Kab.Tasikmalaya LINTAS PENA—- Pondok Pesantren Alam Tahfidz (PPAT) Hamalatul Qur’an Manonjaya kembali membuktikan posisinya sebagai episentrum pendidikan Islam progresif di Kabupaten Tasikmalaya.
Pada Jum’at 12 Juni 2026 pesantren ini sukses mengintegrasikan dua agenda besar yang merefleksikan visi masa depan: perluasan infrastruktur melalui peletakan batu pertama asrama putri, serta unjuk gigi kemandirian ekonomi lewat panen raya Salada Bokor hasil budidaya para santri.
Langkah nyata ini menjadi sinyal kuat bahwa pesantren modern bukan lagi sekedar menara gading tempat menghafal ayat suci, melainkan inkubator yang mencetak generasi religius, adaptif, dan berdaya secara ekonomi.
Sinergi Spiritual dan Komitmen Ulama-Umaro
Rangkaian acara dimulai sejak pagi hari dengan menyasar fondasi paling krusial dalam ekosistem pesantren, yaitu penyelarasan visi antara lembaga dan orang tua.Ratusan wali santri berkumpul dalam kajian rutin bulanan yang dipimpin oleh Dr. H. Irfan Soleh, S.Th.I., MBA, seorang kiyai sekaligus pebisnis.Dalam tausiyahnya mengenai ekonomi pesantren, ia menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara rumah dan pondok dalam menjaga fokus spiritual anak di era digital.
Suasana khidmat tersebut berlanjut pada prosesi inti. Wakil Bupati Tasikmalaya, H. Asep Sopari Al Ayubi, SP.M.AP hadir langsung untuk melakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung asrama putri.Kehadiran pimpinan daerah ini didampingi oleh jajaran tokoh Kabupaten Tasikmalaya Dr.H.Dede Sudrajat MP, Ketua DPRD Kabupaten Tasikmalaya Drs.H.Budi Ahdiat, Ketua Forum Pondok Pesantren (FPP), Kasi PD Pontren (mewakili Kepala Kemenag Kabupaten Tasikmalaya), Perwakilan Bank Indonesia (BI) dan Bank BJB, Unsur Muspika (Camat, Danramil, dan Kapolsek Manonjaya dan Tamu undangan lainnya.
Pimpinan PPAT Hamalatul Qur’an, Ustadz Cecep Iwan Ridwan, S.Th.I, M.Pd menegaskan bahwa pembangunan fisik ini merupakan respon atas meningkatnya kepercayaan masyarakat.“PPAT Hamalatul Qur’an menyatu dengan alam. Kegiatan belajar mengajar formal kami maksimalkan 5 hari sampai hari Jumat, sedangkan hari Sabtu khusus untuk ekskul, salah satunya ekskul pertanian,” ujar Ustadz Cecep iwan ridwan.
“Penanggung jawab langsung ekonomi dan pertanian ini adalah Pembina Yayasan, Ustaz Abdillah Fahmi, dibantu oleh Sarjana Pertanian yang khusus membidangi hal ini. Salah satu hasilnya adalah perkebunan Salada Bokor yang kita panen hari ini,” lanjutnya menekankan bahwa kenyamanan fasilitas adalah hak santriwati agar bisa fokus mengaji tanpa kendala infrastruktur.
Melihat pertumbuhan pesat tersebut, Wakil Bupati Tasikmalaya H.Asep Sopari Al Ayubi SP.,M.AP tidak dapat menyembunyikan rasa kagumnya atas manajemen profesional yang dibawakan oleh PPAT Hamalatul Qur’an.Menurutnya, tata kelola pesantren ini melampaui ekspektasi masyarakat terhadap sebuah lembaga pendidikan tradisional.
“Ini Lompatan Luar Biasa”
Melihat pertumbuhan pesat tersebut, Wakil Bupati Asep Sopari tidak dapat menyembunyikan rasa kagumnya atas manajemen profesional yang dibawakan oleh PPAT Hamalatul Qur’an.
Menurutnya, tata kelola pesantren ini melampaui ekspektasi masyarakat terhadap sebuah lembaga pendidikan tradisional.“Bagi saya, menghadiri undangan dari pesantren atau lembaga pendidikan yang mandiri secara ekonomi adalah sebuah prioritas. Oleh karena itu, saya selalu mengutamakan untuk hadir,” ujar Asep Sopari dalam Berbagainya.
Beliau juga terjadinya gerakan kebangkitan ekonomi berbasis umat yang mencakup cakupan pesantren.
Wabup Tasikmalaya didampingi Ketua DPRD dan Pimpinan PPAT Hamalatul Qur’an Manonjaya setelah peletakan batu pertama pembangunan asrama putri.“Saya ingin mengajak seluruh warga Kabupaten Tasikmalaya, masyarakat Priangan Timur, dan umat Islam di Indonesia pada umumnya. mari kita bangkit bersama Kita kuasai ilmu pengetahuan dan kita perkuat lini ekonomi kita. Kebangkitan ini bisa kita rintis dari langkah kecil, yaitu membangun kemandirian pondok pesantren melalui dunia wirausaha, baik yang dikelola melalui koperasi maupun korporasi,” lanjutnya.
Salada Bokor: Kedigdayaan Ekonomi Hijau ala Santri
Kekaguman orang nomor dua di Kabupaten Tasikmalaya tersebut semakin membuncah saat mengulas pesantren ‘Rumah Hijau’. Di sana, rombongan disuguhi hamparan hijau Salada Bokor kualitas premium yang siap panen.
Bukan sekadar program seremonial, panen raya ini adalah produk komersial nyata dari program agrobisnis berbasis teknologi pertanian yang dikelola langsung oleh tangan-tangan para santri.
Hasil panen ini bahkan telah didistribusikan secara profesional ke beberapa rumah makan terkemuka di wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya.
Menyaksikan langsung kedigdayaan ekonomi hijau tersebut, Wakil Bupati Asep Sopari menyampaikan apresiasi.“Pada pagi ini yang sungguh membahagiakan, kita melihat satu kegiatan yang luar biasa, yaitu produk pesantren menuju kemandirian ekonomi. Ini sudah membuktikan, patut menjadi contoh, dan tentunya harus menjadi gerakan yang terus-menerus supaya menjadi bagian gerak pertumbuhan ekonomi Kabupaten Tasikmalaya,” kata Wabup.
“Atas nama pemerintah kabupaten, saya mengapresiasi dan ikut bangga melihat dengan mata kepala sendiri ini bukan hanya sekedar diskusi, tapi sudah dipraktikkan. Terima kasih atas dedikasinya Pimpinan Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an, orang tua, santri, dan seluruh ustadz-ustadzah. Semoga amal baik ini mendapat tempat yang mulia di sisi Allah SWT,” tandasnya.
Apa yang terjadi di Manonjaya hari ini adalah sebuah prototipe wajah ideal pesantren masa kini. Pembangunan asrama putri adalah simbol menyediakan hak ruang yang aman dan representatif bagi perempuan dalam menuntut ilmu agama.
Sementara itu, rimbun hijau Salada Bokor yang memasok pasar kuliner modern adalah simbol ketahanan pangan sekaligus prasyarat agar dakwah Islam bisa berdiri tegak dengan kapasitas.
Melalui keselarasan antara pembangunan spiritual, penguatan infrastruktur, dan kemandirian ekonomi, PPAT Hamalatul Qur’an Manonjaya tidak sekadar membangun gedung atau memetik sayur; mereka sedang mendirikan fondasi masa depan Tasikmalaya yang mandiri, dan berdaya saing global.(ADE BACHTIAR ALIF)****








Komentar