Penulis: Agus Pakpahan
1. GAMBUT ITU SEBENARNYA BASAH
Pagi itu Paul berdiri di pinggir sebuah kanal.
Ia memandang air yang mengalir perlahan.
Di belakangnya, beberapa orang sedang berdiskusi tentang kebakaran.
“Paul,” kata seorang pemuda, “kalau gambut terbakar, kita harus menambah mobil pemadam.”
Paul mengangguk.
“Betul.”
“Tambah pompa?”
“Betul.”
“Tambah selang?”
“Betul.”
“Tambah personel?”
“Betul.”
Pemuda itu tampak puas.
“Berarti masalahnya selesai.”
Paul memandang kanal.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Karena kita sedang membicarakan bagaimana memadamkan gambut yang sudah kehilangan air.”
Pemuda itu terdiam.
Paul menunjuk kanal.
“Pertanyaan pertama bukan berapa banyak pompa yang kita punya.”
“Lalu?”
“Pertanyaan pertama: mengapa gambutnya kering?”
2. MANUSIA MENYALAHKAN API
Paul mempunyai kebiasaan yang dianggap aneh oleh orang-orang di kampung.
Kalau terjadi kebakaran, ia tidak langsung mencari api.
Ia mencari air.
“Api di mana?” tanya orang-orang.
Paul menjawab:
“Airnya di mana?”
“Api yang terbakar, Paul.”
“Benar.”
“Jadi kenapa mencari air?”
“Karena api sedang menikmati pekerjaan yang kita siapkan untuknya.”
Orang-orang tertawa.
Paul tidak.
Ia menunjuk gambut.
“Api tidak selalu datang sebagai penjahat tunggal.”
“Lalu?”
“Kadang-kadang kita membuat rumahnya.”
“Rumah?”
“Gambut kering.”
3. KANAL YANG TERLALU RAJIN
Paul pernah melihat kanal yang dibuat dengan sangat baik.
Lurus.
Panjang.
Rapi.
Air mengalir.
Ia memuji pembuatnya.
“Ini pekerjaan bagus.”
Orang yang mendampinginya tersenyum.
“Terima kasih.”
Paul kemudian bertanya:
“Airnya mau ke mana?”
“Ke sungai.”
“Setelah itu?”
“Ke laut.”
Paul mengangguk.
“Hebat.”
“Kenapa?”
“Karena kita berhasil mengeringkan gambut dengan sistem drainase yang sangat efisien.”
Orang itu terdiam.
Paul tersenyum.
“Ini bukan kritik terhadap kanal sebagai benda. Kanal bisa diperlukan dalam konteks tertentu.”
Ia berhenti sebentar.
“Masalahnya adalah ketika kita lupa bahwa setiap kanal mengubah hubungan air dengan gambut.”
Kemudian Paul berkata:
“Manusia modern sangat pandai membuat saluran.”
“Saluran untuk air.”
“Ya.”
“Bukankah itu bagus?”
“Bagus.”
“Lalu?”
“Kita kadang terlalu pandai mengeluarkan air dari tempat yang justru membutuhkan air.”
4. KETIKA AIR DIANGGAP MUSUH PRODUKSI
Dalam rapat perusahaan, Paul mendengar seorang manajer berkata:
“Air yang terlalu tinggi mengganggu produktivitas.”
Paul mencatat kalimat itu.
Kemudian ia bertanya:
“Air terlalu tinggi untuk siapa?”
Manajer menjawab:
“Untuk tanaman.”
Paul mengangguk.
“Baik.”
Ia bertanya lagi:
“Dan air terlalu rendah?”
“Lebih baik untuk operasi.”
Paul tersenyum.
“Untuk operasi.”
“Ya.”
“Bukan untuk gambut?”
Ruangan menjadi sunyi.
Paul membuka catatannya.
“Ini menarik.”
“Apa?”
