Oleh : Dede Farhan Aulawi
Kecelakaan kerja di sektor konstruksi bukan sekadar akibat kelalaian pekerja, tetapi merupakan hasil interaksi antara manusia, peralatan, metode kerja, lingkungan, dan lemahnya pengendalian risiko. Karena itu, strategi keselamatan harus bergeser dari pendekatan reaktif menuju pencegahan berbasis risiko.
Langkah utama adalah melakukan identifikasi bahaya dan penilaian risiko sejak tahap perencanaan proyek. Setiap pekerjaan harus memiliki metode kerja aman, prosedur operasional, penggunaan alat pelindung diri yang tepat, serta pengawasan yang konsisten. Risiko pekerjaan di ketinggian, pengangkatan material, pekerjaan listrik, alat berat, struktur sementara, hingga lalu lintas proyek harus dikendalikan berdasarkan tingkat bahayanya.
Selain teknologi dan prosedur, faktor manusia sangat menentukan. Pelatihan, toolbox meeting, komunikasi keselamatan, budaya saling mengingatkan, serta kewenangan untuk menghentikan pekerjaan yang tidak aman perlu menjadi bagian dari budaya kerja. Kontraktor dan manajemen proyek juga harus memastikan bahwa target waktu dan biaya tidak mengorbankan keselamatan.
Pada akhirnya, zero accident bukan sekadar slogan, melainkan hasil dari sistem yang mampu mengidentifikasi bahaya sebelum menjadi kecelakaan. Dengan kepemimpinan keselamatan yang kuat, pengendalian risiko berlapis, kompetensi pekerja, dan evaluasi berkelanjutan, probabilitas kecelakaan konstruksi dapat ditekan secara signifikan sekaligus meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan proyek.(***














Komentar