oleh

#7 SERI CERPEN BEKATUL : “ Ojak Orang Tarigu dan Tim Kementerian Yang Datang ke Kampung “

Penulis: Agus Pakpahan

1. Kabar yang Membuat Kampung Geger

Pagi itu, Ojak sedang duduk di depan rumah sambil membersihkan kandang ayam. Di sampingnya tergeletak sebuah buku catatan yang sudah penuh dengan tulisan tentang bekatul.

Tiba-tiba, Mang Udin datang tergopoh-gopoh.

“Jak! Jak! Ada kabar penting!”

Ojak tetap mengayunkan sapunya.

“Kalau kabar penting, biasanya orang yang membawa kabar lebih capek daripada orang yang menerima kabar.”

“Ini mah bukan kabar biasa! Katanya, tim dari kementerian mau datang ke kampung kita!”

Ojak menghentikan sapunya.

“Kementerian mana?”

“Ya, kementerian yang kemarin kamu datangi itu!”

Ojak menggaruk kepala.

“Oh, yang itu.”

“Katanya mau melihat bekatul!”

Ojak kembali menyapu.

“Bagus.”

Mang Udin melotot.

“Bagus bagaimana? Ini kesempatan besar, Jak! Kita harus menyiapkan penyambutan!”

“Penyambutan seperti apa?”

“Pasang spanduk, bikin panggung, siapkan hidangan, mungkin juga sewa organ tunggal!”

Ojak menatap Mang Udin dengan wajah serius.

“Din, mereka datang untuk melihat bekatul atau untuk menghadiri pernikahan anak kepala desa?”

Mang Udin terdiam.

“Ya, kalau bisa dua-duanya, Jak. Biar kampung kita ramai.”

Ojak tertawa.

“Jangan dulu. Kita belum tahu apa yang akan mereka lakukan. Yang jelas, kalau mereka datang untuk melihat potensi bekatul, kita harus menunjukkan bekatul yang sebenarnya. Bukan bekatul yang dipoles supaya kelihatan seperti pejabat.”

Mang Udin menggaruk kepala.

“Memangnya bekatul bisa dipoles?”

“Kalau politik bisa, masa bekatul tidak?”

Mereka tertawa.

Namun, setelah Mang Udin pulang, Ojak mulai berpikir serius. Kedatangan tim kementerian bukan sekadar kesempatan untuk memamerkan hasil penggilingan padi. Ini kesempatan untuk menguji apakah pembicaraan di Jakarta benar-benar bisa berubah menjadi pekerjaan nyata di kampung.

Ojak mengambil buku catatannya. Di halaman baru, ia menulis:

DARI JANJI MENUJU PENELITIAN: APA YANG HARUS DILAKUKAN?

2. Rapat Persiapan di Balai Desa

Sore harinya, kepala desa mengundang Ojak dan beberapa warga ke balai desa.

Pak Kepala Desa membuka rapat.

“Saudara-saudara, kita mendapat kabar bahwa tim kementerian akan berkunjung. Ini harus kita sambut dengan baik. Kita ingin kampung kita dikenal.”

Ojak mengangkat tangan.

“Maaf, Pak. Dikenal karena apa?”

Kepala desa terkejut.

“Ya, karena potensi bekatul kita.”

“Bagus. Lalu, setelah dikenal, apa yang kita harapkan?”

Kepala desa berpikir.

“Ya, mudah-mudahan ada bantuan.”

Ojak mengangguk.

“Bantuan apa, Pak?”

“Ya, bantuan untuk mengembangkan bekatul.”

“Untuk membeli mesin? Membangun laboratorium? Membiayai penelitian? Melatih warga? Atau membantu pemasaran?”

Kepala desa terdiam. Beberapa warga mulai berbisik.

Ojak melanjutkan dengan nada bersahabat.

“Jangan salah paham, Pak. Saya juga ingin ada bantuan. Tetapi kalau kita tidak tahu apa yang dibutuhkan, nanti kita mendapat barang yang bagus, tetapi tidak tahu harus diapakan.”

Mang Udin mengangguk cepat.

“Betul! Dulu saya pernah mendapat mesin dari program bantuan. Setelah datang, ternyata listrik di penggilingan saya tidak cukup kuat.”

Seseorang di belakang tertawa.

