Oleh: Agus Pakpahan (Ekonom Kelembagaan/ Rektor Universitas Koperasi Indonesia)
Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi — Edisi 19 Agustus 2026
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81
Abstrak
Esai kemarin telah memperkenalkan Model IKEM—Informasi, Komunikasi, dan Edukasi sebagai modalitas untuk mereplikasi keberhasilan Credit Union Keling Kumang (CUKK) di 80.081 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Namun, model tanpa implementasi hanyalah mimpi. Hari ini, kita melangkah lebih jauh: dari kerangka konseptual menuju peta jalan operasional. Dengan menjadikan CUKK sebagai benchmark yang hidup—bukan sekadar simbol—kita akan membahas bagaimana IKEM diterjemahkan menjadi AKSI: Analisis Kesiapan Desa, Komunikasi Terstruktur, Sekolah Koperasi Lapangan, dan Integrasi Jejaring. Kita juga akan menengok perkembangan terkini CUKK yang terus melompat—aset Rp 2,617 triliun (Maret 2026), 230.824 anggota, 81 cabang yang telah beroperasi, dan kepemimpinan baru dengan semangat 3D: Dibantu, Dilibatkan, Diapresiasi—sebagai bukti bahwa koperasi kuantum adalah organisme hidup yang terus berevolusi. Kini saatnya 80.081 desa mengikuti jejak itu.
I. CUKK Tidak Berhenti: Sebuah Organisme yang Terus Hidup
Sebelum kita membahas replikasi, penting untuk menyadari bahwa CUKK bukanlah artefak sejarah yang dibekukan dalam waktu. Ia adalah organisme hidup yang terus bertumbuh, beradaptasi, dan melompat.
Pada Maret 2026, CUKK memasuki usia ke-33 dengan tongkat estafet kepemimpinan baru. Hilarius Gimawan dilantik sebagai Chief Executive Officer untuk masa bakti 2026-2031, menggantikan Valentinus Narung yang telah purna tugas. Pelantikan ini bukan sekadar pergantian administratif; ia adalah ritual adat yang menegaskan kontinuitas nilai—sebuah pesan bahwa kepemimpinan di CUKK adalah amanah, bukan kekuasaan.
Di bawah kepemimpinan baru, CUKK terus melesat. Hanya tiga bulan menjabat, dari 10 cabang baru yang ditargetkan, dua di antaranya telah diresmikan: Cabang Kunyil di Kecamatan Meliau pada 28 Maret 2026, dan Cabang Balai Sebut pada 23 Mei 2026. Pada Maret 2026, total cabang CUKK yang telah beroperasi mencapai 81 buah, tersebar di 14 kabupaten/kota di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Jumlah anggota tercatat 230.824 orang, dengan aset Rp2,617 triliun. Target tahun 2026 adalah mencapai 85 cabang, melampaui 240.000 anggota, dan aset mendekati Rp 3 triliun—sebuah proyeksi yang sejalan dengan tren pertumbuhan CUKK selama 33 tahun terakhir.
Yang lebih penting dari angka-angka ini adalah semangat yang mendorongnya. CEO baru CUKK, Hilarius Gimawan, memperkenalkan konsep 3D: Dibantu, Dilibatkan, Diapresiasi. Ini bukan sekadar slogan. Ini adalah filosofi yang menghidupkan kembali nilai-nilai dasar koperasi:
· Dibantu — Anggota yang telah lama bergabung tetap membutuhkan pendidikan penyegaran agar semangatnya tidak pudar.
· Dilibatkan — Anggota merasa memiliki CUKK ketika diberi kesempatan terlibat dalam berbagai kegiatan dan program.
· Diapresiasi — Penghargaan tidak harus besar; perhatian terhadap hal-hal sederhana—seperti memberi hadiah bagi anggota yang bertanya atau menyampaikan pendapat—membuat mereka merasa dihargai dan percaya diri.
Pendidikan penyegaran menjadi salah satu strategi penting untuk menjaga semangat dan loyalitas anggota. Ini adalah bukti nyata bahwa Edukasi—salah satu pilar IKEM—bukanlah kegiatan sekali jadi, melainkan proses seumur hidup.
Apa arti semua ini bagi KDKMP? Ini berarti CUKK bukanlah model statis yang bisa ditiru dengan membangun gedung yang sama. Ia adalah proses hidup yang harus dipahami, dihayati, dan diadaptasi. Replikasi sejati bukanlah meniru bentuk, tetapi menghidupkan kembali proses yang membuat CUKK berhasil.
