oleh

#3 SERI CERPEN KARHUTLA : ”Paul Dan Pertanyaan Yang Tidak Mau Dijawab Gambut”

Penulis:  Agus Pakpahan

1. MENGAPA GAMBUT?

“Paul,” tanya Pak Lurah suatu sore, “mengapa orang-orang sekarang begitu takut kepada gambut?”

Paul sedang duduk di tepian sungai.

Ia memandang air Kapuas yang bergerak perlahan.

“Bukan gambut yang harus ditakuti,” jawab Paul.

“Lalu?”

“Cara manusia memperlakukan gambut.”

Pak Lurah mengerutkan dahi.

“Bukankah gambut itu tanah?”

Paul tersenyum.

“Ya. Tetapi kalau semua yang disebut tanah dianggap sama, kita akan mengalami masalah.”

Pak Lurah diam.

Paul mengambil sepotong ranting, lalu menggambar sesuatu di tanah.

“Kalau ini tanah mineral,” katanya, “kita bisa membicarakan tanah sebagai media produksi.”

Ia menggambar lagi.

“Kalau ini gambut, kita harus bicara tentang air.”

“Air?”

“Ya. Gambut itu seperti manusia yang sedang haus. Begitu airnya diambil terus-menerus, wataknya berubah.”

Pak Lurah tertawa.

“Jadi gambut bisa punya watak?”

“Manusia saja bisa punya watak. Mengapa gambut tidak?”

2. TANAH YANG TIDAK PERNAH BENAR-BENAR MENJADI TANAH

Paul pernah membaca laporan tentang gambut.

Angka-angkanya panjang.

Luas sekian juta hektare.

Kedalaman sekian meter.

Cadangan karbon sekian gigaton.

Tinggi muka air sekian sentimeter.

Paul membaca semuanya.

Kemudian ia menutup laporan.

“Hebat,” katanya.

“Apa yang hebat?” tanya istrinya.

“Manusia sudah berhasil mengubah gambut menjadi angka.”

“Memangnya salah?”

“Tidak.”

Paul berpikir sebentar.

“Yang salah adalah kalau setelah menjadi angka, kita lupa bahwa ia tetap sebuah ekosistem.”

Ia kembali membuka laporan.

Di sana gambut tampak sangat sederhana.

Ada batas.

Ada warna.

Ada koordinat.

Ada klasifikasi.

Ada fungsi.

Ada izin.

Ada investasi.

Ada target produksi.

Gambut tampak sangat patuh.

Tetapi Paul tahu sesuatu.

Gambut tidak pernah membaca peta.

Ia tidak tahu bahwa di sebelah sana batas perkebunan.

Ia tidak tahu bahwa di sini wilayah administrasi.

Ia tidak tahu bahwa sebelah sana milik perusahaan A dan sebelah sini milik perusahaan B.

Air tidak mengenal sertifikat.

Asap tidak mengenal batas desa.

Api bahkan lebih tidak sopan.

Ia tidak pernah meminta izin kepada camat sebelum menyeberang.

3. PAUL DAN PROFESOR YANG SANGAT PERCAYA PADA GARIS

Suatu hari Paul bertemu seorang profesor yang datang dari Jakarta.

Profesor itu membawa peta besar.

“Ini peta gambut,” katanya.

Paul melihat peta tersebut.

“Bagus.”

“Ini kawasan perusahaan.”

“Bagus.”

“Ini kawasan masyarakat.”

“Bagus.”

“Ini kawasan lindung.”

“Bagus.”

“Ini kawasan produksi.”

“Bagus.”

Profesor itu kemudian menunjuk sebuah garis.

“Dan ini batas administrasi.”

Paul mengangguk.

“Bagus sekali.”

Profesor itu tersenyum puas.

“Jadi menurut Anda, persoalannya selesai?”

Paul memandang profesor.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Karena air belum melihat peta itu.”

Profesor terdiam.

Paul melanjutkan.

“Kalau satu orang mengeringkan gambut di sini, airnya bisa bergerak ke tempat lain. Kalau satu kawasan terbakar, asapnya pergi ke tempat lain. Kalau kanal dibuat di satu tempat, dampaknya bisa terasa jauh dari tempat kanal itu dibuat.”

“Jadi?”

“Jadi gambut adalah barang yang karakteristik intrinsiknya tidak cocok dikelola hanya dengan garis administrasi.”

Profesor itu mulai tertarik.

“Ini sudah masuk IGCTOD?”

Paul tersenyum.

“Belum. Saya baru mengajak gambut memperkenalkan dirinya.”

4. GAMBUT TIDAK SUKA KESEPIAN

Menurut Paul, ada satu kesalahan besar manusia modern.

