Oleh: Agus Pakpahan (Ekonom Kelembagaan/ Rektor Universitas Koperasi Indonesia)
Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi,Edisi 24 Agustus 2026
I. Pendahuluan: Menemukan Kembali Kekayaan yang Terlupakan
Di tepi Waduk Saguling, seorang sarjana matematika lulusan Universitas Padjadjaran bernama Indra Darmawan menggenggam sehelai eceng gondok. Tanaman yang oleh banyak orang dianggap sebagai gulma perusak—penyebab matinya ikan, tersumbatnya aliran sungai, dan terhambatnya pembangkit listrik—di tangannya menjadi sebuah pertanyaan: “Mengapa kita tidak mengubah masalah ini menjadi berkah?”
Pertanyaan itu, yang diajukan pada tahun 2009, adalah cerminan dari sebuah kegelisahan yang lebih besar. Selama lebih dari seribu tahun, kepulauan Indonesia berada di jantung sirkulasi ekonomi dunia—dari era rempah-rempah yang nilainya setara emas di Eropa, hingga era kelapa sawit sebagai penopang pangan dan energi global. Namun, pola manfaat ekonominya menunjukkan paradoks yang berulang: penguasaan produksi tidak berbanding lurus dengan penguasaan nilainya. Indonesia berulang kali berada di sisi yang sama dalam struktur dunia, meskipun wajah komoditasnya berubah. Kita sebagai produsen terbesar dunia tetapi eksistensi dan posisi kita tetap berada di pinggiran: tetap sebagai penghasil bahan baku.
Menurut Pakpahan (2026a), krisis keberlanjutan lingkungan kelapa sawit membuka critical juncture untuk memutus perangkap historis tersebut dan melakukan reposisi struktural pada era bioekonomi dan digital dalam gelombang Kondratieff VI. Di sinilah eceng gondok—Pontederia crassipes—memasuki panggung sejarah. Tanaman yang pertama kali ditemukan dan dideskripsikan pada tahun 1824 oleh Carl Friedrich Philipp von Martius di Sungai Amazon ini kini menjadi simbol dari sebuah kemungkinan baru: bahwa bangsa tropika tidak harus menjadi periphery supplier selamanya, bahwa dari gulma yang merusak dapat lahir ekonomi yang memberdayakan.
II. Eceng Gondok: Dari Gulma Menjadi Berkah
A. Identitas Botani dan Ekologi
Eceng gondok (Pontederia crassipes, sinonim: Eichhornia crassipes) adalah tumbuhan air mengapung dari famili Pontederiaceae yang berasal dari Amerika Selatan (Wikipedia, n.d.). Di Indonesia, eceng gondok dikenal dengan berbagai nama: Kelipuk di Palembang, Ringgak di Lampung, Ilung-ilung di Dayak, dan Tumpe di Manado. Kehadirannya yang masif di perairan Indonesia—terutama di Sungai Citarum, Waduk Saguling, dan Danau Rawa Pening—telah menjadi masalah lingkungan yang kronis.
Eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh yang sangat tinggi. Dalam kondisi ideal, populasinya dapat berlipat ganda dalam hitungan hari, sehingga dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan (Wikipedia, n.d.). Menurut data yang dihimpun dari berbagai sumber, di Waduk Saguling, eceng gondok menutupi hampir 75 hektare perairan (Alexander, 2024).
B. Potensi Bioekonomi Eceng Gondok
Eceng gondok memiliki kandungan nitrogen, fosfor, dan kalium yang cukup tinggi, serta kandungan protein hingga 12 persen, sehingga sangat baik dimanfaatkan sebagai bahan baku kompos, pakan ternak, dan berbagai produk bernilai tambah. Tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk bioenergi, pupuk organik, kerajinan tangan, perabotan, dan bahkan sebagai media pertumbuhan bagi jamur merang (Yudistira, 2016).
