Penulis: Prof. Dr. Ir. Agus Pakpahan, M.S.
1. API TIDAK PERNAH MEMERIKSA SERTIFIKAT
Pagi itu Paul menerima telepon.
“Paul, ada api!”
“Di mana?”
“Di sebelah.”
“Sebelah siapa?”
“Sebelah kebun.”
“Kebun siapa?”
“Perusahaan.”
Paul diam sebentar.
“Apinya punya sertifikat?”
Orang di ujung telepon terdiam.
“Paul, saya serius.”
“Saya juga.”
“Ini kebakaran.”
“Justru karena kebakaran saya bertanya.”
Paul mengambil sepatu botnya.
“Api itu sebelum masuk kebun perusahaan, apakah dia berhenti di pagar?”
“Tidak.”
“Apakah dia menunjukkan KTP?”
“Tidak.”
“Apakah dia bertanya ini tanah siapa?”
“Tidak.”
Paul tertawa kecil.
“Berarti api lebih memahami lanskap daripada kita.”
2. MANUSIA MEMBUAT BATAS
Paul sampai di lokasi.
Di depannya terbentang peta.
Ada garis merah.
Garis biru.
Garis hijau.
Ada batas desa.
Batas kecamatan.
Batas kabupaten.
Batas konsesi.
Batas kawasan.
Batas perkebunan.
Batas hutan.
Batas lahan masyarakat.
Semua tampak sangat rapi.
Paul memandangi peta.
“Indah sekali.”
Seorang pejabat tersenyum.
“Ini peta tata ruang.”
Paul mengangguk.
“Luar biasa.”
“Apa yang luar biasa?”
“Kita berhasil membuat begitu banyak batas.”
Ia menunjuk titik api.
“Sayangnya api tidak bisa membaca peta.”
Pejabat itu tertawa kecil.
Paul tidak.
“Dan asap lebih tidak bisa lagi.”
3. RAPAT KOORDINASI
Siang harinya diadakan rapat koordinasi.
Peserta rapat cukup banyak.
Ada pemerintah daerah.
Ada perusahaan.
Ada aparat.
Ada petugas teknis.
Ada perwakilan masyarakat.
Ada akademisi.
Ada orang yang tugasnya membuat notulen.
Ada orang yang tugasnya membuat daftar hadir.
Ada orang yang tugasnya mendokumentasikan rapat.
Paul duduk di belakang.
Ketua rapat berkata:
“Bapak-Ibu, kita harus menentukan siapa yang bertanggung jawab.”
Semua mengangguk.
Pertanyaan itu memang penting.
Kemudian seseorang berkata:
“Lokasi kebakaran berada di wilayah A.”
Yang lain menjawab:
“Tetapi sumber apinya dari wilayah B.”
Orang ketiga berkata:
“Berdasarkan kewenangan, itu masuk wilayah C.”
Orang keempat berkata:
“Namun secara administratif, ini merupakan tanggung jawab D.”
Rapat menjadi semakin produktif.
Paul mencatat.
API: 1
MANUSIA: 0
4. PAUL MENGAJUKAN PERTANYAAN YANG SALAH
Paul mengangkat tangan.
“Boleh saya bertanya?”
Ketua rapat mengangguk.
“Silakan.”
“Kalau api tidak tahu batas administrasi, mengapa kita mengelolanya berdasarkan batas administrasi?”
Ruangan menjadi sunyi.
Seorang pejabat menjawab:
“Karena kewenangan pemerintahan memang mempunyai batas.”
Paul mengangguk.
“Itu benar.”
Ia berdiri.
“Jadi masalahnya bukan bahwa kita mempunyai batas.”
“Lalu?”
“Masalahnya adalah apakah batas kewenangan kita mempunyai mekanisme untuk bekerja bersama ketika masalahnya melampaui batas.”
Ketua rapat mulai tertarik.
Paul melanjutkan:
“Api adalah fenomena ekologis.”
“Sedangkan organisasi kita?”
“Fenomena administratif.”
Ia tersenyum.
“Kalau dua-duanya tidak dipertemukan, api akan selalu lebih cepat.”
5. KOPERASI MENEMUKAN SESUATU YANG ANEH
Sore hari Paul mengajak anggota koperasi ke lapangan.
Mereka membawa peta.
Tetapi kali ini peta mereka berbeda.
Tidak hanya menunjukkan kepemilikan tanah.
Tidak hanya menunjukkan batas desa.
Mereka menggambar:
air.
gambut.
vegetasi.
kanal.
jalan.
permukiman.
sumber air.
riwayat kebakaran.
jalur akses.
lokasi kelompok masyarakat.
