oleh

Ketika Dakwah Menjadi Tontonan, Bukan Tuntunan

Oleh: Gus Qusyairi Zaini (Majlis Zikir Tauhid Padepokan Sadar Bumi Alif Kabupaten Sumenep)

Kita saat ini telah hidup di zaman yang lebih banyak oratornya daripada ‘ulama’nya. Ibnu Mas’ud pernah berkata:

 إنكم في زمان كثير علماؤه قليل خطباؤه، وسيأتي بعدكم زمان قليل علماؤه كثير خطباؤه.

“Kalian hidup di zaman yang terdapat banyak ulama-nya namun sedikit penceramah²nya. Dan nanti setelah kalian ini, akan ada zaman yang sedikit ‘ulama’-nya namun lebih banyak para penceramah²nya”

فمن كثر علمه وقل قوله فهو الممدوح، ومن كان بالعكس فهو مذموم.

“Siapa yang lebih banyak ilmunya dan sedikit bicaranya, maka itulah yang terpuji. Dan jika sebaliknya, maka dialah yang tercela…”

Di sepanjang perjalanan menapaki jalan ilmu, saya menyadari bahwa seorang penuntun tidak hanya dibentuk oleh apa yg ia ketahui, tetapi juga oleh bagaimana ia menjaga adab terhadap ilmu itu sendiri. Nasehat-nasehat dari para guru, yg sederhana dalam ungkapan, namun dalam maknanya, menjadi fondasi yg terus mengingatkan saya agar tidak tergelincir dalam euforia kata-kata tanpa makna.

Para guru mengajarkan bahwa berbicara di hadapan publik bukanlah perkara keberanian semata, melainkan tanggung jawab keilmuan. Ceramah tidak boleh lahir dari spontanitas kosong yg sekadar “nyeracau” di atas mimbar. Ia harus didahului dg muthola’ah, proses belajar, membaca, dan merenung, sebagai bentuk kesadaran bahwa diri ini masih dalam tahap MUTA’ALLIM, belum pantas mengaku sebagai ‘ALIM. Kesadaran ini penting, sebab ilmu yg tidak disertai kerendahan hati hanya akan melahirkan kesombongan intelektual yg rapuh.

Niat dalam menyampaikan ilmu pun harus diluruskan. Seorang mubaligh tidak sedang mempertontonkan kepandaian, melainkan menyampaikan amanah; apa yg ia pelajari dari guru, apa yg ia baca, dengar, dan renungkan. Bahkan kisah orang lain, baik keberhasilan maupun kegagalan, dapat menjadi jembatan hikmah, selama disampaikan untuk memperkaya pemahaman hidup, bukan sekadar mengisi ruang kata.

Lebih dari itu, seorang penceramah bukanlah sekadar penghibur yg berupaya menarik simpati audiens dengan kemasan retorika yg memikat. Jika ceramah hanya berhenti pada upaya membuat hadirin tertawa, terkesima, atau terhibur, maka dakwah telah direduksi menjadi sekadar pertunjukan. Pada titik itu, ceramah tidak lagi menjadi tuntunan, melainkan hanya tontonan; kehilangan arah, bahkan kehilangan ruhnya. Dakwah sejatinya bukan tentang bagaimana audiens merasa senang sesaat, tetapi bagaimana mereka pulang dg kesadaran yg bertambah, pemahaman yg lebih jernih, dan hati yg lebih dekat kepada kebenaran.

Karena itu, sebelum memegang mikrofon, seorang penyampai ilmu dituntut untuk mempersiapkan bobot isi, bukan sekadar memperindah diksi. Masyarakat mengundang bukan untuk menyaksikan retorika kosong, melainkan karena kepercayaan bahwa yg disampaikan memiliki nilai keilmuan. Di sinilah integritas diuji, apakah yg keluar dari lisan benar-benar berakar pada ilmu, atau hanya sekadar “bicara” ngalor-ngidul tanpa dasar.

Dalam ranah dalil, kehati-hatian menjadi keharusan. Menisbatkan sesuatu kepada Nabi bukan perkara ringan. Hadits yg lemah apalagi palsu tidak boleh disampaikan sembarangan, kecuali dalam batas-batas tertentu yg telah dijelaskan oleh para ulama, itupun dg kehati-hatian tinggi. Pilihan paling aman adalah merujuk pada hadits sahih atau hasan yg telah melalui proses verifikasi para ahli. Demikian pula dalam berkisah, sumber yg jelas dan kredibel menjadi syarat mutlak agar pesan yg disampaikan tidak kehilangan legitimasi ilmiahnya.