Produktivitas biomassa eceng gondok sangat tinggi. Di Kebun Raya Bogor tercatat 106,5 ton per hektare per tahun, di Rawa Pening mencapai 225 ton per hektare per tahun, dan di Curug Jatiluhur mencapai 264,3 ton per hektare per tahun (Antara Jateng, 2023). Secara umum, biomassa eceng gondok dapat mencapai 200–300 ton per hektare per tahun (Antara Jateng, 2023).
Menurut Gandapurnama (2015), dalam skala global, eceng gondok kini diakui sebagai sumber biomassa yang berharga untuk energi, pertanian, remediasi lingkungan, dan aplikasi industri. Di Indonesia, inovasi telah berkembang: eceng gondok diolah menjadi media tanam jamur merang, pengharum ruangan, pupuk organik, pakan ternak, pakan ikan, dan biogas.
III. Gelombang Kondratieff VI: Era Bioekonomi dan Kebangkitan Tropika
A. Memahami Gelombang Kondratieff
Nikolai Dmitriyevich Kondratieff, ekonom pertanian Rusia awal abad ke-20, mengemukakan teori tentang siklus ekonomi jangka panjang yang berlangsung 40 hingga 60 tahun, didorong oleh inovasi teknologi besar (Kondratieff, 1935). Para ekonom telah mengidentifikasi enam gelombang sejak abad ke-18. Gelombang VI (2010–2050) ditandai dengan perkembangan bioekonomi, nanoteknologi, bioteknologi, dan kecerdasan buatan.
Menurut Nefiodow dan Nefiodow (2014), gelombang keenam telah dimulai dan akan didorong oleh pasar kesehatan holistik serta bioteknologi. Bagi bangsa-bangsa tropika seperti Indonesia, ini adalah peluang emas. Selama lima gelombang pertama, bangsa-bangsa tropika hampir tidak pernah menjadi pemain utama (Pakpahan, 2026b). Mereka menjadi penonton, konsumen, atau paling banter, penyedia bahan mentah bagi lompatan-lompatan yang terjadi di kawasan temperate.
Namun, Gelombang VI bisa mengubah segalanya. Sebagaimana dijelaskan oleh Pakpahan (2025), bioekonomi, ekonomi hijau, kesehatan holistik—semua domain ini justru bersumber dari apa yang selama ini dimiliki oleh bangsa tropika: keanekaragaman hayati dan keanekaragaman budaya.
B. Bioekonomi sebagai Landasan Transformasi Nasional
Pemerintah Indonesia telah menempatkan bioekonomi sebagai pilar utama transformasi ekonomi nasional. Selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045, pengembangan bioekonomi nasional dipersiapkan sebagai landasan transformasi ekonomi yang adaptif dan fokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan sumber daya hayati yang berkelanjutan dan bernilai tambah (Bappenas, 2025).
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menekankan bahwa bioekonomi dan perlindungan ekosistem saling memperkuat—keanekaragaman hayati harus dilindungi, kawasan konservasi dijaga, dan restorasi ekosistem harus diimplementasikan (Bappenas, 2025). Sebagai langkah strategis, pemerintah akan menyusun Strategi Nasional Bioekonomi Indonesia pada tahun 2026.
Di sinilah eceng gondok menjadi relevan. Ia adalah bagian dari keanekaragaman hayati tropika yang selama ini diabaikan. Mengolahnya menjadi produk bernilai tambah adalah wujud nyata dari bioekonomi yang berkelanjutan.
IV. Tropikanisasi-Kooperatisasi: Membalik Arus Sejarah
A. Konsep Tropikanisasi-Kooperatisasi
Di tengah kegelisahan atas posisi Indonesia sebagai periphery supplier, konsep Tropikanisasi-Kooperatisasi diperkenalkan (Pakpahan, 2025). Menurut Pakpahan (2026c), ini adalah peralihan dari sistem ekonomi ekstraktif ke ekonomi tropis berbasis koperasi. Dalam model ini, koperasi menjadi pemilik agregat produksi, menggantikan struktur warisan kolonial sebagai basis akses modal, sekaligus membuka integrasi berbagai sektor ekonomi di tingkat desa.