Seorang anggota berkata:
“Paul, ini bukan peta tanah.”
“Benar.”
“Lalu peta apa?”
“Peta kehidupan.”
Mereka tertawa.
Paul menunjuk peta.
“Tanah memang penting.”
“Tetapi?”
“Kalau kita hanya tahu siapa memiliki tanah, kita belum tentu tahu bagaimana api bergerak.”
6. SATU LANSKAP, BANYAK PEMILIK
Mereka menemukan sesuatu yang menarik.
Satu kawasan gambut ternyata terdiri dari beberapa pemilik.
Ada perusahaan.
Ada masyarakat.
Ada kawasan hutan.
Ada jalan.
Ada kanal.
Ada lahan yang tidak jelas siapa yang mengelolanya.
Paul bertanya:
“Siapa yang menjaga air?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
“Siapa yang memelihara kanal?”
Jawaban mulai beragam.
“Bukan kami.”
“Itu wilayah perusahaan.”
“Itu kewenangan pemerintah.”
“Dulu masyarakat yang membuat.”
“Sekarang sudah tidak jelas.”
Paul mengangguk.
“Bagus.”
Seorang pemuda heran.
“Bagus dari mana?”
“Sekarang kita tahu masalahnya.”
“Masalahnya apa?”
“Semua orang mempunyai wilayah.”
Paul menunjuk kanal.
“Tetapi tidak ada yang merasa mempunyai masalah bersama.”
7. KOPERASI SEBAGAI JEMBATAN
Paul kemudian mengusulkan sesuatu.
“Bentuk kelompok kerja lanskap melalui koperasi.”
Seorang warga bertanya:
“Apakah koperasi boleh mengurus lahan perusahaan?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Koperasi mengurus kepentingan bersama sesuai kewenangannya.”
“Contohnya?”
“Data.”
“Bisa.”
“Pemantauan.”
“Bisa.”
“Pemeliharaan fasilitas yang memang menjadi tanggung jawab bersama.”
“Bisa.”
“Pendidikan.”
“Bisa.”
“Pengembangan usaha alternatif agar masyarakat tidak terdorong melakukan praktik berisiko.”
“Bisa.”
“Koordinasi.”
“Bisa.”
Paul tersenyum.
“Yang tidak boleh adalah koperasi mengambil alih kewajiban pihak lain.”
“Jadi koperasi bukan pemadam kebakaran pengganti?”
“Bukan.”
“Bukan pemerintah?”
“Bukan.”
“Bukan perusahaan?”
“Bukan.”
“Lalu koperasi apa?”
Paul menjawab:
“Organisasi yang membuat orang-orang yang saling bergantung mampu bertindak bersama.”
8. DANA PENCEGAHAN
Kemudian muncul pertanyaan yang biasanya membuat semua orang tiba-tiba melihat langit.
“Dari mana dananya?”
Paul tersenyum.
Pertanyaan itu memang selalu datang.
“Berapa biaya satu hari pemadaman?”
“Banyak.”
“Berapa biaya kehilangan produktivitas?”
“Banyak.”
“Berapa biaya kesehatan?”
“Sulit dihitung.”
“Berapa biaya kerusakan gambut?”
“Lebih sulit lagi.”
Paul mengangguk.
“Jadi kita bersedia mengeluarkan uang setelah kebakaran.”
“Ya.”
“Tetapi kita sulit mengeluarkan uang sebelum kebakaran.”
Semua diam.
Paul berkata:
“Ini salah satu teka-teki terbesar ekonomi modern.”
Ia mengambil kapur.
Menulis:
BIAYA PENCEGAHAN = BIAYA YANG TERLIHAT
Kemudian:
KERUGIAN KEBakaran = BIAYA YANG SERING TERLAMBAT TERLIHAT
Ia menambahkan:
EKONOMI YANG HANYA MENGHITUNG YANG TERLIHAT AKAN CENDERUNG TERLAMBAT MENCEGAH.
9. KOPERASI MEMBUAT DANA ASAP
Nama dana itu kemudian menjadi bahan lelucon.
Mereka menyebutnya:
Dana Asap.
Paul protes.
“Namanya jelek.”
Seorang ibu menjawab:
“Justru supaya kita ingat.”
Dana itu sebenarnya bukan untuk membeli asap.
Dana itu digunakan untuk:
– pemeliharaan sarana pencegahan;
– pengukuran kondisi lapangan;
– pelatihan;
– komunikasi;
– perlengkapan keselamatan;
– pemetaan;
– kegiatan pengelolaan vegetasi;
– dan kebutuhan pencegahan lain yang disepakati sesuai aturan.
