Oleh: Mbah Bayu Al Yatimi (Pimpinan Majelis Nur Muhammad Tarjamatul Ilmi Cirebon)
Hasanuddin, atau Sabakinkin Hasanuddin, putra sulung Nyimas Kawung Anten binti Surosowan yang di nikah oleh Sulthan Cirebon Syarif Hidayulloh. Beliau lahir pada tahun 1478M. Di daerah Wahanten Pesisir (Banten Lama).
Pada masa itu Wahanten Pesisir di pimpin oleh mertua Kanjeng Syeikh Syarif, Surosowan, di bawah kekuasaan Prabu Munding Wangi atau Siliwangi Padjajar Galuh.
Sebagai putra dari seorang Wali Quthub. Hasanuddin, sejak kecil sudah di didik beragam ilmu Al- Qur’an, Hadist, Tafsir, kitab para Ulama, Tatanan ilmu kerajaan, politik, perdagangan dan olah bathin. Beliau terkenal sangat cerdas dan pendiam. Pada masa kecilnya Hasanuddin belajar ilmu agama pada Waliyulloh Ali Rohmat dari Campa, yang di teruskan pada Sunan Ampel dan terakhir kepada ayahnya sendiri Sulthan Syarif Hidayatulloh.
Adapun ilmu tatanan istana, beliau belajar pada sang Kakek Surosowan dan beberapa petinggi istana Wahanten lainnya. Kecerdasan Hasanuddin sangat di akui oleh seluruh kalangan istana dan beliau sejak kecil sudah diberi gelar oleh sang Kakek “Sabakinkin” yang artinya pemimpin Tangguh.
Di usianya yang ke 7 tahun. Sabakinkin Hasanuddin, mulai di lepas Ayahanda untuk mencari beragam ilmu agama. Walau pada saat itu sang istri Nyimas Kawung Anten, merasa keberatan anak semata wayangnya harus pergi dan berjauhan dengannya. Namun karena ini perintah suaminya. Nyimas Kawung Anten, hanya bisa pasrah membawa kerinduan sepanjang masa.
Pada usia 11 tahun Hasanuddin mulai diajarkan ilmu rasa oleh sang Ayahanda dengan cara ngerayana (selalu berjalan) selama bertahun lamanya sambil belajar beragam ilmu pada Wali yang di jumpainya.
Kanjeng Syeikh Syarif hanya berpesan pada putranya.
“Hasanuddin….kamu boleh menemuiku kelak setelah dirimu sudah tidak lagi makan, minum, tidur, buang kotoran, buang air kencing dan kentut. Maka pada saat itu kau boleh meminta apa saja padaku!” Jelas sang Ayahanda.
Sebagai sorang putra, Hasanuddin, hanya pasrah dan siap menjalankan perintahnya. Beliau mulai belajar berpuasa tanpa makan dan minum, beliau juga mulai menjauhi tidur dan sifat malas lainnya. Hari harinya selalu di jalani dengan makna tirakat dan pendalaman ilmu agama.
Menginjak usia 17 tahun. Hasanuddin sangat merindukan ayahnya. Beliau ingin sekali bertemu setelah semalam bermimpi bertemu baginda Rosul, yang mirip wajahnya dengan sang ayah. Namun mengingat tugas dan amanat yang di emban sang ayah pada dirinya, beliau boleh bertemu setelah mampu melewati beragam tugas berat, yaitu, tidak makan, minum, tidur, buang kotoran dan kentut selama beberapa tahun.
Maka beliau mulai menghitung sejak tugas itu di embannya.
-Tahun pertama. Beliau mampu tidak makan dan minum, tapi belum mampu tidak tidur.
– Tahun ke dua. Beliau mampu tidak makan, minum dan tidur, tapi masih mengeluarkan istinjak (buang kotoran/beol)
-Tahun ke tiga dan lima. Beliau mampu menjalankan semuanya kecuali kentut.
– Tahun ke enam. Beliau mampu melewati semuanya.
Dengan keberhasilannya ini Hasanuddin yakin bahwa Ayahnya bakal menerima dirinya dan beliau bisa mencurahkan kerinduan hatinya selama 6 tahun lamanya. Maka hari itu juga Hasanuddin mulai mendatangi kota Cirebon.
Walau secara fisik kondisi Hasanuddin, sangat memprihatinkan akibat tirakat yang di jalankannya, badannya kurus kering tinggal pembalut tulang, matanya cekung masuk ke dalam. Wajahnya kusam dan pucat. Siapapun yang melihatnya tidak bakal menyangka bahwa beliau seorang putra Mahkota Banten. Namun atas dasar rindu untuk segera bertemu dengan sang Ayahanda. Hasanuddin dengan penuh riang gembira mulai memasuki kota istana.
Sayang………Mungkin karena terburu buru ingin segera bertemu dengan keluarga yang di cintainya, saat beliau melewati gapura istana, kakinya tersandung sebuah batu dan jatuh. Perut beliau terlebih dahulu mengenai gundukkan tanah dan tanpa sadar “bruuuttt”.