Tropikanisasi berarti membumikan ilmu ekonomi pada realitas tropika—mengakui bahwa kekayaan Indonesia terletak pada keanekaragaman hayati dan budayanya, bukan pada kemampuan meniru model ekonomi temperate (Pakpahan, 2025). Kooperatisasi berarti melembagakan ekonomi melalui koperasi—bukan sekadar sebagai badan usaha, tetapi sebagai gerakan sosial yang mengembalikan kedaulatan ekonomi kepada rakyat (Pakpahan, 2026c).
Konsep ini adalah respons langsung terhadap stagnasi dan kegagalan paradigma pembangunan yang selama ini didominasi oleh logika ekstraktif kolonial. Menurut Pakpahan (2026a), persoalan Indonesia bukan keterbatasan sumber daya, melainkan ketiadaan paradigma pembangunan yang lahir dari realitas bioekonomi tropis.
B. Eceng Gondok dalam Kerangka Tropikanisasi-Kooperatisasi
Eceng gondok adalah komoditas tropis par excellence. Ia tumbuh melimpah di perairan tropika—Sungai Citarum, Waduk Saguling, Danau Rawa Pening—tanpa perlu dibudidayakan. Ia adalah bagian dari ekosistem tropika yang selama ini dianggap sebagai “masalah” karena tidak sesuai dengan logika ekonomi ekstraktif yang hanya mengakui komoditas yang dapat diekspor dalam jumlah besar.
Dalam kerangka Tropikanisasi-Kooperatisasi, eceng gondok menjadi simbol dari pembalikan nilai: apa yang dianggap sebagai gulma, sebagai limbah, sebagai beban, justru menjadi sumber kekayaan baru. Ini adalah pergeseran paradigma dari ekstraksi ke sirkularitas, dari ketergantungan ke kemandirian.
Koperasi Bangkit Bersama adalah contoh nyata dari kooperatisasi dalam pengelolaan eceng gondok. Menurut Susanti (2021), dari 29 orang pendiri dengan modal Rp 200.000 pada 2009, kini KBB memiliki ribuan anggota dengan aset yang terus berkembang. Ini adalah bukti bahwa koperasi dapat menjadi instrumen transformasi ekonomi ketika ia berakar pada realitas lokal dan nilai-nilai kebersamaan.
V. Eceng Gondok dan Ekonomi Sirkular di Citarum
A. Masalah yang Menjadi Peluang
Sungai Citarum, dengan luas DAS sekitar 6.600 km², adalah salah satu sungai terpenting di Jawa Barat. Namun, pencemaran yang parah telah menyebabkan ledakan eceng gondok yang mengancam ekosistem dan operasional PLTA Saguling (Tim Redaksi, 2024a).
Menurut Alexander (2024), di Waduk Saguling, eceng gondok menutupi hampir 75 hektare perairan. Volume sampah yang masuk ke DAS Citarum mencapai ribuan ton per hari, dengan sekitar 4.000 ton per hari diperkirakan berakhir di aliran sungai. Sampah ini didominasi sampah plastik rumah tangga, diikuti limbah kain, furniture bekas, dan gulma eceng gondok (Tim Redaksi, 2024b).
Namun, di balik masalah ini, terdapat peluang ekonomi yang sangat besar. Sebagaimana dilaporkan oleh Tim Redaksi (2024a), Koperasi Bangkit Bersama, yang didirikan Indra Darmawan pada 2009, menjemput sampah hasil tangkapan dan mengolah eceng gondok menjadi kerajinan tempat tisu hingga tas. Langkah ini sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat sekitar waduk.