Paul mengatakan:
“Jangan menunggu kebakaran untuk mencari uang.”
“Kalau uangnya tidak cukup?”
“Mulai dari yang paling penting.”
“Bagaimana menentukan?”
“Risiko.”
“Bukan berdasarkan siapa yang paling keras meminta?”
Paul tertawa.
“Kalau begitu kita sudah mulai belajar ekonomi.”
10. API MEMBUAT KOPERASI BELAJAR
Beberapa hari kemudian terjadi kebakaran kecil.
Koperasi menerima laporan.
Tidak ada kepanikan.
Informasi segera diteruskan kepada pihak yang berwenang.
Kelompok lapangan membantu sesuai kemampuan dan prosedur keselamatan.
Lokasi diperiksa.
Sumber air disiapkan.
Akses dibuka.
Data dicatat.
Setelah kejadian selesai, Paul mengadakan rapat.
Seorang anggota berkata:
“Syukurlah api cepat padam.”
Paul mengangguk.
“Ya.”
“Berarti selesai.”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Karena kita belum belajar.”
Ia membuka buku.
“Apa yang berhasil?”
Mereka mencatat.
“Apa yang gagal?”
Mereka mencatat.
“Informasi terlambat dari mana?”
Mereka mencatat.
“Peralatan apa yang tidak tersedia?”
Mereka mencatat.
“Siapa yang tidak tahu harus menghubungi siapa?”
Mereka mencatat.
Paul tersenyum.
“Sekarang kebakaran kecil tadi sudah berubah menjadi pengetahuan.”
11. AGNOTOLOGI MASUK KE RAPAT
Seorang anggota bertanya:
“Paul, apa hubungannya dengan agnotologi?”
Paul menjawab:
“Ketidaktahuan tidak selalu berarti kita tidak mempunyai informasi.”
“Lalu?”
“Kadang-kadang informasi ada, tetapi tidak digunakan.”
“Kenapa?”
“Karena tidak sampai kepada orang yang mengambil keputusan.”
“Lalu?”
“Atau orang yang mengambil keputusan tidak mempunyai insentif untuk menggunakannya.”
“Lalu?”
“Atau organisasi terlalu sibuk mempertahankan batas kewenangannya.”
Paul berhenti.
“Pengetahuan dapat mati di dalam birokrasi.”
Seorang anggota tertawa.
“Seperti ikan?”
“Tidak.”
“Seperti apa?”
“Seperti dokumen.”
12. PAUL MENEMUKAN MUSUH YANG LEBIH BESAR DARIPADA API
Malam itu Paul duduk bersama ketua koperasi.
Ketua bertanya:
“Menurutmu, musuh terbesar kita apa?”
“Api.”
Paul menggeleng.
“Kekeringan?”
“Bukan.”
“Gambut?”
“Bukan.”
“Kelalaian manusia?”
“Belum.”
Ketua koperasi berpikir lama.
“Lalu apa?”
Paul menjawab perlahan:
“Ketidakmampuan untuk bertindak bersama.”
Ketua koperasi terdiam.
Paul melanjutkan:
“Api bisa dipadamkan.”
“Gambut bisa dibasahi.”
“Kanal bisa diperbaiki.”
“Pengetahuan bisa diajarkan.”
“Tetapi kalau setiap orang hanya menjaga wilayahnya sendiri sementara risiko bergerak melintasi wilayah itu, kita akan terus mengulang cerita yang sama.”
13. PAUL MENJADI ANAK KAPUAS
Malam semakin larut.
Paul berjalan menuju Sungai Kapuas.
Ia lahir jauh dari Indonesia.
Dulu ia datang sebagai orang Amerika.
Tetapi bertahun-tahun hidup di Sintang membuatnya merasa ada sesuatu yang berubah.
Ia tidak lagi bertanya:
“Bagaimana Amerika menyelesaikan ini?”
Ia bertanya:
“Bagaimana Indonesia dapat menyelesaikannya dengan kekuatan Indonesia sendiri?”
Ia memandang sungai.
Kapuas tidak pernah mengatakan:
“Ini air milik desa A.”
Kapuas mengalir.
Melewati banyak wilayah.
Menghubungkan banyak kehidupan.
Paul tersenyum.
“Kapuas adalah guru koperasi yang buruk.”
Seorang pemuda yang mengikutinya bertanya:
“Kenapa buruk?”
“Karena Kapuas tidak pernah mengadakan rapat.”
Pemuda itu tertawa.
Paul melanjutkan:
“Tapi semua orang terhubung olehnya.”
