Oleh : Firdaus, S. Pd (Guru SDN Kemirimuka 2, Kota Depok)
ADAKALANYA kita pernah merasakan kejenuhan dalam aktivitas seharai-hari, kemudian merasa lelah, dan capek dengan setumpuk tugas kita sehari-hari. Saat kita pulang kerja, kita juga mengalami keadaan atau susana kemacetan yang sepertinya tidak akan pernah usai, saat itu kita bisa memandang keluar dan menyaksikan bahwa kita terpaku dengan rutinitas sehari-hari, terjebak dalam situasi yang menjemukan. Bangun tidur di pagi hari, mandi, sarapan, menyiapkan sarapan untuk anak-anak, mengantar anak ke sekolah, berangkat kerja dengan melewati jalan yang sama, teman kerja yang sama dan pekerjaan atau tugas-tugas yang sama, sampai akhirnya anda menyeret langkah anda pulang, menyusuri kemacetan yang sama di sore hari, pulang hanya untuk makan malam sebentar, mandi dan tertidur untuk besok kembali melakukan hal yang sama.
Sebuah contoh aktivitas yang tanpa kita sadari dilakukan terus menerus, dan menjadi hal yang mengerikan bagi kita. Tanpa kita sadari aktivitas tersebutlah perlahan kita telah menjadi zombie. Seorang zombie akan berjalan tanpa arah, mengikuti arus dan menjalankan rutinitas yang sama terus menerus. Pada awalnya, kita dapat membayangkan bahwa istilah “zombie worker” mengacu pada karyawan yang bekerja berjam-jam atau secara bertahap diotomatisasi oleh tugas yang berlebihan, motivasi rendah, dan pengakuan atau kompensasi yang buruk. Namun, ada perbedaan yang jelas antara pekerja yang sangat sibuk dan mereka yang hanya berkeliaran di sekitar lingkungan kerja dengan berpura-pura melakukan sesuatu.(Gusmilizar, M. Psi). Perbedaan itu adalah produktivitas. Beberapa orang berpikir bahwa kinerja yang rendah ini disebabkan oleh kurangnya komitmen. Karena mereka selalu tampak sangat sibuk. Namun, pada kenyataannya, semua pekerjaan yang dilakukan hanyalah mendelegasikan tanggung jawab kepada orang lain dan mereka tidak efektif
Untuk itulah kita harus dapat mengenal berbagai ciri zombie worker diantaranya mereka pergi sebelum giliran kerja mereka selesai : artinya mereka suka pulang duluan dimana hari kerja belum berakhir tetapi mereka sudah meletakkan barang-barang mereka dengan tenang dan ceria. Mereka suka gosip, salah satu motivasi utama mereka untuk pergi bekerja adalah gosip. Mereka memakan rumor dan berkembang dalam mengetahui informasi terbaru, Mereka selalu menjadi pembawa berita buruk, artinya mereka memiliki kemampuan khusus untuk mengetahui apa pun. Contoh berita negatif diantanya: pemutusan kerja, masalah, sanksi dan lain sebagainya, Mereka tidak pernah terburu-buru, mereka tidak pernah terburu-buru. Mereka selalu terlambat, istirahat lebih lama dari biasanya. Mereka kekurangan aspirasi: artinya mereka tidak kekurangan bakat atau keterampilan, hanya aspirasi. Satu-satunya tujuan mereka adalah untuk bertahan hidup di pekerjaan mereka dan membiarkan waktu berlalu, tidak melakukan apa-apa di pagi hari dan meneruskannya ke sore hari membingungkan orang lain dan membuat mereka merasa tidak nyaman.
Untuk menghidari hal seperti itu, agar kita tidak terjebak dalam fenomena zombie worker maka mulailah kita dengan kesadaran diri untuk apa kita bekerja dan bagaimana meningkatkan etos kerja kita. Diantara perubahan yang harus dilakukan adalah memulai dengan perubahan dari dalam, misalnya luangkan waktu selama 30 menit penuh tanpa gangguan dan menulis dengan kertas tentang siapa diri kita sendiri, apa sebenarnya peran kita di lingkungan kerja, dan apa yang penting dalam kehidupan kita sendiri. Lakukan perubahan apa yang inginkan, dengan belajar mengatakan tidak. Katakan tidak untuk hal-hal baru yang akan menyita waktu untuk diri kita. Mengerjakan hal-hal yang tidak penting atau hal-hal lainnya yang menurut anda tidak sesuai dengan visi hidup anda. Kemudian sayangi diri anda terlebih dahulu. Bagaimana kita akan bisa menolong pasangan anda atau anak anda jika anda sendiripun tidak mampu menolong diri anda sendiri. Bagaimana kita akan dapat berbagi kebahagiaan dengan mereka jika kita sendiripun tidak bahagia dengan kehidupan kita sendiri sendiri. Berlatih bahagia dengan waktu saat ini. Pikiran kita seperti bola pingpong, melompat kesana kemari dalam waktu yang singkat. Coba berlatih untuk fokus akan masa sekarang, memperhatikan setiap detail yang terjadi di sekeliling kita saat ini. Rasakan melalui sentuhan, indera pendengaran dan penciuman kita sendiri. Berlatihlah bersyukur dengan apa yang anda miliki saat ini.
Sebuah refleksi dari kita sendiri, tentang kesadaran diri bahwa dunia ini tidak akan pernah sempurna, terimalah apapun itu baik yang positif maupun negatif sebagai bagian dari yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Sudah saatnya kita mengevaluasi diri kita apakah yang kita kerjakan selama ini benar-benar produktif, penting dan menghasilkan. Dimanapun kita berada dan bekerja tetap harus meningkatkan etos kerja dan tentunya bekerja adalah bagian dari ibadah kita. Sesungguhnya amal perbuatan itu bergantung pada niatnya.(***









Komentar