ََبََبً لّمَغحفّرَتّه ّ و َ و ّْيح ِسًّا لّلتَّائّبحَ وَمَو ّْيححنّبقّفًا لّلحمُذح جَعَل َ عَرَفَة َ مَوحد ُ لِلّٰه ّ الَّذّيحا َْلح َمََلَ ْحَحد َعَا حَانَه ُ وَتحنَ، َنَحمَدُه ُ سُبحرَْحح َتّه ّ لّلحمُنحكَسّرّي َ
سِفّح َ حو َ رَبّٰه ّ وَطَمّعفَه ُ وَرَجَا عَفح عَرَف َ ضَعحمَنَنحَ وَاْلح خّرّي ّْيحك َ لَه ُ إّلهه ُ اْلح َوَّلحُ َلَ شَرّي دَهحَّلَّ هللا ُ وَح َلَ إّلهه َ إ ححهَد ُ أَنعَة ّ رَْحح َتّهّ، وَأَش َّ
َِبُّّ الرَّْحح َة ّ وَإّمَام ُ الحمُت لُه ُ نحدُه ُ وَرَسُوحََنَ ُمَُمَّدًا عَب حهَد ُ أَن َّ سَيّٰدنّ، وَأَشحم ّ الدّٰيحَو وَمَلّك ُ ي ََ و ّْيحقحهُم َّ صَل ّٰ وَسَلّٰمٰه َ، اَللّْيححلّصح وَة ُ الحمُخقُد َ
َّقُوا هللا َيَا عّبَاد َ هللا ّ اّت د ُ فحَع َ، أَمَّا بّْيحبّه ّ أ َْجح َعحَّنَ ُمَُمَّد ٍ وَعَلَى آلّه ّ وَصَح ح عَلَى سَيّٰدو ََبَرّكَفحُو ه ّ وُقحَ يَدَي َْيحا بحُقَاتّه ّ وَقّفُو حَق َّ تَّلَ
ن َ إححتَقّرّيالحمُفِفّح ُ دحمّلُه ُ الحعَب َيَح َ مَاَْيحر ّ فَإّن َّ خح ّ وَحُب ّٰ الظُّهُوّْبح مّن َ الر َّٰيَء ّ وَالحكحبَكُمحُلُو ا قححوّه ّ وَطَهّٰرُوعَفٌَلحب ٌ خَاشّع قّف ّ قحهذَا الحمَوهّ
ح كّتَابّه ّ الحكَرّيَلَ ِفّح َعَا َّلَ هللاّ، قَال َ هللا ُ ت بَة ٌ إححس ٌ مُنّيَف وَلّسَان ٌ ذَاكّر ٌ وَن ِّلّ اْلح َلحبَاب ّ َيَ أُو نحَّقُو هى وَاتحوَّق َ الزَّاد ّ التَْيحا فَإّن َّ خحَزَوَّدُو : وَت.َ
َلَ ش مَة َ لَك َ وَالحمُلحكَ،حد َ وَالنّٰعحكَ، إّن َّ ا ْلح َمحَّي ك َ لَك َ لَبحَ َلَ شَرّي كحَّي كَ، لَبحَّي هُم َّ لَبٰهك َ اللحَّي لَب( َ ك َ لَكحرّي٣.)×
Jemaah haji, dhuyufurrahman, tamu-tamu Allah yang dimuliakan,
Hari ini kita berkumpul di hari Arafah, kita datang dengan pakaian sederhana, hati yang
berharap, dan doa yang dipanjatkan. Di hadapan suasana yang agung ini, kita perlu menengok satu
permasalahan hidup modern yang sering tidak kita sadari. Saat ini kita hidup di zaman yang
membuat manusia sulit berhenti. Belum selesai satu target, muncul target baru. Belum selesai satu
pencapaian, muncul perbandingan baru. Belum sempat bersyukur atas yang ada, hati sudah
dipancing mengejar yang belum ada. Pagi dikejar pekerjaan. Siang dikejar angka. Malam dikejar
pikiran. Bahkan ketika tubuh sudah berbaring, kepala masih berlari.