Manusia suka memisahkan segala sesuatu.

Hutan dipisahkan dari air.

Air dipisahkan dari tanah.

Tanah dipisahkan dari tanaman.

Tanaman dipisahkan dari masyarakat.

Masyarakat dipisahkan dari perusahaan.

Perusahaan dipisahkan dari pemerintah.

Kemudian semuanya diberi nomor.

Setelah itu manusia berkata:

“Sekarang sistem sudah tertata.”

Paul menyebutnya:

ketertiban yang tidak mengenal keterhubungan.

Gambut justru bekerja sebaliknya.

Gambut adalah hubungan.

Air dengan bahan organik.

Bahan organik dengan tanaman.

Tanaman dengan mikroorganisme.

Mikroorganisme dengan karbon.

Karbon dengan iklim.

Iklim dengan hujan.

Hujan dengan sungai.

Sungai dengan kehidupan manusia.

Semuanya saling berhubungan.

“Jadi gambut itu seperti koperasi?” tanya Pak Lurah.

Paul tertawa.

“Bisa juga.”

“Bagaimana?”

“Kalau satu anggota koperasi mengambil seluruh uang kas dan berkata, ‘Yang penting saya untung’, koperasi bisa runtuh.”

“Lalu gambut?”

“Kalau airnya diambil terus dan bahan organiknya dikeringkan, ekosistemnya bisa kehilangan ketahanannya.”

Pak Lurah mengangguk.

“Jadi gambut membutuhkan solidaritas?”

“Dalam arti metaforis, ya.”

“Dan kalau tidak?”

“Dekoherensi.”

Pak Lurah menggaruk kepala.

“Bahasa Paul semakin Amerika.”

“Tidak. Ini bahasa Indonesia.”

“Dekoherensi?”

“Artinya hubungan yang seharusnya bekerja bersama mulai pecah.”

Pak Lurah diam.

Kemudian ia berkata:

“Kalau begitu, kampung saya sudah lama mengalami dekoherensi.”

Paul tertawa.

“Bukan hanya kampung Bapak.”

5. KETIKA GAMBUT MENJADI KOMODITAS

Pada suatu rapat, seorang pejabat berkata:

“Gambut harus memberikan nilai ekonomi.”

Paul mengangguk.

“Setuju.”

Pejabat itu tampak senang.

“Berarti kita sepakat.”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Karena pertanyaannya: nilai ekonomi untuk siapa?”

Ruangan menjadi sunyi.

Paul melanjutkan.

“Dan pertanyaan berikutnya: siapa yang membayar kalau nilai ekonomi itu menghasilkan biaya ekologis?”

Tidak ada yang menjawab.

Paul melihat ke luar jendela.

“Kalau sebuah lahan menghasilkan keuntungan satu miliar rupiah tetapi kemudian menghasilkan biaya kesehatan, kehilangan karbon, kerusakan ekosistem, gangguan transportasi, dan biaya pemadaman yang lebih besar, apakah kita masih menyebutnya produktif?”

Pejabat itu menjawab:

“Itu persoalan eksternalitas.”

Paul mengangguk.

“Benar.”

Ia tersenyum.

“Eksternalitas adalah kata yang sangat sopan untuk mengatakan bahwa seseorang menghasilkan biaya, tetapi orang lain yang membayar.”

Beberapa orang tertawa.

Beberapa lainnya tidak.

Paul tidak tahu siapa yang tertawa karena memahami.

Dan siapa yang tertawa karena merasa tersindir.

6. API MASUK KE DALAM TANAH

Malam itu Paul berjalan menyusuri kawasan gambut.

Ia melihat bekas kebakaran.

Di permukaan tampak sudah padam.

Tetapi orang yang memahami gambut tahu bahwa api tidak selalu berhenti ketika asap menghilang.

Api dapat bergerak melalui bahan organik.

Perlahan.

Diam.

Tidak spektakuler.

Tidak seperti api di televisi.

Justru karena itulah ia berbahaya.

Paul berhenti.

“Ini seperti agnotologi,” katanya kepada dirinya sendiri.

Seorang pemuda yang ikut bersamanya bertanya:

“Agnotologi itu apa, Bang Paul?”

“Ilmu tentang ketidaktahuan.”

“Kenapa ketidaktahuan perlu dipelajari?”

Paul menunjuk tanah.

“Karena kadang-kadang sesuatu sudah diketahui, tetapi tidak menjadi keputusan.”

Pemuda itu diam.

Paul berkata:

“Orang tahu gambut harus basah.”

“Ya.”

“Orang tahu kanal dapat mengeringkan gambut.”

“Ya.”