Mang Udin tidak tersinggung.

“Jangan tertawa. Itu pengalaman mahal!”

Ojak mengambil spidol dan menulis di papan tulis.

Ada lima hal yang menurutnya perlu disiapkan:

1. Bahan baku: dari mana bekatul diperoleh, berapa jumlahnya, dan bagaimana mutunya.

2. Penelitian: apa kandungan gizinya, bagaimana kestabilannya, dan bagaimana memastikan keamanannya.

3. Pengolahan: produk apa yang layak dikembangkan dan bagaimana proses produksinya.

4. Pasar: siapa calon konsumennya, berapa biaya produksinya, dan apakah produk diterima masyarakat.

5. Kelembagaan: siapa yang mengelola, siapa yang menanggung biaya, dan bagaimana manfaat ekonominya dibagikan.

Pak Kepala Desa memperhatikan papan tulis.

“Jak, ini rapat desa atau kuliah pascasarjana?”

Ojak tersenyum.

“Rapat desa, Pak. Bedanya, kali ini kita mencoba supaya rapatnya menghasilkan pekerjaan.”

3. Tim Kementerian Tiba

Beberapa hari kemudian, sebuah mobil memasuki Desa Mandalaherang.

Tidak ada iring-iringan panjang. Tidak ada karpet merah. Hanya beberapa orang yang membawa tas, laptop, dan dokumen.

Ojak sudah menunggu di dekat penggilingan padi bersama Mang Udin, Bi Iroh, Pak Darsa, dan beberapa warga.

Seorang anggota tim memperkenalkan diri.

“Selamat pagi, Pak Ojak. Kami datang untuk melihat potensi bekatul dan mendengar gagasan masyarakat.”

Ojak menjabat tangannya.

“Selamat datang di Tarigu, Pak. Di sini kami tidak punya gedung tinggi. Tetapi kami punya sawah, penggilingan padi, dapur, dan banyak pertanyaan.”

Seorang anggota tim tersenyum.

“Pertanyaan apa yang paling penting?”

Ojak menunjuk tumpukan bekatul di dekat penggilingan.

“Apakah bahan yang selama ini dianggap kurang bernilai ini dapat dikembangkan menjadi pangan yang aman, bergizi, terjangkau, dan memberi manfaat ekonomi bagi petani?”

Tim kementerian mulai mencatat.

Mang Udin segera mengambil segenggam bekatul dan memperlihatkannya.

“Nah, ini barangnya. Kalau perlu, saya bisa sediakan banyak.”

Ojak langsung menoleh.

“Sebentar, Din. Jangan langsung bicara banyak. Kita belum tahu berapa yang dibutuhkan dan untuk penelitian apa.”

Mang Udin menurunkan tangannya.

“Benar juga. Saya hampir menjual seluruh masa depan sebelum ditimbang.”

Seorang peneliti tertawa.

“Pak Mang, kami justru perlu mengetahui variasi bahan baku dan kondisi pengolahannya. Tidak semua sampel pasti memiliki karakteristik yang sama.”

Mang Udin mengangguk.

“Jadi, bekatul dari penggilingan saya belum tentu sama dengan bekatul dari penggilingan sebelah?”

“Betul. Kita perlu memeriksanya.”

Ojak tersenyum kepada Mang Udin.

“Nah, sekarang kamu mulai menjadi ilmuwan.”

Mang Udin menjawab cepat.

“Kalau begitu, honor penelitiannya dibicarakan belakangan, ya, Jak?”

Semua tertawa.

4. Bekatul Tidak Bisa Hanya Dipercaya

Tim kemudian memeriksa tempat penyimpanan bekatul.

Seorang ahli menjelaskan bahwa bekatul mengandung komponen gizi yang menarik untuk diteliti, tetapi juga memiliki tantangan teknis. Kandungan lemaknya dapat membuat bahan lebih mudah mengalami ketengikan apabila penanganannya tidak tepat.

Kondisi penyimpanan, kadar air, kebersihan, kemungkinan kontaminasi, serta proses stabilisasi perlu diperhatikan.

Ojak mendengarkan dengan serius.

“Jadi, Pak, bekatul yang baru keluar dari penggilingan tidak boleh langsung dianggap siap menjadi bahan pangan?”

