Penulis: Agus Pakpahan
Ritual Syukuran Kolektif Bermakna
Pagi itu Tarigu terasa berbeda.
Tidak ada rapat di balai kampung.
Tidak ada penyuluhan.
Tidak ada orang yang membawa papan tulis.
Tidak ada pula perdebatan tentang apakah bekatul akan berhasil menjadi produk unggulan desa.
Hari itu warga berkumpul untuk melakukan sesuatu yang lebih sederhana, tetapi bagi Ojak terasa jauh lebih dalam.
Bersyukur.
Di halaman balai kampung telah disiapkan berbagai hasil bumi.
Beras.
Gabah.
Bekatul.
Jagung.
Ubi.
Singkong.
Sayuran.
Kacang-kacangan.
Ikan.
Telur.
Buah-buahan.
Semuanya berasal dari tanah Nusantara.
Di tengah halaman diletakkan sebuah tampah besar berisi gabah yang baru dipanen.
Di sampingnya ada sebuah wadah kecil berisi bekatul.
Ojak berdiri agak jauh.
Ia memperhatikan keduanya.
Gabah dan bekatul.
Yang satu selama ini dipandang sebagai hasil utama.
Yang satu lagi sering dianggap sebagai sisa.
Namun hari itu, untuk pertama kalinya, Ojak merasa bahwa keduanya tidak seharusnya dipertentangkan.
Keduanya adalah bagian dari satu perjalanan.
Dari padi.
Dari sawah.
Dari tanah.
Dari air.
Dari matahari.
Dari kerja petani.
Dan dari kehidupan manusia.
1. Dari Sebutir Padi
Pak Kuwu membuka acara.
“Bapak-Ibu sekalian, hari ini kita tidak berkumpul untuk merayakan sebuah keberhasilan besar.”
Warga diam mendengarkan.
“Kita berkumpul untuk bersyukur atas sesuatu yang sering kita anggap biasa.”
Ia mengangkat sebutir gabah.
“Sebiji padi.”
Kemudian ia menunjuk kepada wadah bekatul.
“Dan bagian dari padi yang selama ini sering kita abaikan.”
Ibu Ratna menatap bekatul itu.
Ojak terdiam.
Pak Kuwu melanjutkan:
“Tanpa petani, tidak ada padi. Tanpa tanah yang subur, tidak ada sawah. Tanpa air, tidak ada kehidupan. Dan tanpa pengetahuan, kita mungkin tidak menyadari betapa banyak yang selama ini kita buang atau abaikan.”
Seorang petani tua mengangguk.
“Benar, Pak Kuwu.”
2. Bekatul yang Dulu Diabaikan
Ojak kemudian maju.
Ia membawa segenggam bekatul.
“Dulu,” katanya, “kita melihat bekatul hanya sebagai sesuatu yang tersisa setelah padi digiling.”
Beberapa warga tersenyum.
“Sebagian menjadi pakan ternak. Sebagian dibuang. Sebagian lagi tidak kita pikirkan.”
Ia berhenti.
“Tetapi sekarang kita mulai melihatnya dengan cara berbeda.”
Ojak tidak mengatakan bahwa bekatul adalah obat.
Ia juga tidak mengatakan bahwa bekatul pasti menyembuhkan penyakit.
Ia justru berkata:
“Bekatul bukan obat.”
Warga memperhatikan.
“Bekatul adalah bagian dari pangan. Karena itu, kita harus mempelajari kandungan gizinya, keamanan pangannya, cara pengolahannya, dan bagaimana menggunakannya secara tepat.”
Bima mengangguk.
Rani tersenyum.
Sinta mencatat.
Ojak melanjutkan:
“Yang kita perjuangkan bukan membuat bekatul menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Yang kita perjuangkan adalah menghargai apa yang sebenarnya sudah diberikan alam kepada kita.”
3. Pesan Hippokrates
Ibu Ratna bertanya:
“Jak, bukankah ada orang dahulu yang mengatakan bahwa makanan adalah obat?”
Ojak tersenyum.
“Ya. Gagasan yang sering dikaitkan dengan Hippokrates mengingatkan kita bahwa makanan dan kesehatan mempunyai hubungan yang sangat erat.”
Ia kemudian menambahkan:
“Tetapi kita harus berhati-hati. Ungkapan itu adalah ajakan untuk menghargai pangan dan pola makan, bukan izin untuk menyebut setiap makanan sebagai obat.”
Bima mengangguk.
“Dan kita juga sering mendengar ungkapan: you are what you eat.”
Mang Udin menyela:
“Kalau begitu, saya harus hati-hati makan apa.”
Warga tertawa.
Ojak tersenyum.
“Betul, Mang. Tetapi maksudnya lebih dalam. Apa yang kita makan ikut membentuk tubuh, kebiasaan, dan dalam arti yang lebih luas, kehidupan kita.”