B. Peran Koperasi Bangkit Bersama
Indra Darmawan, pendiri Koperasi Bangkit Bersama, telah membuktikan bahwa eceng gondok dapat diubah menjadi sumber penghidupan bagi ribuan orang. Menurut Susanti (2021), ia mulai memungut sampah dan eceng gondok di bantaran Sungai Citarum sejak 2008. Pada tahun 2009, ia mendirikan Koperasi Bangkit Bersama yang menaungi seratusan anggota. Pada tahun 2014, koperasi berkembang menjadi Yayasan Bening Saguling (Yudistira, 2016).
KBB telah mengembangkan ekosistem ekonomi berbasis eceng gondok yang terintegrasi:
1. Pengolahan eceng gondok menjadi kerajinan tangan — tas, anyaman, kaligrafi, dan produk dekoratif yang dipasarkan hingga ke luar negeri (Gandapurnama, 2015)
2. Pengolahan sampah organik melalui program UNIK (Urus Sampah Organik)
3. Bank Sampah Induk — sistem pengelolaan sampah terpadu yang telah menciptakan 27 bank sampah unit dan 33 unit mesin (Alexander, 2024)
4. Yayasan Bening Saguling — payung program sosial, pendidikan, dan kesehatan
Menurut Gandapurnama (2015), omzet kerajinan eceng gondok yang dijual oleh Koperasi Bangkit Bersama mampu menembus Rp 5 juta hingga Rp 8 juta per bulan. Indra kini rutin membeli eceng gondok dari anggota koperasi senilai Rp 500 ribu yang berbobot tiga kuintal (Tim Redaksi, 2024b).
Investasi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar Rp 499.820.000 untuk Program Pengolahan Sampah Bening Saguling pada tahun 2023 menjadi bukti pengakuan atas model ini (Alexander, 2024). Berdasarkan pengukuran Social Return on Investment (SROI), program ini tercatat menghasilkan nilai sebesar 9,42—artinya dari setiap Rp 1 yang diinvestasikan perusahaan berhasil memberikan social value sebesar Rp 9,42 (Alexander, 2024).
Model ini adalah perwujudan nyata dari ekonomi sirkular: limbah menjadi sumber daya, masalah lingkungan menjadi peluang ekonomi, dan kemiskinan menjadi pemberdayaan.
VI. Proyeksi: Eceng Gondok sebagai Pengungkit Lompatan Kuantum
A. Potensi Ekonomi Eceng Gondok di Citarum
Berdasarkan perhitungan kapasitas lestari, dengan luas panen 75–94 hektare dan produktivitas 200 ton per hektare per tahun (Antara Jateng, 2023), potensi panen eceng gondok di Citarum mencapai 15.000–18.800 ton per tahun atau 41–51,5 ton per hari. Dengan pengolahan yang optimal, ini dapat mendukung hingga 3.000 perajin aktif, menciptakan pendapatan tahunan yang signifikan, dan potensi aset hingga puluhan miliar rupiah dalam 10 tahun.
Menurut Pakpahan (2026a), angka-angka ini menunjukkan bahwa dengan pengelolaan yang optimal, eceng gondok di Citarum bukan hanya masalah lingkungan, tetapi peluang ekonomi bernilai besar yang dapat memberdayakan ribuan keluarga dan menciptakan ekosistem ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
B. Eceng Gondok dalam Gelombang Kondratieff VI
Dalam kerangka Gelombang Kondratieff VI, eceng gondok bukan sekadar komoditas lokal. Ia adalah bagian dari bioekonomi global—sumber biomassa terbarukan yang dapat menggantikan bahan bakar fosil, bahan baku industri yang tidak merusak lingkungan, dan solusi untuk masalah lingkungan yang mendesak (Nefiodow & Nefiodow, 2014).
