oleh

Akibat Kurang Pengawasan, Warga Kab.Tasikmalaya Keluhkan Sembako Bansos Berkualitas Buruk

Kab.Tasikmalaya,LINTAS PENA

Akibat kurangnya pengawasan dari pihak terkait, maka sembako bantuan social yang diterima keluarga penerima manfaat (KPM) Bantuan Pemerintah Non Tunai (BPNT) menolak sembako berkualitas buruk, sehingga mubazir karena tidak bisa dikonsumsi. Hal ini dialami masyarakat KPM di Kabupaten Tasikmalaya khususnya di wilayah Kec Ciawi pada penerimaan bansos terakhir.

            “Kami menerima bansos BPNT terakhir, dimana sembako tersebut dengan kualitas buruk, tidak layak konsumsi seperti buah jeruk yang sudah membusuk, daging banyak lemaknya dan beras pun yang katanya kualitas premium justru sudah berwarna hitam dan sudah kadaluarsa,”ujar seorang KPM kepada LINTAS PENA.

            Menurut dia, bantuan beras dengan kualitas buruk itu tak hanya diperoleh olehnya, tetapi juga oleh banyak warga yang lain. Lantaran tak layak konsumsi, warga penerima bantuan beras itu hanya dapat memanfaatkannya untuk pakan ayam.”Banyak di RW saya yang dapat beras bau dan berwarna hitam   kayak saya, yang dapat beras bagus paling hanya beberapa orang. Berasnya itu enggak layak dimakan. Itu ada yang dijemur, ada yang buat makan ayam, karena habis dimasak itu nasinya enggak enak,” katanya.

            Dengan melihat kenyataan di lapangan seperti itu, Ketua PJBN Tasikmalaya Raya Acep Sutrisna,SE,Ak pun berkomentar.”Ini akibat kurangnya pengawasan dari pihak terkait terhadap rekanan penyedia sembako yang disalurkan, misalnya bansos BPNT ke E Warong, sehingga sembako yang diterima masyarakat berkualitas buruk.”ujarnya.

            Jika pengawasan yang ketat diterapkan, lanjut Acep Sutrisna,SE.Ak, maka ketika rekanan penyedia sembako tersebut harus mendapat sanksi berat, tidak diberikan orderan lagi alias kena black list.”Rekanan penyedia sembako itu jelas merugikan masyarakat penerima dan pemerintah yang mengeluarkan anggaran untuk membeli sembako berkualitas,”tegasnya.

            Hal senada diungkapkan pemerhati sosial ekonomi Redi Mulyadi, bahwa pemerintah melalui pihak terkait agar melakukan pengawasan terhadap rekanan penyedia sembako bansos, terutama yang disalurkan melalui E Warong agar PKM memperoleh sembako yang berkualitas.”Kalau diketahui ada rekanan penyedia sembako yang nakal, harus diblacklist saja. Jangan justru bermain mata demi mendapat keuntungan dari bansos yang disalurkan pemerintah,”tuturnya.

            Redi Mulyadi menambahkan, seyogyanya pemerintah harus cepat tanggap dan sampai sekarang pihak pemerintah belum bergerak sedikitpun dan seolah-olah diam tanpa ada pengecekan di lapangan.Sampai kabar ini terjadi belum ada pengecekan dari dinas tekait untuk masalah ini.

Pengawasan terhadap sembako bansos yang terjadi di kab.tasikmalaya khususnya di kec.ciawi kurang optimal hal ini terjadi banyak sembako bansos dengan kualitas yang tidak layak seperti jeruk yang di terima oleh masyarakat tidak layak untuk dikonsumsi di karenakan sudah membusuk dan juga beras yang konon katanya kualitas premium tapi temuan di lapangan dan di terima oleh masyarakat berasnya berwarna hitam dan sudah kadaluarsa…dan juga daging sapi yamg kualitasnya banyak lemak dengan sedikit daging banyak masyarakt komplain atas bantuan dari pemerintah..

            “Demikian pula masyarakat PKM BPNT harus berani menolak sembako berkualitas buruk dan pindah ke E-warung lain yang menyediakan bahan pokok berkualitas. Warga PKM BPNT agar tidak membeli dan menolak kalau memang bahan pokok yang disediakan E-warong tidak sesuai dengan standar yang sudah ditentukan. Bahkan kalau busuk, agar membeli di E-warung yang lain. Jika mendapatkan bahan pokok yang tidak sesuai termasuk daging atau buah-buahan, laporkan saja….!”

            Khusus kepada E-Warong, dia menyerankan untuk mandiri, guna mendapatkan suplai barang kebutuhan pokok dari distributor atau agen lokal. Sehingga barang kebutuhan pokok untuk KPM memiliki kualitas yang terjamin.

“Kalau ada pemasok ayam, beras, daging, telur, buah buahan dan kebutuhan pokok lainnya ada di wilayah sekitar dengan kualitas bagus, kenapa harus membeli dari pemasok yang jauh namun kualitasnya jelek, sehingga saya minta KPM untuk jeli karena mereka pembeli dan penerima manfaat,” tegas Redi Mulyadi mengkahiri obrolan. (SUNAR)***

Komentar

News Feed