Ia memandang warga.
“Karena itu, persoalan pangan tidak boleh dipisahkan dari persoalan peradaban.”
4. Berkah Padi
Seorang nenek kemudian maju.
Ia membawa sebuah bakul kecil berisi beras.
“Sejak dulu,” katanya, “orang kampung menghormati padi.”
Ia meletakkan bakul itu di samping gabah.
“Padi bukan sekadar komoditas. Ia adalah makanan. Ia adalah pekerjaan. Ia adalah kehidupan keluarga. Ia adalah bagian dari kebudayaan.”
Nenek itu kemudian melihat bekatul.
“Barangkali selama ini kita terlalu sibuk melihat yang putih dan bersih, sehingga lupa melihat bagian lain yang menyertainya.”
Tidak ada yang menjawab.
Tetapi kalimat itu terasa tinggal di dalam pikiran semua orang.
Ojak kemudian berkata:
“Mungkin inilah makna syukur yang sebenarnya.”
Ia mengangkat segenggam bekatul.
“Bukan sekadar mengucapkan terima kasih atas hasil panen.”
Ia menatap sawah di kejauhan.
“Tetapi juga belajar memahami seluruh berkah yang terkandung di dalamnya.”
5. Ritual yang Berubah Menjadi Kesadaran
Hari itu tidak ada pesta besar.
Tidak ada kemewahan.
Warga hanya membawa makanan yang mereka miliki.
Mereka menyusun hidangan bersama.
Nasi.
Lauk.
Sayur.
Buah.
Olahan pangan lokal.
Dan beberapa makanan berbahan bekatul yang telah mereka pelajari di SLGPLN.
Anak-anak duduk bersama orang tua mereka.
Para petani berbincang dengan kader posyandu.
Ibu-ibu saling bertukar resep.
Pemuda membantu menyiapkan makanan.
Para ilmuwan berbicara dengan warga.
Koperasi mencatat kebutuhan bahan pangan.
Tidak ada yang menjadi pusat sendirian.
Semua menjadi bagian dari satu kesatuan.
Ojak memandang keadaan itu.
Ia baru menyadari bahwa ritual syukur telah berubah menjadi proses belajar bersama.
Dan proses belajar itu mulai berubah menjadi tindakan bersama.
6. Dari Pangan Menjadi Peradaban
Ojak berdiri di tengah halaman.
“Saudara-saudara,” katanya, “mungkin kita selama ini berpikir bahwa peradaban dibangun dari gedung tinggi, jalan raya, teknologi, dan modal besar.”
Ia menunjuk sawah.
“Tetapi peradaban juga dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana.”
Ia mengambil sebutir beras.
“Bagaimana sebuah bangsa memperoleh makanannya.”
Kemudian ia menunjuk bekatul.
“Bagaimana bangsa itu memperlakukan apa yang dianggap sisa.”
Lalu ia menunjuk warga.
“Dan bagaimana masyarakat bekerja sama mengubah pengetahuan menjadi kehidupan yang lebih baik.”
Ia berhenti.
“Kalau kita mampu menghargai padi secara utuh, mungkin kita juga mulai belajar menghargai alam secara utuh.”
“Kalau kita mampu menghargai pangan lokal, kita mulai membangun kemandirian.”
“Kalau kita mampu mengorganisasikan petani, konsumen, koperasi, ilmuwan, pemerintah, dan masyarakat, kita mulai membangun kekuatan kolektif.”
Ojak memandang bekatul di tangannya.
“Karena itu, bagi saya, bekatul bukan sekadar bahan pangan.”
“Bekatul adalah pengingat.”
“Pengingat bahwa sesuatu yang kita anggap kecil dapat membuka cara pandang yang lebih besar.”
7. Nusantara yang Tropika
Matahari mulai meninggi.
Angin bergerak melewati sawah.
Ojak membayangkan Nusantara yang luas.
Sawah.
Kebun.
Hutan.
Laut.
Sungai.
Desa.
Kota.
Pulau-pulau.
Berbagai jenis pangan tumbuh di dalamnya.
Ia berkata:
“Kita adalah bangsa tropika.”
“Kita hidup di wilayah yang diberkahi keragaman hayati dan pangan yang luar biasa.”
“Tetapi berkah alam tidak otomatis menjadi kesejahteraan.”
Bima menyambung:
“Pengetahuan diperlukan.”
Rani berkata:
“Teknologi diperlukan.”
Sinta menambahkan:
“Organisasi ekonomi juga diperlukan.”
Ibu Ratna berkata:
“Dan masyarakat harus terlibat.”
Ojak mengangguk.
