Oleh: Gus Qusyairi Zaini (Majlis Zikir Tauhid Padepokan Sadar Bumi Alif Kabupaten Sumenep)
DIANTARA tasbih yang biasa dipakai oleh para Ulama’ Sufi adalah tasbih berbahan akar Yuser. Tasbih akar bahar jenis Yuser (Cintamani Ular) ini merupakan tasbih yang berasal dari dasar Laut Merah, Mesir. Namun di Indonesia kayu ini juga ada dan biasa diolah menjadi gelang, pipa rokok, tasbih dll.
Yuser adalah sejenis tumbuhan yang batangnya berwarna hitam dan memiliki aroma harum. Tumbuhan ini umumnya tumbuh di dasar laut, dan kualitas terbaiknya berasal dari Laut Merah, Mesir.
Dalam tradisi spiritual Islam, Yuser banyak digunakan sebagai subhah (tasbih) dan bahkan termasuk salah satu jenis tasbih yang dianggap utama. Sayyidi Syekh Ahmad Tijani رضي الله عنه diketahui memilih tasbih Yuser dalam berbagai wiridnya, seperti lazimah dan wazifah.
Dalam kitab Syama’il at-Tijaniyyah disebutkan bahwa tasbih yang beliau gunakan tidak dihiasi dengan perak atau ornamen lainnya, berbeda dengan sebagian orang yang lebih mengutamakan aspek estetika lahiriah.
Sebagian ahli ma’rifah memuji tasbih Yuser dalam syair berikut:
هو اليسر إن أردت عزا وراحة
وكنزا من الخيرات لا يتبدد
جليل محبب لدى الناس كلهم
ولونه صاف ذو نظارة أسود
يفوح بعطر المسك في كل ساعة
لتعلم باليقين أنه الأجود
ويكفي افتخارا أنها السبحة التي
بها يذكر الشيخ التجاني أحمد
Artinya: “Jika engkau menginginkan kemuliaan, ketenangan, dan gudang kebaikan yang tak pernah habis, maka gunakanlah tasbih Yuser. Ia nampak berwibawa, disukai banyak orang, berwarna hitam yang indah dipandang, serta memancarkan aroma harum seperti misk. Dan cukuplah menjadi kebanggaan bahwa tasbih ini digunakan oleh Sayyidi Syekh Ahmad Tijani dalam berdzikir.”
Al-Imam al-Qadhi Ahmad Sukairij رحمه الله menyebutkan dua alasan utama penggunaan tasbih Yuser:
1. Keindahan dan keharuman; Yuser memiliki bentuk yang indah dan aroma yang wangi, selaras dengan dzikir yang merupakan amalan mulia.
2. Tafa’ul (optimisme kebaikan); Kata “Yusr” dalam bahasa Arab berarti kemudahan atau kelapangan, sebagaimana firman Allah تعالى:
إن مع العسر يسرا
“Sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan.”
Ada beberapa jenis dan karakteristik Yuser. Dalam kitab “Ittiḥaf al-Amajid bi Nafa’is al-Fawa’id” disebutkan bahwa Yuser memiliki beberapa jenis, di antaranya:
1. Hitam pekat.
2. Hitam kekuningan (jenis ini umumnya lebih mahal).
Khusus Yuser dari Laut Merah, jika terkena sinar matahari, akan tampak serat-serat berwarna keemasan.
Beberapa keutamaan yang disebutkan oleh kalangan ahli ruhani antara lain:
1. Memberikan ketenangan (rahah) bagi yang berdzikir.
2. Membawa keberkahan bagi rumah yang menyimpannya.
3. Memudahkan urusan bagi yang membawanya dalam ikhtiar.
4. Semakin sering digunakan, semakin tampak keistimewaannya.
Namun demikian, terdapat pula mitos yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, seperti:
- Yuser sebagai makanan jin.
- Yuser dapat “beranak” jika tidak digunakan.
Hal-hal tersebut tidak memiliki dasar yang sahih.
Namun tetap perlu dipahami bahwa keutamaan dzikir tidak terletak pada media (tasbih), melainkan pada:
- Keikhlasan
- Adab
- Konsistensi (istiqamah)
- Keyakinan
Sebagaimana dikatakan oleh Sayyidina Ali رضي الله عنه:
نعم المذكر السبحة
“Sebaik-baik pengingat dzikir adalah tasbih.”
Tasbih hanyalah sarana untuk membantu menjaga kontinuitas dzikir.
Hati-hati..!! Saat ini, banyak beredar tasbih Yuser palsu di pasaran. Tingginya minat masyarakat sering dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Jangan tergiur dengan harga yang murah, karena harga yang murah biasanya lebih mendekati pada yuser palsu.
Oleh karena itu, pembeli diimbau untuk berhati-hati dan memastikan keaslian produk sebelum membeli. Penjual juga harus waspada, jangan menipu pembeli.
Rasulullah SAW bersabda:
من غشنا فليس منا
“Barang siapa yang menipu, maka ia bukan bagian dari golongan kami.”
Tasbih Yuser memiliki nilai historis dan spiritual dalam tradisi Islam. Namun, yang terpenting dalam dzikir bukanlah alatnya, melainkan kualitas hati dan kedekatan kepada Allah تعالى.
Semoga para penjual dan pembeli senantiasa diberikan kejujuran, keberkahan, serta hidayah.(***










Komentar