“Dalam satu organisasi, tanaman bisa menjadi pusat perhatian, sementara tanah tempat tanaman hidup hanya dianggap sebagai tempat berdirinya tanaman.”
Manajer itu mulai tidak nyaman.
Paul melanjutkan:
“Kalau begitu, kita sedang mengelola tanaman.”
“Memangnya salah?”
“Tidak.”
“Tapi?”
“Kalau yang kita kelola sebenarnya sebuah lanskap, kita mungkin sedang mengelola bagian kecil sambil mengabaikan sistem yang membuat bagian itu hidup.”
5. PAUL MEMBUAT PELAJARAN SEDERHANA
Paul mengumpulkan beberapa anak muda.
Ia membawa dua pot.
Pot pertama diisi tanah biasa.
Pot kedua diisi bahan gambut.
Kemudian ia berkata:
“Anggap saja dua pot ini adalah dua dunia.”
Ia menyiram keduanya.
“Sekarang kita kurangi air.”
Seorang anak bertanya:
“Kenapa?”
“Karena manusia sering melakukan itu.”
“Supaya tanaman tidak kebanjiran?”
“Ya.”
Paul mengangguk.
“Tetapi pertanyaannya bukan hanya apakah tanaman menyukai air sebanyak itu.”
Ia menunjuk pot gambut.
“Kita harus memahami apa yang terjadi pada sistem tanahnya.”
Anak-anak memperhatikan.
Paul kemudian berkata:
“Pelajaran hari ini sederhana.”
Ia menulis di papan:
GAMBUT + AIR = KETAHANAN
Kemudian ia menambahkan:
GAMBUT – AIR = RISIKO
Seorang anak bertanya:
“Apakah selalu begitu?”
Paul tersenyum.
“Tidak ada rumus sederhana untuk alam.”
Ia menghapus tanda sama dengan.
“Ini bukan hukum fisika.”
Lalu ia menulis:
Semakin besar pengeringan pada gambut yang rentan, semakin besar pula risiko ekologis yang harus kita kelola.
“Jadi,” katanya, “kita harus mengukur, bukan menebak.”
6. KOPERASI TURUN KE KANAL
Hari berikutnya Paul mengumpulkan warga.
Bukan untuk seminar.
Bukan untuk membuat spanduk.
Bukan untuk membuat foto bersama.
Ia membawa cangkul.
Pak Lurah membawa daftar nama.
Ketua kelompok tani membawa buku catatan.
Seorang ibu membawa termos kopi.
“Jadi kita mau melakukan apa?” tanya Pak Lurah.
Paul menunjuk kanal.
“Kita mulai dari air.”
“Siapa yang mengerjakan?”
“Kita.”
“Siapa yang membayar?”
Paul menjawab:
“Kita buat koperasi.”
Seorang warga tertawa.
“Untuk apa? Menjual air?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Untuk memastikan air tidak hilang ketika kita membutuhkannya.”
Mereka kemudian membentuk kelompok kerja.
Tugasnya sederhana.
Ada yang memeriksa kanal.
Ada yang mencatat tinggi muka air.
Ada yang memeriksa pintu air.
Ada yang memetakan bagian gambut yang paling kering.
Ada yang menghubungi kelompok di sebelah.
Ada yang menyimpan peralatan.
Ada yang mengatur jadwal kerja.
Ada yang bertugas melaporkan jika terjadi perubahan kondisi.
Tidak ada yang menunggu kebakaran.
7. KOPERASI BUKAN RAPAT, MELAINKAN PEKERJAAN YANG DIBAGI
Paul mengatakan kepada anggota koperasi:
“Kita jangan membuat koperasi yang hanya pandai mengadakan rapat.”
“Lalu koperasi seperti apa?”
“Koperasi yang bisa dilihat pekerjaannya.”
Ia menulis di papan:
AIR DIUKUR.
KANAL DIPERIKSA.
PINTU AIR DIRAWAT.
PERALATAN DISIAPKAN.
RISIKO DIPETAKAN.
INFORMASI DIBAGIKAN.