II. KDKMP Hari Ini: Antara Target dan Kenyataan
Sementara CUKK terus melompat, bagaimana dengan KDKMP? Data terkini menunjukkan bahwa program ini berjalan dengan kecepatan yang mengesankan secara kuantitatif—tetapi masih menyisakan pertanyaan kualitatif yang mengkhawatirkan.
2.1 Capaian Kuantitatif
Perkembangan fisik KDKMP menunjukkan kemajuan yang signifikan:
· Target awal program adalah 80.081 KDKMP, sesuai jumlah desa di Indonesia yang mencapai 84.139 desa.
· Per Agustus 2026, secara legal formal, 83.382 koperasi telah berbadan hukum, 79.708 memiliki akun Simkopdes, dan 60.801 memiliki Nomor Induk Berusaha.
· Dari sisi fisik, 35.857 titik lahan siap dibangun, 16.180 unit dalam proses pembangunan, dan 19.222 unit telah selesai 100%.
· Presiden Prabowo Subianto menargetkan 30.000 KDKMP dapat beroperasi secara optimal pada akhir 2026. Saat ini, sekitar 30.000 KDKMP telah terbentuk secara fisik, dengan 10.000 di antaranya telah beroperasi.
· Menteri Koperasi Ferry Juliantono memperkirakan sekitar 40.000 KDKMP dapat mulai beroperasi hingga akhir 2026. Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan menargetkan 40.000 unit beroperasi pada Oktober 2026.
· Di Temanggung, 259 dari 268 KDKMP siap beroperasi. Di Jambi, dari 717 titik pembangunan, 325 titik telah rampung 100%.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa pembangunan fisik berjalan cepat. Namun, pembangunan fisik adalah fondasi, bukan tujuan akhir.
2.2 Tantangan Kualitatif
Di balik angka-angka itu, terdapat tantangan yang tidak kalah pentingnya:
Pertama, kesiapan operasional. Di Kabupaten Dompu, dari 89 KDKMP yang ditargetkan, baru sekitar 5 persen yang terbentuk sempurna—dan yang sudah terbentuk pun masih belum memiliki arah bisnis yang jelas. Ini mengingatkan pada fenomena “koperasi papan nama” yang menjadi momok di masa lalu.
Kedua, risiko ketergantungan. Skema pembiayaan awal yang disalurkan melalui pinjaman perbankan dengan penjaminan APBN menimbulkan risiko moral hazard. Ketika koperasi terbentuk karena dorongan dana, bukan karena kebutuhan, ia akan rapuh ketika dana mengering.
Ketiga, potensi pengabaian BUMDes. Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengingatkan bahwa BUMDes yang selama ini sudah ada dan beroperasi seharusnya diperkuat, bukan diabaikan. KDKMP didorong untuk tidak hanya menjadi warung atau outlet distribusi, tetapi juga menjadi bagian dari proses produksi.
Keempat, tata kelola profesional. Komandan Kodim Temanggung menekankan bahwa kesuksesan KDKMP tidak hanya diukur dari selesainya pembangunan fisik bangunan, melainkan pada tata kelola koperasi yang profesional setelah beroperasi. Ini adalah pengingat bahwa bangunan tanpa jiwa hanyalah monumen bisu.
III. Dari IKEM ke AKSI: Empat Langkah Operasional
Model IKEM memberikan kerangka konseptual: Informasi, Komunikasi, dan Edukasi sebagai modalitas. Namun, sebuah kerangka membutuhkan kaki untuk melangkah. Di sinilah AKSI—Analisis Kesiapan Desa, Komunikasi Terstruktur, Sekolah Koperasi Lapangan, dan Integrasi Jejaring—menjadi peta jalan operasionalnya.
3.1 A — Analisis Kesiapan Desa
Replikasi tidak bisa seragam. Setiap desa memiliki karakteristik yang berbeda—modal sosial, potensi ekonomi, struktur budaya, dan tingkat kesiapan yang berbeda-beda. Memaksa semua desa masuk ke dalam cetakan yang sama adalah resep kegagalan.
Langkah Operasional:
1. Pemetaan Modal Sosial (Q) : Identifikasi nilai-nilai budaya yang hidup, tokoh yang dipercaya, dan tradisi gotong royong yang masih kuat. Di Aceh, ini adalah meunasah. Di Batak, dalihan natolu. Di Bali, subak. Di Papua, noken.
