Oleh: Rangga Saptya Mohamad Permana, S.I.Kom., M.I.Kom., Ph.D.[1]
KONSEP fenomenalisme yang dikembangkan oleh Immanuel Kant—seorang filsuf Jerman dan salah satu intelektual utama Abad Pencerahan—muncul sebagai “penengah” dari dua kubu dari sumber ilmu pengetahuan, yaitu rasionalime dan empirisme. Kant menginginkan kedua aliran itu tidak memandang sebagai yang paling benar satu sama lainnya. Rasionalisme memahami bahwa ilmu dimulai dari pikiran yang berasal dari akal, sedangkan empirisme mengatakan bahwa ilmu pengetahuan didapatkan dari pengalaman.
Fenomenalisme Kant merupakan sebuah alternatif untuk empirisme dan rasionalisme, membedakan antara pengelaman kita tentang sesuatu (phenomena) dan seperti apa pengalaman tersebut (noumena). Pikiran, diklaim oleh Kant, memiliki kemampuan untuk memilih makna dari pengalaman dan hubungan satu sama lainnya. Melalui hubungan yang ada, kita akan mendapatkan pengetahuan.
Menurut teori Fenomenalisme Kant, kita tidak melihat hal-hal sebagaimana adanya. Kita tidak pernah merasakan hal itu sendiri, yang disebutnya sebagai nomena. Semua hal yang kita ketahui sebagaimana tampaknya, disebut fenomena. Nomena merangsang indra; sensasi yang mengikutinya diinformasikan oleh kategori, di mana mereka menjadi hal yang fenomenal dari pengalaman dunia sehari-hari. Dengan demikian, bagian dari dunia yang kita pahami dibuat oleh kita sendiri.
Perlu dicatat bahwa Kant mengakui keharusan logis untuk keberadaan sebuah dunia non-fenomenal yang bertanggung jawab atas keberadaan yang fenomenal. Tidak seperti pemikiran George Berkeley, seorang filsuf Irlandia, yang mengatakan bahwa “yang dirasakan oleh siapapun adalah keseluruhan yang ada,” Kant mengklaim bahwa selain pengalaman kita dari suatu hal, hal itu memiliki sifatnya sendiri. The things itself, nomena, bertanggung jawab atas keberadaan berbagai hal. Meskipun kita tidak pernah tahu nomena ini dalam diri mereka sendiri, pikiran dapat mengintegrasikan dan menginterpretasikan sensasi dan dengan demikian dapat membentuk sebuah pengetahuan. Kant tidak hanya menunjukkan keterbatasan pengetahuan, tetapi juga memvalidasi pengetahuan dalam bidang yang tepat. Bahan utama dari analisisnya adalah keseimbangan antara empirisme dan rasionalisme.
Pengetahuan tidaklah sesederhana yang kita duga. Walaupun kita mengklaim mengetahui sesuatu dan dapat menyampaikannya, klaim ini merupakan asumsi yang naif terhadap hakikat pengetahuan: di mana melalui rasa, kita mengetahui segala sesuatu sebagaimana mestinya. Asumsi ini mengatakan bahwa sesuatu ada di luar kita dan di dalam diri kita dengan cara yang persis sama. Dengan demikian, diri itu pasif dan tidak memiliki pengaruh terhadap pengetahuan tentang entitas, tapi lebih pada mengalaminya berdasarkan pengalaman. Saat knower bertemu dengan known, diri kehilangan realitas objektif. Dengan demikian, pandangan ini mengarah lebih kepada karikatur pengetahuan daripada deskrpsi akurat dari pengetahuan tersebut.
Namun mungkin ada “sesuatu” di luar sana, dan individu dapat menyampaikannya secara akurat, atau mungkin secara tepat. Kita seakan bisa mengetahui sesuatu. Asumsi ini lebih terasa tepat daripada asumsi yang menjelaskan tidak ada sesuatu di luar sana. Ada sesuatu di luar sana yang bisa dijelaskan dengan pengalaman. Selain itu, asumsi ini bisa diuji dengan menghantam kaki kita, atau mengirim manusia ke bulan, dan asumsi ini memungkinkan kita untuk melakukan prediksi terhadap kejadian yang akan datang, dari kecepatan jatuhnya uang koin sampai posisi planet Jupiter pada tanggal 1 Januari 2030. Jadi, terdapat dunia objektif di mana kita dapat berinteraksi dengannya dan melakukan kontrol. Tapi apakah kita mengetahui dunia itu sebagaimana mestinya? Itulah pertanyaan lainnya.
Subjektivisme yang ekstrim atau solipsisme akan mengacaukan realitas objektif, seakan membuat diri menjadi kreator dari dunianya sendiri. Sesuatu ada karena diri mempersepsikannya demikian. Mengidentifikasi the knower dengan the known berarti mengeliminasi diri, sementara solipsisme mengeliminasi semua selain diri. Walaupun demikian, ada pandangan subjektif dalam setiap pengetahuan kita. Diri mempersepsikan sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. Diri melihat sesuatu dengan tidak sebagaimana mestinya namun sebagaimana pandangan mereka. Pengalaman rasa jauh melintasi filter kesadaran subjektif dan berakhir pada ide kita terhadap sesuatu. Di sisi lain, pengetahuan kita terhadap dunia objektif sangat bergantung pada persepsi kita terhadap sesuatu. Setiap individu terlahir unik dan melihat sesuatu secara berbeda-beda dan bergantung pada persepsi masing-masing.(****
CATATAN: Rangga Saptya Mohamad Permana adalah dosen tetap di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Penulis biasa berkorespondensi melalui alamat email ranggasaptyamp@gmail.com.











Komentar