KEPUTUSAN DICATAT.
HASIL DIEVALUASI.
Kemudian ia menambahkan:
DAN SEMUA DILAKUKAN SEBELUM API DATANG.
Seorang anggota koperasi bertanya:
“Kalau tidak ada kebakaran, apa pekerjaan kita dianggap berhasil?”
Paul tersenyum.
“Justru itu.”
“Kenapa?”
“Karena keberhasilan pencegahan memang sering tidak kelihatan.”
Ia menunjuk sebuah kanal yang tidak terbakar.
“Tidak ada berita.”
“Tidak ada konferensi pers.”
“Tidak ada foto pemadaman.”
“Tidak ada pejabat datang membawa penghargaan.”
“Padahal mungkin itulah keberhasilan.”
8. LAMBDA BUKAN HURUF, MELAINKAN JANJI
Seorang pemuda bertanya:
“Paul, kalau Koperasi Kuantum punya Lambda, bagaimana kita menggunakannya?”
Paul menjawab:
“Jangan mulai dari huruf.”
“Lalu?”
“Mulai dari janji.”
“Janji apa?”
“Bahwa kita tidak akan sengaja membiarkan wilayah kita menjadi lebih rentan terhadap kebakaran.”
Ia menulis:
λ = KONSISTENSI
“Kalau hari ini kita menjaga air, tetapi bulan depan kita membiarkan kanal rusak, Lambda kita rendah.”
“Kalau laporan tinggi muka air diubah supaya terlihat baik?”
“Lambda kita rendah.”
“Kalau ada kebakaran kecil lalu disembunyikan?”
“Lambda kita semakin rendah.”
Pemuda itu mengangguk.
“Jadi Lambda dapat diukur melalui perilaku?”
“Setidaknya kita bisa membuat indikatornya.”
Paul melanjutkan:
“Nilai baru berguna kalau memengaruhi tindakan.”
9. PHI ADALAH SIAPA YANG MENGETUK PINTU TETANGGA
Koperasi kemudian menghubungi desa sebelah.
“Kenapa?” tanya seorang warga.
“Karena kanal kita terhubung dengan mereka.”
“Kalau wilayah kita aman?”
“Belum tentu wilayah mereka aman.”
“Kalau mereka lalai?”
“Kita ikut terkena dampaknya.”
Paul menyebutnya Phi.
Bukan sebagai angka ajaib.
Melainkan sebagai ukuran seberapa rapat hubungan kerja antarorang dan antarorganisasi.
Mereka membuat grup komunikasi.
Tetapi Paul melarang grup itu hanya menjadi tempat mengirim ucapan selamat pagi.
“Kalau grup ini hanya berisi bunga dan matahari, kita gagal.”
Semua tertawa.
Mereka kemudian menggunakan grup tersebut untuk:
– melaporkan perubahan kondisi kanal;
– berbagi informasi cuaca;
– melaporkan titik asap;
– meminta bantuan;
– mengkoordinasikan pemeriksaan lapangan;
– menghubungkan warga dengan petugas;
– mencatat tindakan yang sudah dilakukan.
Paul berkata:
“Teknologi komunikasi tidak membuat kita terhubung.”
“Lalu apa?”
“Kerja sama.”
10. ALPHA ADALAH KEMAMPUAN MELAKUKAN
Beberapa minggu kemudian koperasi mempunyai persoalan.
Mereka mempunyai aturan.
Mempunyai peta.
Mempunyai grup komunikasi.
Tetapi pompa mereka rusak.
Peralatan tidak lengkap.
Tidak semua orang tahu cara menggunakannya.
Paul tertawa.
“Sekarang kita bertemu Alpha.”
“Alpha apa?”
“Kapasitas.”
Paul menunjuk gudang.
“Organisasi bukan hanya niat.”
Ia membuka pintu.
“Organisasi membutuhkan alat.”
Kemudian ia menunjuk buku.
“Pengetahuan.”
