oleh

Telur Asin Asap Pedas: Inovasi Produk Diversifikasi Telur sebagai Produk Unggulan Desa Sukanagalih Binaan Dosen Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Oleh: Dr. Ir. Andri Kusmayadi, S.Pt., M.Sc., IPM., ASEAN Eng. (Dosen Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Perjuangan Tasikmalaya )

PENGABDIAN kepada Masyarakat merupakan salah satu kewajiban profesi dosen dalam keterpaduan wujud Tridharma Perguruan Tinggi yang tidak terpisahkan antara pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat dilakukan sebagai pengejawantahan hasil-hasil penelitian dosen agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat seluas-luasnya. Dosen Universitas Perjuangan Tasikmalaya yang mendesiminasikan teknologi dengan membuat produk telur asin asap pedas ini adalah Dr. Ir. Andri Kusmayadi, S.Pt., M.Sc., IPM., ASEAN Eng. dari prodi peternakan selaku ketua pengabdi, Ristina Siti Sundari, M.P. dari prodi agribisnis dan Yusuf Sumaryana, ST, M. Kom dari prodi teknik informatika selaku anggota pengabdi. Mahasiswa juga turut dilibatkan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Hal ini dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bersosialisasi dengan masyarakat dan mengembangkan keilmuannya. Mahasiswa yang terlibat dalam program ini adalah Arinandar Hermawan dari prodi peternakan, Fatimah Fazria dari prodi agribisnis, Trio Muhammad S. dan Zikry Yanuar dari prodi teknik informatika.

Keterlibatan program studi peternakan, agribisnis dan teknik informatika dalam program ini merupakan sinergitas yang terpadu dalam menghasilkan produk unggulan yang berdaya saing dengan menjangkau berbagai aspek mulai dari teknis pemilihan dan pengolahan telurnya, analisis sosial ekonomis produk yang dihasilkannya sampai manajemen pemasarannya secara digital. Pemasaran produk ini perlu disesuaikan dengan era Revolusi Industri 4.0 yang bersifat disruptif dan serba digital. Hal ini bukan berarti system yang sebelumnya kadaluwarsa akan tetapi perlu untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas dengan menggunakan teknologi. Maka sentuhan digitalisasi melalui e-commerce sangat mendukung kelancaran proses produksi dari hulu sampai hilir.

Kegiatan pembuatan produk telur asin asap pedas dilaksanakan di Desa Sukanagalih, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Adapun sasaran dari kegiatan ini adalah kelompok masyarakat yang tergabung dalam “Kelompok Megar Bebek Cihateup” dan “Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Berdikari” sebagai dua kelompok mitra yang bekerjasama. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah melakukan pemberdayaan kepada masyarakat atas potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada di Desa Sukanagalih. Itik Cihateup merupakan ternak lokal asli daerah ini yang berpotensi sebagai sumber protein hewani masyarakat baik berupa daging maupun telur. Telur yang dihasilkan itik Cihateup dalam setahun mencapai 200 butir/ekor. Jumlah itik yang ada di daerah ini cukup banyak baik yang dipelihara secara kelompok (yang tergabung dalam kelompok ternak) maupun mandiri oleh peternak. Telur itik yang dihasilkan per harinya di daerah ini cukup melimpah dan biasa dijual dengan harga murah sehingga diperlukan teknologi untuk memperpanjang daya tahan dan meningkatkan harga jual telur tersebut.  

Penyuluhan, Pelatihan dan Pendampingan Pembuatan Telur Asin Asap Pedas

Penyuluhan telah dilakukan kepada peserta kegiatan ini dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang urgensi diversifikasi pangan untuk memperpanjang daya tahan telur dan meningkatkan harga jual telur itik yang dihasilkan oleh para peternak. Pelatihan yang dilakukan pada program ini yaitu praktik pembuatan telur asin asap pedas. Proses pembuatan telur asin asap pedas diawali dengan membersihkan telur dari kotoran-kotoran yang menempel dengan cara dicuci pada air bersih dan dilap agar kering. Selanjutnya telur diuji kualitasnya dengan cara dimasukkan ke dalam toples yang berisi air, telur yang berkualitas baik akan tenggelam dan berkualitas buruk akan mengapung. Selanjutnya, membuat media pengasinan dengan cara mendidihkan air dan memasukkan garam agar mudah larut dan homogen. Kemudian, bawang putih dan cabai merah dihaluskan sebagai campuran pada media pengasinan agar memberikan rasa pedas dan menghilangkan bau amis pada telur. Setelah semua bahan tercampur homogen selanjutnya dicampurkan dengan telur itik yang sudah dibersihkan tadi untuk disimpan selama 2 – 3 minggu agar telur asin yang dihasilkan berkualitas baik. Setelah selesai masa pengasinan, selanjutnya telur asin dikukus selama 1 jam dan diasapi sampai warna kerabang telur berubah menjadi coklat gelap. Proses pengasapan ini selain memberikan warna dan aroma yang khas juga akan memperpanjang masa simpan telur asin. Telur asin yang telah diasapi ini memiliki citarasa pedas sehingga dikenal sebagai telur asin asap pedas. Telur asin asap pedas ini dijadikan sebagai produk unggulan daerah Desa Sukanagalih dan dipasarkan secara offline di toko milik desa yaitu “BUMDes Berdikari” maupun secara online di berbagai e-commerce dan sosial media seperti Tokopedia, Instagram dan Whatsapp.

Pendampingan kepada kedua kelompok mitra, “Kelompok Megar Bebek Cihateup” dan “Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Berdikari” terus dilakukan secara berkala selama satu tahun program berjalan. Kegiatan ini mendapatkan dukungan finansial dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi melalui skema Program Kemitraan Masyarakat Tahun Anggaran 2021. Tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Perjuangan Tasikmalaya menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya atas dukungan Kemendikbudristek dalam kegiatan ini.  (***

Komentar

News Feed