Lihatlah keadaan banyak orang hari ini. Tampak berhasil, tetapi batinnya letih. Tampak
sibuk, tetapi hatinya kering. Tampak menang, tetapi tidak tenang. Semakin naik, semakin takut
jatuh. Semakin dikenal, semakin takut dilupakan. Semakin banyak punya, semakin sulit merasa
cukup. Inilah ambisi yang melelahkan. Lama-lama hidup bukan lagi perjalanan menuju Allah,
tetapi perlombaan melelahkan untuk memenangkan pandangan manusia.
Rasulullah saw telah mengingatkan penyakit hati seperti ini:ّ
ح يَكُون َ لَه ُ وَاد َّيَن ذَهَبٍ، أَحَب َّ أَنحَّيً مّن ن ّ آدَم َ وَادحَلّب َّ أَنحلَو.
“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua
lembah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini seperti cermin bagi ambisi yang tidak pernah selesai. Satu target tercapai, target
lain mengejar. Satu pintu dunia terbuka, pintu lain ingin dibuka. Satu pujian didapat, pujian lain
dicari. Kalau hati tidak dituntun iman, manusia akan terus berlari, tetapi tidak pernah sampai
kepada tenang.َ
َلَ ش مَة َ لَك َ وَالحمُلحكَ،د َ وَالنّٰعححكَ، إّن َّ ا ْلحَمحَّي ك َ لَك َ لَبحَ َلَ شَرّي كحَّي كَ، لَبحَّي هُم َّ لَبٰهك َ اللحَّي لَب َ
ك َ لَكحرّي
,
Jemaah haji, dhuyufurrahman, tamu-tamu Allah yang dimuliakan,
Maka di tengah hidup yang terus berlari itulah Arafah datang seperti tempat berhenti.
Sebagaimana Rasulullah saw bersabda:ُ
ا َْلح َج ُّ عَرَفَة.
“Haji itu Arafah.” (H.R. Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah).
Makna hadis ini adalah bahwa Arafah menjadi pusat haji. Seolah seluruh perjalanan haji
membawa manusia kepada satu titik: berhenti di hadapan Allah. Puncak haji bukan keramaian.
Bukan pakaian. Bukan perjalanan yang jauh. Puncak haji adalah saat manusia berhenti di hadapan
Allah dan sadar bahwa dirinya tidak punya apa-apa selain rahmat-Nya.
Di sinilah Arafah menjadi detoks bagi hati. Dalam bahasa kesehatan, detoks berarti proses
membersihkan racun dari tubuh. Ketika tubuh kemasukan racun, tubuh menjadi lemah, sakit, dan
tidak bekerja sebagaimana mestinya. Maka tubuh perlu dibersihkan. Hati juga begitu. Ketika batin
terlalu lama dimasuki racun ambisi, gengsi, iri, haus pujian, takut kalah, dan keinginan untuk selalu
terlihat hebat, maka jiwa menjadi lelah, ibadah terasa berat, syukur terasa jauh, dan hidup terasa
bising.
Maka Arafah datang sebagai detoks batin. Membersihkan hati dari ambisi yang
melelahkan. Arafah seperti berkata kepada kita: berhentilah sebentar. Turunkan beban ambisimu.
Lepaskan keinginan untuk selalu terlihat menang. Lepaskan topeng yang terlalu lama kamu pakai.
Di hadapan Allah, yang paling penting bukan siapa yang paling dikenal manusia, tetapi siapa yang
paling jujur hatinya. Allah Swt berfirman:ٌ
محر ٌ رَّحّيحَغحفّرُوا هللاَ، إّن َّ هللا َ غَفُو تحث ُ أَفَاض َ النَّاس ُ وَاسح حَيحا مّنحضُوحُثَُّ أَفّي.
“Kemudian, bertolaklah kamu dari tempat orang-orang bertolak (Arafah) dan mohonlah
ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 199).
Ayat ini menarik. Setelah manusia menyelesaikan bagian penting dari manasik, Allah
memerintahkan istigfar. Setelah ibadah besar, masih disuruh memohon ampun. Apa pesannya?