Menunjuk orang-orang.
“Keahlian.”
Menunjuk kas koperasi.
“Dana.”
Menunjuk jadwal.
“Waktu.”
“Dan yang paling penting?”
“Orang yang benar-benar mau bekerja.”
Mereka kemudian membuat dana bersama.
Sebagian untuk pemeliharaan.
Sebagian untuk pelatihan.
Sebagian untuk peralatan.
Sebagian sebagai cadangan.
Koperasi tidak menjadi kaya.
Tetapi menjadi mampu.
Paul mengatakan:
“Lebih baik koperasi sederhana yang mampu bertindak daripada koperasi megah yang tidak mampu membuka pintu gudang.”
11. EPSILON: TENAGA YANG DISIMPAN SEBELUM DARURAT
Kemudian mereka membentuk regu sukarela.
Bukan untuk menjadi pemadam profesional.
Paul menegaskan hal itu.
“Kalau api besar, panggil tenaga profesional.”
“Lalu kita?”
“Kita melakukan apa yang aman dan sesuai kemampuan.”
Mereka dilatih mengenali tanda bahaya.
Mereka belajar menggunakan alat komunikasi.
Mereka mengetahui jalur keluar.
Mereka memetakan sumber air.
Mereka mengetahui siapa yang harus dihubungi.
Mereka menyimpan peralatan dalam kondisi siap.
Paul menyebutnya:
Epsilon—cadangan energi sosial.
“Energi sosial bukan hanya semangat.”
“Lalu?”
“Orang yang terlatih, hubungan yang sudah dibangun, peralatan yang tersedia, dan dana yang bisa segera digunakan.”
Ia tersenyum.
“Energi sosial yang baru dicari ketika api sudah besar bukan cadangan.”
“Itu kepanikan.”
12. TAU: JANGAN MENUNGGU ASAP
Suatu pagi alat pemantau menunjukkan kondisi mulai mengering.
Seorang anggota koperasi berkata:
“Kita tunggu dulu.”
Paul bertanya:
“Tunggu apa?”
“Kalau benar-benar terjadi kebakaran.”
Paul menggeleng.
“Ini penyakit organisasi.”
“Apa?”
“Kita menunggu bukti bencana untuk melakukan pencegahan.”
Ia menunjuk alat ukur.
“Kalau indikator menunjukkan risiko meningkat, tindakan harus meningkat.”
“Tidak perlu menunggu api.”
Paul menulis:
τ = KETEPATAN WAKTU
“Kalau kita baru bergerak setelah api terlihat, kita kehilangan waktu yang paling berharga.”
13. KOPERASI MENGHADAPI PERUSAHAAN
Suatu hari koperasi mengundang perusahaan yang memiliki lahan di sekitar mereka.
Manajer perusahaan datang.
Ia bertanya:
“Jadi koperasi ingin apa?”
Paul menjawab:
“Bukan ingin.”
“Lalu?”
“Kita ingin menyelesaikan masalah yang sama.”
“Masalah apa?”
“Air.”
Manajer membuka peta.
“Ini wilayah kami.”
Paul mengangguk.
“Dan ini wilayah kami.”
“Betul.”
“Airnya?”
Manajer melihat peta lebih lama.
Paul menunjuk garis biru.
“Air tidak berhenti di batas perusahaan.”
Manajer diam.
Paul kemudian berkata:
“Kami tidak meminta perusahaan menggantikan pemerintah.”
“Lalu?”
“Kami juga tidak meminta koperasi menggantikan kewajiban perusahaan.”
“Lalu apa?”
“Koordinasi.”
Mereka kemudian menyepakati beberapa hal:
Pemantauan bersama.
Pertukaran informasi.
Pemeriksaan titik rawan.
Pemeliharaan sarana yang menjadi tanggung jawab masing-masing.
Jalur komunikasi darurat.
Dan mekanisme pertemuan ketika indikator risiko meningkat.
Paul tersenyum.