“Betul. Kita perlu memastikan mutu dan keamanannya terlebih dahulu.”

Bi Iroh ikut bertanya.

“Kalau saya membuat kue dari bekatul, apakah otomatis menjadi kue sehat?”

Ahli itu tersenyum.

“Belum tentu. Kita harus melihat komposisi seluruh bahan, proses pengolahan, ukuran porsi, serta kandungan gizi produk akhirnya. Klaim kesehatan juga tidak boleh dibuat tanpa bukti yang memadai.”

Bi Iroh mengangguk.

“Berarti kalau kue saya gosong, tidak bisa saya katakan bahwa itu kue tinggi antioksidan?”

Ruangan langsung dipenuhi tawa.

Ojak menepuk meja.

“Nah, inilah pentingnya ilmu pengetahuan. Jangan sampai kegagalan memasak diberi nama inovasi.”

Bi Iroh tertawa paling keras.

Setelah itu, pembicaraan menjadi lebih terarah. Tim menjelaskan perlunya pengambilan sampel yang mewakili, pengujian laboratorium, percobaan pengolahan, serta evaluasi produk sebelum dipasarkan dengan klaim tertentu.

Ojak merasa senang. Bukan karena semua orang menyetujui pendapatnya, melainkan karena pembicaraan mulai bergerak dari keyakinan menuju pembuktian.

5. Pertanyaan Petani yang Membuat Ruangan Hening

Setelah melihat penggilingan, rombongan berkumpul di balai desa.

Seorang peneliti mempresentasikan peluang pengembangan bekatul menjadi berbagai produk pangan. Ia juga menjelaskan bahwa keberhasilan suatu produk tidak hanya ditentukan oleh kandungan gizinya, tetapi oleh keamanan, harga, rasa, kemudahan penggunaan, dan permintaan pasar.

Pak Darsa, yang sejak tadi diam, akhirnya mengangkat tangan.

“Saya mau bertanya.”

“Silakan, Pak.”

“Kalau nanti bekatul kami ternyata bagus, siapa yang menikmati hasilnya?”

Peneliti itu terdiam sejenak.

Pak Darsa melanjutkan.

“Kalau bekatul sekarang harganya rendah, lalu setelah diteliti menjadi bahan pangan yang bernilai tinggi, apakah petani dan penggilingan juga mendapat manfaat? Atau kami tetap menjual murah, sementara keuntungan besarnya dinikmati perusahaan yang membeli?”

Suasana menjadi hening.

Pertanyaan itu tidak terdapat dalam tabel kandungan gizi. Tidak pula mudah dijawab dengan grafik.

Ojak memandang Pak Darsa dengan bangga.

“Pak, pertanyaan Bapak sama pentingnya dengan pertanyaan tentang kandungan gizi.”

Ia lalu menjelaskan gagasannya.

“Kalau pengembangan bekatul hanya menghasilkan produk baru, tetapi petani tetap menjadi pemasok bahan murah, kita baru menyelesaikan sebagian persoalan. Kita juga perlu memikirkan pengolahan di tingkat lokal, kepemilikan usaha, akses pasar, dan pembagian nilai tambah.”

Seorang anggota tim mengangguk.

“Artinya, sejak awal kita perlu memasukkan aspek ekonomi dan kelembagaan ke dalam rancangan pengembangan.”

“Betul,” jawab Ojak. “Jangan sampai kita meneliti bekatul selama bertahun-tahun, tetapi lupa meneliti nasib orang yang menghasilkan bekatul.”

Pak Darsa tersenyum.

“Nah, itu baru bahasa yang saya mengerti.”

6. Bekatul dan Koperasi

Pada sesi berikutnya, Ojak mengusulkan agar warga tidak mengembangkan bekatul secara sendiri-sendiri.

Ia membayangkan sebuah koperasi yang menghubungkan petani, penggilingan padi, pelaku usaha pangan, perguruan tinggi, dan calon pembeli.

“Koperasi bisa membantu mengonsolidasikan bahan baku, menetapkan standar mutu, mengatur pencatatan produksi, serta membangun posisi tawar anggotanya,” kata Ojak.

Seorang anggota tim bertanya.

“Apakah koperasi sudah memiliki fasilitas pengolahan?”

“Belum.”