Jangan pernah merasa terlalu suci karena telah beribadah. Jangan merasa terlalu hebat karena telah
banyak beramal. Jangan merasa lebih tinggi karena telah berkorban. Bahkan setelah berada di
tempat semulia Arafah, manusia tetap diminta menunduk dan mengucapkan istigfar.َ
َلَ ش مَة َ لَك َ وَالحمُلحكَ،د َ وَالنّٰعححكَ، إّن َّ ا ْلحَمحَّي ك َ لَك َ لَبحَ َلَ شَرّي كحَّي كَ، لَبحَّي هُم َّ لَبٰهك َ اللحَّي لَب َ
ك َ لَكحرّي
,
Jemaah haji, tamu-tamu Allah yang dimuliakan,
Racun ambisi yang paling berbahaya tidak selalu tampak dalam bentuk harta dan jabatan.
Kadang ia bersembunyi di balik amal. Seseorang tampak berjuang, tetapi ingin disebut hebat.
Tampak berilmu, tetapi ingin dipuji. Tampak dermawan, tetapi haus pengakuan. Di sinilah ambisi
menjadi halus, tetapi sangat berbahaya.
Rasulullah saw pernah memberi peringatan yang sangat keras. Beliau menceritakan tiga
manusia yang pertama kali diadili pada hari kiamat. Mereka bukan orang yang amalnya kecil.
Yang pertama mati di medan perang. Yang kedua belajar ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-
Qur’an. Yang ketiga banyak bersedekah. Tetapi ketika amal mereka dibuka di hadapan Allah,
ternyata ada penyakit di dalam hati mereka: mereka beramal bukan karena Allah, tetapi karena
ambisi ingin disebut hebat oleh manusia.
Kepada orang yang berperang itu, dalam hadis riwayat Muslim, Allah berfirman:َ
لحح قّيَقَد ءٌ، فحُقَال َ جَرّي ح يْلَّن َ َلحت تَ، وَلهكّنَّك َ قَاتحكَذَب.
“Engkau dusta. Engkau berperang agar disebut pemberani, dan sebutan itu telah engkau
dapatkan.”
Kepada orang yang belajar ilmu dan membaca Al-Qur’an, Allah berfirman:َ
لحح قّيَقَد ُقَال َ هُو َ قَارّئٌ، ف آن َ لّيحَرَأحت َ الحقُر ُقَال َ عَا ِلٌّ، وَق ت َ الحعّلحم َ لّيحَعَلَّم تَ، وَلهكّنَّك َ تحكَذَب.
“Engkau dusta. Engkau belajar ilmu agar disebut alim, dan engkau membaca Al-Qur’an
agar disebut qari. Sebutan itu telah engkau dapatkan.”
Kepada orang yang banyak bersedekah, Allah berfirman:َ
لحح قّيَقَد ُقَال َ هُو َ جَوَادٌ، ف َعَلحت َ لّي تَ، وَلهكّنَّك َ فحكَذَب.
“Engkau dusta. Engkau melakukannya agar disebut dermawan, dan sebutan itu telah
engkau dapatkan.”
Hadis ini adalah sebuah teguran keras. Mereka membawa amal besar, tetapi tidak
membawa niat yang bersih. Mereka membawa keberanian, ilmu, Al-Qur’an, dan sedekah, tetapi
semuanya tercemar oleh ambisi ingin disebut.
Maka di Arafah ini kita diajak bermuhasabah. Apa yang selama ini kita kejar? Ibadah apa
yang kita abaikan? Ambisi apa yang membuat kita lupa pulang kepada Allah? Hari ini jangan
hanya tubuh yang berdiri di Arafah. Hati juga harus berdiri di hadapan Allah. Mengakui dosa.
Mengakui salah. Mengakui bahwa banyak ambisi kita perlu dibersihkan. Rasulullah saw
menggambarkan betapa luasnya ampunan Allah pada hari Arafah melalui sabdanya:َ
م ّ عَرَفَةحَو يحدًا مّن َ النَّار ّ مّنحه ّ عَبحتّق َ هللا ُ فّيحُع ح ي أَنحَر َ مّن حثم ٍ أَكحَو يحمَا مّن.
“Tidak ada hari ketika Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka melebihi hari
Arafah.” (H.R. Muslim).
Rasulullah saw juga bersabda:َ
م ّ عَرَفَةحَو ُ الدُّعَاء ّ دُعَاء ُ يَْيحخ.
“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.” (H.R. Tirmidzi).
