Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Tokoh Budaya Jawa Barat & Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong)
ROMBONGAN orang Baduy datang berkunjung ke Kabuyutan Dayeuh Luhur Gegerkalong untuk bersilaturahim. Masing-masing punya ceritera dan menyampaikan pesan dari leluhurnya sesuai kadar, tugas, peran yg terbatas, bawa pesan Olot (Ketua Adat).
Nama mereka cukup satu kata. Hidir, Sirat, Tarma. Hidir datang menjelang magrib, ditawari makan cukup gelengkan kepala, “menolak”. Ditawari minum kopi, ia bilang jangan pakai gula, karena kalau pakai gula, kolak kopi, ujarnya, sambil tertawa kecil.
Hidir bawa 2 pocong kecil, padi hasil huma, gogorancah, cere merah dan hitam.Secara simbolik padi diserahkan ke Kabuyutan Dayeuh Luhur Gegerkalong . Kemudian Hidir serahkan , Golok Hiris pusaja , sebagai simbol bagi Pakarang Adat. “Kula datang masrahkeun ieu ananat Olot.”
Datang lagi rombongan pada tahun berikutnya. Sirat namanya. Dia menyampaikan amanat, bahwa kondisi masyarakat Baduy , yang karena banyak pengunjung untuk sekedar wisata. Bahkan pengunjung sulit untuk mengikuti aturan Adat Budaya. Pengunjung buang sampah sembarangan. Sirat menyampaikan keprihatinan, dengan adanya intervensi pendahwah, mereka menuduh Kami tidak beragama. Nabi ngaing Ngadam, ageman ngaing KaMuhammadan, adat budaya ngaing Kabuyutan.
Sirat menyampaikan rupa-rupa sahadat. Sadat Ngadam. Sahadat Bumi. Sahadat Banyu. Sahadat Bayu. Sahadat Geni. Sahadat Slam Sunda Sahadat Kamuhammadan. Sahadat Ratu Adil Sajati yakni Sahadat Imam Muhammad al Mahdi.
Berikutnya datang lagi Tarma. Dia hanya membawa biji-bijian yang harus ditanam dan hasil alam, maduhutan, madu odeng. Dia tidak banyak bicara, dengan sorot mata yang bersih, dia melihat-lihat kondisi Kabuyutan Dayeuh Luhur Gegerkalong. Tidak lama dia pulang…disambung..CAG!@Abah Doct-Kabuyutan








Komentar