oleh

Teologi Sosial

Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong dan Tokoh Budaya Sunda)

TUHAN , Rabul alamin, Gusti Allah, Hiyang Widi, tak pernah tidur, tak pernah berhenti mencipta mahkluk, tak pernah berhenti memberikan pertolongan, dan tak pernah berhenti memberi rizqi. Jika mahluk berprasangka Gusti mahakaya, maka kekayaan akan berlimpah sesuai sangkaan mahlukNya. Jika mahlukNya menyangka bahwa Tuhan mahaadil, maka keadilanNya akan diraih oleh mahlukNya. Jika mahluk menyangka bahwa Tuhan mahasayang, maka rasa sayangNya akan diberikan pada mahlukNya.” Inda dhoni abdi”.

Manusia bisa saja lalai pada Tuhan, namun Tuhan mustahil memiliki sifat lalai. Tuhan tak memiki sifat dhalim pada mahlukNya yang Dia ciptakan. Kanjeng Rasul SAW ditanya para sahabatnya, ya nabiyallah, apa yang paling khawatirkan pada ummatmu sepeninggalmu. Rasul saw: “yang paling aku khawatirkan adalah ketika ummatku tidak lagi berpedoman pada Kitabullah (al Quran) dan al ithrah ( ahlul Baitku)”. Sebab keduanya tak akan terpisahkan hingga hari pengadilan tiba, yaumul mau’ud. Ya nabiyallah amal kebaikan apa yang engkau memujinya dan syafaatmu engkau berikan pada ummatmu. Rasulullah SAW menjawab :” kecintaan terhadap keluargaku” (kula as alukum alaihi ajran ilalmawadah filkurba). Para sahabat bertanya, keluargaku atau keluargamu ya Rasulullah saw. Jawab Rasul SAW, kepada Keluargaku (ahlil Baitku). Sadaqta ya nabiyallah. Saat itu para sahabat, mengucapkan secara serempak bahwa kecontaan pada ahlul bait rasul saw adalah, amal kebajikan yang paling utama, “ahsanu amalan”.

Fakta sejarah menyebutkan, tidak lama , bahkan baru beberapa hari setelah Rasulullah SAW wafat, berbocara lain , Syayyidah Fathimah az Zahra as , penderitaan terhadapnya, akibat perlakuan sahabat yang haus kekuasaan, derita tersebit nyata dan ketika ucapan cinta dihadapan Rasul SAW saat sebelum wafat itu hanya dimulut saja. Fathimah az Zahra as mengadu dipusara Ayahnya, Rasulullah saw:” wahai ayahku perlakuan sahabatmu tak seperti yang meteka ucapkan ketika engkau masih ada, dan dihadapanmu mereka berkata tentang kecintaan pada Ahlul Baitmu. Dengan perlakuan sahabatmu kepada putrimu, aku memohon syafaatmu jangan engkau berikan pada mereka yang telah menyakitiku. Ya nabiyallah, engka pernah bersabda,”barangsiapa yg menyakiti Fathimah putriku, mereka telah menyakitiku, dan barang siapa yang menyakitiku, mereka menyakiti Allah”.

Kecintaan, mahabbah, perlu pembuktian dalam kehidupan ditengah masyarakat. Rasulullah saw bersabda, jika kalian ingin menemuiku, maka carilah aku ditengah masyarakat yang hancur hatinya, karena pafa dan miskin”.

Ketika seorang ‘alim akan menuju shalat Jum’at, diperhalan ada orang yang tertabrak. Alim tersebut bergegas menolongnya, hingga  pasien tersebut dibawa ke RS dan selamat dari kematian. Murid ysng mengawal ‘Alim bertanya, wahai guruku, tadi Engkau akan shalat Jum’at, namun engkau terhalangi dan harus menolong orang yang tertabrak. ‘Alim menjawab, muridku, shalat Jum’at, aku akan ganti dengan Shalat Dzuhur dan Ashar, sementara nyawa seseorang akan diganti oleh nyawa siapa?. Murid terkesiap mendengarnya seraya merunduk. Benar guruku.

Ada seorang murid, dikelasnya, ia diasingkan oleh teman-temannya, karena nakal dan lambat mengikuti pelajaran , ketika anak tersebut hilang semangat dan ia termenung sendiri, data seorang guru yang ‘arif, ia dengan lirih panggil anak tersebut. Murid bergegas menghampirinya, Sang ‘Arif memengusap kepala murid tersebut seraya berdoa ,”mahasuci engjau ya Allah , yang tidak ada pemilik ilmu kecuali Engkau, curahkanlah ilmuMu, sesunggihnya Engkau mahamendengar dan mahaalin”. Murid yang didoakan Sang ‘Arif al Habib Muhammad Ayip Assegaf ra , ahlaqnya berubah, kecerdasannya meningkat dan ia sukses , hingga murid tersebut kuliah di Eropa.

Cag!@Abah Yusuf-Doct//Kabuyutan

15 Jumadil Akhir 1447 H – 6 Desember 2025 M

Komentar