Wuku Tambir, wuku ke sembilan belas dari satu siklus penanggalan Pawukon. Dinamai seperti nama anak Watugunung ke 17 dan memiliki saudara kembar Medangkungan
Kelahiran di Wuku Tambir dinaungi oleh Dewa Syiwa. Wuku Tambir akan hadir selama 7 hari, dimulai dari hari Minggu hingga hari Sabtu. Penanggalan Pawukon digunakan untuk penanda waktu sekaligus menandai karakter dan sifat seseorang
Berlangsungnya Wuku Tambir dinaungi oleh Batara Syiwa. Dalam pewayangan, Batara Syiwa mewujud dalam sosok Batara Guru atau Sang Hyang Manikmaya. Batara Guru memiliki tugas mengatur wahyu, hadiah dan berbagai ilmu. Batara Guru diciptakan dari cahaya yang gemerlapan oleh Sang Hyang Tunggal
Menurut Primbon Jawa, kelahiran wuku Tambir memilki karakter yang kuat dalam pendirian. Dikaruniai perbawa yang besar, membuat kelahiran wuku Tambir terlihat angkuh untuk hal-hal yang berkaitan dengan dirinya. Di lain sisi, perbawa yang dibawanya membuatnya juga banyak menarik perhatian dan dipercaya banyak orang
Hati-hati menghadapi kelahiran wuku Tambir, segala ucapannya bisa jadi tidak sesuai dengan isi hatinya. Ia pandai menutupi maksud
Kelahiran wuku Tambir pandai dalam pengelolaan uang. Dalam soal penghematan uang, ia jagoannya. Terkesan kikir dan sangat irit dalam membelanjakan uangnya
Dalam penanggalan Pawukon digambarkan, Raden Tambir duduk menghadap Batara Siwa. Dalam gambaran wuku, disimbolkan pula dengan pohon upas. Melambangkan manfaat yang kurang
Pohon Upas (Antiaris toxicaria) adalah pohon yang memiliki getah beracun. Pada zaman dahulu digunakan untuk melumuri anak panah, sehingga memiliki daya racun. Namun kayunya bisa digunakan sebagai bahan pakaian di masa kuno
Wuku Tambir digambarkan pula dengan burung prenjak, yang menyimbolkan kegemaran untuk berpamer atas apa yang dimilikinya. Tapi jangan tertipu, bisa jadi apa yang dipamerkan tak sesuai dengan kenyataan
Gedhong atau bangunan yang digambarkan berjumlah tiga tetapi semuanya tertutup. Ini merupakan gambaran apa yang diterimanya hanya untuk dirinya sendiri dan tak ingin berbagi. Meskipun tak ingin berbagi, wuku Tambir bukan berarti calon jutawan, kelahiran wuku Tambir ini justru seringkali mendapati dirinya hanya sampai di level cukup memenuhi kebutuhannya saja, tidak juga berlebih
Di kalangan Tosan Aji, kelahiran wuku Tambir sesuai jika menyandang keris Pandhawa, Sengkelat, Tebu Sauyun, Bethok, Kebo Teki dan Kebo Lajer
Yuk Menanam Padi Saat Wuku Tambir Dalam Weton Adat Jawa Serat Centhini
Sebelum menanam padi dengan hasil maksimal ada baiknya melihat pekan dalam Wuku Tambir sesuai weton adat jawa juga dalam Serat Centhini jilid awalWuku Tambir merupakan wuku kesembilanbelas dalam Serat Centhini pada jilid awal dan waktu ini merupakan waktu yang tepat untuk menanam padi sebagaimana hitungan weton adat jawa
Selain menanam padi Wuku Tambir sebagaimana dalam Serat Centhini jilid awal, ternyata juga baik jika melakukan perjalanan sebab akan mendapatman keberuntungan, ini sesuai dengan adat jawa dalam hitungan weton
Kemudian awal Wuku Tambir ini dimulai hari Minggu atau Ahad Pon dengan rincian berikut ;
- Ahad atau Minggu Pon, ini adalah hari yang buruk. Makanya jangan bepergian karena akan terjerat tipu muslihat
- Senin Wage adalah hari yang baik, jika bepergian akan mendapat untung pada hari itu.
- Selasa Kliwon adalah hari yang baik untuk menanam pohon yang buahnya menggantung, maka kelak buahnya akan lebat
- Rabu Legi adalah hari yang buruk, maka jangan bepergian karena akan terserang penyakit di perjalanan
- Kamis Pahing adalah hari yang baik untuk menanam padi di musim kemarau
- Jumat Pon adalah hari yang baik, jika bepergian akan mendapat rezeki
- Sabtu Wage adalah hari yang utama, istilahnya adalah purnama siddhi (bulan purnama), ini baik untuk segala macam pekerjaan
Demikian Wuku Tambir dengan rinciannya sebagaimana hitungan weton adat jawa dalam Serat Centhini jilid awal(***








Komentar