Oleh: Agus Pakpahan
MALAM, PIKIRAN, DAN ENERGI
Malam bagi sebagian orang adalah waktu untuk beristirahat.
Tetapi bagi seseorang yang mengalami insomnia, malam justru bisa menjadi waktu yang panjang.
Lampu kamar sudah dimatikan.
Rumah sudah sunyi.
Tidak ada lagi suara televisi.
Tidak ada percakapan.
Tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Semestinya tubuh sudah waktunya beristirahat.
Tetapi matanya tetap terbuka.
Ia mencoba memejamkan mata.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Setengah jam.
Tetap belum tertidur.
Pikiran terus berjalan.
Kadang memikirkan pekerjaan.
Kadang memikirkan keluarga.
Kadang tidak memikirkan apa-apa, tetapi tetap tidak bisa tidur.
Begitulah malam-malamnya.
Tidur menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.
Bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya.
Ia pernah berpikir,
“Apakah akan begini terus?”
Pagi hari pun akhirnya datang.
Ia bangun bukan karena merasa cukup tidur.
Ia bangun karena hari sudah dimulai.
Akibatnya, pagi terasa berat.
Tubuh belum benar-benar siap.
Pikiran belum benar-benar segar.
Dan malam berikutnya, siklus itu kembali lagi.
Sulit tidur.
Menunggu.
Terbangun.
Menunggu lagi.
Kemudian pagi datang.
Sampai suatu saat Arief mulai mengonsumsi Fermented Rice Bran Cap 3Ikan (FRB 3Ikan).
Ia tidak memasang harapan terlalu tinggi.
Ia hanya menjadikannya bagian dari pola konsumsi hariannya.
Hari-hari pertama berjalan seperti biasa.
Tetapi kemudian ia mulai memperhatikan sesuatu.
Malam terasa berbeda.
Ia berbaring.
Memejamkan mata.
Dan kali ini tubuhnya seperti lebih mudah memasuki suasana istirahat.
Tidak ada perjuangan panjang seperti sebelumnya.
Ia tertidur.
Malam berlalu.
Pagi datang.
Ia membuka mata.
Ada perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan.
Segar.
Bukan berarti semua masalah kehidupan tiba-tiba hilang.
Bukan pula berarti setiap malam setelah itu selalu sempurna.
Tetapi menurut pengalamannya, tidur menjadi jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Ia mulai menyadari betapa besar arti tidur yang baik.
Ketika malam menjadi lebih tenang, pagi pun terasa berbeda.
Bangun tidak lagi terasa seperti sedang melanjutkan perjuangan dari malam sebelumnya.
Tubuh terasa lebih siap.
Pikiran terasa lebih ringan.
Ia kemudian berkata kepada orang terdekatnya:
“Sekarang saya bisa tidur.”
Kalimat itu sederhana.
Tetapi bagi seseorang yang lama mengalami kesulitan tidur, kalimat sederhana itu mempunyai arti yang sangat besar.
Ia tidak sedang mengatakan bahwa FRB adalah obat insomnia.
Ia hanya menceritakan apa yang ia rasakan.
Sebelum mengonsumsi FRB, ia mengalami kesulitan tidur.
Setelah mengonsumsi FRB, menurut pengalamannya, tidurnya menjadi lebih normal.
Itulah testimoninya.
Dan mungkin justru karena sederhana, pengalaman itu menarik untuk dicatat.
Sebab tidur bukan hanya soal berapa jam seseorang berada di tempat tidur.
Tidur berkaitan dengan bagaimana seseorang menjalani hari berikutnya.
Ketika tidur terganggu, hari dapat terasa berat.
Ketika tidur terasa cukup dan nyenyak, seseorang dapat merasakan perubahan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Ia kemudian mulai menikmati kembali malam.
Bukan karena malam berubah.
Bukan karena dunia tiba-tiba menjadi sunyi.
Tetapi karena tubuhnya, menurut pengalamannya, mulai memberikan kesempatan untuk beristirahat.
Lampu kamar dipadamkan.
Ia berbaring.
Menarik selimut.
Menutup mata.
Dan tidak lagi sibuk menghitung:
“Sudah berapa menit saya belum tidur?”
Malam yang dahulu terasa panjang kini terasa singkat.
Ia tertidur.
Dan ketika pagi datang, ia tersenyum.
Ada sesuatu yang kembali menjadi miliknya.
Malam.
Malam yang sebelumnya menjadi waktu untuk menunggu.
Kini kembali menjadi waktu untuk beristirahat.
Dan mungkin, bagi seseorang yang pernah lama mengalami insomnia, itu adalah hadiah yang sangat sederhana tetapi sangat berarti:
bisa memejamkan mata, tidur, dan bangun dengan perasaan lebih baik.
CATATAN TESTIMONI
Cerita #1 merupakan pengembangan naratif dari pengalaman konsumen FRB 3Ikan yang dilaporkan oleh Arief, nama samaran, bahwa insomnia atau kesulitan tidur menjadi normal kembali setelah mengonsumsi FRB 3Ikan.
Testimoni ini adalah laporan pengalaman individual. Cerita tersebut tidak membuktikan bahwa FRB 3Ikan merupakan obat insomnia atau bahwa perubahan tidur tersebut pasti disebabkan oleh FRB.
Kualitas tidur dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain usia, stres, aktivitas, pola makan, konsumsi kafein, obat-obatan, kondisi kesehatan, dan kebiasaan tidur.
Karena itu, pengalaman #1 sebaiknya dipandang sebagai observasi konsumen yang menarik untuk diteliti lebih lanjut.
Ia tidak memberikan kesimpulan. Ia memberikan sebuah pertanyaan:
«Apakah ada sesuatu dalam fermented rice bran yang dapat berhubungan dengan perubahan kualitas tidur?»
Pertanyaan itulah yang kemudian membawa kita kepada cerita-cerita berikutnya.








Komentar