
Oleh : Dede Farhan Aulawi
DALAM khazanah intelektual Islam klasik, Sirajul Mulk menempati posisi penting sebagai karya yang memadukan kebijaksanaan politik, moralitas pemerintahan, dan nilai-nilai spiritual. Secara harfiah, “Sirajul Mulk” berarti pelita bagi kerajaan, sebuah metafora yang menggambarkan ilmu dan kebijaksanaan sebagai cahaya penuntun bagi kekuasaan. Karya ini lahir dari konteks peradaban Islam yang sedang berupaya menyeimbangkan antara agama, etika, dan politik kekuasaan.
Sirajul Mulk muncul di tengah perkembangan intelektual dunia Islam ketika filsafat Yunani telah berasimilasi dengan pemikiran teologis Islam. Para ulama dan cendekiawan seperti Al-Mawardi dengan Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, serta Al-Ghazali dengan Nasihatul Muluk, telah memberikan fondasi bagi teori pemerintahan yang berkeadilan dan berorientasi pada kemaslahatan umat. Dalam kerangka itulah Sirajul Mulk hadir sebagai panduan bagi para pemimpin agar kekuasaan tidak terlepas dari moral dan spiritualitas.
Nilai dan Prinsip Politik
Isi Sirajul Mulk menekankan bahwa kekuasaan hanyalah amanah, bukan hak mutlak. Pemimpin dituntut memiliki sifat adil, zuhud, dan hikmah. Dalam pandangan ini, penguasa ideal adalah mereka yang mampu menyeimbangkan antara kepentingan duniawi dan tanggung jawab ukhrawi. Kekuasaan tanpa kebijaksanaan ibarat api tanpa pelita, panas namun membakar, bukan menerangi.
Selain itu, Sirajul Mulk juga mengajarkan pentingnya konsultasi (syura) dalam mengambil keputusan. Pemimpin sejati bukan yang memerintah dengan tirani, tetapi yang mampu mendengarkan suara rakyat dan menimbangnya dengan akal sehat dan nurani. Dengan demikian, karya ini menegaskan konsep politik etis dalam Islam, di mana moralitas adalah fondasi dari legitimasi kekuasaan.
Meskipun ditulis berabad-abad lalu, pesan Sirajul Mulk tetap relevan.
Dunia modern yang sarat dengan krisis kepemimpinan, korupsi, dan kehilangan arah moral dapat belajar dari semangat etis yang ditanamkan dalam karya ini. Bahwa pembangunan politik sejati tidak cukup dengan infrastruktur dan hukum positif, tetapi juga membutuhkan ruh akhlak dan kesadaran bahwa setiap jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan dan manusia.
Sirajul Mulk bukan sekadar karya sastra politik, melainkan refleksi spiritual tentang bagaimana kekuasaan seharusnya dijalankan. Ia mengingatkan bahwa cahaya pemerintahan hanya akan menyinari rakyat bila lentera moral sang pemimpin tetap menyala. Dengan demikian, Sirajul Mulk terus menjadi inspirasi abadi bagi setiap upaya mewujudkan pemerintahan yang adil, beretika, dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan universal.(****













Komentar