“Sekarang kita mulai mempunyai organisasi yang mengikuti lanskap.”
14. OMEGA: KOPERASI YANG MEMIKIRKAN ANAK-ANAK
Pada akhir musim kemarau, kebakaran tidak terjadi di wilayah mereka.
Tidak ada pesta.
Tidak ada penghargaan.
Tidak ada berita nasional.
Anak-anak tetap pergi sekolah.
Petani tetap bekerja.
Sungai tetap mengalir.
Gambut tetap basah.
Paul berdiri di pinggir kanal.
Seorang anak bertanya:
“Berarti kita berhasil?”
Paul menjawab:
“Belum tentu.”
Anak itu bingung.
“Kenapa?”
“Karena satu musim bukan peradaban.”
“Lalu apa yang kita lakukan?”
“Kita teruskan.”
“Berapa lama?”
“Selama masih ada gambut.”
“Kalau kita sudah tua?”
“Ajarkan kepada kalian.”
Paul menunjuk anak itu.
“Itulah Omega.”
“Keberlanjutan?”
“Ya.”
“Berarti koperasi bukan hanya untuk orang yang sekarang?”
Paul tersenyum.
“Kalau koperasi hanya memikirkan anggota hari ini, ia belum selesai menjadi koperasi.”
“Lalu?”
“Ia harus memikirkan siapa yang belum lahir.”
15. PAUL DAN PERADABAN YANG TIDAK TERBAKAR
Malamnya Paul kembali ke tepi Sungai Kapuas.
Ia membuka buku catatannya.
Di halaman pertama ia menulis:
KARHUTLA ADALAH MASALAH API.
Ia mencoret kalimat itu.
Kemudian menulis:
KARHUTLA ADALAH MASALAH AIR.
Ia mencoretnya lagi.
Kemudian:
KARHUTLA ADALAH MASALAH ORGANISASI.
Dicoret.
Lalu:
KARHUTLA ADALAH MASALAH MANUSIA.
Paul berhenti.
Tidak dicoret.
Ia menambahkan:
«Manusia menentukan apakah pengetahuan tentang alam menjadi tindakan atau hanya menjadi dokumen.»
Kemudian ia menulis:
«Koperasi adalah cara membuat pengetahuan menjadi tindakan bersama.»
Paul menutup buku.
Ia memandang Kapuas.
Sungai tidak bertanya siapa yang paling benar.
Ia hanya terus mengalir.
Paul tersenyum.
Ia tahu pekerjaan mereka baru dimulai.
Sebab menjaga gambut bukan pekerjaan yang menghasilkan tepuk tangan.
Ia menghasilkan sesuatu yang jauh lebih sederhana:
hari ketika tidak ada asap.
Dan mungkin, pikir Paul, itulah bentuk keberhasilan yang paling sulit dijual kepada manusia modern.
Sebab sesuatu yang tidak terbakar biasanya tidak masuk berita.
Tetapi bagi anak-anak yang masih akan tumbuh di tepi Kapuas,
tidak adanya kebakaran adalah sebuah warisan.
CATATAN PENULIS
Cerita ini merupakan karya fiksi dan satire. Paul adalah tokoh rekaan yang digunakan untuk menghidupkan gagasan tentang karhutla, gambut, tata air, koperasi, dan desain kelembagaan.
Dalam cerita ini, Koperasi Kuantum diterjemahkan ke dalam tindakan konkret: menjaga tata air, memantau risiko, mengorganisasi tenaga sosial, mengelola peralatan dan dana bersama, berbagi informasi, berkoordinasi lintas batas, serta membangun kapasitas yang dapat diwariskan. Konsep Lambda, Phi, Alpha, Tau, Epsilon, dan Omega digunakan sebagai kerangka konseptual yang perlu diterjemahkan menjadi indikator dan praktik nyata.
Bersambung ke #5: Paul dan Api yang Tidak Punya Sertifikat Tanah








Komentar