2. Penilaian Kesiapan Kelembagaan (Alpha) : Evaluasi kapasitas pengurus potensial, tingkat literasi keuangan masyarakat, dan keberadaan BUMDes yang sudah beroperasi.
3. Identifikasi Potensi Ekonomi : Apa mata pencaharian utama? Pertanian, perikanan, kerajinan, atau pariwisata? Ini menentukan bentuk usaha yang paling sesuai.
4. Penentuan Tingkat Kesiapan : Klasifikasikan desa ke dalam tiga kategori—Siap (dapat segera beroperasi), Berkembang (memerlukan pendampingan intensif), dan Perlu Persiapan (memerlukan pembangunan fondasi terlebih dahulu).
Prinsip Kunci: Jangan memaksa semua desa masuk ke dalam cetakan yang sama. Prioritaskan kualitas, bukan kuantitas.
3.2 K — Komunikasi Terstruktur
CUKK tumbuh bukan karena iklan, tetapi karena komunikasi dari mulut ke mulut, karena kepercayaan yang menyebar dari satu orang ke orang lain. Komunikasi dalam Model IKEM bukanlah sekadar sosialisasi satu arah; ia adalah proses dialogis yang membangun makna bersama.
Langkah Operasional:
1. Pertemuan Rutin Berjenjang : Pertemuan mingguan di tingkat kelompok, bulanan di tingkat desa, dan triwulanan di tingkat kecamatan. CUKK membuktikan bahwa frekuensi pertemuan adalah indikator Q yang terukur.
2. Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang Partisipatif : RAT bukan formalitas. Ia adalah puncak proses komunikasi—tempat keputusan diambil bersama, pengurus dipertanggungjawabkan, dan visi bersama dirumuskan. Target partisipasi: minimal 70%.
3. Musyawarah Adat : Integrasikan KDKMP ke dalam proses musyawarah adat yang masih hidup, bukan menggantikannya. Di Kalimantan, ijin—musyawarah untuk mencapai konsensus—harus menjadi bagian dari tata kelola KDKMP.
4. Forum Komunikasi Antar-KDKMP : Fasilitasi pertemuan regional dan nasional untuk berbagi praktik terbaik, memecahkan masalah bersama, dan membangun solidaritas.
5. Komunikasi Digital : Platform digital yang menghubungkan semua KDKMP, memungkinkan komunikasi real-time, berbagi informasi, dan koordinasi.
Prinsip Kunci: Komunikasi adalah jembatan antara Informasi dan Edukasi. Tanpa komunikasi, informasi tidak akan sampai. Tanpa komunikasi, edukasi tidak akan berlangsung.
3.3 S — Sekolah Koperasi Lapangan
CUKK tidak hanya memberikan pinjaman; ia mendidik anggotanya. Pendidikan adalah salah satu pilar penting yang mewarnai kisah sukses CUKK. CEO baru CUKK menegaskan bahwa pendidikan penyegaran adalah strategi penting untuk menjaga semangat dan loyalitas anggota. Replikasi CUKK berarti menjadikan setiap KDKMP sebagai sekolah kehidupan.
Langkah Operasional:
1. Pendidikan Nilai dan Kesadaran Koperasi : Setiap anggota harus memahami sejarah perjuangan koperasi, makna Pasal 33, dan nilai-nilai kebersamaan. Bukan pelatihan teknis; ini adalah pembentukan kesadaran. Target: minimal 50 jam pendidikan per anggota per tahun.
2. Pendidikan Manajemen dan Literasi Keuangan : Pengurus dan anggota harus memahami pembukuan, tata kelola, dan pengelolaan keuangan. CUKK membuktikan bahwa transparansi keuangan adalah fondasi kepercayaan.
3. Pendidikan Kader : Kaderisasi adalah kunci keberlanjutan. Setiap KDKMP harus memiliki program kaderisasi yang berkesinambungan, melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang memahami ruh koperasi.
4. Pendidikan Berbasis Budaya : Edukasi tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya. Kurikulum harus disesuaikan, bukan diseragamkan. Di Jawa, gunakan bahasa dan metafora gotong royong. Di Papua, hormati noken.
5. Pendidikan Berkelanjutan : Edukasi tidak berhenti setelah pelatihan pertama. Ia adalah proses seumur hidup. Seperti yang dilakukan CUKK, pendidikan penyegaran harus menjadi agenda rutin.
