Oleh ; Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Bandung dan Tokojh Budaya Sunda)*
Pernahkah kita bertanya, mengapa Gusti Allah, dalam Kitab Suci Al Quran, Gusti memberi nama-nama surat dengan sebutan binatang. Apa maksud dan tujuan Gusti nu Murbawisesa, nu Murbeng Alam, memberi nama surat-surat tersebut dengan nama binatang. Antara lain:
- Surat al Baqaroh ( Sapi)
- Surat al An Am (Binatang ternak)
- Surat Anahal (Lebah)
- Surat Annamal (Semut)
- Surat Al Ankabut (Laba-laba)
- Surat Atthoir (Burung)
- Surat Al Fil (Gajah)
- Surat Al Adiyat (Kuda Perang)
Secara sepintas sebutan nama surat – surat tersebut, seperti disandarkan agar manusia mengambil pelajaran, bagaimana perilaku binatang tersebut.
Pertanyaannya adakah, karakter binatang tersebut pada manusia. Sapi dengan beragam jenis. Binatang Ternak beragam jenis. Lebah beragam jenis. Semut beragam jenis. Laba-laba beragam jenis. Burung (Unggas) beragam jenis. Gajah beragam jenis. Kuda beragam jenis.
Semua binatang kalau dikumpulkan dari semua ragam jenis, apabila dilakukan penelitian, maka manusia yang menelitinya tidak akan cukup umur. Sebuah perpustakaan besar tentang binatang yang disebutkan dalam Al Quran, belum binatang Laut dan lain sebagainya.
Satu saja, mahluk Gusti Allah, Lebah, lebah dengan ragam jenisnya, kehidupannya selalu bergerombol. Masing punya tugas. Dan diantara gerombolan Lebah tersebut ada Sang Ratu selaku pimpinannya. Gerombolan lebah, akan bersarang, berdiam pada suatu tempat, bergantung pada Sang Ratu, mau tinggal dimana. Gerombolan lebah, dapat membuat sarang pada dahan yang keropos sekalipun, dan ajaibnya dahan kayu yang keropos tersebut tidak patah , serta tetap memproduksi MADU. Madu dengan beragam rasa dan wangi. Gerombolan lebah tidak pernah mengisap bunga yang berbau busuk. Gusti perintahkan (insting) binatangnya untuk mengisap saribunga yang wangi. Gerombolan lebah tidak pernah mengganggu kehidupan, manusia atau binatang lainnya . Lebah akan menyerang apabila ada mahluk lain, manusia mengganggu secara sengaja atau tidak sengaja. Pada tubuh lebah ada hal dia bisa keluarkan , yakni Madu dan Racun. Keduanya memberi manfaat.
Baru dari satu perilaku binatang yang Gusti Allah ciptakan manusia belum tentu bisa mengambil pelajaran. Hanya manusia yang menggunakan aqal saja yang dapat mengambil pelajaran yang begitu berharga.
Kabuyutan dimanapun berada di muka bumi ini , mengambil dan mempraktekan perilaku lebah tersebut. Warga Kabuyutan selalu bekerja keras untuk memberi manfaat bagi diri, keluarga, warga, bangsa dan negara.
Bab keyakinan, hanya ada di dalam hati, tidak diperlihatkan, apalagi dipertontonkan pada umum. Perilaku warga Kabuyytan, kukuh, pengkuh, rengkuh, mengjkuti dan menuruti jejak para Leluhur (Karuhun) yang dipraktekan secara turun temurun atau generasi ke generasi secara estafet. Warga Kabuyutan taat dan patuh pada seorang pupuhu, disebut pula Kepala Adat. Warga Kabuyutan terikat oleh aturan dan ketentuan, yang pereilakunya tidak boleh bertentanga dengan hukum Alam, hukum kemanusiaan dan hukum Ghaib (Aturan Gusti Allah). Itu menjadi Pakem. Bila ada warga yang melanggar, maka sangsi bisa diberikan, dengan hukum Alam , hukum Manusia dan Hukum Ghaib. Yang paling berat hukumnya adalah hukum Ghaib.
Sekali lagi, bahwa seluruh warga Kabuyutan, harus berupaya dimana , kapan, bagaimanapun tetap berpegang pada Pakem. Sebagaimana Lebah.
Perumpamaan Lebah tersebut diamalkan oleh para Dzuriyat Nabi saww, para Pecinta Keluarga Nabi (Ahlulbayt) dara pengikut setia Bagenda ‘Ali Karamallahu wajhahu,dimanapun meteka berada.
Kabuyutan, menghormati seseorang didasarkan atas keilmuaan yang dimiliki seseorang. Bila ilmu itu datang dari seorang pemuda, maka hormatilah orang tersebut. Karena anugrah Gusti Allah tidak memandang tua dan muda. Ketika seorang pemuda berilmu, maka ia akan menghormati orang tua tersebut dari tuanya umur. Ketika rombongan manusia bepergian, maka yang memimpin adalah orang yang cakap dan bisa mengatut rombongan, walaupun ia seorang pemuda.
Baru dari satu perilaku Lebah. Pelajaran bagi orang-orang yang menggunakan aqalnya.
Wahai para Lebah datang , bekerjalah sesuai perintah. Begitu Seru Sang Ratu.
Kau tetap membuat sarang secara geometris dengan bentuk hexagonal dan tidak boleh merubahnya sampai dunia ini kiamat. Hebat Ratu Lebah. Kau memang Pantas mendapat Gelar Ratu…cag!@abah















Komentar