
Oleh : Ali Assegaf
PEZIARAH Karbala’ ini memang menakjubkan, orang dengan biaya tiga puluhan juta – umumnya beli tiket berlibur – mencari udara sejuk, keliling ke mall atau toko-toko sambil membeli sovenir dan berfoto – berbeda dengan peziarah Karbala ini – bahkan untuk dibanding dengan peziarah umroh atau peziarah lainnya – yang tetap menyisihkan waktu untuk wisata, peziarah Karbala tetap berbeda – terutama seminggu menuju 20 shafar ( arbain) Imam Husein As.
Sepanjang jalan dari Najaf menuju Karbala’ yang jaraknya hingga 90 km ini berdesakan manusia berjalan – tiada henti – denga perkiraan dg lebar – 20 meter setiap ruas per meter diperkirakan kepadatan mencapai 15 peziarah, maka arus gerakan ini mencapai kepadatan 20 juta peziarah selama seminggu – kadang mereka masih menerima $ 200 dari Rahbar atau setara $ 4 milyar bagi seluruh peziarah ini.
Rumah-rumah sepanjang jalan yang terbuka bagi peziarah yang istirahat, disediakan karpet, bantal dan toilet yang selalu ada yang siap mencuci toilet – agar peziarah nyaman singgah di rumah rumah yang tidak dipungut biaya ini. Bahkan untuk fase setelah sholat dzuhur dan malam hari, rumah rumah itu menyediakan makan siang dan malam bagi setiap peziarah, yang semua pelayan gembira – bahkan melihat kami seperti imam husein yang datang.
Sepanjang jalan – dari buah, kue, minuman panas hingga minuman dingin – tiada henti selalu berlimpah bagi peziarah, petugas ini – para relawan – yang dijalan sengaja menawarkan makan dan minuman nya untuk bersinggah atau mengambil makanannya. Dari pembersih sepatu, pijit kaki dan pos pengobatan dengan dokter yang siap melayani – pandangan unik ini – jadi semakin memukau – anak anak kecil turut serta membagi air – defable peziarah yang semangat ikut caravan Karbala ini – bahkan mereka ada yang datang bukan dari najaf yang jaraknya 90 km, kadang dari berbagai kota yang lebih jauh dan negri tetangga irak – semua pemandangan ini sudah dapat dikatakan mustahil di organisir oleh siapapun kecuali Alhusein As
Tak semua orang dapat mengeluarkan beaya hingga tiga puluh jutaan untuk berkunjung ke Karbala ini – di beberapa negara – aksis walk arbain ini dijadikan hari keberkahan tanggal peristiwanya, dengan menyebut nama dan bendera al-Husain as dan bendera merah putih tentunya – walau tidak sampai di ujung pusara imam di Karbala – di Indonesia, rasanya jika ada gerakan seperti ini – mungkin di maqam pengikut setia Al-Husain As yang di peringati, semisal Bangil di pusara alm Ust Husein Alhabsy, di Bandung Pusara Kang Jalaludin Rahmat dan Pekalongan Pusara Ust Toha Musawa, di Solo Maqam Ust Segaf Al-Jufri (sebagai sebuah usulan) – atau majlis taklim dan Huseiniah di kota tersebut ini akan mendorong kelahiran tokoh-tokoh seperti beliau menjadi lebih terasa diperlukan kedepan. Setidaknya arbain walk tahun ini sudah dimulai di banyak daerah, dan sebelum nya aksi ini rutin dilakukan oleh Sayed Muhsin Alkaf Randudongkal – yang semoga tahun depan semakin semarah di seluruh Indonesia.
Dahulu saya pernah mengusulkan dari hari al-Quds hingga tiba hari Arbain – setiap kita mustinya menyiapkan langkah evaluasi, dari giat aksi ini sebagai sosialisasi – hingga menyiapkan masyarakat sekitar Huseiniah yang dilewati atau melewati – untuk diterima rumah-rumah masyarakat yang menyediakan sarana makan bagi arbain walk ini – sehingga pesan Imam Khomeini Qds
كل يوم عاشوراء و كل أرض كربلاء
Setiap hari asyura dan setiap tanah Karbala
Dapat menyampaikan pesan Husein As yang kelaparan dan kehausan di Karbala’ – adalah Husein yang menyediakan makan dan minum di masyarakat kita.
Dahulu memang terasa mimpi – namun setelah banyaknya aksi Arbain Walk tahun ini – saya merasa hidup dengan mimpi, di tahun ini saya melihat mimpi itu kini menemukan zamannya. Memang tidak semua tempat layak atau siap untuk Arbain Walk ini – namun itu kembali kepada daerah tersebut bukan dalam instruksi ormas yang cenderung menghilangkan keragaman daerah masing-masing..(***





Komentar