Prinsip Kunci: Edukasi adalah mesin replikasi. Tanpa edukasi, tidak akan ada kader baru. Tanpa edukasi, koperasi tidak akan mandiri. Tanpa edukasi, 80.081 KDKMP hanya akan menjadi monumen bisu.
3.4 I — Integrasi Jejaring
CUKK tidak tumbuh sendirian. Ia tumbuh dalam ekosistem—terhubung dengan komunitas, dengan lembaga pendidikan, dengan pemerintah daerah, dan dengan koperasi lain. Replikasi CUKK berarti membangun jejaring yang saling menguatkan.
Langkah Operasional:
1. Jejaring Universitas (CGUN) : Model Cooperatives Grant University Networks (CGUN)—replikasi dari konsep Land Grant University Abraham Lincoln—menawarkan kerangka yang tepat. Ikopin University sebagai focal point, dengan 34 universitas di setiap provinsi sebagai pusat studi koperasi kuantum.
2. Jejaring Antar-KDKMP : Pertemuan regional dan nasional yang difasilitasi secara rutin. Forum berbagi praktik terbaik, pemecahan masalah bersama, dan pembangunan solidaritas.
3. Jejaring dengan BUMDes : Sinergi, bukan duplikasi. KDKMP harus memperkuat ekosistem ekonomi desa yang sudah ada, bukan menciptakan entitas baru yang tumpang tindih.
4. Jejaring dengan Pemerintah Daerah : Kemitraan yang setara, bukan hubungan patron-klien. Pemerintah daerah adalah fasilitator, bukan penguasa.
5. Jejaring Digital : Platform digital yang menghubungkan semua KDKMP, memungkinkan berbagi data, transaksi, dan pembelajaran kolektif.
Prinsip Kunci: Koperasi yang terisolasi adalah koperasi yang rapuh. Koperasi yang terhubung adalah koperasi yang tangguh.
IV. Peran Universitas: Menghidupkan Ekosistem IKEM-AKSI
IKEM dan AKSI tidak bisa dijalankan oleh pemerintah pusat saja. Mereka membutuhkan ekosistem pengetahuan yang tersebar di seluruh Nusantara. Di sinilah peran universitas menjadi krusial.
4.1 Ikopin University sebagai Focal Point
Universitas Koperasi Indonesia di Bandung bukan lagi sekadar universitas. Ia adalah otak dari sistem IKEM-AKSI—tempat kurikulum dirancang, pendamping dilatih, riset replikasi dilakukan, dan platform digital dikembangkan.
Tugas Ikopin University dalam ekosistem ini:
1. Pengembangan Kurikulum : Merancang modul pendidikan berbasis budaya untuk setiap wilayah, mengintegrasikan nilai-nilai lokal ke dalam pendidikan koperasi.
2. Pelatihan Pendamping : Melatih fasilitator yang mengenal budaya lokal, berbicara bahasa ibu, dan memahami konteks sosial-ekonomi setempat.
3. Riset Replikasi : Melakukan riset tentang apa yang bekerja dan apa yang tidak, menyempurnakan model secara berkelanjutan.
4. Pengembangan Platform Digital : Membangun sistem informasi yang menghubungkan semua KDKMP, memungkinkan berbagi data dan praktik terbaik.
5. Sertifikasi : Memberikan sertifikasi bagi KDKMP yang telah mencapai standar tata kelola dan kinerja tertentu.
4.2 34 Pusat Studi Koperasi Kuantum
Di setiap provinsi, harus berdiri Pusat Studi Koperasi Kuantum yang menjadi lokomotif IKEM-AKSI di daerahnya. Pusat studi ini bertugas:
1. Mengumpulkan Informasi : Mendokumentasikan Q lokal, nilai-nilai budaya, dan praktik terbaik.
2. Memfasilitasi Komunikasi : Menjadi ruang pertemuan bagi para pengurus KDKMP, menghubungkan mereka dalam jejaring.
3. Menyelenggarakan Edukasi : Melatih pendamping, mengembangkan kurikulum berbasis budaya, dan melakukan riset-riset terapan.
4. Melakukan AKSI : Menerapkan Analisis Kesiapan Desa, Komunikasi Terstruktur, Sekolah Koperasi Lapangan, dan Integrasi Jejaring di tingkat provinsi.