“Apakah sudah ada kepastian pembeli?”

“Belum.”

“Apakah sudah ada hasil pengujian laboratorium?”

“Belum.”

Anggota tim itu tersenyum.

“Kalau begitu, kita masih harus bekerja cukup banyak.”

Ojak mengangguk.

“Benar, Pak. Saya lebih suka mengakui tiga kata ‘belum’ daripada mengumumkan sepuluh kata ‘sudah’ yang tidak sesuai kenyataan.”

Mang Udin menyela.

“Kalau begitu, saya juga mau jujur. Saya belum membayar iuran koperasi bulan ini.”

Kepala desa memandangnya.

“Din, itu urusan lain!”

Mang Udin mengangkat kedua tangan.

“Saya hanya sedang membiasakan diri berkata jujur, Pak.”

Gelak tawa kembali terdengar.

Namun, gagasan koperasi tetap dibahas secara serius. Tim menyarankan agar masyarakat terlebih dahulu memetakan pasokan bahan baku, kebutuhan teknologi, kapasitas pengelola, dan calon pasar.

Ojak setuju. Baginya, koperasi bukan sekadar nama organisasi. Koperasi harus menjadi cara masyarakat membangun kemampuan bersama agar tidak selalu bergantung pada pihak luar.

Ia menulis satu kalimat di papan tulis:

Bahan baku dari desa, ilmu pengetahuan dari kerja sama, nilai tambah untuk masyarakat.

7. Pertanyaan tentang Stunting

Menjelang siang, pembicaraan beralih pada stunting.

Seorang anggota tim menjelaskan bahwa stunting merupakan persoalan kompleks yang berkaitan dengan asupan gizi, kesehatan ibu dan anak, infeksi, sanitasi, pola pengasuhan, serta kondisi sosial ekonomi.

Ojak mengangguk.

“Karena itu, saya tidak pernah mengatakan bahwa bekatul sendirian dapat mengatasi stunting.”

“Bagus, Pak. Itu penting.”

“Yang saya tanyakan adalah apakah bekatul, setelah melalui penelitian dan pengolahan yang sesuai, dapat menjadi salah satu bahan pangan yang membantu memperluas pilihan pangan bergizi dan terjangkau.”

“Pertanyaan itu layak diteliti,” jawab anggota tim.

Bi Iroh mengangkat tangan.

“Kalau begitu, apakah nanti kami bisa membuat makanan tambahan dari bekatul untuk anak-anak?”

Ahli gizi menjawab dengan hati-hati.

“Bisa menjadi objek penelitian dan pengembangan, tetapi formulasi, keamanan, kandungan gizi, kesesuaian untuk kelompok usia, dan manfaatnya harus diuji terlebih dahulu. Pemberian makanan kepada anak juga perlu mengikuti pedoman gizi dan kesehatan yang berlaku.”

Bi Iroh mengangguk.

“Baik. Saya tidak akan langsung membagikan kue percobaan kepada anak-anak.”

Ojak menoleh.

“Terima kasih, Bi. Anak-anak bukan panel uji coba yang boleh kita gunakan sembarangan.”

Bi Iroh menjawab.

“Tenang, Jak. Kue percobaan pertama akan saya berikan kepada suami saya.”

Semua tertawa.

Suaminya yang duduk di belakang langsung mengangkat tangan.

“Mohon keberatan dicatat dalam notulen!”

8. Lima Kesepakatan Awal

Setelah berdiskusi cukup lama, tim kementerian dan warga menyusun lima kesepakatan awal.

Pertama, masyarakat akan memetakan sumber bekatul, jumlah yang tersedia, variasi mutu, serta praktik penyimpanan di penggilingan padi.

Kedua, perguruan tinggi atau laboratorium yang kompeten akan dijajaki untuk melakukan pengujian komposisi gizi, keamanan, dan karakteristik bahan.

Ketiga, pengembangan produk akan dilakukan melalui percobaan terukur, termasuk evaluasi kestabilan, mutu, rasa, dan penerimaan konsumen.

Keempat, masyarakat akan menyusun gambaran usaha yang mencakup biaya pengolahan, kebutuhan teknologi, calon pasar, serta potensi nilai tambah bagi petani dan penggilingan.

