi muda penerus bangsa harus mampu memilah, memilih, menyiasati, serta berkiprah, bagaimana caranya agar kebudayaan Sunda khususnya tetap eksis, dikenali, dan semakin berkembang.
Sebagai salah satu unsur budaya, seni muncul karena sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna, manusia dianugrahi cipta, rasa, dan karsa, yang membedakannya dari mahluk Tuhan lainnya. Seni juga bersifat universal dan khas. Terkait hal tersebut, pengembangan kebudayaan itu sendiri, pada hakekatnya terbatas kepada pengembangan seni. Itu sebabnya pengembangan seni, baik seni suara, seni tari, seni sastra, seni rupa, maupun seni lainnya, bisa dilakukan serta dimodifikasikan dengan unsur budaya lainnya.
Sejalan dengan pendapat di atas, Mahasiswa Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, sebagai generasi muda Sunda ikut berperan serta ngaraksa, ngariksa, tur ngamumule tinggalan budaya, melalui pertunjukan atau pagelaran kreasi seni yang mengusung tema Gapura Kandawuhan, Guar Carita Témpo Bihari, pikeun Eunteung Mangsa Kiwari ”menelisik cerita masa lalu, sebagai cermin masa kini’. Pertunjukan tersebut berupa kolaborasi antara karawitan, tari, teater, serta musik modern/masa kini, yang merupakan bagian dari tugas dan implementasi mata kuliah wajib Seni Pertunjukan, angkatan 2023 Danaraja.
Pementasan seni pertunjukan yang digelar di Aula PSBJ FIB Unpad tersebut, dilaksanakan hari Selasa, 23 Desember 2025. Adapun seni yang dipertunjukan dimulai dengan Rajah Pamuka ‘Rajah Pembuka’ dan Kembang Gadung, dengan tujuan memohon izin agar acara berjalan lancar serta selamat, tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Acara berlanjut dengan pembacaan Sajak, Kawih Bulan Bandung Panineungan, paparan awal teater, Tari Jaipong Ronggéng Nyéntrik, kawih dan Tari JaipongMojang Karawang, Tari Sunda Tradisional/Klasik Gawil, Lagu Hallo Bandung berbahasa Belanda, karena di Prodi Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, ada mata kuliah bahasa Belanda, di samping bahasa Inggris, bahasa Sunda Kuno, Bahasa Kawi, Bahasa Sansekerta, dan bahasa Arab, agar mampu membaca dan menerjemahkan manuskrip/naskah Sunda khususnya, terkait mata kulih Filologi.
Acara dilanjutkan dengan pementasan Kawih Kembang Tanjung Panineungan dan Potret Manehna. Selanjutnya teater babak 3 dan 4. Acara ditutup dengan perkenalan para pemain drama. Pertunjukan Seni Sunda Gapura Kandawuhan, Guar Carita Témpo Bihari, pikeun Eunteung Mangsa Kiwari, bukan sekadar tampil dan mementaskan beragam seni tari, musik, seni drama, dan seni sastra, tapi lebih dari itu. Mahasiswa selain memelihara/merawat, melestarikan seni masa lampau, namun dituntut agar berupaya mengembangkan serta mengkolaborasikan seni buhun ‘kuno’ dengan seni kiwari ‘masa kini’, agar seni tradisi tetap hidup dan dipentaskan serta dikembangkan di era Gen Z saat ini. Diharapkan pula agar seni Sunda khususnya, budaya Sunda umumnya tetap dipikawanoh ‘dikenal’, bersemayam serta mendarah daging dalam ati sanubari Nonoman Sunda, diminati, diimplementasikan sebagai filter menghadapi budaya luar, yang tidak sesuai dengan kepribadian orang Sunda serta bangsa Indonesia. Seni Sunda harus mampu membentuk karakter bangsa.
Sebagai generasi muda penerus bangsa, wajib ikut serta menjaga, melindungi, dan melestarikan, bahkan mengoptimalisasikan keberlangsungan adat dan tradisi, seni, beserta tinggalan budaya lainnya warisan nenek moyang kita di masa lalu. agar tidak musnah ditelan masa. (****









Komentar