V. Tiga Tuntutan untuk Implementasi
Jika IKEM-AKSI ingin diimplementasikan secara serius, ada tiga tuntutan yang harus diperjuangkan:
5.1 Revisi Alokasi Dana Desa
Saat ini, 58,03% Dana Desa dialokasikan untuk KDKMP—hampir seluruhnya untuk modal material. Komposisi ini harus diubah menjadi 68% M, 23,7% Alpha, dan 8,3% Q. Ini berarti mengalokasikan Rp64,4 triliun untuk Q dan Alpha—yang di dalamnya termasuk implementasi IKEM-AKSI.
Dana untuk Q dan Alpha bukanlah pengeluaran; ia adalah investasi dalam modal sosial dan kelembagaan yang akan menghasilkan pengembalian berkali-kali lipat dalam jangka panjang.
5.2 Libatkan Universitas sebagai Pusat IKEM-AKSI
Ikopin University dan 34 universitas di setiap provinsi harus menjadi pelaksana utama program IKEM-AKSI. Mereka yang mengenal budaya lokal, yang berbicara bahasa ibu, dan yang memahami konteks sosial-ekonomi setempat.
Pendanaan untuk program ini harus dialokasikan secara khusus, bukan sekadar disisipkan ke dalam anggaran kementerian yang sudah ada.
5.3 Kembalikan Kementerian Koperasi ke Klaster A
Tanpa pengakuan konstitusional yang setara, Kementerian Koperasi tidak akan memiliki kekuasaan yang cukup untuk mengimplementasikan IKEM-AKSI secara nasional. Koperasi adalah amanat Pasal 33 UUD 1945—bukan sekadar sektor ekonomi biasa. Pengakuan ini harus tercermin dalam struktur kabinet.
VI. Penutup: Dari Mimpi ke Kenyataan
Esai kemarin kita membayangkan: jika 50 persen dari 80.081 KDKMP mampu mereplikasi keberhasilan CUKK, maka 40.000 KDKMP dapat memiliki aset Rp2,7 triliun masing-masing. Total aset yang terkumpul akan mencapai Rp108.000 triliun (setara Rp108 kuadriliun) —angka yang setara dengan 36 kali lipat APBN 2026. Tersebar di seluruh desa di Nusantara, kekuatan ekonomi ini akan mengubah wajah Indonesia dari akar rumput.
Hari ini, kita tidak hanya membayangkan. Kita melangkah.
CUKK telah membuktikan bahwa jalan ini nyata. Dari ruang 4×4 meter dengan 12 orang dan modal Rp291.000, ia tumbuh menjadi raksasa dengan aset Rp2,617 triliun (Maret 2026) dan 230.824 anggota. Ia bertahan di tengah krisis moneter, konflik sosial, dan pandemi. Ia adalah bukti bahwa Q dulu, Alpha, lalu M—adalah resep yang benar.
Dan Q, Alpha, dan M tidak bisa dibangun tanpa IKEM-AKSI:
· Informasi memberi kita data tentang Q.
· Komunikasi menghidupkan Q.
· Edukasi mengubah Q menjadi Alpha dan M.
· Analisis memastikan kita memulai dari tempat yang tepat.
· Komunikasi Terstruktur memastikan Q terus hidup.
· Sekolah Koperasi memastikan edukasi berkelanjutan.
· Integrasi Jejaring memastikan tidak ada yang berjuang sendirian.
Sekarang, saatnya 80.081 desa mengikuti jejak itu. Saatnya Universitas Koperasi Indonesia menjadi motor kebangkitan. Saatnya IKEM-AKSI menjadi fondasi bagi kebangkitan koperasi kuantum dari Sabang sampai Merauke.
Selamat Hari Kemerdekaan ke-81. Mari kita wujudkan imajinasi itu menjadi kenyataan.
Penutup: Skenario 40.000 KDKMP Beraset Rp.2,7 Triliun
Bayangkanlah skenario ini: jika 50 persen dari sekitar 80.000 KDKMP mampu mereplikasi keberhasilan CUKK, maka 40.000 KDKMP dapat memiliki aset Rp 2,7 triliun masing-masing. Total aset yang terkumpul akan mencapai Rp 108.000 triliun (setara Rp108 kuadriliun) —angka yang setara dengan 36 kali lipat APBN 2026. Tersebar di seluruh desa di Nusantara, kekuatan ekonomi ini akan mengubah wajah Indonesia dari akar rumput. Ini bukan mimpi. Ini adalah proyeksi matematis dari sebuah proses yang telah terbukti berhasil. CUKK telah menunjukkan jalannya. IKEM-AKSI adalah peta jalannya. Yang kita butuhkan sekarang adalah komitmen untuk melangkah.(****







Komentar