Kelima, kemungkinan pembentukan atau penguatan koperasi akan dikaji sebagai wadah pengelolaan usaha bersama.

Ojak membaca kembali daftar tersebut.

“Bagus. Sekarang kita perlu menentukan siapa melakukan apa, kapan dilakukan, berapa biayanya, dan bagaimana hasilnya dievaluasi.”

Seorang pejabat mengangguk.

“Benar, Pak. Kesepakatan ini perlu ditindaklanjuti dengan rencana kerja dan penanggung jawab yang jelas.”

Ojak tersenyum.

“Kalau tidak ada penanggung jawab, nanti tanggung jawabnya menjadi milik semua orang. Akhirnya, tidak ada seorang pun yang merasa harus mengerjakannya.”

Pejabat itu tertawa kecil.

“Pak Ojak rupanya sudah berpengalaman dengan rapat.”

“Banyak pengalaman, Pak. Saya hanya belum menemukan cara mengubah notulen menjadi nasi.”

Kali ini, bahkan kepala desa ikut tertawa.

Namun, semua orang memahami pesan di balik lelucon tersebut. Rapat bukanlah hasil akhir. Rapat hanyalah awal dari pekerjaan yang harus dilaksanakan.

9. Ketika Tim Pulang

Sore harinya, mobil kementerian meninggalkan Tarigu.

Warga melambaikan tangan.

Mang Udin berdiri di samping Ojak.

“Jak, menurut kamu, apakah bekatul kita akan terkenal?”

Ojak menjawab, “Belum tahu.”

“Apakah akan ada pabrik?”

“Belum tahu.”

“Apakah kita akan menjadi kaya?”

Ojak tertawa.

“Kalau saya menjawab sudah, kamu pasti langsung membeli sepeda motor baru.”

Mang Udin tersenyum malu.

“Memang saya sedang mengincar satu.”

Ojak menepuk bahunya.

“Din, jangan menjual masa depan sebelum masa depan itu datang. Kita sudah sepakat bahwa bekatul harus diteliti. Sekarang tugas kita memastikan pekerjaan itu berjalan.”

Pak Darsa yang mendengar percakapan mereka ikut bergabung.

“Kalau begitu, apa yang kita kerjakan besok?”

Ojak membuka buku catatannya.

“Besok kita mulai mencatat berapa bekatul yang dihasilkan, bagaimana kualitasnya, bagaimana cara menyimpannya, dan siapa saja yang terlibat. Kita juga mulai mencari mitra penelitian.”

Pak Darsa mengangguk.

“Pekerjaan seperti itu kelihatannya sederhana.”

“Memang sederhana,” jawab Ojak. “Tetapi tanpa data, kita hanya membawa cerita. Dengan data yang baik, kita punya dasar untuk mengambil keputusan.”

Mang Udin menatap penggilingannya.

“Jadi, penggilingan saya sekarang bukan hanya tempat menggiling padi?”

Ojak tersenyum.

“Bisa juga menjadi tempat kita belajar memahami ekonomi pangan.”

Mang Udin menggeleng.

“Wah, nanti kalau ada tamu datang, saya harus mengganti papan nama.”

“Memangnya mau diganti menjadi apa?”

Mang Udin menjawab dengan bangga.

PUSAT STUDI BEKATUL DAN PENGGILINGAN PADI MANG UDIN.

Ojak tertawa terbahak-bahak.

“Jangan dulu, Din! Kita mulai dari mencatat produksi. Kalau papan nama lebih cepat dibuat daripada penelitiannya, nanti orang mengira kita sudah menjadi universitas.”

10. Surat yang Belum Selesai

Malam itu, Ojak kembali duduk di depan rumah.

Di tangannya ada buku catatan. Di sampingnya ada secangkir kopi dan selembar kertas kosong.

Ia mulai menulis surat kepada tim kementerian.

Bapak dan Ibu yang kami hormati,

Terima kasih telah datang ke Tarigu. Kami senang karena percakapan tentang bekatul tidak berhenti di ruang rapat Jakarta, tetapi telah sampai ke tempat bahan itu dihasilkan.

Kami memahami bahwa potensi bekatul harus diuji melalui penelitian yang baik. Kami juga memahami bahwa tidak semua potensi akan menjadi produk yang berhasil secara ekonomi.

