oleh

China Balas Trump dengan Tarif 34% untuk Semua Barang Impor AS

Oleh: Green Berryl & Pxai

Sumber: CNN Indonesia https://search.app/hLQrk

PEMERINTAH China telah mengumumkan penerapan tarif tambahan sebesar 34% pada seluruh barang impor dari Amerika Serikat sebagai balasan langsung terhadap kebijakan tarif baru yang diumumkan Presiden Donald Trump. Langkah balasan ini menandai eskalasi signifikan dalam perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia yang berpotensi mengguncang sistem perdagangan global.

Kebijakan Tarif Balasan China

Pada Jumat, 4 April 2025, Kementerian Keuangan China secara resmi mengumumkan akan menerapkan tarif tambahan sebesar 34% pada seluruh barang impor asal Amerika Serikat, efektif mulai tanggal 10 April 2025[8][9][11]. Tarif baru ini akan ditambahkan berdasarkan tarif yang berlaku saat ini, seperti yang diumumkan oleh Komisi Tarif Bea Cukai Dewan Negara China[11].

Beijing menyatakan bahwa tarif Trump “tidak konsisten dengan aturan perdagangan internasional, secara serius merusak hak dan kepentingan sah China, dan merupakan praktik perundungan unilateral yang tipikal”[12]. Sebagai catatan, barang-barang yang telah dikirim dari tempat keberangkatan sebelum pukul 12:01 pada 10 April 2025 dan diimpor antara pukul 12:01 pada 10 April 2025 hingga pukul 24:00 pada 13 Mei 2025 tidak akan dikenakan tarif tambahan[12].

Latar Belakang Kebijakan Tarif Trump

Tindakan balasan China ini merupakan respons terhadap pengumuman Trump pada Rabu, 2 April 2025, mengenai penerapan tarif dasar 10% untuk seluruh barang impor dan tarif tambahan untuk negara-negara dengan surplus perdagangan terhadap AS, termasuk tarif sebesar 34% untuk impor dari China[10][13]. Kebijakan Trump ini dijadwalkan mulai berlaku pada 9 April 2025.

Trump mengklaim bahwa tarif tersebut bertujuan untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan memperbaiki keadilan dalam sistem perdagangan internasional. Presiden AS itu menegaskan bahwa “Amerika Serikat telah dijarah, dirampok, diperkosa, dan dijarah” oleh entitas asing selama bertahun-tahun[10].

Dampaknya, dengan mempertimbangkan tarif 20% yang sebelumnya telah dikenakan Trump untuk memerangi perdagangan fentanil, produk China yang masuk ke AS kini menghadapi total tarif sebesar 54%[12][13].

Tindakan Retaliasi Tambahan China

Selain tarif impor, pemerintah China juga mengumumkan serangkaian tindakan balasan tambahan:

  • 1. Pembatasan Ekspor Bahan Langka*: China akan memperketat pembatasan ekspor unsur tanah jarang (rare earth elements), yang merupakan bahan penting untuk produksi teknologi tinggi seperti chip komputer dan baterai kendaraan listrik[8][9][14].
  • 2. Perluasan Daftar Kontrol Ekspor*: Beijing menambahkan 16 perusahaan AS ke daftar kontrol ekspor China, dengan alasan ancaman terhadap “keamanan dan kepentingan nasional”[9]. Perusahaan-perusahaan yang terkena dampak termasuk High Point Aerotechnologies, Sierra Nevada Corporation, dan Universal Logistics Holdings[9].
  • 3.Daftar Entitas Tidak Terpercaya*: Sebanyak 11 perusahaan AS, termasuk Skydio, BRINC, dan SYNEXXUS, telah dimasukkan ke dalam “daftar entitas tidak terpercaya” China karena dugaan kerja sama militer dengan Taiwan dan tindakan yang menurut Beijing “sangat membahayakan” kedaulatan dan kepentingan pembangunan China[9]. Perusahaan-perusahaan yang masuk daftar hitam ini dilarang berinvestasi atau melakukan operasi impor-ekspor di China[9].

Dampak Potensial Terhadap Ekonomi Global

Langkah balasan China membawa dunia ke ambang perang dagang penuh, dengan ekonomi besar lainnya—termasuk Uni Eropa—sedang mempertimbangkan respons terhadap pengumuman Gedung Putih[15]. Nilai perdagangan bilateral AS-China yang terancam sangat signifikan, mencapai sekitar $582,4 miliar pada tahun lalu, dengan AS mengekspor produk senilai $143,5 miliar ke China dan mengimpor barang senilai $438,9 miliar[13].

Berita tentang tarif balasan China langsung berdampak pada pasar keuangan, menyebabkan futures Nasdaq, S&P 500, dan Dow Jones Industrial Average turun sekitar 3%[12]. Perang tarif yang meningkat juga berpotensi mengancam negara-negara Asia yang bergantung pada ekspor, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam, yang juga terkena tarif tinggi dari kebijakan Trump[13].

Kesimpulan

Penerapan tarif balasan China sebesar 34% pada seluruh impor AS menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan perdagangan antara dua negara, yang dapat menyebar ke seluruh sistem perdagangan global. Tindakan balasan ini, bersama dengan pembatasan ekspor bahan langka dan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan AS, mencerminkan tekad China untuk melawan apa yang dianggapnya sebagai tindakan “perundungan unilateral” dari pemerintahan Trump.

Sementara Trump mengklaim kebijakan ini akan mengembalikan pekerjaan manufaktur ke AS dan menciptakan “zaman keemasan” baru, para kritikus memperingatkan bahwa perang dagang yang meluas dapat mendorong ekonomi global ke dalam ketidakpastian dengan kenaikan harga, gangguan rantai pasokan, dan potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi.

CITATIONS:

Komentar