“Benar. Karena itu peradaban tidak dibangun oleh satu orang. Peradaban dibangun oleh kemampuan masyarakat untuk menghubungkan alam, pangan, pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan kelembagaan.”
8. Bekatul sebagai Simbol
Ujang yang sejak tadi merekam akhirnya menurunkan kameranya.
“Jak, apakah benar bekatul bisa menjadi penentu peradaban?”
Ojak terdiam.
Ia tidak ingin menjawab secara berlebihan.
“Bekatul sendiri tentu tidak menentukan peradaban.”
Ujang menunggu.
“Tetapi cara kita memandang bekatul dapat menunjukkan bagaimana kita memandang kehidupan.”
Ojak melanjutkan:
“Jika kita melihatnya sebagai sisa, kita mungkin akan membuangnya.”
“Jika kita melihatnya sebagai pangan, kita akan mempelajarinya.”
“Jika kita melihatnya sebagai bagian dari sistem padi, kita akan menghargai keterkaitannya.”
“Jika kita melihatnya sebagai bagian dari ekonomi masyarakat, kita akan mencari cara agar manfaatnya kembali kepada petani.”
“Dan jika kita melihatnya sebagai bagian dari kebudayaan pangan Nusantara, kita akan bertanya: apa yang sebenarnya telah kita abaikan selama ini?”
Ujang mengangguk.
“Itu lebih dalam daripada sekadar cerita tentang bekatul.”
Ojak tersenyum.
“Memang.”
9. Doa Bersama
Menjelang sore, warga berdiri membentuk lingkaran.
Pak Kuwu mengajak semua menundukkan kepala.
Mereka bersyukur atas tanah.
Atas air.
Atas matahari.
Atas petani.
Atas padi.
Atas pangan.
Atas ilmu pengetahuan.
Atas kesehatan.
Atas kebersamaan.
Ojak kemudian berkata:
“Ya Tuhan Yang Maha Esa, kami bersyukur atas segala berkah yang telah Engkau berikan kepada tanah Nusantara.”
“Ajarkan kami untuk tidak menyia-nyiakan pangan.”
“Ajarkan kami untuk menghargai petani.”
“Ajarkan kami untuk menjaga tanah, air, dan kehidupan.”
“Berikan kami ilmu untuk memahami apa yang kami makan.”
“Berikan kami kebijaksanaan untuk menggunakan kekayaan alam dengan baik.”
“Dan jadikanlah pangan lokal sebagai jalan bagi tumbuhnya manusia Indonesia yang sehat, berilmu, mandiri, dan mampu bekerja sama.”
Semua mengucapkan:
Amin.
Kemudian terdengar:
Amin.
Dan sekali lagi:
Amin, ya Rabbal ‘alamin.
10. Ritual Syukuran Kolektif Bermakna
Setelah doa, makanan dibagikan.
Tidak ada makanan yang dianggap terlalu sederhana.
Nasi dihormati.
Bekatul dihargai.
Sayuran dinikmati.
Ikan dan telur disyukuri.
Buah dibagikan.
Semua makan bersama.
Ojak duduk di antara petani dan ibu-ibu.
Ia tidak lagi melihat bekatul sebagai persoalan kecil.
Ia melihatnya sebagai bagian dari sebuah cerita yang jauh lebih panjang:
padi → pangan → gizi → keluarga → masyarakat → koperasi → ekonomi → peradaban.
Ia teringat perjalanan mereka.
Sekolah Bekatul.
Koperasi Bekatul.
SLGPLN.
Posyandu.
Petani.
Ilmuwan.
Pemerintah desa.
Dan warga Tarigu.
Semuanya ternyata terhubung.
11. Pesan Terakhir Ojak
Menjelang matahari terbenam, Ojak kembali ke gudang koperasi.
Ia membuka buku catatan yang telah menemaninya selama perjalanan.
Pada halaman terakhir ia menulis:
«”Bekatul bukan obat. Bekatul adalah pangan.
Tetapi pangan bukan perkara kecil.
Pangan menentukan bagaimana manusia tumbuh.
Pangan menentukan bagaimana keluarga bertahan.
Pangan menentukan bagaimana petani bekerja.
Pangan menentukan bagaimana ekonomi masyarakat bergerak.
Dan pangan ikut menentukan bagaimana sebuah bangsa membangun peradabannya.
Karena itu, mensyukuri padi berarti juga belajar menghargai seluruh bagian dari perjalanan padi—termasuk bekatul.
Jangan buru-buru membuang sesuatu hanya karena kita belum memahami nilainya.
Jangan pula mengagungkan sesuatu hanya karena kita berharap manfaatnya.
Pelajari. Uji. Gunakan dengan bijaksana. Catat hasilnya. Dan teruslah belajar.
Mungkin di situlah makna sesungguhnya dari berkah pangan Nusantara.”»
Ojak menutup buku.