Namun, kami berharap proses penelitian ini tidak berhenti pada pengujian bahan. Kami ingin petani, penggilingan padi, pelaku usaha kecil, perguruan tinggi, dan koperasi terlibat dalam proses belajar dan pengembangan.

Bagi kami, keberhasilan bukan hanya ketika bekatul menjadi produk yang laku dijual. Keberhasilan juga berarti masyarakat memiliki pengetahuan, kemampuan mengolah, akses pasar, dan posisi tawar yang lebih baik.

Ojak berhenti menulis.

Ia memandang ke arah sawah yang gelap.

Lalu ia menambahkan kalimat terakhir:

Jika kelak penelitian menunjukkan bahwa suatu produk bekatul layak dikembangkan, marilah kita pastikan manfaatnya tidak berhenti pada kemasan, merek, dan laporan penjualan. Sebagian manfaatnya harus kembali kepada masyarakat yang telah menyediakan bahan, pengetahuan lokal, dan tenaga untuk membangun usaha tersebut.

Ia membaca surat itu sekali lagi.

Kemudian ia menutup buku catatannya.

“Mak,” panggilnya kepada istrinya, “menurut kamu, surat ini sudah cukup?”

Istrinya yang sedang merapikan dapur menjawab dari dalam rumah.

“Sudah. Sekarang tidur.”

“Belum. Saya masih harus memikirkan langkah berikutnya.”

“Langkah berikutnya apa lagi?”

Ojak tersenyum.

“Bagaimana supaya penelitian tidak berhenti setelah kunjungan.”

Istrinya muncul di pintu.

“Jak, kamu boleh memikirkan masa depan bekatul. Tapi besok pagi kamu tetap harus membeli beras.”

Ojak tertawa.

“Baik, Mak. Ilmu pengetahuan memang harus berpijak di bumi.”

11. Militan Tidak Berarti Tergesa-gesa

Hari-hari berikutnya, Ojak mulai menghubungi beberapa perguruan tinggi. Ia mengajak warga menyusun catatan produksi, mendiskusikan standar mutu, dan memetakan calon mitra.

Tidak semua orang langsung tertarik.

Ada yang menganggapnya terlalu banyak berpikir. Ada yang bertanya kapan uangnya akan datang. Ada pula yang ingin segera mencetak kemasan dan memasang label superfood.

Ojak menolak terburu-buru.

“Jangan menjual klaim sebelum punya bukti,” katanya. “Jangan pula menolak peluang hanya karena belum pernah mencobanya.”

Ia tahu perjalanan ini panjang.

Bekatul tidak otomatis menjadi pangan unggulan. Koperasi tidak otomatis membuat usaha berhasil. Kunjungan kementerian tidak otomatis melahirkan kebijakan.

Semuanya membutuhkan kerja, pembuktian, evaluasi, dan keberanian untuk memperbaiki kesalahan.

Tetapi Ojak tidak kecewa.

Baginya, menjadi militan bukan berarti memaksa dunia menerima pendapatnya. Menjadi militan berarti tetap bekerja, bahkan ketika tepuk tangan telah berhenti dan rombongan pejabat telah pulang.

Ia kembali ke penggilingan Mang Udin.

Di sana, bekatul terus dihasilkan setiap kali padi digiling.

Bagi sebagian orang, ia hanyalah hasil samping.

Bagi Ojak, ia adalah pertanyaan yang belum selesai dijawab.

Apakah sebuah bangsa mampu mengubah potensi yang tersebar di desa menjadi ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesejahteraan yang dinikmati bersama?

Pertanyaan itu jauh lebih besar daripada sebungkus bekatul.

Dan Tarigu baru memulai jawabannya.

CATATAN PENULIS

Cerpen ini merupakan karya fiksi yang menggunakan humor dan satire untuk merefleksikan hubungan antara pengetahuan lokal, penelitian, kebijakan publik, dan kesejahteraan masyarakat. Pengembangan bekatul sebagai pangan memerlukan pengujian ilmiah, jaminan keamanan, dan evaluasi manfaat yang memadai. Tokoh dan peristiwa dalam cerita tidak dimaksudkan sebagai dokumentasi kejadian nyata.

Bersambung ke #8 Seri Cerpen Bekatul.

Komentar