Perutnya yang kosong dari makanan dan air minum, membuat tubuhnya mudah sekali masuk angin dan saat perutnya berbenturan denagn tanah tadi tak ayal angin yang didalam badannya langsung keluar lewat duburnya (pantat).
Betapa malunya Hasanuddin pada saat itu. Kerinduan kepada sang Ayahanda selama 6 tahun kandas sudah. Beliau langsung berlari menjauhi istana Pakungwati. Dalam hatinya selalu berkata “Ya Allah ampunilah semua dosa dosaku hingga aku tidak bisa menjaga amanat sang Ayahanda”.
Semakin Hasanuddin mendalami ilmu Wushul kepada Malaikat Hafadzo, semakin beliau memahami bentuk sir asror amalannya sendiri. Beberapa kali ruhnya dibawa ke alam langit dan disana beliau dilihatkan seluruh amalannya lewat tulisan dinding langit yang menghiasi alam bangsa Ayyuhal Malakut.
Dari perjalanan inilah Hasanuddin, mulai mendekatkan diri kepada Allah, lewat pendalaman bangsa Malaikat Langit dan Bumi dan seiring perjalanan waktu, beliau telah memahami keseluruhan ilmu Ayyuhal Malakut sehingga apapun yang beliau harapkan bisa terwujud atas ijin Allah.
Dimasa perjalanannya, Hasanuddin, selama 42 tahun, telah mampu melawan nafsu syahwatnya berupa tidak makan, minum, tidur, buang kotoran maupun kentut. Semua itu akibat penguasaan ilmu bangsa Hafadzo yang disempurnakannya lewat ketekunan diri.
Namun disaat mertuanya wafat (Surosowan) dan di gantikan Prabu Sanghyang Surawisesa, dengan menunjuk Adipati Arya Surajaya, kerajaan Wahanten Pesisir, mengalami gejolak besar. Sang Prabu dan Adipati Arya Surajaya, mulai menyingkirkan keluarga Raja Lama. Bahkan istri Kanjeng Syarif Hidayatulloh, Nyai Kawung Anten dan putra lain harus terusir oleh kekuasaan mereka.
Raja Surawisesa, lebih memilih bergabung dengan pasukan Portugis ketimbang pasukan bangsa Wali. Kini daerah Wahanten Pesisir, hampir seluruhnya dikuasai pasukan raja baru dan pasukan luar Nusantara.
Melihat kenyataan ini Prabu Panataghama menghubungi Raja Demak, Raden Fattah, untuk secepatnya mengirimkan pasukan ke Sunda Kelapa yang menjadi basis pasukan Raja Surawisesa.
Dengan perintah Raden Fattah, Panglima Falatehan mulai ditugaskan menjadi komandan tertinggi untuk mengalahkan pasukan Raja Surwisesa. Adapun Kanjeng Syeikh Syarif, memanggil putranya Hasanuddin, yang masih menjalankan amanatnya (tirakat ngerayana) untuk segera menghadap dan menjadi Panglima tertinggi pasukan Cirebon.
Hari itu juga semua teleksandi Cirebon, disebar untuk menjemput Hasanuddin agar secepatnya menghadap Ayahanda……
Setelah Hasanuddin datang menghadap Ayahanda, keduanya saling berpelukan setelah sekian puluhan tahun mereka berpisah.
“Anakku….Sudah waktunya engkau menggantikan kedudukan kakekmu (Alm) di Wahanten Pesisir. Namun sebelum engkau melaknasakannya, aku ingin tahu apa saja yang kau dapatkan dari tirakatmu selama ini?” Mendengar ayahnya berkata demikian, Hasanuddin, agak terkejut. Lalu beliau menjawab dengan suara terbata bata.
“Maaf Ayahanda, tiada yang kulihat selama 42 tahun lamanya kecuali minta ridhomu dan ridho Allah”.
“Apakah engkau sudah mendapat Kema’rifatan dihadapan Allah?” Jelas Kanjeng Syeikh Syarif.
“Maaf Ayah….sungguh jauh bagi hamba untuk memetik ilmu yang luasnya tidak terjangkau. Ananda belum sampai memikirkan ke arah sana?”
“Baiklah anakku…Memang kulihat engkau masih jauh mencapai puncak ke Marifatan ilmu. Tapi aku yakin, engkau menjadi ahli Ma’rifat atas namaku (Quthub). Tiada yang lebih mulia dari seorang bapak, kecuali menjadikan anak dan keluarganya Ma’rifat dihadapan Allah”.
Mendengar ayahnya sangat menyayanginya, Hasanuddin, menangis haru.
Lalu sang Prabu, meminta kepada Hasanuddin, untuk mempersiapkan diri bergabung bersama prajurit Cirebon.
