oleh

Mengapa Nagara Sundanesia Tersembunyi Diluar Desain Waktu Gunung Wayang dan Gunung Halimun ?

Oleh: Abah  Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan gegerkalong Bandung dan Tokoh Budaya Sunda)

TIM AHLI Sundanesia sengaja memilih kata frasa pengantar filosofis logis dalam bahasa Sunda : “Mokprok molohok molompong “, atau kini tiba saatnya kepoin seseorang yang ingin menemukan jalan lurus tanpa halangan kearah ” Sarenagara Mokaha Sundanesia ‘ dari Gunung Wayang di Garut sampai ke Gunung Halimun di Sukabumi. Tujuan silogismenya untuk merasional logis konsep desain negara kesejahteraan Sundanesia kuno.

Pekestarian konsep desain tradisional spasial kuno “Pancer Pangawinan” oleh masyarakat adat kesepuhan Ciptagelar, Sukabumi dan ” Panceur Pangawinan Guradog Jasinga “,  Lebak, Banten, adalah dua konsep desain negara kesejahteraan diera kehancuran total kerajaan Pajajaran Raya, pada tahun 1579 Masehi. Karena dikalahkan dalam perang militer gabungan oleh Kerajaan Cirebon Raya dan Kerajaan Demak  Raya.

Raja terakhir Pajajaran Raya, Ragamulya Suryakencana, terpaksa harus merancang sistem gerilya ekonomi kepada panglima-panglima adat dan militernya dari pasukan elit Bareusan Pangawinan harus menyamar dan bergerilya diseluruh pegunungan sepanjang Gunung Wayang, Gunung Gede, Gunung Pangrango, Gunung Salak dan Gunung Halimun. Basis pertahanan ekonomi akhirnya populer sebagai wilayah-wilayah kasepuhan yang tetap dijamin kelestariannya oleh kaum Muhammaden dan kaum warga Dhimmi Budha, Hindu, Jaysme Wiwitan dan Kejawen yang berpihak kepada Kerajaan Cirebon Raya dan Demak Raya.

Sikap dasar kaum Muhammaden dan warga Dhimmi di berbagai Kasepuhan dan Kabuyutan Sundanesia kuno saling melindungi dan tidak saling memusnahkan, berbeda prakteknya secara ekstrim disetiap negara. Konsep pembantaian dan Genocida yang didesain oleh kelompok mistik Kabbalah Global, terus dilakukan terhadap kaum Muhammaden, Nestorian dan warga Dhimmi sejak wafatnya Nabi Muhammad. Dampaknya, kaum Muhammaden di seluruh wilayah Indonesia dan Sundanesia, selalu bersikap toleran dan melindungi kaum Dhimmi yg terrindas.

Diwilayah kasepuhan dan kabuyutan, sudah banyak ahli polimatik suku-suku di wilayah Sundanesia telah memliki konsep-lonsep desain  ” Peta Bintang ” astronomi,  peta navigasi kartografi dan mineralogi. Semuan ahli terlibat menavigasi kehidupan masyarakat dlm desain negara kesejahteraan kuno. Frasa Filosofis ” Ka cai jadi saleuwi kadarat jadi salebak “, jadi prinsip membina kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

Mantan-mantan  panglima militer dan panglima adat pasukan elit Bareusan Pangawinan yang loyal kepada Prabu Ragamulya Suryakencana, hingga saat ini termasuk tokoh-tokoh ya memiliki pengetahuan kuno untuk menavigasi wilayah-wilayah kasepuhan, bekas basis-basis perang gerilya mereka. Konsep mantera mistik 43 pancar pangawinan, masih dipraktekan oleh para dukun, disesuaikan dengan 44 aturan adat dan 4 wewengkon wilayah. Semuanya hingga kini masih menunggu munculnya Nagara Pajajaran Anyar Nusa Jaya diwilayah Nagara Sundanesia. Seperti yang telah dinavigasikan dalam wangsit Prabu Siliwangi. (****

Komentar