BANTEN — Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15, Ketua Dewan Penasehat PB PERBAKIN dan Ketua Umum Perkumpulan Pemilik Izin Khusus Senjata Api Beladiri Indonesia (PERIKSHA), Bambang Soesatyo (Bamsoet), mendukung kegiatan berburu sebagai bagian dari pengendalian populasi babi hutan yang telah menimbulkan keresahan di kalangan petani. Di berbagai wilayah Indonesia, gangguan satwa liar terhadap lahan pertanian terus menjadi persoalan yang berulang, terutama di daerah yang berbatasan dengan kawasan hutan dan mengalami perubahan bentang alam. Kerusakan tanaman akibat serangan babi hutan kerap menyebabkan petani kehilangan sebagian bahkan seluruh hasil panen dalam satu musim tanam.
“Kegiatan berburu babi hutan merupakan respons nyata terhadap keresahan petani yang selama ini menghadapi ancaman nyata dari meningkatnya populasi babi hutan. Ketika lahan pertanian rusak dan hasil panen menurun, yang terdampak bukan sekadar pendapatan petani, tetapi juga rantai pasok pangan masyarakat secara keseluruhan,” ujar Bamsoet usai mengikuti kegiatan berburu babi hutan bersama Jalu Hunter Club dan Ketua Umum Pengurus Pengurus Persatuan Menembak Indonesia (PERBAKIN) Banten, Irjen Pol Nunung Syaifuddin di Malimping, Lebak, Banten, Jumat malam (22/5/26).
Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menjelaskan, persoalan ledakan populasi babi hutan bukan permasalahan yang berdiri sendiri. Di berbagai daerah Indonesia, konflik antara manusia dan satwa liar terus meningkat seiring perubahan penggunaan lahan, menyempitnya habitat alami, serta meningkatnya sumber pakan di sekitar kawasan pertanian. Babi hutan dikenal memiliki kemampuan reproduksi yang tinggi dan adaptasi yang kuat terhadap perubahan lingkungan. Dalam kondisi tertentu, satu kelompok dapat berkembang cepat dan menyebabkan kerusakan dalam waktu singkat pada tanaman pangan seperti padi, jagung, singkong hingga hortikultura.
“Ketika petani sudah mengeluarkan biaya untuk bibit, pupuk, tenaga kerja dan menunggu masa panen berbulan-bulan, lalu hasilnya rusak hanya dalam beberapa malam karena serangan babi hutan, kita tidak bisa diam. Kegiatan berburu untuk mengendalikan populasi babi hutan harus dilaksanakan secara berkala, profesional, sesuai ketentuan konservasi dan keamanan, sehingga benar-benar memberikan rasa aman bagi masyarakat dan menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata,” kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar sekaigus Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila dan Wakil Ketua Umum FKPPI ini mendorong agar kegiatan serupa diikuti dengan langkah jangka panjang, seperti pemetaan wilayah rawan konflik satwa, penguatan sistem pelaporan warga, pemanfaatan teknologi pemantauan kawasan pertanian, serta edukasi kepada masyarakat mengenai tata kelola habitat. Dengan demikian, pengendalian populasi tidak berhenti pada tindakan sesaat, melainkan menjadi bagian dari kebijakan pengelolaan lingkungan dan pertanian yang berkelanjutan.
“Tujuan akhirnya mengurangi keresahan masyarakat, menjaga hasil panen tetap aman, meningkatkan produktivitas pertanian, dan memastikan petani dapat menikmati hasil kerja mereka secara lebih optimal. Ketika panen terjaga, kesejahteraan petani ikut meningkat dan ketahanan pangan daerah juga menjadi lebih kuat,” pungkas Bamsoet. (*)














Komentar