Indonesia, dengan kekayaan eceng gondok yang melimpah, memiliki peluang untuk tidak lagi menjadi periphery supplier tetapi menjadi pemain utama dalam bioekonomi global (Pakpahan, 2026b). Eceng gondok dapat menjadi komoditas strategis yang tidak hanya membersihkan sungai tetapi juga memberdayakan jutaan orang, menciptakan lapangan kerja hijau, dan mengurangi emisi karbon.
Seperti yang ditegaskan oleh Bappenas (2025), bioekonomi bukan hanya transformasi ekonomi, tetapi juga transformasi sosial. Masyarakat diharapkan dapat berperan sebagai produsen berbasis komunitas, mitra industri, sekaligus penjaga ekosistem. Koperasi, sebagai agregator, dapat menjadi jembatan transfer teknologi dan inovasi kepada pelaku usaha di tingkat tapak.
VII. Kesimpulan: Dari Gulma Menjadi Gerakan
Eceng gondok—Pontederia crassipes—adalah lebih dari sekadar tumbuhan air. Ia adalah cermin dari sebuah peradaban. Jika kita melihatnya sebagai gulma, kita adalah bagian dari masalah. Jika kita melihatnya sebagai berkah, kita adalah bagian dari solusi.
Koperasi Bangkit Bersama telah membuktikan bahwa eceng gondok dapat menjadi penggerak transformasi sosial-ekonomi. Dari 29 orang dengan modal Rp 200.000, kini ribuan orang bergantung pada ekosistem ekonomi yang dibangun di atas eceng gondok (Susanti, 2021). Ini adalah bukti bahwa kooperatisasi—pengelolaan ekonomi melalui koperasi—adalah jalan yang tepat untuk membangun kemandirian ekonomi rakyat (Pakpahan, 2026c).
Dan dalam kerangka yang lebih luas, eceng gondok adalah bagian dari Tropikanisasi—pembumian ekonomi pada realitas tropika. Sebagaimana dijelaskan oleh Pakpahan (2025), Indonesia tidak perlu meniru model ekonomi temperate. Indonesia memiliki kekayaan sendiri: keanekaragaman hayati, budaya gotong royong, dan semangat kebersamaan. Eceng gondok adalah salah satu manifestasi dari kekayaan itu.
Di era Gelombang Kondratieff VI, ketika bioekonomi menjadi penggerak utama peradaban (Nefiodow & Nefiodow, 2014), eceng gondok dapat menjadi salah satu komoditas strategis yang mengangkat Indonesia dari posisi periphery supplier menuju pusat ekonomi global (Pakpahan, 2026b). Bukan lagi sebagai pemasok bahan mentah, tetapi sebagai pengolah nilai tambah. Bukan lagi sebagai objek eksploitasi, tetapi sebagai subjek transformasi.
Seperti yang dikatakan oleh Indra Darmawan, “Saya ingin ‘virus’ inspirasi ini menular ke seluruh masyarakat yang berada di pinggiran sungai. Harapan saya, lahir Indra-Indra lainnya” (Susanti, 2021). Itulah esensi dari Tropikanisasi-Kooperatisasi: membalik arus sejarah, mengubah yang terpinggirkan menjadi yang utama, dan membangun peradaban baru dari akar rumput.
Dari eceng gondok, dari Citarum, dari koperasi, kita memulai lompatan kuantum. Dari gulma menjadi gerakan. Dari masalah menjadi berkah. Dari pinggiran menjadi pusat.