Namun, ilmu saja tidak cukup tanpa adab. Ketika berdiri di podium, seorang mubaligh harus menanggalkan rasa paling tahu. Bisa jadi, diantara para hadirin terdapat orang-orang yang jauh lebih dalam ilmunya, lebih panjang pengalamannya, dan lebih tinggi kualitas spiritualnya. Kesadaran ini menumbuhkan kerendahan hati, sekaligus menjaga lisan dari sikap merendahkan.

Disisi lain, ada ujian yg sering luput disadari, namun justru menjadi salah satu yg paling berat, ketika seorang da’i merasa nyaman berbicara, tetapi enggan untuk mendengarkan. Ia bersemangat memberi ceramah, namun tidak memiliki kerendahan hati untuk duduk sebagai pendengar bagi ceramah orang lain. Padahal, tradisi keilmuan dibangun diatas keseimbangan antara menyampaikan dan menerima. Ketika seseorang kehilangan kesiapan untuk mendengar, sejatinya ia sedang menutup pintu bagi pertumbuhan ilmunya sendiri.

Bahkan lebih halus dari itu, terdapat penyakit hati yang terkadang menyelinap tanpa disadari, seperti rasa enggan menghadiri sebuah majelis apabila dirinya tidak ditunjuk sebagai penceramah, atau merasa tidak dihargai ketika dalam suatu forum bukan dirinya yang dipilih untuk berbicara. Sikap semacam ini, jika dibiarkan, perlahan menggeser orientasi dakwah dari PENGABDIAN menjadi PENGAKUAN. Padahal kehadiran dalam majelis ilmu sejatinya adalah bentuk ketundukan kepada ilmu itu sendiri, bukan kepada posisi atau peran yg diberikan. Seorang penuntut ilmu yg jujur akan tetap datang, tetap duduk, dan tetap mengambil manfaat, sekalipun ia tidak berada diatas mimbar.

Penampilan pun tidak perlu berlebihan. Kesopanan, kerapian, dan kebersihan sudah mencerminkan penghormatan kepada forum. Sebab yang paling utama bukanlah kemewahan tampilan, melainkan kejujuran isi dan ketulusan penyampaian.

Lebih jauh, para guru mengingatkan bahwa setiap kata yg disampaikan akan menjadi ujian bagi yg mengucapkannya. Seorang mubaligh akan diuji pada konsistensi antara ucapan dan perbuatannya. Di sinilah integritas diuji secara nyata, apakah ia mampu mengamalkan apa yang ia sampaikan, atau justru terjebak dalam kontradiksi yang meruntuhkan kredibilitasnya sendiri.

Dalam interaksi sosial, etika juga harus dijaga. Mengkritik seseorang secara terbuka di hadapan umum bukanlah bentuk keberanian, melainkan tindakan yg berpotensi mempermalukan. Demikian pula dalam menyikapi kekurangan panitia atau kondisi yg kurang berkenan, sikap lapang dada dan kepala dingin jauh lebih mencerminkan kedewasaan daripada meluapkan emosi di depan khalayak.

Humor, yang sering digunakan sebagai penyegar suasana, pun memiliki batas. Candaan yg merendahkan martabat orang lain, terlebih menyentuh hal-hal sensitif seperti status sosial, tidak hanya tidak etis, tetapi juga mencederai nilai dakwah itu sendiri. Sebab dakwah sejatinya mengangkat derajat manusia, bukan menjadikannya bahan ejekan.

Seorang mubaligh sejatinya menjalankan fungsi tabligh, yakni menyampaikan kebenaran secara tepat dan kontekstual. Materi yang disampaikan harus relevan, terarah, dan bermanfaat. Jika yang tertinggal dalam ingatan audiens hanyalah hal-hal yg tidak bernilai, maka fungsi dakwah itu telah gagal dijalankan.

Selain itu, keikhlasan diuji dalam hal yg sering dianggap sepele: undangan. Tidak sepatutnya membeda-bedakan antara yg kaya dan miskin, antara forum besar dan kecil. Selama ada kepercayaan, di situlah amanah berada. Bahkan, prinsip untuk tidak mematok tarif menjadi pengingat bahwa dakwah bukan transaksi, melainkan pengabdian. Rezeki bukanlah hasil dari tawar-menawar manusia, melainkan karunia Tuhan yg tidak pernah tidur.

Pada akhirnya, semua nasehat ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cermin perjalanan yang harus terus dijaga. Saya bersyukur pernah mendengar, menerima, dan berusaha mengamalkannya, baik saat bertemu langsung dengan para guru, maupun melalui percakapan sederhana via telepon dan pesan singkat.

Menjadi santri mereka adalah kebanggaan yg tak tergantikan. Dari merekalah saya belajar bahwa ilmu tanpa adab adalah kehilangan arah, dan dakwah tanpa kejujuran adalah kehilangan ruh.

Semoga para guru senantiasa diberi kesehatan dan keberkahan, karena dari merekalah cahaya itu terus menyala.(****

Komentar