Inilah kemuliaan hari ini. Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi menjelaskan bahwa
maksud “sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah” ialah doa yang paling utama, paling besar
keberkahannya, paling besar pahalanya, dan paling dekat untuk dikabulkan. Maka orang yang
memahami kemuliaan Arafah tidak akan membiarkan hari ini berlalu tanpa doa.َ
َلَ ش مَة َ لَك َ وَالحمُلحكَ،د َ وَالنّٰعححكَ، إّن َّ ا ْلحَمحَّي ك َ لَك َ لَبحَ َلَ شَرّي كحَّي كَ، لَبحَّي هُم َّ لَبٰهك َ اللحَّي لَب َ
ك َ لَكحرّي
,
Jemaah haji, tamu-tamu Allah yang dimuliakan,
Maka sebelum kita meninggalkan Arafah, jangan hanya berharap pulang dengan tubuh
yang telah menyelesaikan manasik. Pulanglah dengan doa yang sungguh-sungguh, dengan hati
yang lebih bersih, dan dengan niat yang lebih lurus kepada Allah. Mari detoks hati kita dari ambisi
yang salah. Turunkan ego yang terlalu tinggi. Redakan nafsu yang terlalu bising. Bersihkan niat
yang mulai tercampur pujian.
Semoga di hari Arafah ini Allah membersihkan hati kita dari ambisi yang melelahkan.
Semoga Allah menjadikan cita-cita kita sebagai jalan kebaikan. Semoga Allah mengampuni dosa-
dosa kita, menerima doa kita, menerima wukuf kita, dan menjadikan kita hamba yang pulang
kepada-Nya dengan hati yang tenang. Amin.َ
رًا، وَعَمَلَنحَنَا ذَنحبًا مَغحفُو رًا، وَذَنحبححكُويًا مَشحَنَا سَع يحرًا، وَسَعح ُوَْبح حَجَّنَا حَجًّا محعَلحهُم َّ اجٰهاَللَلً حُو حبًَلً صَا ْلًّا مَق ا عَم.
حر ّ ا ْلحََيَت ّ وَالذّٰك ه ّ مّن َ اْلححِبَّا فّي ح وَإ َّيَّكُم َِنّحَفَع مّ، وَنحآن ّ الحعَظّيحِفّ الحقُر ح وَلَكُمِلّح ُ َبَرَك َ هللاِلّح َ َغحفّر ُ هللا تحهذَا، وَأَس هح ِلّحَو ل ُ قحُو مّ. أَقحكّي
حَغحفّرُو تحلّمَاتّ، فَاسحَ وَالحمُس ّْيحلّمح وَلّسَائّر ّ الحمُسحوَلَكُم ُمحر ُ الرَّحّيحهُ، إّنَّه ُ هُو َ الحغَفُو.
Khotbah Kedua
حَو َ َبّلحمَغحفّرَةّ، وَجَعَل َ ي نحَغحفّرّي تحبَةّ، وَوَعَد َ الحمُسحَّو ّ َبَب َ الت َتَح َ لّعّبَادّه فحد ُ لِلّٰه ّ الَّذّيحا َْلح َم َ أَعحظَم ّ أ ََيَّم ّ الرَّْحح َة ّ وَالحعّتحق ّ مّنحم َ عَرَفَة َ مّن
حُ َلَ شَرّي دَهحَّلَّ هللا ُ وَح َلَ إّلهه َ إ ححهَد ُ أَنالنَّارّ. أَشَّلَ إحلُهُ، الدَّاعّيحدُه ُ وَرَسُوحََنَ ُمَُمَّدًا عَب حهَد ُ أَن َّ سَيّٰدمُ، وَأَشحر ُ الرَّحّيحك َ لَهُ، الحغَفُو