“Orang tahu gambut kering lebih mudah terbakar.”

“Ya.”

“Orang tahu kebakaran gambut sulit dipadamkan.”

“Ya.”

“Orang tahu asap mengganggu kehidupan manusia.”

“Ya.”

Paul tersenyum pahit.

“Kalau begitu, masalah kita bukan tidak tahu.”

“Lalu?”

“Masalah kita adalah mengapa pengetahuan yang kita tahu tidak selalu mengubah apa yang kita lakukan.”

Pemuda itu memandang tanah.

Untuk pertama kalinya ia merasa bahwa kebakaran bukan hanya persoalan api.

7. PAUL MENEMUKAN PARADOKS

Paul kemudian membuat sebuah catatan.

Ia menulis:

Semakin banyak kita mengetahui gambut, semakin sulit kita membenarkan cara kita memperlakukannya seperti tanah biasa.

Kemudian ia menambahkan:

Tetapi semakin besar nilai ekonomi gambut, semakin kuat pula dorongan untuk menyederhanakannya menjadi sekadar tanah produksi.

Paul menyebutnya:

Paradoks Gambut.

Gambut menjadi semakin berharga justru ketika kita semakin memahami bahwa ia bukan sekadar lahan.

Karena gambut menyimpan karbon.

Mengatur air.

Menopang keanekaragaman hayati.

Menjadi bagian dari sistem sungai.

Mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Dan, dalam kondisi tertentu, dapat menjadi sumber bencana jika tata kelolanya keliru.

“Jadi,” kata Paul kepada Pak Lurah keesokan harinya, “pertanyaan ‘Mengapa Gambut?’ sebenarnya pertanyaan tentang peradaban.”

Pak Lurah tertawa.

“Jangan terlalu jauh, Paul.”

“Tidak jauh.”

“Kenapa?”

“Karena cara kita memperlakukan gambut menunjukkan cara kita memperlakukan masa depan.”

8. ANAK SUNGAI KAPUAS

Sore semakin turun.

Paul kembali duduk di tepi Kapuas.

Ia memandang sungai.

“Saya orang Amerika,” katanya pelan.

Pak Lurah yang berada di sebelahnya tertawa.

“Masih?”

“Secara asal-usul, ya.”

“Kalau hati?”

Paul menunjuk Sungai Kapuas.

“Saya anak sungai ini.”

Ia kemudian berkata:

“Kalau Kapuas sakit, saya sakit.”

Pak Lurah menoleh.

“Kalau gambut terbakar?”

Paul menjawab:

“Kapuas ikut merasakan.”

“Kalau hutan hilang?”

“Kapuas ikut berubah.”

“Kalau masyarakat kehilangan penghidupan?”

“Kapuas ikut kehilangan manusia yang menjaganya.”

Pak Lurah terdiam.

Paul kemudian mengambil segenggam tanah.

“Gambut bukan benda mati yang menunggu kita memberi harga.”

Ia menjatuhkan tanah itu perlahan.

“Gambut adalah bagian dari sistem kehidupan.”

9. PERTANYAAN YANG LEBIH SULIT

Malam itu Paul menulis satu pertanyaan baru.

Bukan:

Mengapa gambut terbakar?

Tetapi:

Mengapa kita membuat gambut mudah terbakar?

Ia menulis lagi:

Siapa yang mengetahui risikonya?

Lalu:

Siapa yang mengambil keputusan?

Lalu:

Siapa yang mendapatkan manfaat?

Dan akhirnya:

Siapa yang membayar akibatnya?

Paul berhenti menulis.

Empat pertanyaan itu ternyata lebih sulit daripada pertanyaan pertama.

Ia kemudian menutup buku catatannya.

Di kejauhan terdengar suara mesin.

Sungai Kapuas terus mengalir.

Gambut tetap diam.

Tetapi diamnya bukan berarti tidak berbicara.

Mungkin manusialah yang terlalu sibuk berbicara sehingga tidak sempat mendengarkan.

Dan di situlah Paul mulai memahami:

Karhutla bukan hanya persoalan bagaimana memadamkan api.

Karhutla adalah persoalan apakah manusia mampu memahami alam sebelum alam mengirimkan tagihannya.

CATATAN PENULIS

Cerita ini adalah karya fiksi dan satire. Tokoh Paul, dialog, dan peristiwa di dalamnya merupakan hasil imajinasi penulis dan bukan laporan tentang kejadian atau tokoh nyata tertentu. Jika terdapat nama tempat yang sama dengan tempat nyata, penggunaannya semata-mata untuk kepentingan cerita.

Bersambung ke #4: Paul dan Gambut yang Kehilangan Air

Komentar