Di luar, suara anak-anak masih terdengar.
Di kejauhan, sawah mulai gelap.
Angin membawa aroma tanah.
Dan di sebuah gudang sederhana di Tarigu, segenggam bekatul tersimpan berdampingan dengan beras.
Tidak lagi sebagai “sisa”.
Tetapi sebagai pengingat.
Bahwa di negeri tropika ini, begitu banyak berkah telah tersedia.
Tugas manusia bukan sekadar mengambilnya.
Tugas manusia adalah mengenalinya, mensyukurinya, menjaganya, mengolahnya dengan ilmu, dan membagikan manfaatnya secara adil.
Ojak tersenyum.
Ia tahu perjalanan belum selesai.
Mungkin justru baru dimulai.
EPILOG
Pagi berikutnya, kehidupan Tarigu berjalan seperti biasa.
Petani kembali ke sawah.
Ibu-ibu kembali ke dapur.
Kader kembali ke posyandu.
Koperasi kembali bekerja.
Anak-anak kembali bermain.
Dan penggilingan padi kembali berputar.
Namun ada sesuatu yang telah berubah.
Cara mereka memandang pangan.
Bekatul tidak lagi hanya dilihat sebagai sesuatu yang tersisa.
Ia telah menjadi bagian dari percakapan tentang pangan, gizi, ekonomi, pengetahuan, dan masa depan.
Bukan karena bekatul adalah obat.
Bukan pula karena bekatul harus dianggap sebagai jawaban atas semua masalah.
Melainkan karena bekatul mengajarkan sebuah pelajaran sederhana:
sesuatu yang selama ini kita abaikan mungkin menyimpan pengetahuan yang belum kita pahami.
Dan ketika pengetahuan itu dipelajari bersama, diuji dengan jujur, dan dihubungkan dengan kerja kolektif masyarakat, sesuatu yang sederhana dapat menjadi pintu menuju perubahan yang lebih besar.
Di Tarigu, mereka mulai memahami:
berkah padi bukan hanya beras.
Berkah padi adalah keseluruhan ekosistem kehidupan yang lahir dari tanah, air, matahari, petani, ilmu, budaya, dan kerja sama manusia.
Dan bekatul menjadi salah satu pengingatnya.
Maka ritual syukuran itu bukanlah akhir.
Ia adalah janji kolektif.
Janji untuk tidak menyia-nyiakan pangan.
Janji untuk menghormati petani.
Janji untuk belajar dari alam.
Janji untuk mengembangkan ilmu.
Janji untuk memperkuat koperasi.
Janji untuk membangun pangan lokal.
Dan janji untuk menjadikan kekayaan tropika Nusantara sebagai sumber kehidupan bagi generasi yang akan datang.
Ojak memandang matahari yang mulai terbit.
Ia berkata perlahan:
«”Kalau kita mampu mensyukuri padi secara utuh, mungkin kita sedang belajar mensyukuri Nusantara secara utuh.”»
Ia tersenyum.
Amin.
Amin.
Amin, ya Rabbal ‘alamin.
CATATAN PENULIS
Cerpen #9 menjadi epilog Seri Cerpen Bekatul.
Perjalanan Ojak Orang Tarigu dari menemukan kembali bekatul, mendirikan Sekolah Bekatul dan Koperasi Bekatul, hingga lahirnya Sekolah Lapang Gizi dan Pangan Lokal Nusantara (SLGPLN) berujung pada satu kesadaran: pangan bukan sekadar komoditas. Pangan adalah bagian dari peradaban.
Bekatul dalam cerita ini bukan obat dan tidak dimaksudkan sebagai klaim pengobatan. Ia merupakan bagian dari pangan yang perlu dipahami berdasarkan ilmu pengetahuan, keamanan pangan, mutu pengolahan, serta konteks konsumsi yang tepat.
Pesan tentang food as medicine yang dikaitkan dengan Hippocrates dan ungkapan you are what you eat ditempatkan sebagai refleksi mengenai pentingnya hubungan pangan dengan kehidupan manusia, bukan sebagai klaim bahwa bekatul dapat mengobati penyakit.
Akhirnya, ritual syukuran kolektif menjadi simbol bahwa berkah pangan tidak berhenti pada apa yang dimakan seseorang. Ia dapat menjadi kesadaran bersama untuk menjaga tanah, menghormati petani, mengembangkan pengetahuan, memperkuat kelembagaan, dan membangun kemandirian pangan bangsa.
Dari padi lahir pangan.
Dari pangan lahir kehidupan.
Dari kehidupan lahir masyarakat.
Dari masyarakat yang mampu bekerja sama lahirlah peradaban.
Kampung Ciburial, Desa Licin, Kec. Cimalaka, Kab Sumedang
Oktober 2026








Komentar