Setelah dirinya dinobatkan menjadi panglima tertinggi pasuka Cirebon, Panglima Sabakinkin Hasanuddin, yang kini sudah berpakaian seorang Panglima Perang, langsung mendatangi alun alun Cirebon. Beliau ingin mengecek langsung keberadaan prajuritnya disana. Namun karena beliau belum dikenal namanya dan baru datang di istana Pakungwati, tidak satupun prajurit Cirebon, yang memghormatinya. Mereka malah sibuk dengan segala peralatan perangnya.
Melihat kejadian ini Panglima Hasanuddin, sedikit marah. Sebagai sifat insaniyyah, wajar bila beliau tersinggung atas perlakuan prajuritnya yang acuh kepada seorang putra Mahkota yang sekaligus komandan mereka.
Dengan ini Hasanuddin, melampiaskan kekesalannya, beliau merapalkan asma Malaikat Hafadzo, dan mendadak dirinya menjadi 1000 orang banyaknya. Melihat wujud Hasanuddin menjadi banyak, semua prajurit menjadi bingung dan kaget. Salah satu dari mereka bertanya.
“Hai Tuan…..Kalau mau uji kesaktian jangan disini. Tapi coba kamu datangi Uwak Kuwu Cakra Buana”.
Mendengan prajuritnya berani berkata seperti itu, Panglima Hasanuddin, langsung marah.
“Aku ini komandanmu. Aku putra Rajamu Panataghama!” Prajurit tadi tertawa terbahak bahak di susul teman lainnya…
“Hahahahahahaha……mana ada Prabu punya anak sepertimu. Engkau belum pernah aku lihat sebelumnya. Jangan asal bicara Tuan! Apa mau saya tangkap atas penghinaan mengaku ngaku putra Raja”.
Baru saja prajurit tadi berkata demikian, tiba tiba Mbah Kuwu, mendatangi mereka dan menyentil kuping kiri Panglima Hasanuddin, dari belakang.
Dengan sentilan Mbah Kuwu ke kupingnya tadi, tiba tiba 1000 orang yang menyerupainya hilang seketika dan semua prajurit bisa bernafas lega.
Melihat Mbah Kuwu datang, semua prajurit langsung menghormatinya dan menunggu perintah selanjutnya.
“Ketahuilah kalian semua. Ini adalah HASANUDDIN, putra Prabu Panataghama, dari Nyimas Kawung Anten Banten”. Mendengar Mbah Kuwu menyebut Hasanuddin, sebagai putra Raja. Semua prajurit tadi langsung bersimpuh ke tanah dan memohon maaf kepadanya..
“Cucuku Hasanuddin, Uwak pengen ngobrol denganmu?” Lalu keduanya meninggalkan pasukan yang sedang bersiap diri menuju medan perang.
Sesampainya di Joglo kaputren, Uwak mengajak cucunya duduk santai sambil menikmati secangkir teh pahit dan buah buahan yang sudah disiapkan oleh para danyang istana.
“Hasanuddin, mulai sekarang rubahlah tatanan hidupmu. Arifkan hatimu dan semangatlah dalam membela agama Allah (lslam) jauhi sifat ghibah dan menjatuhkan martabat orang lain (namimah). Karena apapun kuatnya seseorang, bila sifat tadi masih terlestari, niscaya semua amal akan musnah dan berakhir dengan kenistaan yang ditampakkan oleh Allah. Selama puluhan tahun engkau menjalankan amanat ayahmu, Aku bisa melihatnya, engkau mirip seperti diriku, bagian ahlu Rijal yang menjaga keamanan duniawi. Ingat cucuku! Hanya ada empat Wali di masa sekarang yang masih melestarikan ilmu Hafadzo dan mereka semuanya menjadi Rijalnya bumi, yaitu, dirimu, diriku, Kalijaga dan adikku Kiansantang. Maka mulai saat ini perbanyaklah makna sabar. Sebab cobaan dari seorang Rijal adalah Fitnah yang bakal engkau terima”.
“Juga ketahuilah cucuku. Sebentar lagi dirimu akan menghadapi maqom tinggi di hadapan Allah, lewat Kesyahidan yang di tularkan oleh Ayahmu. Engkau telah lulus mengemban amanatnya dan Ayahmu sangat mencintai dirimu, sebab beliau pernah berkata padaku. Hanya dari dirimu, keturanan sang Prabu akan terus ada hingga yaumul Qiamah.”
Hasanuddin, mulai memahami intisari yang di wejangkan oleh kakeknya Mbah Kuwu Cakra Buana. Beliau semakin semangat untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Tamaaat.
Jika ingin berkonsultasi seputar spiritual dan supranatural terutama masalah media “Rajah” yang dibikin Mbah Bayu Al Yatimi bisa menghubungi nomor kontak WA: 081280320803 maupun bisa berkunjung langsung ke Basecamp “MAJELIS NUR MUHAMMAD TARJAMATUL ILMI” Jln. Syeikh Bayanillah/Kaliandul Rt. 12/01 Weru Cirebon. atau bisa klik Google Map “Dimdim Cafe & Resto” dan Jln Raya Pondok Gede Gang Veteran Rt01/07 No 73 Lubang Buaya Cipayung Jakarta









Komentar