DAFTAR PUSTAKA
- Alexander, H. B. (2024, Februari 24). Hampir Rp 500 Juta, BRI Investasi Pengolahan Sampah Bening Saguling. Kompas.com. https://lestari.kompas.com/read/2024/02/24/110607286/hampir-rp-500-juta-bri-investasi-pengolahan-sampah-bening-saguling
- Antara Jateng. (2023, Oktober 5). Eceng Gondok yang Mengganggu punya Banyak Manfaat. Antara News Jateng. https://jateng.antaranews.com/berita/601876/eceng-gondok-yang-mengganggu-punya-banyak-manfaat
- Bappenas. (2025, Desember 4). Dukung Transformasi Ekonomi, Bappenas Mutakhirkan Konsep Bioekonomi Berkelanjutan di Indonesia. Kementerian PPN/Bappenas. https://bappenas.go.id/id/berita/dukung-transformasi-ekonomi-bappenas-mutakhirkan-konsep-bioekonomi-berkelanjutan-di-indonesia-wCZ1q
- Gandapurnama, B. (2015, Juni 30). Indra Manfaatkan Eceng Gondok di Citarum Menjadi Aneka Produk Kerajinan Tangan. detikFinance. https://finance.detik.com/solusiukm/d-2956412/indra-manfaatkan-eceng-gondok-di-citarum-menjadi-aneka-produk-kerajinan-tangan
- Kondratieff, N. D. (1935). The Long Waves in Economic Life. Review of Economics and Statistics, 17(6), 105-115.
- Nefiodow, L., & Nefiodow, S. (2014). The Sixth Kondratieff: A New Long Wave in the Global Economy. Amazon Publisher.
- Pakpahan, A. (2025, September 23). Arti Tropikanisasi-Kooperatisasi. Majmus Sunda News. https://majmussunda.id/2025/09/23/arti-tropikanisasi-kooperatisasi/
- Pakpahan, A. (2026a, Januari 10). Koperasi-Kondratieff Cicles: Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi (11) Koperasi dalam Gelombang Panjang Kondratieff. Gemari.id. https://gemari.id/gemari/2026/1/10/koperasi-kondratieff-cicles
- Pakpahan, A. (2026b, Januari 27). Dari Raja Rempah ke Raja Sawit: Kontinuitas Posisi Indonesia sebagai Periphery Supplier dalam Gelombang Panjang Kondratieff (900–2024). Tabloid Lintas Pena. https://tabloidlintaspena.com/2026/01/27/dari-raja-rempah-ke-raja-sawit-kontinuitas-posisi-indonesia-sebagai-periphery-supplier-dalam-gelombang-panjang-kondratieff-900-2024/
- Pakpahan, A. (2026c). Tropikanisasi-Kooperatisasi: Membangun Ekonomi yang Mengakar pada Realitas Tropis Indonesia. Gemari.id. https://gemari.id
- Susanti, R. (2021, Januari 8). Kisah Peraih Kalpataru, Sarjana MIPA Ini Pilih Jadi Pemulung hingga Kecewakan Sang Ibu. Tribun Jateng. https://jateng.tribunnews.com/2021/01/08/kisah-peraih-kalpataru-sarjana-mipa-ini-pilih-jadi-pemulung-hingga-kecewakan-sang-ibu
- Tim Redaksi. (2024a, Agustus 7). Olah Sampah Waduk Saguling, Raup Rupiah hingga Lestarikan Alam. Kompas.id. https://www.kompas.id/baca/ekonomi/2024/08/07/olah-sampah-waduk-saguling-raup-rupiah-hingga-lestarikan-alam
- Tim Redaksi. (2024b, Agustus 9). Inovasi Pengelolaan Sampah Waduk Saguling: Menjaga Lingkungan dan Meraup Keuntungan. Kolom Desa. https://kolomdesa.com/ekonomi/inovasi-pengelolaan-sampah-waduk-saguling-menjaga-lingkungan-dan-meraup-keuntungan
- Wikipedia. (n.d.). Eceng gondok. Dalam Wikipedia bahasa Indonesia. https://id.wikipedia.org/wiki/Eceng_gondok
- Yudistira, C. (2016, Agustus 25). Inspirasi Bisnis: Pria Ini Sulap Eceng Gondok Jadi Kerajinan Bernilai Ekonomi. Okezone Economy. https://economy.okezone.com/read/2016/08/24/320/1472381/pria-ini-sulap-eceng-gondok-jadi-kerajinan-bernilai-ekonomi





Komentar