14. KOPERASI DAN API
Sebelum pulang, Paul menulis tujuh kalimat di papan koperasi:
1. KOPERASI MENGENALI RISIKO.
2. KOPERASI MENGUKUR KONDISI LAPANGAN.
3. KOPERASI MENJAGA HUBUNGAN ANTARPIHAK.
4. KOPERASI MENGELOLA SUMBER DAYA BERSAMA.
5. KOPERASI MEMBANGUN KAPASITAS SEBELUM DARURAT.
6. KOPERASI MENGUBAH PENGALAMAN MENJADI PENGETAHUAN.
7. KOPERASI MEMASTIKAN PENGETAHUAN MENJADI TINDAKAN.
Ia menatap tulisan itu.
“Kalau tujuh hal ini tidak dilakukan?”
Seorang anggota menjawab:
“Koperasi hanya nama.”
Paul mengangguk.
“Benar.”
15. API TIDAK PUNYA ORGANISASI
Pagi berikutnya, berita kebakaran kembali muncul.
Titik panas bertambah.
Asap mulai terlihat.
Orang-orang kembali bertanya:
“Siapa pelakunya?”
“Siapa yang salah?”
“Siapa yang harus dihukum?”
Pertanyaan itu penting.
Tetapi Paul mempunyai pertanyaan lain.
Ia berdiri di tepi Kapuas.
“Siapa yang seharusnya mencegah?”
Kemudian ia menjawab sendiri:
“Semua yang mempunyai kewenangan.”
“Semua yang mempunyai pengetahuan.”
“Semua yang memperoleh manfaat dari lanskap.”
“Semua yang mempunyai kemampuan bertindak.”
Tetapi ia segera menambahkan:
“Bukan berarti semua orang mempunyai tanggung jawab yang sama.”
Paul tahu bahwa keadilan tidak berarti membagi kesalahan secara rata.
Keadilan berarti:
tanggung jawab mengikuti perbuatan, kewenangan, kemampuan, dan bukti.
16. PERADABAN ADALAH SEKAT BAKAR YANG DIBUAT MANUSIA
Paul kembali ke rumah.
Ia membuka buku catatan.
Di halaman terakhir ia menulis:
«Api tidak mempunyai sertifikat tanah.»
Kemudian:
«Asap tidak mempunyai batas kabupaten.»
Kemudian:
«Air tidak mempunyai KTP.»
Ia berhenti.
Lalu menulis kalimat terakhir:
«Karena alam tidak bekerja menurut batas organisasi manusia, maka organisasi manusia harus belajar bekerja menurut hubungan yang dibentuk alam.»
Paul menutup buku.
Besok koperasi akan bekerja lagi.
Memeriksa air.
Memeriksa kanal.
Memeriksa alat.
Menghubungi tetangga.
Mencatat perubahan.
Mengumpulkan pengetahuan.
Membuat keputusan.
Tidak ada yang heroik.
Tidak ada musik film.
Tidak ada kamera televisi.
Hanya orang-orang biasa yang melakukan pekerjaan yang sering baru dihargai setelah semuanya gagal.
Paul tersenyum.
“Begitulah koperasi.”
Ia memandang Kapuas untuk terakhir kalinya malam itu.
“Bukan organisasi untuk menghadapi kebakaran.”
Ia mengoreksi dirinya sendiri.
“Organisasi untuk membuat kebakaran semakin sulit terjadi.”
Dan di kejauhan, sebuah garis asap naik ke langit.
Paul melihatnya.
Kali ini ia tidak menunggu.
Ia mengambil telepon.
Bukan untuk bertanya:
“Siapa yang salah?”
Tetapi:
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
CATATAN PENULIS
Cerita ini merupakan fiksi-satire. Paul adalah tokoh rekaan.
Dalam cerita ini, koperasi diposisikan bukan sebagai pengganti pemerintah, perusahaan, atau tenaga pemadam profesional. Koperasi berfungsi sebagai infrastruktur sosial-ekonomi pencegahan: mengorganisasi informasi, membangun kapasitas masyarakat, mengelola sumber daya bersama yang menjadi kewenangannya, memperkuat koordinasi, mendukung mata pencaharian yang lebih aman, dan mengubah pengetahuan menjadi tindakan kolektif.
Gagasan utama cerita: api bergerak mengikuti kondisi ekologis, bukan mengikuti batas administrasi. Karena itu, tata kelola karhutla perlu memiliki mekanisme koordinasi yang mengikuti kesatuan lanskap dan hidrologis, sementara tanggung jawab hukum tetap mengikuti kewenangan dan ketentuan hukum masing-masing pihak.
Bersambung ke #6: Paul Bertanya, “Siapa yang Menyalakan Api?”








Komentar