حَاحَّنَ ُمَُمَّدٍ، وَعَلَى آلّه ّ وَأَص ح عَلَى سَيّٰد و ََبَرّكحهُم َّ صَل ّٰ وَسَلّٰمٰهَّنَبَةّ. اَلل حق ّ اْلحح ًلَص ّ وَصّداْلح ّخ َ تَبّعحبّه ّ وَمَنّمحَو َّلَ ي سَان ٍ إحِبّّح حهُم
حَو هذَا الحي هُ ِفّح هحأَلُوحنَ، وَاسحا لَه ُ الدّٰيححلّصُوَّقُوا هللا َ وَأَخ َيَا عّبَاد َ هللاّ، اّت دُ، فحَع نّ. أَمَّا بحالدّٰي كُل ّٰ مَاحَنَا مّن بحُلُو ح يُطَهّٰر َ قم ّ الحمُبَارَك ّ أَن َ
لَنحهُم َّ اغحفّرٰهَُنَ عَنحهُ. اَلل عّدحُب يح وَاْلح َمحيَاء ّ مّنحهُمححمّنَاتّ، اَْلح َحَ وَالحمُؤ ّْيححمّنلّمَاتّ، وَالحمُؤحَ وَالحمُس ّْيحلّمحنَا وَلّلحمُسحا وَلّوَالّدّيَّهُمٰهوَاتّ. اَلل
هذَا الح ه ِفّحعَلحنَاحتّغحفَار ََنَ، وَاجححر ََنَ، وَاسَنَا، وَذّك َت َلحبّي َنَا، وَدُعَاء ََنَ، وَت فحُو وُقحَقَبَّل تََنَا مّن بحُلُو قحهُم َّ طَهّٰرٰهَقَائّك َ مّن َ النَّارّ. اَلل عُتحم ّ مّنحَو ي َ
ء ّ النّٰيَّةّ. احسَنَا مّن َ ا ْلح َسَد ّ وَالحغّل ّٰ وَسُوحُفُو رّ، وَنَق ّٰ نح ّ وَالر َّٰيَء ّ وَحُب ّٰ الظُّهُوّْبحالطَّمَع ّ وَالحك ََن يححَنَا طَاعَة ً لَكَ، وَسَعح طُمُوحعَلحهُم َّ اجٰهللا ّ
حح ّ النَّاس ّ و ََلَ حُبًّا لبّنَا طَلَبًا لّمَدحُلُو قِفّح حََلَ َتَحعَل هّكَ، وحكَ، وَعَمَلَنَا خَالّصًا لّوَجحبَة ً إّلَيحُر قعَلحنَا عّبَادًاحهُم َّ اجٰهعَةّ. اَللحلحجَاه ّ وَالسُّم َ
شحهّمحت َ عَلَيح َ، إّذَا أَنحعَمّْيحبح َ، مُنّيّْيحَوَاضّع مُت ،َ ّْيحُمُحلّص حَجَّنَاحعَلحهُم َّ اجٰها. اَللحَغحفَرُو تحا اسحُو َب ا، وَإّذَا أَذحنح ص َْبَُوحَهُم تحَلَي تحا، وَإّذَا ابحكَرُوَلً
حُو حبًَلً صَا ْلًّا مَق رًا، وَعَمَلَنَا عَمحَنَا ذَنحبًا مَغحفُو رًا، وَذَنحبححكُويًا مَشحَنَا سَع يحرًا، وَسَعح ُوَْبححَجًّا م ََّتَنَا ، و ََتَّارَتنَاحَّنَا ظَلَم رَ. رَبحُو َب تحارَة ً لَن َ
ِفّ الدُّنحيَا حَس َّنَا آتّنَا نَ. رَبحنَن َّ مّن َ ا ْلح َاسّرّيحح ْحَحنَا، لَنَكُوَر لَنَا وَتحَغحفّر تح ِلَحأَنحفُسَنَا، وَإّنَِفّ اْلح خّرَة ّ حَسَنَةً، وَقّنَا عَذَاب َ النَّارّ. نَةً، و
عّبَاد َ هللاّ، إّن َّ هللا َ يَححَغحيّ، يَعّظُكُم شَاء ّ وَالحمُنحكَر ّ وَالحبحَنحهَى عَن ّ الحفَح َبَ، وَيحتَاء ّ ذّي الحقُرحسَان ّ وَإّيححل ّ وَاْلح ّحُ َبّلحعَد مُرحلَعَلَّكُم ُ
هحَغحفّرُو تح، وَاسححكُمه ُ عَلَى نّعَمّه ّ يَزّدححكُرُو، وَاشحكُمححكُرم َ يَذحنَ. فَاذحكُرُوا هللا َ الحعَظّيحتَذَكَّرُو َُْبححر ُ هللا ّ أَك، وَلَذّكح لَكُمحَغحفّر ي.
Arafah dan Detoks dari Ambisi yang Melelahkanَ










Komentar