SIJUNJUNG – Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ISI Padangpanjang melaksanakan kegiatan pembinaan dan pelatihan di Desa Kampung Baru, Kecamatan Kupitan, Kabupaten Sijunjung, sebagai bagian dari upaya mendukung pengembangan Bukik Ponggang menjadi destinasi wisata berbasis seni, budaya, dan pariwisata berkelanjutan.
Kegiatan yang dipimpin Dr. Sastra Munafri bersama Alfalah ini diikuti oleh masyarakat, generasi muda, dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Melalui pelatihan dan demonstrasi permainan talempong, peserta diperkenalkan pada teknik dasar permainan, pola ritme, serta nilai-nilai budaya yang terkandung dalam musik tradisional Minangkabau. Antusiasme anak-anak dan remaja terlihat sepanjang kegiatan, menandai tumbuhnya semangat regenerasi seniman tradisi di Desa Kampung Baru.
Menurut Dr. Sastra Munafri, pelestarian seni tradisional merupakan fondasi penting dalam membangun destinasi wisata yang memiliki identitas kuat. Keindahan alam Bukik Ponggang akan semakin bernilai apabila dipadukan dengan atraksi seni budaya yang hidup dan terus diwariskan kepada generasi muda.
“Pariwisata berkelanjutan tidak cukup hanya mengandalkan panorama alam. Budaya yang hidup di tengah masyarakat menjadi kekuatan utama sebuah destinasi. Karena itu, regenerasi pemain talempong harus terus dilakukan agar Bukik Ponggang memiliki identitas budaya yang kuat dan mampu menjadi daya tarik wisata,” ujar Dr. Sastra Munafri.
Sementara itu, dosen muda ISI Padangpanjang, Naufal, memberikan penguatan kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mengenai strategi pengembangan destinasi melalui konsep 3S (Something to See, Something to Do, dan Something to Buy). Menurutnya, konsep tersebut menjadi landasan penting dalam membangun destinasi wisata yang mampu memberikan pengalaman lengkap bagi setiap pengunjung.
Ia menjelaskan, Something to See diwujudkan melalui panorama Bukik Ponggang yang memukau serta atraksi seni dan budaya Minangkabau. Something to Do diwujudkan melalui berbagai aktivitas wisata, seperti belajar memainkan talempong, menikmati pertunjukan seni tradisi, trekking, dan kegiatan edukatif lainnya. Sedangkan Something to Buy diarahkan pada pengembangan produk UMKM, kuliner khas, dan kerajinan masyarakat sebagai oleh-oleh yang mampu meningkatkan ekonomi warga.
“Pokdarwis memiliki peran strategis dalam mengelola seluruh potensi tersebut sehingga Bukik Ponggang tidak hanya menjadi tempat yang indah untuk dikunjungi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan bagi masyarakat,” jelas Naufal.
Dalam diskusi sore bersama masyarakat, Wakil Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Sumatera Barat, Datuak Panduko Alam, turut menyampaikan gagasan agar Talempong Sibunian dijadikan salah satu ikon atraksi wisata Bukik Ponggang. Menurutnya, karakter bunyi Talempong Sibunian yang nyaring dan khas dapat dimanfaatkan sebagai media untuk menghibur sekaligus mengundang masyarakat dan wisatawan datang ke lokasi kegiatan.
“Talempong Sibunian memiliki karakter bunyi yang kuat. Jika dimainkan dari Bukik Ponggang yang merupakan salah satu kawasan tertinggi di Kabupaten Sijunjung, dentingnya berpotensi terdengar hingga ke berbagai penjuru. Ini bisa menjadi penanda kegiatan sekaligus identitas budaya yang membedakan Bukik Ponggang dari destinasi wisata lainnya,” ungkap Datuak Panduko Alam.
Usulan tersebut mendapat apresiasi dari Tim PKM ISI Padangpanjang, Pokdarwis, pemerintah nagari, dan masyarakat yang hadir. Kolaborasi antara pelestarian seni tradisi, penguatan kapasitas Pokdarwis, serta pengembangan atraksi budaya dinilai menjadi langkah strategis dalam mewujudkan Bukik Ponggang sebagai destinasi wisata unggulan berbasis alam, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui kegiatan PKM ini, ISI Padangpanjang menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal. Harapannya, Bukik Ponggang tidak hanya dikenal karena panorama alamnya yang memikat, tetapi juga sebagai pusat aktivitas seni budaya Minangkabau yang mampu menarik wisatawan, melestarikan warisan budaya, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Kampung Baru secara berkelanjutan.(DS.SAS)***








Komentar